LOGINPras langsung menoleh, matanya berbinar dengan senyum nakal yang melebar. “Kenapa tidak? Ini yang aku tunggu-tunggu, Sayang!” Ia tertawa senang, persis seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan impiannya.“Semangat sekali, Pak?” Aura mencubit lengan Pras gemas.“Harus semangat, dong! Sejak tahu kau hamil, kita jarang 'heboh'.” ujarnya, lalu membelai pipi Aura dan menambahi, “Karena dokter bilang kondisimu sangat baik, jadi sekarang saatnya kita puas-puasin, ya?”Aura hanya mengangguk. Memberikan persetujuan. Dia juga kembali merindukan kegiatan membara mereka. Yang tadi pagi kurang heboh. Aura ingin lebih dari hal itu.Pras langsung memacu mobilnya menuju hotel langganannya. Ia bahkan sudah meminta Riko, asistennya, untuk mengurus check-in agar mereka bisa langsung masuk.“Mas? Kenapa minta Riko yang urus sih? Mas bisa sendiri, kan? Malu tahu!” gerutu Aura saat mereka memasuki kamar hotel yang mewah dengan sprei putih bersih.“Itu sudah tugas asisten, Ra,” jawab Pras santai se
Pras sudah mengerahkan seluruh rayuannya malam itu. Ia membisikkan kata-kata manis, janji setia, hingga permintaan maaf yang tulus agar Aura tidak termakan oleh racun yang disebarkan Veny.Namun, ego wanita yang sedang terluka sulit ditembus. Aura tetap memilih tidur memunggungi Pras, membiarkan keheningan malam menjadi pembatas di antara mereka.Pras hanya bisa menghela napas panjang, mencoba bersabar. Ia tahu, Aura tidak pernah bisa marah terlalu lama. Besok pagi, badai ini pasti berlalu.Benar saja, saat fajar menyingsing, jam biologis dan ikatan batin tak bisa berbohong. Dalam remang fajar, tangan kekar Pras secara tidak sadar merengkuh pinggang ramping istrinya, menarik tubuh Aura agar merapat dalam kuasanya.Aura yang masih setengah mengantuk tak menolak. Kehangatan itu meluluhkan sisa-sisa kekesalan semalam. "Permainan" pagi itu berjalan seperti biasanya—penuh desah dan lenguhan kenikmatan yang membuktikan bahwa raga mereka selalu menemukan jalan untuk bersatu.Pada akhirnya, m
“Veny lagi sibuk di dunia seni peran. Aku pernah lihat kok di TV,” ujar Vanesha.Aura mungkin jarang mengikuti acara hiburan. Hidupnya lebih banyak diisi urusan rumah, anak, dan pekerjaan Pras. Berbeda dengan Vanesha, yang sempat patah hati dan menghabiskan hari-harinya dengan menonton televisi. Dari sanalah ia tahu kabar tentang Veny.Aura menoleh. “Seni peran?”“Iya,” angguk Vanesha. “Katanya dapat peran kecil di sinetron stripping. Awalnya cuma muncul sebentar, figuran. Tapi sekarang mulai sering. Kabarnya…” Vanesha berhenti sejenak, menurunkan suara, “…dia dekat sama sutradaranya.”“Dekat bagaimana?” Aura masih terdengar polos.“Ya masa kamu enggak paham, Ra?” Vanesha menatapnya heran.Aura mendengus kesal. “Kebiasaan lama memang. Pasti dapat sesuatu dengan menggoda pria.” Nada muaknya tak bisa disembunyikan.Vanesha tak membantah. Ia mulai memahami tabiat Veny. Kabar perselingkuhan wanita itu dulu pun masih sering jadi bahan gunjingan sampai sekarang. Hanya saja, Vanesha belum tah
Mikayla tampak tak nyaman. Perdebatan terakhir mereka masih membekas dalam-dalam di relung hatinya. Kata-kata Veny—mamanya sendiri—terlalu kejam untuk dilupakan. Wanita itu mengutuknya, menyebutnya anak durhaka. Bahkan sempat mengatakan sesuatu yang membuat jiwa Mikayla remuk berkeping-keping: bahwa ia menyesal tidak membunuh janin di dalam rahimnya dulu.Lebih dari sekadar kemarahan, Mikayla akhirnya memahami satu hal yang paling menyakitkan. Selama ini, Veny hanya memperalatnya. Berpura-pura menjadi ibu yang peduli, padahal yang dipikirkan hanyalah bagaimana memanfaatkan putrinya demi kepentingan pribadi. Demi apa pun yang ingin ia capai.Buktinya jelas. Saat Mikayla terpuruk dan harus menjalani rehabilitasi, Veny bukannya memberi dukungan. Wanita itu justru kesal. Marah. Menganggap kehadiran Mikayla di panti rehabilitasi sebagai beban yang merepotkan hidupnya.“Mika?” sapa Veny, menatap putrinya yang hanya diam, tak menyambut. “Kau tak mau memeluk mamamu ini?”Mikayla melirik Pras
Hari ini ada kabar baik dari tempat rehabilitasi Mikayla. Anak itu dinyatakan sudah boleh keluar. Konselornya sudah menghubungi Pras selaku wali, menyampaikan bahwa perkembangan mental Mikayla menunjukkan kemajuan yang signifikan.Saat Pras menyampaikan kabar itu pada Aura, tentu saja wanita itu langsung tersenyum lega. Apalagi komunikasi antara dirinya dan Mikayla belakangan mulai membaik.Sesekali Aura mengirim pesan pada petugas rehabilitasi, sekadar menanyakan kabar. Dan yang membuat hatinya semakin hangat, Mikayla kini kerap membalas sendiri. Mengatakan bahwa kondisinya sudah jauh lebih baik. Bahwa dia sering merindukan rumah. Merindukan beruang besar di kamarnya. Juga merindukan Oma Eliyas dan semua orang.Karena itulah Aura mengusulkan membuat pesta kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan anak itu.“Tidak apa ya, Sayang?” ucap Aura pada Pras. “Kita harus menunjukkan ke Mikayla kalau dia tidak sendiri. Ingat kata konselornya. Dia masih dalam taraf pascarehabilitasi. Masih butuh
“Kenapa sih, Mas?” Aura menoleh, menatap suaminya yang sejak tadi setia mengintil di belakangnya.Pras justru membalasnya dengan senyum-senyum aneh, seolah menyembunyikan sesuatu. Tatapan itu membuat Aura heran sekaligus penasaran.“Tidak apa, Sayang,” tutur Pras lembut. Tangannya terulur, mengambil kresek berisi mangga dari genggaman Aura. “Sudah beli mangganya? Mau beli yang lain?” tanyanya ringan.“Sudah, Sayang.” Aura berjalan berdampingan dengannya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. “Nanti Mas kesiangan ke kantor. Bukannya tadi bilang hari ini banyak dokumen yang harus ditandatangani?” ingatnya.“Tidak apa. Kalau kamu masih mau ke mana gitu, aku antar, kok.” Pras tetap menawarkan, suaranya sabar.“Enggak, Sayangku. Aku tidak mau Mas terlalu sering menelantarkan pekerjaan karena urusanku,” tolak Aura halus.Pras tak lagi mendesaknya. Ia tahu betul, di kantor sana para asisten dan sekretaris sudah menunggunya sejak pagi. Setumpuk dokumen menanti untuk dipelajari dan di







