Share

Hanya Ingin Pulang

Penulis: Jannah Zein
last update Tanggal publikasi: 2026-07-31 09:51:33

Bab 26: Hanya Ingin Pulang

Andika menyandarkan punggungnya di jok mobil setelah melepaskan jas putihnya yang mendadak terasa sesak setelah adu mulut yang melelahkan dengan ibunya. Pikirannya melayang pada Bilqis, istri rahasianya yang pasti sedang menunggu di rumah dengan cemas. Andika hanya ingin pulang, memeluk tubuh ringkih itu, dan melupakan sejenak beban dunia luar.

Di balik izinnya, Andika tahu hati Bilqis begitu berat. Sorot mata bening itu tak bisa berbohong. Namun saat itu Andika sudah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Tak Ada Yang Sempurna

    ​BAB 118: Tak Ada Yang Sempurna (BAB PENUTUP)​Delapan bulan kemudian.​Lorong ruang bersalin RSUD Setia Budi dipenuhi ketegangan berbaur kehangatan. Jarum jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Di dalam kamar bersalin utama, erangan halus bertukar dengan napas teratur yang dipandu oleh tim medis.​Andika melepas sebagian profesionalismenya sebagai dokter spesialis kandungan malam itu. Sebagai gantinya, ia hadir sepenuhnya sebagai seorang suami. Ia berdiri di sisi kiri tempat tidur bersalin, menggenggam erat jemari Bilqis yang dingin dan berpeluh. Dengan tangan kanannya, Andika mengusap lembut kening istrinya, membisikkan doa-doa penguat di setiap selang gelombang kontraksi.​"Sedikit lagi, Sayang... Tarik napas pelan, hembuskan. Mas ada di sini, kamu luar biasa," bisik Andika, suaranya yang serak menyembunyikan getar emosi yang luar biasa.​Di sisi kanan tempat tidur, Naina tak henti-hentinya mengusap rambut putri sulungnya. Air mata mengalir dipipinya yang mulai digaris keripu

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Muara Hidup

    BAB 117: Muara Hidup​Suara panggilan antrean dari mikrofon suster Rini terdengar samar-samar menembus dinding kedap suara ruang kerja Andika. Di dalam ruangan sejuk itu, Bilqis baru saja menyelesaikan potongan buah apel terakhirnya. Rasa lega menyelimuti hatinya saat ia mengelus perutnya yang masih rata. Tidak ada lagi rasa mual yang menyiksa seperti kemarin pagi, seolah sang janin di dalam sana mengerti bahwa kedua orang tuanya tengah dikelilingi kedamaian.​Waktu bergulir cepat di RSUD Setia Budi. Jarum jam dinding tepat menunjukkan pukul satu siang lewat lima belas menit ketika pintu penghubung ruang kerja berbunyi pelan. Andika melangkah masuk seraya melepas jas putih dokternya. Garis-garis kelelahan tampak samar di paras tampannya setelah memeriksa puluhan pasien sepanjang pagi, namun binar matanya seketika hangat begitu tatapannya jatuh pada sang istri.​"Bagaimana, Sayang? Bosan menunggu Mas?" tanya Andika lembut seraya menggantung jas dokternya di kapstok kayu, lalu melangka

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Kagum Dalam Keheningan

    BAB 116: Kagum dalam Keheningan​Pintu kayu ruang kerja Andika kembali tertutup rapat setelah Suster Rini berpamitan keluar. Bilqis mengulas senyum tipis, lalu meraih potongan buah apel segar yang disajikan dengan rapi di atas nampan. Rasa manis dan renyah apel itu seketika memanjakan lidahnya, mengusir sisa-sisa rasa mual yang sempat mengintai. Di layar televisi, tayangan berita tentang dinamika bisnis dan politik terus bergulir, namun hati Bilqis sudah berada di tempat yang jauh lebih tenang, di dalam perlindungan hangat sang suami.​Sementara itu, di balik meja pendaftaran Poliklinik Kebidanan dan Kandungan yang padat oleh antrean pasien, Suster Rini berjalan kembali dengan langkah yang perlahan melambat. Nampan kosong di genggamannya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.​Perawat muda itu menarik kursi kerjanya, lalu mendudukkan diri di depan layar komputer pendaftaran. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu ruang kerja Dokter Andika yang tertutup rapat, lalu beralih menyapu

