로그인Bab 6: Janji suci
Andika nyaris tersedak udaranya sendiri. Sepasang matanya membelalak sempurna, menatap Bilqis dengan tatapan tidak percaya. Detak jantungnya yang baru saja mulai stabil, kini kembali berpacu menggila. "Nikah? Hari ini?" Andika mengulang kata itu dengan suara serak, tawa hambar yang sarat akan kepanikan lolos dari bibirnya. "Apa-apaan kamu, Bilqis? Jangan gila kamu! Nikah itu bukan urusan main-main, tuan putri!" "Kakak pikir aku bercanda?" balas Bilqis dengan keberanian penuh, meski wajahnya masih tetap terlihat sedikit pucat. "Lebih gila mana, pria terhormat yang menjadikan adik angkatnya sendiri sebagai fantasi seksual saat melampiaskan gairah, lalu berusaha menutupinya dengan sikap manis?! Giliran diminta untuk nikah, macam-macam alasan!" Andika bungkam seketika. Ucapan Bilqis yang begitu ringan namun terasa sangat menohok tepat di pusat kesadarannya. Bilqis benar. Dia memang jauh lebih gila karena menyimpan gairah terselubung pada gadis di hadapannya ini, gadis yang pernah ia timang dan manjakan sebagai seorang adik kecil. Dia memang berjanji akan menikahi Bilqis jika gadis itu bersedia. Namun bukan berarti nikah yang dia maksud adalah nikah dadakan yang harus hari ini juga. Sungguh Andika tidak habis pikir. Apa gadis itu mengira jika dia keluar dari batu, tidak punya keluarga yang harus diberitahu dan dimintai restu?! Secara status sosial, Andika memang terlihat mapan dengan profesinya sebagai dokter spesialis kandungan terkenal, bahkan dia memiliki RSIA Kiera Medika Utama. Namun bukan berarti dia memiliki kekuasaan penuh. Investor dari rumah sakit miliknya tidak lain adalah ayah biologis dari gadis yang saat ini begitu ringan mengucapkan sebuah pernikahan. "Bilqis, pikirkan karirmu!" Andika berusaha membujuk, nada suaranya berubah panik. "Kamu baru saja lulus S.Ked! Kamu baru memegang ijazah sarjana kedokteran hari ini! Masa depanmu masih panjang, kamu harus menjalani pendidikan profesi, keliling internship, fokus dulu mengejar profesi doktermu, Sayang!" "Pikiranku sangat matang, Kak Dika," potong Bilqis cepat. Sepasang mata bulatnya menatap lurus ke dalam manik mata elang Andika, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Aku tahu persis apa yang aku inginkan. Aku tidak mau cuma jadi fetish tersembunyi di kamar Kakak. Aku mau kita menikah. Siri dulu tidak apa-apa! Aku juga tidak minta mahar dan pesta yang mewah. Cukup Kakak tidak pergi dariku, itu sudah lebih dari cukup." "Aku hanya ingin Kakak mengambilku sepenuhnya, bukan cuma bayanganku, tetapi jiwa dan ragaku. Kakak udah janji kan, untuk melindungiku dengan cara yang terhormat?" "Tapi kalau Kakak tidak menikahiku sekarang, yang ada Kakak terus-menerus menjadikanku sebagai bayangan di saat Kakak tengah sendirian di dalam kamar." Andika langsung bangkit dari tepi ranjang. Pria itu berjalan mondar-mandir di kamar tamu dengan frustrasi, meremas rambutnya yang berantakan. "Ini gila... gila!" Andika berbalik, menatap Bilqis dari jarak beberapa langkah. "Bagaimana dengan Papa Albert? Bagaimana dengan Mama Naina? Dan terlebih lagi, bagaimana dengan Mamaku? Mama Novia sudah menganggapmu seperti anak sendiri! Kalau mereka tahu apa yang hampir kita lakukan tadi, dan sekarang kita mendadak nikah siri... kita akan memicu perang keluarga, Bilqis!" Mendengar nama Papa Albert disebut, kilat kepedihan sekaligus keberanian yang dingin melintas di mata Bilqis. Gadis itu tidak ikut berdiri. Dia tetap duduk di ranjang, memeluk lututnya di balik selimut tebal. "Papa Albert tidak akan peduli, Kak. Dunianya sudah penuh oleh Evan. Anaknya cuma Evan, bukan aku dan Queen," ujar Bilqis, nadanya mendadak berubah datar dan dingin, membuat Andika tertegun. Bilqis mendongak, menatap Andika dengan senyuman tipis yang menyayat hati. "Dan apakah Kak Dika lupa satu hal? Secara hukum... aku ini anak yang lahir di luar pernikahan resmi Papa Albert dan Mama Naina." Andika terdiam. Tenggorokannya mendadak kering. Sebagai pria dewasa, dia paham betul ke mana arah pembicaraan ini. "Secara hukum agama dan negara, nasabku dengan Papa Albert itu terputus, Kak," bisik Bilqis lirih, setetes air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya