Compartir

Malam Pertama

Autor: Jannah Zein
last update Fecha de publicación: 2026-07-06 09:03:02

Bab 7: Malam Pertama

Mobil SUV hitam milik Andika begitu lincah membelah jalanan, meninggalkan batas kota metropolitan menuju sebuah daerah pinggiran yang tenang di kabupaten sebelah. Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti mereka. Andika fokus menyetir dengan rahang yang mengeras, sementara Bilqis duduk di sampingnya, yang meski wajahnya masih tampak pucat namun sudah lebih tenang dari sebelumnya.

Meski Andika tahu, jika memiliki Bilqis itu semudah membalik telapak tangan, namun Andika te
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Janji Andika

    BAB 83: Janji Andika​Suasana kamar utama kembali diselimuti oleh hening yang menenangkan. Pijar lampu temaram memantulkan bayangan dua insan yang saling merengkuh erat di atas ranjang king-size. Dinginnya udara dari pendingin ruangan terhalang oleh selimut tebal yang ditarik Andika hingga menutupi tubuh mereka berdua.​Di dalam dekapan hangat sang suami, Bilqis perlahan mulai bisa mengatur napasnya. Isak tangis yang tadi menyiksa tenggorokannya kini menyurut sepenuhnya, menyisakan jejak basah dan kemerahan samar di kedua pipinya. Jemari mungilnya masih mencengkeram erat bagian depan kemeja Andika, seolah-olah melepaskannya walau sedetik saja akan membawa kembali mimpi buruk yang baru saja melewatinya.​Andika menundukkan kepala, mendaratkan kecupan lembut dan lama di puncak kepala Bilqis. Jemari tegapnya tak berhenti bergerak, mengusap lembut punggung polos istrinya yang terbalut kain bathrobe sutra. Pria itu meresapi detak jantung Bilqis yang perlahan melambat, berpacu seirama denga

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Maafkan Mas, Sayang

    BAB 82: Maafkan Mas, Sayang ​Isak tangis Bilqis masih bergema lirih di tengah ruang tamu yang luas dan dingin. Air matanya telah membasahi kain bathrobe di bagian lutut, tempat ia menenggelamkan wajahnya dalam keputusasaan yang begitu pekat. Bayangan mimpi buruk yang ia takuti selama ini seolah benar-benar menjelma menjadi kenyataan. Pikiran-pikiran liar terus menghantuinya, membayangkan Andika benar-benar pergi meninggalkannya demi menuruti perintah mama Novia atau menghindari kehancuran karier dan nama besar keluarganya.​Setiap detak jarum jam di dinding terasa seperti siksaan, menghantam dadanya dengan begitu menyakitkan. Di dalam keheningan rumah yang luas itu, Bilqis merasa sangat kerdil dan sendirian. Ketakutan bahwa ia akan dibuang kembali ke dalam kesendirian, tanpa ada tempat bersandar membuatnya makin terisak hebat. Napasnya tersengal-sengal, diiringi dada yang berdenyut nyeri karena panik yang meluap-luap.​Di saat Bilqis tenggelam dalam derita batin dan rasa putus asa y

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Di Bawah Lampu Operasi

    BAB 81: Di Bawah Lampu Operasi​Lampu indikator merah berdesis terang di atas pintu ruang operasi nomor tiga RSIA Kiera Medika Utama. Suasana di dalam ruangan berpendingin udara rendah itu begitu tegang, hanya diwarnai denting instrumen bedah dan irama cepat dari monitor tanda-tanda vital yang berbunyi teratur namun kritis.​Andika, yang telah terbalut gaun operasi steril, sarung tangan lateks, dan masker bedah, berdiri tegak di samping meja operasi. Tatapannya tajam dan terfokus penuh, menyapu lapangan bedah yang dipenuhi darah akibat penumpukan cairan dari solusio plasenta. Sebagai dokter spesialis OBGYN senior, aura kepemimpinannya menguar kuat, menenangkan seluruh tim medis di dalam ruangan tersebut.​"Suction, Suster! Bersihkan area perdarahan!" perintah Andika tegas, suaranya tenang namun memancarkan otoritas penuh seorang spesialis senior. "Dokter Gusti, bagaimana kondisi hemodinamik pasien saat ini?"​"Tensi sempat drop ke 80/50, Dok, tapi infus dua jalur dan transfusi darah

