LOGINRangga dan Berlin punya satu kesamaan: mereka muak menjadi boneka bisnis keluarga. Demi menghindari perjodohan paksa dengan "anak orang kaya manja," keduanya kabur dari kencan buta mereka dan bertemu secara tak sengaja di sebuah bar pinggiran kota. Mabuk oleh rasa frustrasi dan keinginan memberontak, mereka membuat kesepakatan gila: menikah kontrak untuk membungkam orang tua mereka. Syaratnya sederhana—hidup mandiri dan sederhana tanpa bantuan keluarga. Rangga mengaku sebagai pengangguran yang sedang merintis usaha, sementara Berlin mengaku sebagai staf administrasi biasa. Namun, menjalani peran "orang miskin" ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin rapat direksi. Di balik daster murah Berlin tersimpan kartu kredit black card, dan di balik kaos oblong Rangga tersembunyi aset triliunan rupiah. Masalah terbesar muncul ketika cinta mulai tumbuh di tengah kebohongan: Bagaimana mereka menjelaskan bahwa pasangan yang mati-matian mereka hindari sebenarnya adalah orang yang kini tidur di samping mereka? Ini adalah kisah tentang dua "Sultan" yang berpura-pura miskin demi mencari cinta yang tulus.
View MoreBerikut adalah Bab 73. Sesuai dengan panduan penulisan cerita panjang, kita akan memperluas latar belakang masa lalu karakter dan menempatkan protagonis dalam dilema baru yang lebih berat untuk menjaga ketegangan cerita. Tanda hubung panjang juga telah dihilangkan sepenuhnya agar alur bacaan tetap rapat dan cepat.BAB 73: Sandera Bernama Bambang dan Misi Menuju SwissLokasi: Ruang Sortir Tunai, Bank Mega KaryaSuara riuh rendah para pengemudi ojol yang sedang merayakan penemuan tas mewah Nyonya Pramono mendadak terasa jauh di telinga Rangga. Dunia di sekelilingnya seolah be
Lokasi: Ruang Sortir Tunai (Lantai Dasar), Bank Mega KaryaEnam laras senapan serbu berperedam membidik tepat ke arah tumpukan karung uang. Lampu laser merah menari nari di dahi Rangga, Berlin, dan Nyonya Pramono.Nyonya Pramono memeluk karung berisi uang pecahan seratus ribu rupiah erat erat sambil memejamkan mata. Bibirnya komat kamit membaca doa yang tercampur aduk dengan keluhan."Ya Tuhan, kalau memang harus mati malam ini, tolong jangan di atas karung goni yang bau apek ini. Kulit Mama sensitif..." rintih Nyonya Pramono gemetar."Ma, plis deh. Peluru itu nggak peduli kulit Mama pakai skincare apa," bisik Berlin sambil menahan nyeri di tulang bahunya yang terkilir akibat menarik Rangga tadi. Meskipun terpojok
Lokasi: Ruang Brankas VIP, Bank Mega KaryaAsap putih pekat menyembur dengan desisan marah dari tabung logam di lantai. Ruangan bundar itu seketika berubah menjadi oven gas beracun. Mata Rangga mulai perih. Tenggorokannya terasa seperti disikat menggunakan kawat cuci piring."Tutup hidung pakai baju! Bernapas lewat mulut pelan pelan!" teriak Rangga. Suaranya teredam oleh lengkingan sirene brankas.Nyonya Pramono terbatuk batuk hebat. Wajah riasannya luntur berantakan.
Lokasi: Ruang Brankas VIP (Lantai B3), Bank Mega KaryaLampu neon putih kini berganti menjadi kedipan merah yang menyakitkan mata. Suara sirene meraung memantul di dinding dinding baja bawah tanah.Namun bagi Rangga, suara yang paling keras adalah detak jantungnya sendiri. Surat pengakuan mendiang ayah angkatnya terlepas dari tangannya, melayang jatuh ke lantai marmer yang dingin.Karakter Rangga yang biasanya jenaka dan penuh akal jalanan mendadak hancur. Wajahnya pias. Selama ini dia mengira Tuan Pramono adalah malaikat penolong yang mengangkatnya dari panti asuhan. Ternyata, pria itu ada












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews