로그인Rangga dan Berlin punya satu kesamaan: mereka muak menjadi boneka bisnis keluarga. Demi menghindari perjodohan paksa dengan "anak orang kaya manja," keduanya kabur dari kencan buta mereka dan bertemu secara tak sengaja di sebuah bar pinggiran kota. Mabuk oleh rasa frustrasi dan keinginan memberontak, mereka membuat kesepakatan gila: menikah kontrak untuk membungkam orang tua mereka. Syaratnya sederhana—hidup mandiri dan sederhana tanpa bantuan keluarga. Rangga mengaku sebagai pengangguran yang sedang merintis usaha, sementara Berlin mengaku sebagai staf administrasi biasa. Namun, menjalani peran "orang miskin" ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin rapat direksi. Di balik daster murah Berlin tersimpan kartu kredit black card, dan di balik kaos oblong Rangga tersembunyi aset triliunan rupiah. Masalah terbesar muncul ketika cinta mulai tumbuh di tengah kebohongan: Bagaimana mereka menjelaskan bahwa pasangan yang mati-matian mereka hindari sebenarnya adalah orang yang kini tidur di samping mereka? Ini adalah kisah tentang dua "Sultan" yang berpura-pura miskin demi mencari cinta yang tulus.
더 보기Napas Berlin masih memburu saat ia menghempaskan tubuhnya ke kursi plastik murahan itu. Aroma asap pembakaran ayam dan debu jalanan langsung menyergap hidungnya
sangat kontras dengan aroma lavender dan chamomile di lobi Hotel Grand Hyatt yang baru saja ia tinggalkan lima belas menit lalu.
"Mas! Es teh manis satu! Gelas besar!" teriaknya pada penjual pecel lele, tidak peduli gaun sutra selututnya menyapu lantai warung yang agak berminyak.
Ia melirik ke arah jalan raya. Tidak ada mobil mewah hitam yang mengejar. Aman.
"Pilihan bagus. Es teh manis adalah obat terbaik buat orang yang baru lari dari kenyataan."
Suara bariton itu datang dari meja di sebelahnya.
Berlin menoleh tajam. Seorang pria duduk di sana. Kemejanya putih, lengan digulung asal-asalan, dan dasinya sudah longgar tak karuan. Pria itu tampak berantakan, tapi jenis berantakan yang... mahal.
"Tahu dari mana gue lari dari kenyataan?" tanya Berlin ketus.
Pria itu Rangga mengangkat gelas es jeruknya seolah sedang bersulang. "Karena gue baru aja lakuin hal yang sama. Napas lo bunyi kayak lokomotif, dan lo terus-terusan nengok ke jalan raya kayak buronan polisi."
Berlin mendengus, pertahanannya sedikit menurun. "Bukan polisi. Lebih parah. Orang tua."
Mata Rangga berbinar jenaka. Ia menggeser kursi plastiknya sedikit lebih dekat, melanggar batas privasi dengan cara yang anehnya tidak menyebalkan. "Biar gue tebak. Kencan buta?"
"Perjodohan bisnis," koreksi Berlin sambil menerima es tehnya dari penjual. Ia menyedotnya rakus, membiarkan dinginnya air meredakan panas di kepalanya. "Mereka mau nikahin gue sama anak rekan bisnis Papa. Katanya sih pewaris tunggal, lulusan luar negeri, bibit bebet bobot sempurna. Cih."
Rangga tertawa, suara tawanya renyah namun terdengar getir. "Klise banget. Gue juga. Baru aja kabur dari Grand Hyatt. Katanya cewek ini 'putri keraton' versi modern. Anggun, penurut, pintar masak. Gue yakin aslinya pasti manja dan nggak bisa bedain bawang merah sama bawang bombay."
Berlin tersedak es tehnya. Grand Hyatt? Itu tempat yang sama. Tapi Jakarta luas, dan orang kaya yang hobi menjodohkan anak di hotel bintang lima ada ribuan. Ia menepis kebetulan itu.
