Chapter: Kelahiran Arka (Tamat)Lampu ruang persalinan yang terang benderang menciptakan suasana yang steril namun penuh ketegangan yang sakral. Aroma disinfektan bercampur dengan harum minyak kayu putih yang sempat dioleskan Dewa ke pelipis Lily untuk menenangkannya. Di tengah ruangan, Lily berbaring di atas tempat tidur persalinan, napasnya memburu, peluh membasahi dahi dan rambutnya yang terurai berantakan di atas bantal.Dewa berdiri tepat di sisi kepala Lily. Dia tidak melepaskan jasnya, hanya menggulung lengan kemejanya hingga siku. Tangan kanannya digenggam erat oleh Lily—begitu erat hingga buku-buku jari Dewa memutih—sementara tangan kirinya terus mengusap keringat di wajah istrinya dengan handuk kecil."Tarik napas dalam, Lily. Bagus... buang perlahan," suara Dokter Sarah terdengar tenang namun tegas di ujung tempat tidur. "Pembukaan sudah lengkap. Kita akan mulai saat kontraksi berikutnya datang, ya?"Lily mengangguk lemah, matanya menatap Dewa dengan sisa-sisa kekuatan yang dia miliki. Rasa sakit yang
Dernière mise à jour: 2026-03-31
Chapter: KontraksiMalam itu, Jakarta sedang diguyur hujan rintik yang membawa hawa sejuk ke dalam kamar utama yang temaram. Jam dinding digital di atas nakas menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Di tengah kesunyian yang dalam, Lily tiba-tiba terbangun bukan karena suara petir, melainkan karena sensasi kaku yang meremas perut bagian bawahnya.Dia menarik napas panjang, mencoba tenang. "Mungkin hanya Braxton Hicks," gumamnya pelan, merujuk pada kontraksi palsu yang belakangan sering dia rasakan.Sepuluh menit kemudian, rasa remasan itu datang lagi. Kali ini lebih lama, sekitar tiga puluh detik, dan menjalar hingga ke pinggang belakang. Lily melirik Dewa yang tertidur pulas di sampingnya. Wajah suaminya tampak sangat lelah setelah lembur menyelesaikan laporan tahunan perusahaan agar bisa mengambil cuti panjang saat Lily melahirkan nanti.Lily memutuskan untuk tidak membangunkan Dewa dulu. Ia ingat pesan Dokter Sarah."Tetap rileks, gerakkan tubuhmu agar posisi janin optimal."Dengan perlahan, Lily turu
Dernière mise à jour: 2026-03-31
Chapter: Penantian Akan BerakhirSetelah memastikan koper melahirkan tertutup rapat, Dewa tidak membiarkan Lily beristirahat begitu saja. Dia menuntun istrinya menuju sebuah pintu kayu bercat putih yang terletak tepat di sebelah kamar utama mereka. Pintu itu selama ini lebih sering tertutup rapat karena proses dekorasi yang dilakukan secara rahasia oleh Dewa dan para desainer interior."Sudah siap melihat istana kecil untuk anak kita?" bisik Dewa sambil memegang gagang pintu.Lily mengangguk antusias. Begitu pintu terbuka, dia seolah melangkah masuk ke dalam dunia mimpi yang penuh dengan kelembutan. Kamar itu tidak lagi terlihat seperti ruangan kosong, melainkan sebuah ruang pamer kemewahan yang dibalut dengan rasa cinta yang mendalam.Warna dindingnya adalah perpaduan antara warm grey dan putih tulang, memberikan kesan tenang dan lapang. Di tengah ruangan, berdiri sebuah crib atau ranjang bayi berbahan kayu ek impor dari Eropa dengan ukiran tangan yang sangat halus. Kelambu sutra tipis menjuntai dari langit-langi
Dernière mise à jour: 2026-03-30
Chapter: Persiapan PersalinanSinar matahari sore yang hangat menerobos masuk melalui jendela besar di kamar utama, menciptakan siluet keemasan di atas ranjang king-size yang kini dipenuhi oleh berbagai perlengkapan bayi. Lily, dengan perutnya yang sudah membuncit besar namun tetap bergerak dengan anggun, sedang berlutut di atas karpet bulu yang tebal. Di depannya, sebuah tas koper berukuran sedang terbuka lebar.Meskipun acara siraman tujuh bulanan baru saja usai beberapa hari yang lalu, Lily merasa ada dorongan naluri yang kuat untuk mulai mengepak barang-barang. Dia tidak ingin terburu-buru saat waktunya tiba nanti. Baginya, persiapan ini adalah bentuk ketenangan pikiran."Baju ganti untuk si kecil... sudah. Bedong kain sepuluh buah... sudah. Oh, kaos kaki mungil ini jangan sampai ketinggalan," gumam Lily pelan sambil melipat pakaian bayi yang sewarna awan dengan sangat hati-hati.Dia memasukkannya ke dalam kantong-kantong plastik kedap udara yang sudah dia beri label: 'Hari 1', 'Hari 2', dan 'Baju Pulang'.
