LOGINUdara pagi di Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat saat Dewa membantu Lily turun dari mobil. Kompleks perumahan mereka yang asri menyambut kepulangan sang nyonya rumah dengan lambaian dahan pohon pule yang berjajar di sepanjang trotoar. Lily menghirup napas dalam-dalam, merasakan aroma rumah yang sempat dia tinggalkan beberapa hari.Setelah beberapa hari dalam perawatan intensif, dokter akhirnya mengizinkan Lily pulang dengan syarat bedrest total dan menghindari stres. Dewa, yang kini bertransformasi menjadi suami paling siaga, tidak membiarkan kaki Lily menyentuh lantai terlalu lama; dia menggendong istrinya masuk ke dalam kamar utama.Tapi, begitu tubuhnya menyentuh kasur empuk yang sudah lama tidak dia tiduri, mata Lily tidak terpejam. Dia menatap sebuah bingkai foto kecil di atas nakas—sebuah foto siluet dua pasang sepatu bayi mungil yang pernah dia simpan."Mas," panggil Lily pelan.Dewa yang sedang merapikan tas pakaian rumah sakit berpaling. "Iya, Sayang? Kamu butuh ses
Dewa terbangun oleh getaran ponsel di saku celananya. Sebuah nomor yang sudah dia hapus jejaknya di aplikasi pesan, namun memorinya masih mengenali siapa pemiliknya: Jihan. Dengan langkah berat, dia keluar dari ruang rawat Lily menuju balkon kecil di ujung koridor."Mau apa lagi, Jihan?" desis Dewa langsung saat mengangkat telepon.Suara Jihan terdengar bergetar di seberang sana, kontras dengan kepercayaan diri yang ia tunjukkan di Ubud. "Dewa, aku di Jakarta. Aku sudah di depan lobi Medistra. Tolong... aku tidak bisa tenang sejak tahu apa yang terjadi pada Lily. Izinkan aku menjenguknya sebentar saja. Aku ingin meminta maaf secara langsung."Dewa mendengus sinis. "Kamu pikir ini waktu yang tepat? Lily baru saja melewati masa kritis kandungannya karena tekanan mental yang—sejujurnya—kamu turut andil di dalamnya.""Aku tahu, Dewa! Itulah sebabnya aku di sini. Aku merasa sangat bersalah. Aku tidak tahu dia sedang hamil. Kumohon, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, lalu
Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Lorong rumah sakit sudah sangat sepi, hanya menyisakan suara dengung mesin pendingin ruangan dan langkah kaki perawat yang sesekali melintas di kejauhan. Dewa masih terduduk di kursi tunggu, namun matanya tidak sedetik pun terpejam. Pikirannya penuh dengan kata-kata Bi Ijah tentang kehamilan Lily yang tidak terduga dan luka hati yang dia goreskan.Melihat Bi Ijah tertidur pulas di kursi panjang seberang karena kelelahan, Dewa merasa inilah kesempatannya. Dengan gerakan sangat pelan, nyaris tanpa suara, dia memutar gagang pintu kamar nomor 402. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat dia menghadapi negosiasi bisnis paling krusial dalam hidupnya.Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur di sudut dinding yang memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Bau antiseptik bercampur dengan aroma samar parfum Lily yang masih tersisa, membuat dada Dewa sesak oleh rasa rindu yang menyakitkan.Di atas ranjang, Lily terbaring lem
Suasana di koridor rumah sakit itu terasa semakin mencekam. Dewa baru saja hendak menerjang masuk ke dalam kamar, namun langkahnya terhenti secara paksa. Bi Ijah, yang biasanya selalu menunduk patuh, kini berdiri tegak di depan pintu kamar VVIP itu. Kedua tangannya gemetar, tapi tatapannya menunjukkan kecemasan yang jarang terlihat."Bapak... mohon, Pak Dewa. Jangan masuk dulu," suara Bi Ijah serak, menahan tangis yang sejak tadi pecah di balik masker medisnya.Dewa mengerutkan kening, rahangnya mengeras karena frustrasi. "Bi Ijah, minggir! Saya suaminya. Saya harus memastikan keadaan Ibu Lily dengan mata kepala saya sendiri!""Ibu tidak mau bertemu Bapak!" potong Bi Ijah, suaranya naik satu nada karena kalut. "Tadi saat Ibu siuman sebentar, beliau langsung bertanya apakah Bapak ada di sini. Begitu tahu Bapak sedang dalam perjalanan dari Bali, Ibu histeris, Pak. Ibu bilang kalau sampai Bapak masuk ke ruangan ini, Ibu lebih baik pulang sekarang juga meski kondisinya masih sangat lema
