INICIAR SESIÓNMobil Raka berhenti tepat di depan gerbang besar rumah Aruni. Hari sudah beranjak malam, dan lampu jalanan menyorotkan bayangan panjang di atas aspal."Terima kasih untuk hari ini, Rak. Benar-benar hari yang melelahkan tapi luar biasa," kata Aruni sambil melepas sabuk pengaman.Raka tersenyum dari balik kemudi, ekspresinya hangat. "Sama-sama. Ingat, CEO, istirahatlah. Besok kita punya agenda besar untuk kampanye transparan itu. Jangan memikirkan Aster dulu, oke?"Aruni mengangguk, lalu melangkah keluar. Ia sempat melambaikan tangan sebelum Raka memutar balik mobilnya. Begitu ia memasuki pekarangan, suasana sunyi menyambutnya. Rumah itu tampak megah, namun malam ini terasa begitu dingin dan hampa. Lampu-lampu kristal di ruang tamu tidak dinyalakan, hanya ada beberapa lampu sorot kecil yang menerangi koridor utama.Gelap, pikirnya. Aster tidak ada di rumah.Aruni berjalan pelan menuju kamar Abam. Pintu kamarnya sedikit terbuka, dan dari celah itu ia bisa melihat lampu tidur berwarn
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar Aruni. Tidak ada suara alarm yang melengking paksa, karena Aruni sudah terjaga bahkan sebelum jarum jam menunjukkan pukul tujuh. Ia merasa segar, sebuah sensasi yang sudah lama absen dari rutinitasnya.Tepat pukul sembilan, klakson mobil Raka terdengar di depan pagar. Aruni segera meraih tasnya, memastikan dokumen strateginya tersusun rapi. Saat ia masuk ke kursi penumpang, aroma kopi americano memenuhi kabin mobil Raka."Tepat waktu. Nice," sapa Raka tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Ia terlihat rapi dengan kemeja biru muda yang digulung sampai siku. "Sudah siap buat 'tes' hari ini?"Aruni menyesap kopi yang disodorkan Raka. "Tes apa? Tes mental atau tes operasional?""Keduanya," jawab Raka santai. "Kita bakal bertemu orang-orang yang dulu mungkin meremehkan Aruni Glow karena mereka pikir kamu cuma 'istri Aster'. Hari ini, mereka bakal tahu kalau kamu adalah CEO yang bicara dengan data, bukan dengan koneksi suami."Arun
Langkah Aruni terasa ringan, meski dadanya masih menyisakan sisa-sisa debu emosi dari percakapannya dengan Aster. Ia tidak segera memanggil taksi daring. Ia memilih berjalan kaki menuju halte terdekat, membiarkan angin malam Jakarta yang lembap menyapu wajahnya."Rapuh, ya?" gumamnya pelan, mengulang judul bab kehidupan yang sedang ia jalani di dalam kepalanya sendiri. "Lucu sekali. Selama ini aku pikir akulah yang rapuh, ternyata suamiku pun punya retakan yang sama dalamnya."Ponsel di tasnya bergetar lagi. Bukan Aster, melainkan Raka. Sebuah pesan singkat masuk: Jangan lupa, besok jam 9 pagi kita ke kantor distributor. Jangan begadang mikirin masa lalu, Aruni. Fokus ke masa depan.Aruni tersenyum. Raka adalah tipe orang yang tidak perlu banyak bicara untuk memberikan rasa aman. Ia tidak menawarkan janji manis, tapi ia memberikan kepastian logis.Tiba-tiba, sebuah mobil sedan perak berhenti tepat di samping trotoar tempat Aruni berjalan. Kaca jendela turun, menampakkan wajah Rak
Raka berjalan di samping Aruni menuju parkiran, langkah mereka serempak. Aruni masih merasakan sisa-sisa adrenalin yang bergejolak di dadanya. Tangannya yang memegang tas sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena ia baru saja menyadari bahwa ia bisa—dan mampu—menutup pintu bagi Aster."Kamu tadi keren banget," celetuk Raka, memecah keheningan saat mereka sampai di dekat mobil Raka.Aruni tersenyum tipis, kali ini senyumnya lebih tulus. "Keren? Aku merasa lebih seperti sedang berakting di drama Korea kelas dua. Tapi, entahlah, Rak. Aku capek. Capek harus pura-pura kalau semuanya baik-baik saja."Raka bersandar pada badan mobilnya, menatap Aruni dengan pandangan teduh. "Kamu nggak harus pura-pura. Kamu tahu kan, di dunia kedokteran, luka yang dibiarkan terus menerus tanpa dibersihkan bakal infeksi? Begitu juga perasaanmu.""Dan kamu sedang menawarkan diri jadi antiseptiknya?" tanya Aruni dengan nada bercanda, berusaha mencairkan suasana yang mulai berat."Aku cuma teman