Dernière mise à jour: 2026-03-30
Chapter: SiramanBeberapa bulan berlalu, dan kediaman mewah Dewa serta Lily di Jakarta kini tampak berubah total. Halaman belakang yang luas telah disulap menjadi sebuah taman asri dengan dekorasi tradisional Jawa yang kental namun tetap elegan. Aroma melati yang segar menyeruak di udara, bercampur dengan wangi mawar dan kenanga yang terapung di dalam sebuah bokor besar berisi air jernih dari tujuh sumber mata air.Hari ini adalah hari istimewa, upacara adat mitoni atau siraman tujuh bulanan untuk Lily.Lily duduk di atas kursi kayu jati yang telah dihiasi janur kuning dan bunga-bunga segar. Dia mengenakan ronce melati yang menutupi bahu dan dadanya, serta balutan kain jumputan berwarna hijau cerah yang menonjolkan perutnya yang kini sudah membesar sempurna. Wajahnya memancarkan aura inner beauty yang luar biasa; tidak ada lagi jejak kecemasan atau trauma masa lalu, yang ada hanyalah ketenangan seorang calon ibu yang bahagia.Di barisan depan, duduk orang-orang terkasih mereka. Rahma dan Darto, oran
Dernière mise à jour: 2026-03-29
Chapter: Kembali PulangPerjalanan pulang dari dataran tinggi menuju hiruk-pikuk Jakarta dimulai saat kabut tipis masih menyelimuti pucuk-pucuk pohon pinus. Dewa memastikan semua barang bawaan—termasuk keranjang-keranjang berisi anggur segar dari Adrian dan tumpukan sayuran organik dari Paman Surya—tersusun rapi di bagasi belakang. Aroma tanah basah dan sisa wangi bunga kopi seolah ikut melekat di dalam kabin mobil, menjadi kenangan fisik yang manis untuk dibawa pulang."Sudah siap kembali ke realita, Sayang?" tanya Dewa sambil memakaikan sabuk pengaman untuk Lily, memastikan talinya tidak menekan perut istrinya yang kini menjadi prioritas utamanya.Lily mengangguk dengan senyum yang jauh lebih lepas dibandingkan saat mereka berangkat beberapa hari lalu. "Siap, Mas. Kali ini aku pulang dengan perasaan yang lebih tenang. Terima kasih untuk semuanya."Dewa mengecup sekilas punggung tangan Lily sebelum mulai menginjak pedal gas. Mobil SUV hitam itu meluncur perlahan menuruni jalanan berkelok. Di kiri dan k
Dernière mise à jour: 2026-03-29
Chapter: Jalan-jalan PagiSinar matahari pagi yang hangat menerobos sela-sela dedaunan pohon rindang di taman kota. Angin berembus sejuk, membawa serta riuhnya suara kicauan burung dan tawa anak-anak yang sedang bermain.Adista mendorong kursi roda Fero dengan santai menyusuri jalan setapak berbatu sikat, menikmati udara segar akhir pekan yang sudah lama tak mereka rasakan."Adista, sungguh, ini sangat memalukan. Aku merasa seperti kakek-kakek berumur delapan puluh tahun yang sedang dijemur pagi hari oleh perawat panti jompo," gerutu Fero, mencoba menutupi sebagian wajahnya dengan sebelah tangan."Berhenti mengeluh, Kek," sahut Adista santai, justru mempercepat sedikit dorongannya. "Nikmati saja udaranya. Kamu butuh vitamin D alami supaya tulang rusukmu itu cepat menyambung lagi.""Tapi aku bisa jalan kaki, Sayang. Pelan-pelan juga tidak apa-apa.""Tidak. Dokter Andi bilang kamu tidak boleh kelelahan. Taman ini luas sekali, Fero. Kalau di tengah jalan kamu pingsan atau dadamu sesak, aku tidak kuat menggendongm
Dernière mise à jour: 2026-07-16