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Malam Yang Panjang dan Panggilan Darurat

    BAB 80: Malam yang Panjang dan Panggilan Darurat​Kehangatan tubuh Andika seolah menjadi benteng pertahanan terakhir yang menjaga Bilqis agar tidak runtuh sepenuhnya. Merasa istrinya sudah terlalu lelah dan rapuh setelah badai emosi yang menerjang, Andika perlahan melepaskan dekapannya, lalu membungkuk dan mengangkat tubuh mungil Bilqis ke dalam gendongannya.​Bilqis terkesiap kecil, namun ia tidak melawan. Kedua lengannya secara otomatis melingkar erat di leher sang suami, menyandarkan kepalanya yang pusing di dada bidang Andika. Di tengah guncangan dunia luar yang mulai menolak keberadaan mereka, pelukan dan dekapan ini adalah satu-satunya tempat paling aman bagi Bilqis untuk pulang.​Andika membawa istrinya melangkah pelan menaiki anak tangga menuju kamar utama. Lampu kamar sengaja dibiarkan temaram, memancarkan cahaya hangat yang menenangkan. Dengan sangat hati-hati, Andika membaringkan Bilqis di atas ranjang king-size yang empuk. Pria itu menyusul naik ke atas peraduan, memposis

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Pelukan di Tengah Badai

    BAB 79: Pelukan di Tengah Badai​Suara mesin mobil SUV hitam milik Andika terdengar membelah heningnya pelataran rumah. Lampu sorot kendaraan itu menembus kegelapan malam sebelum akhirnya padam sepenuhnya. Di dalam kabin, Andika masih terdiam sejenak. Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan erat, meresapi rasa panas di pipi kanannya yang mulai menyurut, berganti menjadi denyut nyeri yang menyayat di dalam dada.​Langkah kaki Andika yang teratur menyusuri teras rumah terasa jauh lebih berat dari biasanya. Ketika pintu utama terbuka, suasana dalam rumah terasa begitu hening, namun hangat oleh pijar lampu ruang tengah.​Di sofa ruang tamu, Bilqis duduk tegak dengan jemari saling bertaut erat di pangkuan. Sejak keberangkatan Andika tadi sore, detik demi detik terasa seperti siksaan bagi gadis itu. Begitu mendengar derit pintu terbuka, Bilqis seketika bangkit berdiri. Matanya yang sembap dan penuh kecemasan langsung terkunci pada sosok suaminya.​"Mas Dika..." bisik Bilqis dengan suara

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Istri....?!

    BAB 78: Istri...?!​Keheningan di ruang kerja berhias kayu jati itu pecah seketika, digantikan oleh hantaman emosi yang membuncah. Pengakuan lugas tanpa ragu dari bibir anak tunggalnya membuat tubuh Mama Novia gemetar hebat. Wajah anggun yang biasa memancarkan kehangatan itu kini memerah padam, diliputi kombinasi syok, amarah, dan rasa kekecewaan yang tak tertahankan.​"Istri...?!" Suara Novia melengking tinggi, membelah kesunyian malam. Matanya membelalak, menatap Andika seolah tak percaya pria matang berumur tiga puluh sembilan tahun di hadapannya adalah anak yang ia besarkan dengan segala kebanggaan. "Kamu bilang dia istri kamu, Dika?! Kamu gila?!"​Andika tidak berkedip. Ia tetap berdiri tegak dengan bahu tegap, menerima tatapan tajam ibunya tanpa niat untuk mundur selangkah pun. "Andika tidak gila, Ma. Kami sudah menikah secara sah secara agama. Bilqis adalah istri sah Andika."​PLAK!​Suara tamparan keras bergaung di seluruh sudut ruangan. Tamparan tangan Novia mendarat telak di

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status