“Bagaimana kau bisa?” Suara sang Ibu menggantung di udara dan tak selesai. “Bagaimana kau bisa melakukan ini kepadaku? Teganya dirimu, Niken!”
Sang Ibu berdiri dari kursi. Dia meletakkan satu tangan di pinggang dan tangan lainnya pada kening yang terasa berdenyut.
“Mom,” bisik Niken dengan ketakutan.
Dia melihat ibunya mondar-mandir di depan meja makan tanpa bisa Niken hentikan. “Ini hanya sebuah kecelakaan. Kami tak sengaja melakukannya. Ini hanya sebuah kesalahan.”
Alasan yang dilontarkan Niken seketika membuat ibunya terhenti. Dia berbalik pada Niken dengan sepasang mata terbuka lebar penuh dengan kemarahan.
“Ini bukan kecelakaan! Ini memang kesalahan, ya, kesalahanku karena terlalu percaya dan membebaskanmu. Tapi, ini juga kesalahanmu karena kau tak pernah mendengarkan kata-kataku! Hah, dasar anak brengsek! Untuk apa aku membesarkan dan melahirkanmu dengan susah payah? Untuk apa aku mempertahankan kehidupanmu hingga harus bekerja membanting tulang sekeras ini? Dan sekarang kau menghianatiku? Kau telah menghianatiku!” teriak ibunya dengan histeris.
“Mom,” Niken memohon. Dia tidak percaya ibunya akan begitu marah. Niken yakin ibunya sangat mencintai dan menyayanginya. Ibunya pasti bisa menerimanya meski hanya sedikit.
“Keluar dari rumahku!” teriak sang Ibu tanpa menoleh ke arah Niken.
“Mom, kenapa kau lakukan ini padaku? Aku tahu kau marah tapi tidak harus seperti ini.”
“Aku katakan padamu keluar dari rumahku, Bajingan Cilik!” teriak sang Ibu. “Aku tak ingin melihatmu di sini! Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu dan tenagaku lagi untuk menghidupimu jika akhirnya kau hanya mengkhianati usahaku.”
“Mom....” Niken tak bisa berkata-kata lagi selain memohon dan merengek pada ibunya.
“Kupikir aku sudah cukup bodoh karena terpikat dengan seorang pemuda sampai hamil dan menikah dengannya. Aku pikir bisa hidup bahagia dengan kehidupan kami berdua, meski orang tuaku menentang. Pada akhirnya, orang tuaku selalu benar. Pria itu—ayahmu—tiba-tiba dia mengaku telah menemukan pasangan yang telah ditakdirkan untuknya dan meninggalkan kita begitu saja. Dasar pria bajingan! Aku bertaruhkan seluruh waktu dan hidupku padamu dan kini kau juga menghianatiku, Niken? Kau tak pernah mendengarkan aku. Pergi dari rumahku sekarang juga keparat!”
Niken terlonjak kaget mendengar teriakan dan kemarahan ibunya. Seumur hidup, Niken tak pernah tahu jika ayahnya pergi meninggalkan mereka hingga membuat sang ibu menggila seperti ini. Niken menggigil dan tidak punya pilihan lain selain pergi dari rumah.
“Aku akan pergi,” ujar Niken.
Dia berjalan menuju ke kamarnya. “Mungkin pergi untuk beberapa hari akan membuat emosi ibu mereda. Itu lebih baik daripada kami terus bertengkar seperti ini,” pikir Niken.
“Mau ke mana kau?” teriak sang Ibu.
Niken terhenti dan berpikir bahwa mungkin ibunya menyesal telah mengusirnya lalu berubah pikiran. Dengan wajah sedikit lega, Niken menoleh pada ibunya. “Aku hanya ingin ke kamar.”
“Pintu keluar ada di sebelah sini!” ujar sang ibu dengan tegas. Tangannya menunjuk pintu depan.
Kaki Niken semakin lemas. Sang Ibu berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan lebar. Angin dingin musim gugur berembus dari luar tepat menerpa wajah Niken dan ibunya.
“Mom benar-benar memintaku untuk pergi?”
“Kau tidak mendengar kata-kataku, bajingan? Pergi sekarang juga atau kau kutendang dengan kakiku sendiri!” teriak sang ibu. “Dan jangan pernah mencoba menyentuh satu pun barang-barang di rumah ini. Semuanya aku dapatkan dengan hasil kerja kerasku. Pikirkan sendiri tentang hidupmu karena kau tidak pernah mendengarkanku. Kau bukan lagi bagian dari hidupku. Pergi!” teriak sang ibu.
Niken berjalan menuju pintu dan berhenti tepat di tengah-tengahnya. Dia menoleh pada sang ibu dengan muka memelas dan berharap sang Ibu memiliki belas kasihan untuknya.
“Saat aku hamil dengan ayahmu, orang tuaku juga mengusirku. Sekarang, kenapa aku tak bisa melakukan hal yang sama padamu? Pergilah dan cari pria yang telah menghamilimu. Suruh dia bertanggung jawab dan besarkan anakmu sendiri dengannya. Karena aku sudah cukup lelah harus bertanggung jawab dengan hidupku sendiri. Sekarang aku tidak ingin ditambah dengan masalahmu.”
Niken tak kunjung beranjak dari ambang pintu. Sang Ibu terlihat kesal dan mendorong punggung Niken hingga dia terjungkal ke teras.
Brak!
Pintu membanting tertutup. Niken tersungkur di teras dengan air mata yang berderai. Dia tak membawa apa-apa. Dia hanya mengenakan celana panjang dan sweater tipis untuk melindunginya dari dingin malam itu. Dia benar-benar terusir dari rumah dan tak memiliki apa-apa, juga tak memiliki tempat untuk dituju.
Malam itu begitu dingin. Niken tak memiliki tempat untuk dituju. Dia bahkan Tak memiliki ponselnya saat ini. Gadis itu berjalan dengan sepatu ketsnya menuju ke salah satu telepon umum di pinggir jalan.
Niken merogoh-rogoh kantung celananya jika ada uang yang tersisa di sana. Dia tak mendapatkan apa pun. Di kotak telepon umum yang baru saja ditinggalkan oleh seseorang, Niken melihat beberapa koin yang terjatuh. Dia memungutinya dengan cepat.
Perut gadis itu perih. Dia bahkan belum makan malam saat ibunya mengusir. Niken tidak ingat nomor kontak teman-temannya. Hanya ada satu sahabat dekatnya yang bisa Niken hubungi. Setidaknya dia ingin numpang untuk malam ini saja sebelum memikirkan langkah selanjutnya.
Dengan uang koin yang Niken temukan, dia mencoba menghubungi Katty.
Katty mengangkat ponselnya cukup lama karena mungkin sedikit khawatir karena Niken menghubunginya melalui telepon umum.
“Ya, halo?” ucap Katty.
Niken terdiam cukup lama. Dia tidak tahu harus mengatakannya mulai dari mana.
“Halo? Siapa ini? Kalau kau hanya ingin bermain-main, aku akan matikan teleponnya!” ujar Katy dengan malas.
Niken tak punya koin lagi untuk menghubungi orang lain. Dia pun menjawab dengan cepat. “Ini aku!” ujar Niken.
Begitu mengenali suara Niken, Katty langsung terdiam. Ada Jeda panjang yang kosong dalam sambungan telepon mereka.
“Katty, kau masih di sana?”
“Yah, aku mendengarkanmu. Niken, kau terdengar kacau. Apa kau ada masalah?” tanya Katty.
Niken tidak menceritakan kondisi sebenarnya bahwa dia sedang ada masalah dan diusir dari rumah.
“Apa kau sedang sibuk, Katty? Aku sedang bosan di rumah. Bisakah aku menginap di tempatmu malam ini dan besok? Sudah lama kita tidak berbincang dan menginap bersama,” ujar Niken dengan nada seceria mungkin.
Terdengar suara Katty yang mendesah dari seberang telepon. “Apa ibumu marah? Kau diusir dari rumah?”
Niken terkejut. “Bagaimana kou bisa tahu?”
“Yah, siapa yang tidak tahu? Seluruh percakapan Discord sekolah kita membicarakan tentang kehamilanmu. Salah satu sumber mengatakan bahwa kau berkeliling dengan seluruh anak laki-laki di sekolah kita. Siapa yang tahu siswa mana yang menjadi ayah dari janinmu?” ujar Katty dengan nada menyindir.
Wajah Niken memerah. “Bagaimana kabar itu bisa beredar di sekolah?” pikir Niken.
Pikiran Niken bekerja cepat dan langsung tertuju kepada Andrew. Karena hanya Niken dan Andrew yang tahu tentang kondisi kehamilannya. Diam-diam Niken menggenggam kabel telepon dengan sangat kuat sampai jari-jarinya memutih.
