Share

305. Kepanikan Pras

Auteur: Kafkaika
last update Dernière mise à jour: 2026-02-25 23:09:14

Disupiri Tata, Pras mengantar Aura ke rumah sakit. Sepanjang jalan Aura meringis kesakitan, sementara Pras panik bukan main. Ingatannya melayang pada saat Aura melahirkan Axel dulu—penuh ketegangan, penuh rasa takut yang nyaris melumpuhkan.

Sampai-sampai dia lupa belum menghubungi dokter yang biasa memeriksa Aura. Ketika Aura bertanya, barulah Pras tersadar dan buru-buru mengambil ponselnya.

“Mas? Belum hubungi Dokter Arini?” Meski sambil meringis, Aura masih punya tenaga untuk memarahi suaminy
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   308.

    “Gimana sih, Mas Pras? Ini sudah lama lho sejak aku melahirkan, tapi Mas belum juga mengabari orang rumah?”Aura yang baru saja menyerahkan bayinya kepada perawat kini memandangi suaminya dengan sorot mata tajam. Tubuhnya masih lelah setelah proses persalinan, emosinya pun belum sepenuhnya stabil.“Ya habis aku panik tadi, Sayang.” Pras menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya terlihat kikuk, antara bersalah dan malu.“Panik masa seharian, Mas?” Aura mendengus pelan.“Iya, iya… ini aku hubungi orang rumah.”Pras merogoh saku celananya. Kosong. Ia menepuk saku kemeja. Tidak ada. Keningnya berkerut. Baru saat itu ia sadar—ponselnya tidak bersamanya sejak tadi.“Lho…” gumamnya pelan.Aura langsung menangkap perubahan ekspresi itu. “Kenapa lagi?”“Kayaknya… ponselku enggak ada.”“Mas!” Aura membelalak. “Jangan ceroboh begitu, dong. Mas itu orang penting, lho. Kalau ponsel hilang nanti bahaya.”“Amanlah. Mungkin ketinggalan di mobil. Habis ini aku ambil.” Pras mencoba terdengar tenang

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   307.

    Oma Eliyas sedang menerima panggilan dari Arman. Sore itu rumah terasa lengang. Di tangannya, ponsel bergetar ringan, sementara wajahnya tampak tegang ketika menceritakan sedikit tentang masalah yang terjadi pada Mikayla.Arman di seberang sana justru terdengar tenang.“Kau tidak terkejut, Man?” tanya Oma Eliyas, keningnya berkerut.“Mereka sudah ngaku pas ketemu selesai di pemakaman Veny, Oma,” jawab Arman santai.“Mereka ngaku ke kamu?” Nada suara Oma Eliyas meninggi, jelas belum selesai dengan keterkejutannya.“Iya. Awalnya aku cuma heran, bagaimana Devano sangat perhatian pada Mikayla. Dan sebaliknya, Mika juga manja sekali sama Devano. Kelihatan beda. Akhirnya mereka mengaku sudah pacaran.”Oma Eliyas menghela napas panjang. Dikira Mikayla dengan polos dan jujur sudah mengaku sampai sejauh mana hubungan mereka. Ternyata tidak sedetail itu.“Namanya juga anak-anak, Man. Oma saja masih dag-dig-dug membayangkan Mikayla sekecil itu sudah harus hamil dan akan melahirkan.”Arman malah

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   306.

    “Tenang, Pak. Bu Aura hanya kelelahan. Biarkan dia beristirahat dulu,” ujar Dokter Arini dengan suara lembut namun tegas.Pras mengembuskan napas panjang. Sejak tadi dadanya terasa sesak oleh ketakutan yang tak mau ia akui. Kini, mendengar penjelasan itu, pundaknya sedikit turun. Namun ia tetap tak beranjak dari sisi ranjang.Tangannya menggenggam tangan Aura erat-erat, seolah takut wanita itu menghilang jika ia lepaskan. Matanya sembab, kantuk menggantung di pelupuk, tetapi ia menolak tidur. Ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Aura saat membuka mata.…Di rumah, suasana tak kalah tegang.Oma Eliyas yang tadi sempat terpeleset karena tergesa-gesa hendak ke rumah sakit kini duduk dengan wajah kesal. Tari menahannya agar tak memaksakan diri berangkat.“Dulu aku tidak menemani Aura melahirkan. Sekarang kau mau menahanku di rumah seperti orang bodoh?” hardiknya, suaranya bergetar antara marah dan cemas.Tari menunduk hormat, tetapi tetap bersikeras. “Nyonya, biar saya urut dulu ka

