ISTRIMU TERNYATA SULTAN

ISTRIMU TERNYATA SULTAN

last updateLast Updated : 2026-02-05
By:  SiapajaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
0 ratings. 0 reviews
15Chapters
19views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Rangga dan Berlin punya satu kesamaan: mereka muak menjadi boneka bisnis keluarga. Demi menghindari perjodohan paksa dengan "anak orang kaya manja," keduanya kabur dari kencan buta mereka dan bertemu secara tak sengaja di sebuah bar pinggiran kota. Mabuk oleh rasa frustrasi dan keinginan memberontak, mereka membuat kesepakatan gila: menikah kontrak untuk membungkam orang tua mereka. Syaratnya sederhana—hidup mandiri dan sederhana tanpa bantuan keluarga. Rangga mengaku sebagai pengangguran yang sedang merintis usaha, sementara Berlin mengaku sebagai staf administrasi biasa. Namun, menjalani peran "orang miskin" ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin rapat direksi. Di balik daster murah Berlin tersimpan kartu kredit black card, dan di balik kaos oblong Rangga tersembunyi aset triliunan rupiah. Masalah terbesar muncul ketika cinta mulai tumbuh di tengah kebohongan: Bagaimana mereka menjelaskan bahwa pasangan yang mati-matian mereka hindari sebenarnya adalah orang yang kini tidur di samping mereka? Ini adalah kisah tentang dua "Sultan" yang berpura-pura miskin demi mencari cinta yang tulus.

View More

Chapter 1

BAB 1: Pelarian di Warung Tenda

Napas Berlin masih memburu saat ia menghempaskan tubuhnya ke kursi plastik murahan itu. Aroma asap pembakaran ayam dan debu jalanan langsung menyergap hidungnya

sangat kontras dengan aroma lavender dan chamomile di lobi Hotel Grand Hyatt yang baru saja ia tinggalkan lima belas menit lalu.

"Mas! Es teh manis satu! Gelas besar!" teriaknya pada penjual pecel lele, tidak peduli gaun sutra selututnya menyapu lantai warung yang agak berminyak.

Ia melirik ke arah jalan raya. Tidak ada mobil mewah hitam yang mengejar. Aman.

"Pilihan bagus. Es teh manis adalah obat terbaik buat orang yang baru lari dari kenyataan."

Suara bariton itu datang dari meja di sebelahnya.

Berlin menoleh tajam. Seorang pria duduk di sana. Kemejanya putih, lengan digulung asal-asalan, dan dasinya sudah longgar tak karuan. Pria itu tampak berantakan, tapi jenis berantakan yang... mahal.

"Tahu dari mana gue lari dari kenyataan?" tanya Berlin ketus.

Pria itu Rangga mengangkat gelas es jeruknya seolah sedang bersulang. "Karena gue baru aja lakuin hal yang sama. Napas lo bunyi kayak lokomotif, dan lo terus-terusan nengok ke jalan raya kayak buronan polisi."

Berlin mendengus, pertahanannya sedikit menurun. "Bukan polisi. Lebih parah. Orang tua."

Mata Rangga berbinar jenaka. Ia menggeser kursi plastiknya sedikit lebih dekat, melanggar batas privasi dengan cara yang anehnya tidak menyebalkan. "Biar gue tebak. Kencan buta?"

"Perjodohan bisnis," koreksi Berlin sambil menerima es tehnya dari penjual. Ia menyedotnya rakus, membiarkan dinginnya air meredakan panas di kepalanya. "Mereka mau nikahin gue sama anak rekan bisnis Papa. Katanya sih pewaris tunggal, lulusan luar negeri, bibit bebet bobot sempurna. Cih."

Rangga tertawa, suara tawanya renyah namun terdengar getir. "Klise banget. Gue juga. Baru aja kabur dari Grand Hyatt. Katanya cewek ini 'putri keraton' versi modern. Anggun, penurut, pintar masak. Gue yakin aslinya pasti manja dan nggak bisa bedain bawang merah sama bawang bombay."