“Bagaimana bisa kau percaya dengan gosip murahan itu, Katty? Kau adalah sahabatku, kan? Kau tahu bahwa hanya dengan Andrew aku berhubungan intim selama ini. Jelas ini adalah anak Andrew tapi dia tak mengakuinya.”
“Dasar kau pelacur!” umpat Katty.
Niken terkejut karena kata-kata kasar itu meluncur dari mulut sahabatnya. “Apa maksudmu Katty?”
“Apa kau tidak sadar? Sudah lama Andrew tidak menginginkanmu. Bukankah dia sudah mengatakan ingin putus darimu? Kami sudah berpacaran sejak dua bulan yang lalu. Pada malam kejutan di hotel, aku yang berhubungan seks dengannya saat kau entah berada di mana setelah kucekoki obat tidur dalam kaleng sodamu. Sebaiknya kau jangan mengganggu Andrew lagi. Dia milikku saat ini!”
Sakit hati Niken semakin menjadi-jadi. Dia banting telepon umum itu kembali ke gagangnya dan duduk bersandar di dalam bilik telepon. Tubuh Niken menggigil hebat. Air mata benar-benar membasahi wajahnya.
“Malam itu... aku masuk ke kamar hotel dan melakukan hubungan seks dengan siapa?” pikiran Niken semakin kacau. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku hamil, diusir oleh orang tuaku, dan sekarang aku dikenal sebagai pelacur di seluruh sekolah bahkan mungkin kota ini. Apa yang harus aku lakukan?”
Di antara desahan napas mereka yang saling memburu, Axel membisikkan sesuatu ke telinga Niken. “Menikahlah denganku, Niken. Jadilah istriku. Jadilah ibu dari putri dan calon anak-anak kita nanti. Menikahlah denganku, cintaku…” *** Beberapa bulan setelah malam tersebut. Seorang perempuan paruh baya tengah membersihkan meja restoran usai pelanggan terakhir pergi. Wajahnya tampak lelah. Tapi dia masih begitu semangat bekerja. Pintu terbuka. “Maaf kami sudah tutup!” ujar pekerja restoran tersebut tanpa menoleh dan tetap mengelap meja. Seorang gadis kecil berusia tiga tahun yang sangat cantik dan menggemaskan berjalan mendekatinya. Perempuan itu menghentikan aktivitasnya mengelap meja. Dia kaget sekaligus terpukau dengan kecantikan gadis itu. “Hai, Nak! Kau datang dengan orang tuamu?” Perempuan itu menoleh ke pintu dan tidak melihat siapa pun. Dia pun berlutut di depan balita itu untuk menyejajarkan posisinya. “Kau datang sendirian? Siapa namamu? Restoran kami sudah tutup. Apa k
Niken berhasil meloloskan diri dari pelukan Axel tanpa menjatuhkan harga dirinya. Dia mengembuskan napas lega usai mengusir pria itu. Tidak lagi terdengar suara Axel yang berteriak maupun mengetuk pintu. Niken kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan dan aktivitas merawat Angelie. Beberapa jam kemudian, Niken pun menuju ke pintu depan dan membukanya. Dia mengintip ke halaman dan tidak melihat Axel di mana pun. Ada rasa penyesalan sekaligus kehilangan di dalam hati kecilnya. Tapi Niken berusaha menepis semua kekhawatiran itu dan kembali fokus pada kehidupannya saat ini. Saat Niken akan menutup kembali pintu, sudut matanya menangkap sekelebat gerakan yang mengganggunya. Nikah pun keluar dan berjalan menuju ke halaman samping. Dia terkejut ketika melihat Axel tengah berbaring meringkuk di ayunan. “Astaga, apa yang sedang dia lakukan di sana? Benar-benar keras kepala. Kenapa dia tidak juga pergi dari sini?” Niken pun kembali kesal dan membanting pintu hingga menutup rapat. Niken p