"Gue Berlin," katanya, mengulurkan tangan.
"Rangga," sambut pria itu. Jabatannya hangat dan tegas.
"Jadi, Rangga, apa rencana lo sekarang? Pulang dan diceramahi sampai kuping panas?"
Rangga menggeleng. Ia menatap piring lele goreng di depannya dengan tatapan kosong. "Gue nggak bisa pulang. Kalau gue pulang, bokap gue bakal sita semua fasilitas. Kartu kredit, mobil, apartemen... semua."
"Sama," gumam Berlin pelan, berbohong demi solidaritas. Padahal, ia punya rekening rahasia di Swiss yang tidak diketahui ayahnya. Tapi di depan pria yang tampak senasib ini, ia ingin terlihat sama menderitanya. "Gue cuma staf admin biasa di perusahaan Papa. Kalau gue nolak nikah, gue dipecat. Gue bakal jadi gelandangan."
Rangga menatapnya, meneliti wajah Berlin. Cantik, pikirnya. Tapi ada api kemarahan di matanya yang membuat wanita ini terlihat hidup jauh berbeda dari foto-foto sosialita kaku yang disodorkan ibunya.
"Gue juga," Rangga berbohong lancar tanpa kedipan. "Gue cuma... freelancer. Usaha kecil-kecilan. Nggak punya apa-apa selain harga diri. Makanya gue nolak dijodohin sama anak orang kaya itu. Gue nggak mau jadi benalu."
Hening sejenak di antara mereka. Suara desis penggorengan lele menjadi latar musik keputusasaan mereka.
Tiba-tiba, Berlin meletakkan gelasnya dengan keras ke meja.
"Gue butuh nikah," desisnya. "Kalau gue nikah sama orang pilihan gue sendiri, Papa nggak bisa maksa gue nikah sama si pewaris sombong itu. Warisan Nenek gue cuma cair kalau gue nikah."
Rangga tertegun. Ide gila melintas di kepalanya seperti sambaran petir. Ia menatap wanita asing di depannya. Cantik, terlihat sederhana (meski Rangga curiga tas yang dipangkunya itu asli, bukan KW), dan sama-sama membenci orang kaya.
"Gue juga butuh istri," kata Rangga pelan, mencondongkan tubuh. "Bokap gue bilang kalau gue nggak nikah tahun ini, dia bakal kasih perusahaan... maksud gue, usaha ruko keluarga gue... ke sepupu gue yang licik."
Mereka saling bertatapan. Dua orang asing yang terluka oleh ekspektasi keluarga.
"Lo miskin, kan?" tanya Berlin menyelidik, matanya memicing.
Rangga mengangguk mantap. "Miskin banget. Cicilan motor gue nunggak dua bulan."
"Bagus. Gue juga pas-pasan. Gaji UMR," balas Berlin cepat. "Gue nggak butuh cowok kaya yang bakal ngatur hidup gue. Gue butuh partner. Kita nikah. Kontrak satu tahun. Cukup buat bikin orang tua kita diem dan warisan Nenek gue cair."
Rangga tersenyum miring. Ini sempurna. Istri sederhana yang tidak akan mengincar hartanya karena dia pikir Rangga miskin. "Oke. Kita nikah. Tapi janji, hidup mandiri. Nggak ada bantuan orang tua. Makan apa adanya."
"Deal," jawab Berlin tanpa ragu. "Makan di warung tenda seumur hidup pun gue jabanin asal nggak ketemu si anak manja di Hyatt itu."
Rangga tertawa dalam hati. Kalau saja dia tahu.
Mereka bersalaman lagi di atas meja plastik yang lengket. Kesepakatan telah dibuat. Dua miliarder baru saja sepakat untuk hidup susah bersama, tanpa menyadari bahwa mereka baru saja menikahi mimpi buruk yang mereka hindari.