Berlin tersedak es tehnya. Grand Hyatt? Itu tempat yang sama. Tapi Jakarta luas, dan orang kaya yang hobi menjodohkan anak di hotel bintang lima ada ribuan. Ia menepis kebetulan itu.

"Gue Berlin," katanya, mengulurkan tangan.

"Rangga," sambut pria itu. Jabatannya hangat dan tegas.

"Jadi, Rangga, apa rencana lo sekarang? Pulang dan diceramahi sampai kuping panas?"

Rangga menggeleng. Ia menatap piring lele goreng di depannya dengan tatapan kosong. "Gue nggak bisa pulang. Kalau gue pulang, bokap gue bakal sita semua fasilitas. Kartu kredit, mobil, apartemen... semua."

"Sama," gumam Berlin pelan, berbohong demi solidaritas. Padahal, ia punya rekening rahasia di Swiss yang tidak diketahui ayahnya. Tapi di depan pria yang tampak senasib ini, ia ingin terlihat sama menderitanya. "Gue cuma staf admin biasa di perusahaan Papa. Kalau gue nolak nikah, gue dipecat. Gue bakal jadi gelandangan."

Rangga menatapnya, meneliti wajah Berlin. Cantik, pikirnya. Tapi ada api kemarahan di matanya yang membuat wanita ini terlihat hidup jauh berbeda dari foto-foto sosialita kaku yang disodorkan ibunya.

"Gue juga," Rangga berbohong lancar tanpa kedipan. "Gue cuma... freelancer. Usaha kecil-kecilan. Nggak punya apa-apa selain harga diri. Makanya gue nolak dijodohin sama anak orang kaya itu. Gue nggak mau jadi benalu."

Hening sejenak di antara mereka. Suara desis penggorengan lele menjadi latar musik keputusasaan mereka.

Tiba-tiba, Berlin meletakkan gelasnya dengan keras ke meja.

"Gue butuh nikah," desisnya. "Kalau gue nikah sama orang pilihan gue sendiri, Papa nggak bisa maksa gue nikah sama si pewaris sombong itu. Warisan Nenek gue cuma cair kalau gue nikah."

Rangga tertegun. Ide gila melintas di kepalanya seperti sambaran petir. Ia menatap wanita asing di depannya. Cantik, terlihat sederhana (meski Rangga curiga tas yang dipangkunya itu asli, bukan KW), dan sama-sama membenci orang kaya.

"Gue juga butuh istri," kata Rangga pelan, mencondongkan tubuh. "Bokap gue bilang kalau gue nggak nikah tahun ini, dia bakal kasih perusahaan... maksud gue, usaha ruko keluarga gue... ke sepupu gue yang licik."

Mereka saling bertatapan. Dua orang asing yang terluka oleh ekspektasi keluarga.

"Lo miskin, kan?" tanya Berlin menyelidik, matanya memicing.

Rangga mengangguk mantap. "Miskin banget. Cicilan motor gue nunggak dua bulan."

"Bagus. Gue juga pas-pasan. Gaji UMR," balas Berlin cepat. "Gue nggak butuh cowok kaya yang bakal ngatur hidup gue. Gue butuh partner. Kita nikah. Kontrak satu tahun. Cukup buat bikin orang tua kita diem dan warisan Nenek gue cair."

Rangga tersenyum miring. Ini sempurna. Istri sederhana yang tidak akan mengincar hartanya karena dia pikir Rangga miskin. "Oke. Kita nikah. Tapi janji, hidup mandiri. Nggak ada bantuan orang tua. Makan apa adanya."

"Deal," jawab Berlin tanpa ragu. "Makan di warung tenda seumur hidup pun gue jabanin asal nggak ketemu si anak manja di Hyatt itu."

Rangga tertawa dalam hati. Kalau saja dia tahu.

Mereka bersalaman lagi di atas meja plastik yang lengket. Kesepakatan telah dibuat. Dua miliarder baru saja sepakat untuk hidup susah bersama, tanpa menyadari bahwa mereka baru saja menikahi mimpi buruk yang mereka hindari.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
15 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status