Axel kembali ke rumah pantai dan berlari dengan tergopoh-gopoh. Dia membuka pintu rumah yang tidak terkunci dan berteriak memanggil nama Niken. “Niken! Niken Di mana kau?” Axel tidak menemukan Niken di manapun. “Angelie? Ini papa!” Axel pun berlari menuju ke lantai dua. “Angelie? Kalian di mana? Niken?” Rumah itu benar-benar kosong. Axel tidak menemukan Niken dan putrinya di mana pun. Axel nekat pergi ke kamar Niken. Tempat itu juga kosong. Dia mencari ke ruangan yang lain dan melihat sebuah kamar bayi. Langkah Axel melambat begitu melihat banyak sekali perlengkapan bayi di sana. Axel berlutut di depan ranjang bayi. Dia mengambil salah satu sepatu rajut kecil milik putrinya dan menciumnya dengan air mata berderai. “Di mana kalian berada? Apa sesuatu yang buruk menimpa Angelie? Ke mana aku harus mencari kalian?” Axel tidak tahu lagi harus ke mana. Dia pun kembali keluar dan berdiri di halaman rumah dengan gelisah. Dia letakkan tas ranselnya ke tanah dan berdiri di sana sepert
Niken berjalan-jalan di sepanjang pantai bersama dengan putri kecilnya. Dia meletakkan Angelie di dalam stroller. Niken terus bercerita sambil menunjukkan banyak hal kepada Angelie. “Maafkan mama, Angelie. Saat seperti ini, aku benar-benar menyesal pada diriku sendiri karena tidak bisa memberikanmu seorang ayah yang bisa kau banggakan di hadapan teman-temanmu kelak.” Niken berlutut di depan stroller sambil menatap sepasang mata bening bayi itu. Angelie tersenyum ceria sambil sesekali memasukkan tangannya ke mulut. Niken mengulurkan telunjuknya untuk membelai pipi Angelie. Bayi kecil itu pun meraih jari Niken dan menggenggamnya erat. “Aku benar-benar merindukan Mama di saat seperti ini. Apa yang dia lakukan sekarang? Apa dia sehat di sana? Betapa berat rasanya harus membesarkan seorang anak sendirian tanpa didukung oleh suami dan keluarga. Kini, aku tahu betapa marahnya Mama malam itu, ketika tahu aku sedang hamil. Aku bisa mengerti jika dia mengusirku dari rumah. Aku benar-benar la
Niken pulang ke rumahnya yang sepi dan gelap. Tempat pertama yang dia tujuh adalah bekas kamar Axel. Dia buka pintu kamar itu dengan pelan. Di dalam hati kecilnya, Niken berharap ada keajaiban. “Apa yang sedang aku lakukan di sini? Mustahil dia tiba-tiba muncul di sini, kan? Aku bahkan tidak tahu di mana dia saat ini. Setelah kutolak lamarannya, dia pergi begitu saja meninggalkan segalanya.” Niken akan menutup kembali pintu kamar Axel yang kosong. Lalu tatapannya terhenti pada potret Axel berukuran besar dan masih terpasang di dinding. Axel bertelanjang dada dan berpose dengan begitu memikat dalam foto itu. “Hanya foto itu satu-satunya yang masih tertinggal.” Niken mengingat betapa Axel sangat membanggakan foto itu. Saat itulah Niken benar-benar mulai merasakan kesepian. Dia menepis kenangan manis tentang Axel dan lekas menutup kembali pintu kamarnya. Niken pun bergegas menuju ke kamar Angelie. Gadis kecil itu satu-satunya pelipur kesepian Niken saat ini. *** Louis pergi ke pa
Enam bulan kemudian… “Kau tidak perlu membawakanku bunga dan mainan untuk Angelie setiap kali berkunjung ke sini, Louis.” Niken mempersilakan Louis masuk ke rumah pantai yang kini menjadi miliknya. Louis duduk di ruang tamu. Dia menatap ke arah stroller bayi tempat di mana Niken meletakkan Angelie yang sedang tidur lelap di sana. “Kau sepertinya suka bunga. Dan aku juga sama sekali tidak keberatan jika harus membelikan lebih banyak mainan untuk Angelie. Lihatlah dia tidur dengan sangat lelap. Gadis kecil ini tumbuh begitu cepat.” Niken membawakan minuman untuk Louis. “Maaf jika rumah ini berantakan. Karena aku benar-benar harus mengerjakan semuanya sendiri termasuk mengurus Angelie.” “Kau selalu menolak tawaranku untuk memberikan Angelie pengasuh.” “Tidak apa Louis. Aku tidak ingin kehilangan momen berharga menemani masa-masa pertumbuhan emas putriku.” “Oh, aku datang ke sini untuk mengabarkan padamu bahwa kami sudah memilih sutradara untuk film yang akan kita produksi.” “Ben