Minggu-minggu setelah pengakuan itu, rumah mereka benar-benar menjadi ruang hampa. Aster mencoba segala cara—mulai dari memesankan makanan favorit Aruni, hingga sengaja pulang lebih awal—tetapi Aruni selalu memiliki kesibukan "mendadak". Jika tidak ada revisi laporan praktikum, maka ada seminar yang harus dihadiri. Aruni tidak marah, ia hanya... tidak ada.Namun, di balik sikap dingin yang ia tunjukkan pada Aster, badai lain justru menghantam dunianya yang lain: Aruni Glow.Siang itu, di kantin kampus, Aruni duduk dengan laptop yang menyala. Matanya memicing menatap grafik penjualan bulan ini yang terjun bebas. Laporan dari kepala toko Aruni Glow di ponselnya membuat tengkuknya meremang."Penjualan turun 40 persen, Run? Angka ini tidak masuk akal," suara bariton yang familiar memecah konsentrasi Aruni.Aruni menoleh, mendapati Raka Bumi sudah berdiri di sampingnya dengan nampan berisi kopi. Kini Raka sudah mulai akrab dengan Aruni."Aku juga tidak tahu, Rak. Padahal stok aman, so
Malam itu, rumah mereka yang megah terasa seperti sebuah museum. Dingin, sunyi, dan tak berpenghuni meski Aruni dan Aster berada di bawah atap yang sama.Aruni memilih untuk menghabiskan waktu di ruang keluarga, duduk di sofa dengan buku kedokteran yang sebenarnya tidak ia baca sama sekali. Matanya menatap halaman yang sama selama dua jam. Ketika Aster masuk ke ruangan dengan wajah lelah dan kemeja yang berantakan, Aruni bahkan tidak menoleh. Ia sengaja memfokuskan pandangannya pada paragraf tentang prosedur bedah minor, seolah-olah itu adalah hal terpenting di dunia.Aster berdiri di ambang pintu, ragu-ragu. Ia memegang dua gelas cokelat hangat. Kebiasaan lama mereka saat sedang penat."Run," panggil Aster pelan. Suaranya serak.Aruni membalik halaman buku dengan tenang. "Hm?""Aku... aku buatkan cokelat hangat. Seperti yang kamu suka." Aster melangkah mendekat, meletakkan gelas itu di meja tepat di depan Aruni.Aruni menutup bukunya dengan pelan, meletakkannya di samping, lal
Malam sebelum hari pernikahan yang dipaksakan itu tiba, suasana rumah Sanjaya lebih mirip persiapan pemakaman daripada pesta kebun. Aruni baru saja menidurkan Abam ketika pintu kamarnya diketuk dengan kasar. Bukan ketukan, lebih tepatnya gedoran. "Aruni! Keluar kamu. Papa mau bicara," suara Papa
Suasana duka yang menyelimuti rumah mewah keluarga Sanjaya tidak segera menguap seiring dengan berlalunya tanah merah di pemakaman Jeni. Bagi Aruni, setiap embusan napas di rumah itu kini terasa seperti menghirup serpihan kaca—tajam, sesak, dan melukai paru-parunya. Kalimat terakhir Tante Gina ma
Malam itu hujan turun rintik-rintik, menambah kesan suram di rumah mewah keluarga Sanjaya. Abam baru saja terlelap setelah hampir dua jam rewel karena pilek. Aruni menyandarkan punggungnya di sofa ruang tengah, matanya perih karena terus-menerus terjaga. Di atas meja, buku materi kuliah kedokteran
Bulan-bulan kini berlalu seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya bagi Aruni. Puncaknya adalah saat Jeni melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Aruni sempat berpikir bahwa kehadiran bayi itu akan melembutkan hati Jeni dan Tante Gina. Ia berharap naluri keibuan Jeni akan muncul dan suasan







