Aruni berdiri terpaku di ambang pintu, menyaksikan mobil Papa menghilang di balik gerbang. Hatinya mencelos. Seolah-olah separuh jiwanya ikut pergi bersama mobil itu. Saat ia berbalik, Tante Gina sudah berdiri tegak di hadapannya, senyum manisnya lenyap tak bersisa. Wajahnya kini terlihat kaku, dengan tatapan mata yang dingin menusuk. "Aruni," panggil Tante Gina, suaranya terdengar datar, tanpa kehangatan sedikitpun. "Sekarang Papa kamu sudah pergi, ada beberapa hal yang harus kita bicarakan." Aruni menelan ludah, firasat buruknya semakin kuat. "Bicara apa, Tante?" "Dengar baik-baik," kata Tante Gina, melipat tangan di dada. "Selama ini kamu hidup enak, semua serba dilayani. Tapi sekarang, keadaan akan sedikit berubah." Belum sempat Aruni mencerna perkataan itu, Jeni muncul dari dalam rumah, memegangi perutnya yang semakin membesar. Ia berjalan dengan sedikit terseok-seok, lalu duduk di sofa ruang tamu tanpa meminta izin. "Aruni, bisakah kamu ambilkan aku segelas air d
Last Updated : 2026-03-13 Read more