kembali meluncur mulus di pipinya. Ini untuk kesekian kalinya ia menangis hari ini. "Papa Albert tidak bisa dan tidak berhak menjadi wali nikahku. Aku tidak butuh restunya, aku juga tidak butuh tanda tangannya. Aku hanya butuh Wali Hakim untuk membuat pernikahan kita menjadi sah." Bilqis menyibak selimut, berdiri perlahan dan melangkah mendekati Andika yang kini terpaku seperti patung di tengah ruangan. "Aku sendirian di dunia ini, Kak. Papa Revan sudah lama tiada. Keluargaku hanyalah sebuah formalitas di atas kertas," Bilqis meraih tangan kanan Andika, membawa telapak tangan hangat yang tadi sempat mengusap pipinya. "Cuma Kakak yang aku punya. Jadi... tolong bawa aku pergi dan nikahi aku." Andika menatap wajah rapuh di hadapannya. Pertahanan logisnya runtuh lapis demi lapis. Fakta tentang nasab Bilqis yang terputus seolah menjadi palu gada yang menghancurkan semua dinding penghalang moral di kepalanya. Secara hukum Tuhan, gadis di depannya ini memang bebas untuk ia miliki secara sah melalui Wali Hakim, tanpa perlu melewati birokrasi restu Albert Haikal Zaidan yang rumit. Bilqis memiliki hak penuh atas dirinya sendiri. Sialnya... Andika memang sangat menginginkan gadis ini. Rasa cinta dan gairah yang ia kunci rapat bertahun-tahun kini membuncah tanpa bendungan. Kesempatan untuk memiliki Bilqis seutuhnya kini terbuka lebar. Padahal hidupnya dikelilingi banyak wanita, termasuk rekan sejawat dokter, bidan, dan perawat yang cantik-cantik. Namun hatinya mati rasa untuk wanita lain, kecuali untuk Bilqis. Daripada ia terus melampiaskan gairah secara berdosa dalam bayang-bayang fantasi, bukankah melindunginya dalam ikatan sah di mata Tuhan adalah jalan paling rasional? Lagi pula, ini adalah nikah siri. Sebuah komitmen yang sah secara agama untuk membentengi gairah mereka yang hampir meluap, sembari menjaga kehormatan Bilqis hingga gadis itu siap mempublikasikannya kelak. Andika menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia menggenggam balik jemari Bilqis, menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. "Satu jam dari sekarang, bersiaplah. Pakai pakaian yang rapi dan tertutup," ujar Andika dengan suara berat, dalam, dan tegas tanpa bisa diganggu gugat. "Kita akan menemui penghulu. Hari ini, kamu akan resmi jadi istriku." BAB 48: Bertemu JalanPria berkemeja pendek itu tidak menunjukkan raut marah sama sekali. Dia justru tersenyum tipis, senyum tenang yang tertata rapi, tipikal seseorang yang terbiasa menghadapi pasien histeria. Dia sudah kenyang makan asam garam menghadapi tingkah laku pasien kelas rendah yang pembiayaan medisnya ditanggung oleh negara.Sejak dia masih menjadi dokter umum dulu, kemudian ikatan dinas dan sekarang dia sudah menjadi dokter spesialis kandungan senior, yang meskipun kondisi karirnya harus mengalami masalah berat seperti ini, dia sudah terlalu biasa menghadapi pasien. Perilaku gadis yang baru saja mengalami peristiwa kecopetan ini belum seberapa baginya."Tenang dulu," ujar pria itu lembut seraya menyodorkan beberapa lembar tisu kering ke arah Hilya. "Aku baru saja memarkirkan mobil di seberang sana sewaktu mendengar teriakanmu. Kejadiannya cuma hitungan detik, dan penjambret itu naik motor kencang sekali. Jalur di sini padat, mengejar mereka tanpa persiapan cuma akan me
BAB 47: Kesedihan HilyaSuara teriakan pertengkaran mama dan papanya masih bergema bising di kepala Hilya. Masih segar di ingatannya mamanya yang meminta sang Papa untuk kembali kepada Novia, istri pertamanya yang sekarang justru menjadi istri orang.Hilya menggeleng samar. Kehidupan rumah tangga orang tuanya emang rumit."Ya ampun... bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Masa iya Papa disuruh merebut Tante Novia dari Om Roy. Dipikir-pikir emang Mama sebenarnya kelewatan juga." Hilya terus menggerutu sembari matanya fokus menatap ke depan. Jalanan nampak ramai lalu lalang kendaraan, namun itu tidak jadi masalah bagi Hilya. Yang penting dia menjauh dulu dari rumah itu, rumah yang sekarang seperti neraka untuknya. Sempat berpikir dibenaknya untuk tinggal terpisah dari orang tua, namun dia tidak bisa melakukan itu, karena biaya kost itu mahal, sementara rumah orang tuanya pun cukup dekat dengan kampus, tempat dia menimba ilmu. "Bagaimana bisa Papa menyuruh aku kerja? Emangnya pekerjaa