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Dokter Khusus di Rumah Sendiri

    ​BAB 115: Dokter Khusus di Rumah Sendiri​Suasana rumah dinas terasa jauh lebih lapang dan hangat setelah kepulangan Naina ke Jakarta. Tidak ada lagi ketegangan yang menggantung di udara, tidak ada lagi rasa cemas, yang tersisa di rumah nan sederhana itu hanyalah kedamaian yang telah lama dinantikan oleh Andika dan Bilqis.​Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya yang hangat dari balik pepohonan. Di dalam dapur, aroma harum teh chamomile yang diseduh hangat menguar pelan, membaur dengan aroma roti panggang.​Bilqis berdiri di dekat kompor, bersiap untuk menggoreng telur mata sapi untuk sarapan mereka. Namun, baru saja ia menyalakan kompor dan menuang sedikit minyak ke atas wajan, sebuah lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang.​"Eits, mau buat apa, Sayang?" bisik suara bernada rendah yang sangat familiar tepat di samping telinganya.​Bilqis mengecap bibirnya pelan, menoleh sedikit seraya tersenyum manis. Andika sudah tampil segar dengan kemeja kasualnya,

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Sambutan Hangat

    BAB 114: Sambutan Hangat ​Suara deru pendingin udara di ruang kerja Andika terasa begitu sejuk, menenangkan gemuruh kebahagiaan yang masih menyelimuti dada Bilqis. Ponsel di genggamannya perlahan ia letakkan di atas meja. Ucapan selamat dan isak haru dari Queen, saudara sesusunya di Australia masih bergema hangat di ingatannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Bilqis merasakan kebebasan mutlak atas jalan hidup yang ia pilih sendiri.​Jemari lentiknya bergerak lembut mengusap permukaan perutnya yang masih datar. Ada sesungging senyum tulus yang terukir di bibirnya. Di dalam sana, benih cinta yang ia rajut bersama Andika tengah tumbuh, menjadi jangkar yang mengikat mereka dalam ikatan yang tak tergoyahkan oleh ambisi atau keangkuhan siapa pun.​Klek.​Pintu penghubung antara ruang kerja dan ruang periksa utama terbuka pelan. Andika melangkah masuk dengan senyum hangat yang langsung terpancar begitu tatapan mata mereka beradu. Pria itu melepas stetoskop yang melingkar di lehe

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Sukacita di Rumah Sakit

    BAB 113: Sukacita di Rumah Sakit​Di dalam ruang periksa Poliklinik Kebidanan dan Kandungan RSUD Setia Budi, keheningan hangat yang sempat tercipta paska pemeriksaan USG perlahan mencair. Andika mengusap lembut sisa gel ultrasound di perut halus istrinya dengan tisu steril, lalu membantunya bangkit dan duduk di tepi tempat tidur pemeriksaan. Bilqis merapikan pakaiannya dengan jemari yang masih sedikit gemetar karena rasa haru yang membuncah di dalam dada.​Setelah mematikan layar monitor USG, Andika melangkah menuju pintu dan memutar kunci dari dalam. Suster Rini, perawat senior yang sejak pagi berjaga di area pendaftaran poliklinik, berdiri di dekat meja administrasi dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.​"Bagaimana hasilnya, Dokter Dika?" tanya Suster Rini ramah, matanya melirik sekilas ke arah Bilqis yang sedang melangkah pelan mendekati meja kerja Andika.​Andika menyunggingkan senyum paling lebar yang belum pernah dilihat oleh para staf medis di RSUD it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status