Compartilhar

Pertemuan

Autor: Jannah Zein
last update Data de publicação: 2026-08-20 18:15:47

BAB 99: Pertemuan

​Udara sore di kawasan Darling Harbour bertiup cukup kencang, membawa hawa dingin khas pertengahan musim dingin Sydney yang menusuk hingga ke tulang. Di sepanjang area pejalan kaki tepi pelabuhan, hilir mudik orang-orang yang mengenakan mantel tebal membelah jalur dengan terburu-buru. Namun, di salah satu sudut dermaga, Bilqis memilih untuk menghentikan langkahnya.

​Wanita muda itu berdiri bersandar pada pagar besi pelabuhan, mengenakan mantel rajut panjang berwarna abu-abu da
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Bertaut Erat

    BAB 100: Bertaut Erat​Langkah kaki Andika dan Bilqis yang saling bertaut erat membawa mereka tiba di lorong lantai atas kompleks apartemen mewah kawasan Darling Harbour. Setelah momen emosional di tepi dermaga, rasa lelah akibat penerbangan panjang yang sempat menghimpit Andika seolah menguap, digantikan oleh kehangatan jemari Bilqis yang berada dalam genggamannya.​Bilqis menempelkan kartu akses pada pintu unit apartemen, lalu mendorongnya pelan. "Queen, aku pulang..." panggil Bilqis seraya melangkah masuk, disusul Andika di belakangnya.​Di ruang tengah yang hangat, Queen sedang berdiri di dekat meja makan, sementara Liam baru saja keluar dari dapur membawakan segelas jus segar. Begitu mendengar suara pintu dibuka, keduanya serentak menoleh.​Mata Queen membelalak sempurna saat melihat sosok pria tegap bersetelan mantel hitam yang berdiri tepat di samping Bilqis. "Kak... Andika?" gumam Queen tak percaya.​Andika menghentikan langkahnya. Tatapan matanya yang tajam seketika tertuju

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Pertemuan

    BAB 99: Pertemuan​Udara sore di kawasan Darling Harbour bertiup cukup kencang, membawa hawa dingin khas pertengahan musim dingin Sydney yang menusuk hingga ke tulang. Di sepanjang area pejalan kaki tepi pelabuhan, hilir mudik orang-orang yang mengenakan mantel tebal membelah jalur dengan terburu-buru. Namun, di salah satu sudut dermaga, Bilqis memilih untuk menghentikan langkahnya.​Wanita muda itu berdiri bersandar pada pagar besi pelabuhan, mengenakan mantel rajut panjang berwarna abu-abu dan syal yang melilit lehernya. Matanya yang bening menatap kosong ke arah riak air laut yang memantulkan pendar jingga matahari terbenam.​Sudah hampir seminggu ia berada di Sydney. Berkat bantuan Queen dan Liam, proses adaptasinya berjalan sangat lancar. Pagi tadi, ia bahkan baru saja menyelesaikan wawancara singkat untuk posisi staf administrasi medis di sebuah klinik swasta kawasan Newtown. Namun, sebanyak apa pun kegiatan yang ia jalankan untuk menyibukkan diri, bayangan Andika tak pernah se

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Rencana Andika

    ​BAB 98: Rencana Andika ​Keheningan kamar tamu yang temaram perlahan meluruh bersamaan dengan bergantinya malam menuju fajar. Di atas lantai peraduan, Andika menyapu sisa air matanya. Isak tangis yang sempat membendung semalam kini telah berganti menjadi ketenangan dingin yang amat tajam. Rasa sakit karena ditinggalkan Bilqis tidak membuatnya panik atau bertindak gegabah, sebaliknya, itu menjadi bahan bakar untuk menyusun strategi balasan yang teratur dan tak terhentikan.​Andika bangkit berdiri, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Pancuran air dingin yang membasahi tubuhnya mengikis sisa-sisa kelelahan fisik. Begitu keluar dengan pakaian kasual namun rapi, ia melangkah menuju ruang kerjanya di rumah, membuka laptop, dan membeberkan beberapa dokumen penting di atas meja.​Matanya menatap layar gawai dengan fokus penuh. Langkah pertamanya adalah mengurus visa kunjungan (Tourist Visa) ke Australia. Sebagai seorang dokter spesialis senior dengan rekam jejak keuangan ya