Lokasi: Ruang Brankas VIP, Bank Mega KaryaAsap putih pekat menyembur dengan desisan marah dari tabung logam di lantai. Ruangan bundar itu seketika berubah menjadi oven gas beracun. Mata Rangga mulai perih. Tenggorokannya terasa seperti disikat menggunakan kawat cuci piring."Tutup hidung pakai baju! Bernapas lewat mulut pelan pelan!" teriak Rangga. Suaranya teredam oleh lengkingan sirene brankas.Nyonya Pramono terbatuk batuk hebat. Wajah riasannya luntur berantakan.
Lokasi: Ruang Brankas VIP (Lantai B3), Bank Mega KaryaLampu neon putih kini berganti menjadi kedipan merah yang menyakitkan mata. Suara sirene meraung memantul di dinding dinding baja bawah tanah.Namun bagi Rangga, suara yang paling keras adalah detak jantungnya sendiri. Surat pengakuan mendiang ayah angkatnya terlepas dari tangannya, melayang jatuh ke lantai marmer yang dingin.Karakter Rangga yang biasanya jenaka dan penuh akal jalanan mendadak hancur. Wajahnya pias. Selama ini dia mengira Tuan Pramono adalah malaikat penolong yang mengangkatnya dari panti asuhan. Ternyata, pria itu ada
Lokasi: Bengkel Bang SomadPukul 01.15 WIB."Ma, bangun." Rangga mengguncang pelan bahu ibu angkatnya.Nyonya Pramono membuka mata dengan kaget. Wajahnya pias melihat tumpukan ban bekas di sekelilingnya. Dia hampir lupa kalau keluarganya kini berstatus buronan."Kita harus ke Bank Mega Karya sekarang," kata Rangga cepat. Suaranya ditekan sekecil mungkin. "Ada token fisik di kotak deposit rahasia Papa. Cuma sidik jari Mama yang bisa buka. Itu satu satunya cara menguras uang Vanguard."Nyonya Pramono memucat. "Ke bank? Rangga,
Jalanan aspal mulus berganti menjadi jalan tanah berbatu. BMW Seri 7 yang dikemudikan Rangga berguncang keras. Bumper mobil mewah itu sesekali bergesekan dengan polisi tidur semen yang dibuat asal asalan oleh warga. Kaca mobil diturunkan. Bau khas Sungai Ciliwung dan asap pembakaran sampah langsung memenuhi kabin yang sebelumnya wangi parfum mobil mahal. Nyonya Pramono menutup hidungnya dengan saputangan sutra yang sudah basah oleh air mata. Tuan Wibawa terus merangkul istrinya sambil menatap waspada ke luar jendela. Rangga menghentikan mobil tepat di depan sebuah bengkel motor berlantai dua yang sangat sempit. Pintu ro
Gerbang besi berkarat itu berderit memilukan saat Rangga mendorongnya terbuka. Di atasnya, plang nama "KEBUN BINATANG SATWA LESTARI" menggantung miring, huruf 'S'-nya sudah copot sehingga terbaca "ATWA LESTARI".Angin berhembus. Bukan angi
Selasa Pagi.Setelah kegagalan total bisnis rental PS dan laundry bolong, Rangga dan Berlin kembali mengenakan pakaian kerja "KW" mereka. Kali ini tujuannya satu: Mencari pekerjaan tet
Tok. Tok. Tok. Tok!Ketukan di pintu terdengar bertubi-tubi, seperti rentetan senapan mesin. Diikuti dengan suara paduan suara yang tidak harmonis dari luar pagar.
Senin sore. Rumah Kotak Sabun itu tidak lagi sepi. Rumah itu kini bergetar oleh teriakan, umpatan, dan suara mesin cuci yang berdengung futuristik.Di ruang tamu, Rangga sedang menghadapi mimpi buruk terbesarnya:






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