로그인Kinan percaya lima tahun pernikahan akan jadi rumah yang hangat. Tapi satu kata menghancurkan segalanya: mandul. Tatapan keluarga berubah jadi penghakiman, Isaac—suaminya—berubah jadi asing, dan akhirnya ia memilih perempuan lain demi garis darah. Di tengah luka itu, Kinan menyadari: ia bukan hanya rahim yang gagal. Ia manusia. Ia perempuan. Dan ia harus memilih—bertahan dalam luka, atau bangkit. “Mandul – Cinta yang Dikhianati” adalah kisah cinta, pengkhianatan, dan keberanian perempuan yang akhirnya memilih dirinya sendiri.
더 보기Sudah beberapa minggu Kinan mencoba kembali menata hidupnya. Dira, yang sejak malam lamaran Isaac dan Monika memilih keluar dari rumah besar itu, kini tinggal bersamanya di apartemen sederhana yang dulunya pernah terasa bagai kuburan. Berbeda dari malam-malam suram sebelumnya, kali ini apartemen itu perlahan dipenuhi suara-suara kecil: Dira yang mengomel karena Kinan jarang makan, suara musik lembut dari laptop, bahkan aroma masakan sederhana yang Dira paksakan untuk mereka berdua.Kinan tidak sepenuhnya pulih. Tubuhnya masih lemah, matanya sering kosong, tetapi setidaknya ia sudah mulai membuka gorden, sudah mulai duduk di ruang tamu sambil membaca, atau sekadar memandangi jalanan dari balik kaca.Hari itu, ia memberanikan diri membuka ponselnya. Sudah berbulan-bulan layar itu ia abaikan. Deretan notifikasi membanjiri, pesan-pesan belum terbaca menumpuk. Dengan napas yang sedikit gemetar, ia membuka media sosial.Dan seketika dadanya serasa dihantam benda tumpul.Timeline penuh denga
Ruang aula hotel sore itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang berkilau, memantulkan warna keemasan ke segala arah. Tamu undangan yang terdiri dari kerabat dekat keluarga besar Isaac sudah memenuhi kursi-kursi yang disusun rapi. Di meja depan, tersaji aneka hidangan mewah, lengkap dengan rangkaian bunga mawar putih dan lilin tinggi yang menyala tenang.Dari luar, semuanya tampak sempurna. Senyum, tawa, bisikan kagum—sebuah acara lamaran yang sederhana namun elegan.Namun, di tengah gegap gempita itu, Isaac duduk dengan wajah datar. Jas hitamnya jatuh sempurna, dasinya terikat rapi, tubuhnya tegap. Tetapi matanya kosong, bibirnya tertutup rapat, seolah ia hadir di sana hanya sebagai patung hidup yang sedang dipamerkan.Monika, calon pengantinnya, duduk di sampingnya. Wajahnya sedikit merona karena gugup, jemarinya bergetar saat memegang lipatan gaunnya. Dalam hati ia masih memikirkan satu hal: Isaac belum benar-benar bercerai dari Kinan. Bayangan itu menghantui, menimbulkan resah. Namun,
Kamar Isaac malam itu sunyi, hanya ditemani cahaya lampu meja yang temaram. Di atas nakas, segelas air sudah setengah basi karena tidak pernah disentuh. Isaac duduk di tepi ranjangnya, bahunya luruh, wajahnya menunduk menatap lantai seolah di sana ada jawaban yang ia cari. Besok adalah hari lamaran yang diatur ibunya. Besok ia akan duduk berdampingan dengan Monika, perempuan yang bahkan tidak pernah ia cintai.Namun, malam itu, sebelum segala sesuatu yang dipaksakan benar-benar terjadi, pintu kamarnya terbuka. Dira berdiri di ambang pintu dengan wajah merah karena emosi. Ia tidak peduli lagi bahwa semua orang di rumah bisa mendengarnya.“Mas...” suara Dira serak, tertahan amarah. “Apa kamu benar-benar akan melakukannya besok? Apa kamu benar-benar akan mengkhianati Kinan dengan cara sekeji ini?”Isaac mengangkat kepalanya, matanya kosong. Tidak ada amarah, tidak ada senyum, hanya kehampaan yang membuat Dira semakin panas.“Kamu tahu, Mas, Kinan masuk rumah sakit minggu lalu!” suara Dir
Apartemen itu gelap dan pengap ketika Dira mendorong pintu masuk dengan kunci cadangan yang ia simpan. Bau lembap dan debu menyambutnya, bercampur dengan aroma basi dari makanan yang tidak disentuh di meja makan. Tirai jendela tetap tertutup rapat, menahan cahaya matahari yang seharusnya menyingkirkan kelam. Dira melangkah dengan hati berdebar, panggilan teleponnya pada Kinan sudah berhari-hari tidak dijawab, dan instingnya berteriak bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.“Kinan?” panggilnya pelan, suaranya menggema di ruang tamu yang kosong. Tidak ada jawaban.Dira menyingkirkan beberapa pakaian yang berserakan di lantai, melangkah cepat ke arah kamar. Pintu itu terbuka sedikit, menampakkan bayangan di dalam. Saat ia mendorongnya lebih lebar, jantungnya seakan berhenti.Kinan terbaring meringkuk di ranjang, tubuhnya tampak kecil, wajahnya pucat, bibirnya kering. Napasnya terengah, keringat dingin membasahi pelipis, dan selimut kusut menutupi sebagian tubuhnya. Mata Kinan tertutup,
Hari itu, udara di ruang tamu terasa lebih berat daripada biasanya. Hening merayap seperti asap, menyusup ke setiap celah dinding, menyesakkan dada siapa pun yang berada di dalamnya. Di atas meja, selembar kertas tergeletak dengan tenang, seakan hanya selembar dokumen biasa. Namun bagi Kinan, kerta
Beberapa hari setelah kepergian Kinan, suasana di rumah keluarga Isaac terasa lebih sepi dari biasanya. Malam itu seharusnya menjadi malam makan malam keluarga yang hangat—ayah, ibu, Isaac, dan Dira berkumpul di meja makan panjang dengan lilin-lilin kecil menyala. Tapi ada satu kursi kosong. Kursi
Jakarta, 2017. Musim hujan yang basah, tapi hati Kinan tak pernah terasa lebih hangat.Cinta bisa membuat orang lupa bagaimana rasanya kesepian. Dan saat itu, Kinan hidup dalam pelukan hangat yang tak pernah ia sangka akan jatuh ke dalam pelukannya—Isaac.Hubungan mereka sudah berjalan hampir satu
Jakarta, 2025Suara roda koper bergesekan dengan lantai lorong yang dingin. Suara itu terdengar terlalu nyaring di antara keheningan malam, seolah menertawakan langkah kaki Kinan yang goyah, lunglai, dan kehilangan arah.Nomor 12B. Apartemen kecil di ujung koridor. Dulu, tempat ini adalah ruang per


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.