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Melepas Belenggu Kekuasaan

    BAB 97: Melepas Belenggu Kekuasaan ​Ruang kerja dr. Andika, Sp.OG di RSIA Kiera Medika Utama diselimuti keheningan yang serasa menghimpit. Sinar matahari sore yang temaram menerobos lewat celah tirai, membiaskan garis-garis cahaya redup di atas meja kerja kayunya yang bersih. Di dinding, deretan piagam penghargaan, sertifikat kompetensi internasional, hingga foto momen peletakan batu pertama rumah sakit ini terpajang rapi, menjadi saksi bisu belasan tahun alur perjuangan yang dibangun Andika dengan meneteskan keringat, pikiran, dan air mata.​Di balik meja, Andika duduk tegap. Wajahnya tampak lebih tirus dengan bayangan lingkaran hitam di bawah mata, namun sorot matanya yang tegas kini memancarkan keputusan yang tak lagi bisa digoyahkan.​Di hadapannya, berdiri dua orang kepercayaan yang selama ini menjadi pilar operasional dan medis di sisinya, dr. Baskoro, Sp.OG, dokter spesialis senior sekaligus kawan seperjuangannya, serta Sisil, asisten pribadi yang telah menyaksikan setiap deti

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Rencana Besar Albert

    BAB 96: Rencana Besar Albert ​Sinar matahari pagi menembus kaca patri setinggi empat meter di ruang kerja pribadi Albert. Ruangan itu didesain dengan dominasi kayu jati hitam dan marmer impor, memancarkan aura kekuasaan, dingin, dan kemewahan yang tak tersentuh. Di belakang meja kerja mahogany yang luas, Albert duduk bersandar anggun di kursi kulitnya, memegang sebatang cerutu yang asap tipisnya membumbung lambat ke udara.​Pintu ganda ruang kerja memperdengarkan nada ketukan dua kali secara teratur sebelum terbuka pelan. Hendra, sekretaris kepercayaan yang telah mendampinginya belasan tahun, melangkah masuk dengan map kulit hitam di genggamannya. Raut wajah Hendra tampak tenang namun terasa dingin, kaku, dan sedikit misterius.​"Selamat pagi, Tuan Albert," sapa Hendra seraya membungkuk hormat.​"Gimana, Hendra? Ada kabar dari tim lapangan?" tanya Albert dengan suara berat. Matanya yang tajam menatap lurus pria berumur 40 tahunan itu. Dia sangat mempercayai Hendra, pria itu hampir s

  • Dalam Pelukan Dokter Andika, Sah!   Dalam Pelukan Kota Asing

    BAB 95: Dalam Pelukan Kota Asing​Isak tangis Bilqis meluncur makin deras, memecah hening ruang tamu apartemen yang kini terasa bagaikan tempat perlindungan terakhirnya. Penyesalan, kerinduan yang membakar dada, serta beban ketakutan akan ancaman sang papa dan ibu mertuanya meledak tanpa sisa. Queen merengkuh tubuh Bilqis erat-erat, membiarkan bahu saudara sesusunya itu bergetar hebat di dalam dekapannya. Tangan Queen meraba punggung Bilqis, memberikan ketenangan hangat yang hanya bisa dipahami oleh dua jiwa yang tumbuh dalam bayang-bayang luka yang sama.​"Luapkan saja semuanya, Qis... Menangislah," bisik Queen lembut, matanya ikut berkaca-kaca. "Kamu aman di sini. Tidak ada Papa Albert, tidak ada Tante Novia, dan tidak ada yang bisa menyakitimu di sini."​Bilqis mencengkeram kain dress rajut yang dikenakan Queen, menyembunyikan wajahnya yang sudah basah oleh air mata. "Aku... aku ceroboh, Queen... Dulu aku yang meminta Kak Dika menyegerakan pernikahan kami karena aku takut kehilang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status