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   305. Kepanikan Pras

    Disupiri Tata, Pras mengantar Aura ke rumah sakit. Sepanjang jalan Aura meringis kesakitan, sementara Pras panik bukan main. Ingatannya melayang pada saat Aura melahirkan Axel dulu—penuh ketegangan, penuh rasa takut yang nyaris melumpuhkan.Sampai-sampai dia lupa belum menghubungi dokter yang biasa memeriksa Aura. Ketika Aura bertanya, barulah Pras tersadar dan buru-buru mengambil ponselnya.“Mas? Belum hubungi Dokter Arini?” Meski sambil meringis, Aura masih punya tenaga untuk memarahi suaminya itu.“Iya, ini aku akan hubungi…” Pras menekan tombol panggil. Namun karena sudah terbiasa selalu menghubungi Rico lebih dulu, jemarinya refleks menekan nama asistennya itu.“Halo, Ric?” tukas Pras cepat.Mendengar suaminya malah menghubungi asistennya, Aura makin kesal. Entah karena emosi atau saking sakitnya, ia menjambak rambut pria itu.“Kenapa panggil Rico? Hubungi Dokter Arini, Pak Pras Eliyaaaassss…!”“Auw! Oke, Sayang. Rico nanti bisa menghubungi Dokter Arini, kok!” Pras menahan rasa s

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   304. Keputusan Pras(2)

    “Kami memilih pergi saja. Tidak masalah tidak diakui siapa-siapa di keluarga ini. Tapi kami sudah sepakat untuk mempertahankan bayi kami.”Suara Mikayla gemetar, tetapi keteguhannya tak goyah sedikit pun. Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata, seolah memberi perlindungan pada kehidupan kecil di dalam sana.Devano berdiri di sampingnya, rahangnya mengeras. “Ini kesalahan kami, Mas. Dan bayi ini tidak salah. Tolong jangan minta Mikayla menggugurkannya.”Ruangan itu seketika dipenuhi ketegangan. Udara terasa berat, seperti menekan dada siapa pun yang berada di sana.“Pras, kenapa sekarang kau seegois itu?” suara Oma Eliyas meninggi. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia benar-benar tak bisa menahan emosinya.“Kau meminta Mikayla melakukan Aborsi? Di amna hati nuranimu, Pras?” Kata aborsi itu seperti pisau di telinga Oma Eliyas.Oma Eliyas masih ingat betul masa mudanya—betapa sulitnya ia memiliki anak. Catatan medisnya dulu penuh dengan kalimat yang membuatnya nyaris pu

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   303. Keputusan Pras

    “Setelah itu aku langsung masuk ke kamar Devan. Melihat Devano sibuk dengan dirinya sendiri, aku yang memaksanya membantu. Lalu semuanya pun terjadi…”Suara Mikayla terdengar bergetar karena harus menahan rasa malu dan salah. Kepalanya menunduk dalam ke lantai tak berani menatap semua orang yang terdiam mendengar cerita bagaimana kedua anak muda itu sampai melampaui batasannya.Pras menghela sedangkan Aura meliriknya seolah melempar sebuah peringatan karena kebiasannya yang suka nyosor di sembarang tempat.Kalau dulu mereka tinggal di apartemen hanya berdua tanpa siapapun itu masih bisa dimaklumi. Tapi, saat ini mereka tinggal bersama keluarga besar yang lain. Tidak boleh sembarangan melakukan hal itu. Lihat saja sudah ada korban dari sikap sembarangannya ini. Aura jadi terbit sebalnya. Awas saja kalau suaminya itu masih merasa tak bersalah. “Aku juga minta maaf. Tapi aku dan Mika sudah membicarakan semuanya.” Devan ikutan menyahut. Membantu Mikayla yang sejak tadi berusaha sendir

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status