BAB 46: Tambang Emas BaruSebuah taksi berhenti tepat di depan rumah kontrakan berpagar besi kusam di kawasan pemukiman padat. Hilya melangkah keluar dengan senyum lebar yang tak sanggup ia sembunyikan. Keangkuhan yang sempat runtuh di rumah Andika tadi pagi kini berganti menjadi rasa puas yang membuncah saat jemarinya meraba selembar kertas berharga di dalam tasnya.Meski Bilqis sempat memberikan perlawanan, namun gadis itu ternyata tetap mau mengeluarkan uang untuknya.Masa bodoh bagi Hilya, yang penting dia mendapatkan uang yang ia inginkan. Meski jika dipikir-pikir, apa yang diucapkan oleh Bilqis itu memang benar, dia cuma anak seorang pelakor."Mama! Ma!" teriak Hilya begitu melintasi pintu depan yang setengah terbuka.Rere yang sedang duduk di sofa lusuh seraya memoles cat kuku mendongak, menatap putri bungsunya dengan raut wajah masam. "Apa sih, Hilya? Teriak-teriak kayak orang kesurupan! Kamu bisa enggak sih pulang bawa berita bagus? Mana? Dikasih uang UKT sama abang tirim
BAB 45: Siap, IstrikuSuara derap langkah kaki Hilya yang tergesa-gesa meninggalkan lantai atas perlahan menghilang, disusul dentum pintu utama yang ditutup rapat. Memang se bar-bar itu kelakuan Hilya, entah bagaimana cara orang tuanya mendidik gadis itu. Benar-benar tak punya sopan santun di rumah saudara sendiri.Keheningan kembali merayap di setiap sudut rumah.Bilqis mengembuskan napas panjang. Jemarinya yang memegang tepian meja rias gemetar tipis. Pekikan dan pembelaan dirinya di depan Hilya tadi menguras sisa tenaga yang ia miliki sejak pagi. Pengakuan bahwa mama Naina tidak pernah merebut suami orang adalah kebenaran yang selalu ia genggam, namun tetap saja, sebutan 'anak haram' yang terlontar dari mulut Hilya meninggalkan goresan perih baru di atas luka lamanya."Andaikan Papa Revan masih ada, aku lebih baik dianggap sebagai anggota keluarga Pratama ketimbang keluarga Zaidan, walaupun setiap hari harus berantem dengan Tante Revi," keluh Bilqis dalam hati. Matanya menatap
BAB 44: Berhenti Menyebutku Sebagai Anak Haram, Hilya!Hilya bersedekap dada, mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan senyum kemenangan yang amat culas. Dia merasa baru saja menemukan sesuatu yang berharga dari teka-teki hubungan Bilqis dengan Andika.Namun, harapan Hilya untuk melihat raut wajah panik atau ketakutan dari Bilqis sirna begitu saja.Bilqis merapikan tatanan rambutnya dengan tenang. Anak-anak rambutnya yang berkeliaran di dahi dan pelipisnya kini sudah rapi di belakang telinganya. Perempuan muda itu menarik napas, menyadari satu hal,: Pernikahan dengan Andika, yang meski cuma siri akan menyeretnya ke dalam pusaran masalah keluarga pria itu.Nama papa Amran bukan hal yang asing bagi Bilqis meski dia nyaris tidak pernah bertemu dengan pria itu, pria itu hanya sesekali menelpon Andika dan hubungan di antara ayah dan anak itu begitu kaku. Keduanya hidup dalam egonya masing-masing.Tak bisa dipungkiri, bukan cuma dirinya, tapi masa lalu Andika juga sangat pahit.Matanya
BAB 43: Tamu Tak DiundangSuara teriakan security dan pintu pagar depan yang terdorong kasar diikuti langkah kaki tergesa-gesa memutus keheningan pagi di rumah besar itu. Bilqis yang baru saja mengusap sisa air matanya di kamar utama langsung tersentak. Belum sempat dia melangkah keluar kamar, suara teriakan yang sangat akrab dan bernada menuntut sudah menggema di area foyer di lantai bawah."Kak Dika! Kak Dika! Aku tahu Kak Dika belum ke rumah sakit!"Bilqis mengelus dadanya yang berdebar kaget. Ini beneran tamu tak diundang.Hilya. Ngapain gadis manja itu kemari? Apa sedang butuh uang?!Bilqis segera memutar rekaman memorinya soal kejadian di mall itu, dia berpikir jika ini merupakan buntut dari kejadian yang membuat Hilya marah besar.Gadis manja yang merupakan anak bungsu dari Tante Rere, istri kedua dari Amran, papanya Andika itu melangkah masuk tanpa membunyikan bel, memanfaatkan gerbang depan yang memang belum sempat dikunci otomatis oleh sekuriti. Sejak Andika memutuska