Suasana intim di restoran tepi tebing itu mendadak beku bagi Dewa. Jihan baru saja menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, jemarinya mengusap lengan pria itu dengan kelembutan yang manipulatif, ketika ponsel di atas meja bergetar hebat. Getaran itu terasa kasar, merusak simfoni musik klasik dan deburan ombak di bawah sana.Dewa melirik layar. Nama BI Ijah tertera di sana. Biasanya, Dewa akan mengabaikan telepon rumah di jam sepuluh malam seperti ini, menganggapnya hanya urusan logistik dapur atau tagihan bulanan. Tapi, ada firasat buruk yang mencubit tengkuknya. Sesuatu yang lebih dingin dari angin malam Ubud."Sebentar, Jihan," ucap Dewa, suaranya mendadak datar. Dia melepaskan tangan Jihan dari bahunya dengan gerakan yang tidak lagi ragu."Halo, Bi? Ada apa menelepon saya jam segini?"Suara di seberang sana pecah oleh tangisan. "Pak... Pak Dewa... Tolong, Pak! Bu Lily... Bu Lily pingsan!"Dewa tersentak berdiri. Kursi kayu jati yang didudukinya bergeser kasar, menimbulkan buny
Malam di Ubud perlahan jatuh, menyelimuti deretan vila mewah dengan kabut tipis dan aroma dupa yang menenangkan. Tapi, bagi Dewa, suasana ini hanya mempertegas kesunyian yang ditinggalkan Lily. Di tengah kemelut hatinya, sebuah pesan singkat dari Jihan masuk, seolah menjadi satu-satunya distraksi yang dia butuhkan."Dewa, kurasa kita perlu merayakan kesepakatan final sore tadi. Ada restoran privat di tepi tebing yang sangat tenang. Anggap saja ini selebrasi kecil untuk kerja keras kita beberapa bulan terakhir. My treat?"Dewa menatap layar ponselnya cukup lama. Logikanya berkata bahwa kesuksesan kontrak bernilai miliaran ini memang layak dirayakan. Jihan telah membuktikan profesionalismenya sebagai klien sekaligus mitra yang tangguh. Baginya, masa lalu mereka sudah selesai. "Boleh. Kirimkan lokasinya," balas Dewa singkat.Restoran itu terletak di sebuah resor eksklusif yang hanya bisa diakses oleh tamu-tamu tertentu. Jihan sudah menunggu di sebuah meja yang letaknya menjorok ke a
Aldo tengah rebahan di sofa Panjang yang ada di dalam kamar rawat Rahma. Tanpa sengaja dia membuka galeri foto yang ada di ponselnya. Di sana masih ada banyak sekali foto Tita. Baik yang Tita sendirian, atau bersamanya. Juga masih ada beberapa foto yang menunjukkan gambar mereka bertiga, dirinya, T
Bugh!Aldo memberikan pukulan ke wajah Dewa. Lelaki yang lebih tua itu santai saja. Dia bahkan tidak memiliki niat untuk membalas pukulan yang Aldo berikan. Ini Dewa lakukan bukan karena dia merasa kalah atau bersalah. Dewa hanya ingin Aldo merasa puas.“Kamu sudah puas? Kalau belum, silakan pukul
Satu minggu kemudian, kondisi Aldo sudah mendekati sembuh total. Dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Karena rumahnya masih dikontrak oleh seseorang, maka Aldo memilih untuk menginap di rumah orang tuanya. Sekalian dia ingin membahas soal Nila. Aldo juga ingin mengambil surat rumah dan mobilnya
Sepasang suami istri tampak tengah duduk santai di serambi rumah mereka. Di antara mereka, ada sebuah meja di mana terletak dua cangkir teh yang masih mengepulkan asap, dan sepiring kue. Mereka Ridwan dan Winda, orang tua Lily.Sejak kepulangan Lily ke rumah besar itu, mereka kembali merasakan keba