Chapter: Perayaan KecilJam menunjuk angka sebelas malam ketika mobil Adista perlahan memasuki garasi rumahnya. Suasana rumah sudah sepi. Adista setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamar utama, tak sabar ingin segera membagikan kabar bahagia yang dibawanya sedari restoran.Ia memutar kenop pintu perlahan, takut membangunkan suaminya. Di saat pintu berderit terbuka, cahaya hangat dari lampu tidur di atas nakas menyambutnya. Di atas ranjang, Fero masih terbangun. Pria itu menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal sambil membaca sebuah buku tebal, kacamata bacanya bertengger pas di tulang hidungnya yang bangir.Mendengar suara pintu terbuka, Fero menurunkan bukunya dan menoleh. Senyumnya langsung mengembang."Selamat datang, istriku. Bagaimana makan malamnya?" sapa Fero lembut, bersikap sok formal, melepaskan kacamata dan meletakkan bukunya di nakas."Fero! Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah jam sebelas malam!" seru Adista, membiarkan tas mahalnya jatuh begitu saja di atas sofa kecil di sudut ruanga
Dernière mise à jour: 2026-07-15
Chapter: Makan Malam Hisyam-AdistaAlunan lembut dawai biola dan denting piano mengalun syahdu memenuhi ruang privat VIP Restoran Bunga Rampai malam itu. Cahaya temaram dari lampu kristal gantung memantul indah, menciptakan nuansa elegan dan hangat. Adista melangkah masuk dengan anggun, dibalut gaun malam berwarna maroon berpotongan rapi, didampingi Hana yang tampil tak kalah profesional dengan setelan blazer hitamnya.Di meja bundar berukir klasik, seorang pria tampan dengan setelan jas abu-abu gelap khas pengusaha elit segera berdiri. Senyum menawan terkembang di wajahnya yang dihiasi rahang tegas."Selamat malam, Puan Adista. Nona Hana," sapa Hisyam dengan aksen Melayu yang lembut dan berwibawa, sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat. "Silakan duduk.""Selamat malam, Tuan Hisyam. Terima kasih sudah mengundang kami berdua malam ini. Mohon maaf jika kami membuat Anda menunggu lama," balas Adista seraya menerima uluran tangan Hisyam untuk berjabat tangan singkat."Sama sekali tidak, Puan. Saya juga baru saja t
Dernière mise à jour: 2026-07-15
Chapter: Kabar GembiraAroma gurih kaldu ayam dan taburan daun bawang menguar memenuhi kamar utama yang luas. Adista duduk di tepi ranjang, meniup pelan sesendok bubur ayam yang asapnya masih mengepul tipis."Buka mulutmu, Fero. Aaa," ucap Adista layaknya sedang membujuk anak kecil, lengkap dengan sendok yang disodorkan tepat ke depan bibir suaminya.Fero mendengus pelan, menyandarkan punggung tegapnya pada tumpukan bantal. Matanya menatap sendok dan wajah istrinya secara bergantian dengan raut memelas."Adista, sayangku, istriku yang paling cantik... tanganku yang patah itu sebelah kiri, bukan kanan. Tangan kananku masih berfungsi sangat sempurna untuk memegang sendok," protes Fero, mencoba merebut mangkuk porselen dari tangan istrinya.Dengan sigap, Adista menjauhkan mangkuk itu dari jangkauan Fero. Alisnya menukik tajam ke tengah."Jangan membantah. Dokter Andi bilang kamu tidak boleh banyak bergerak. Duduk diam dan buka mulutmu, atau bubur ini aku siram ke wajahmu." Adista pura-pura mengancam. "Kejam s
Dernière mise à jour: 2026-07-15
Chapter: PulangSinar matahari pagi menembus celah gorden ruang rawat VVIP Rumah Sakit Medika Sentra. Seminggu berlalu sejak Fero siuman, dan hari ini, aroma antiseptik yang menyesakkan itu akhirnya akan segera mereka tinggalkan."Adista, aku hanya butuh mengancingkan tiga kancing kemeja atas ini saja," keluh Fero sambil menepis pelan tangan istrinya yang sedari tadi sibuk mengurus pakaiannya. "Aku ini baru sembuh dari koma, bukan lumpuh.""Diam dan angkat sedikit dagumu," perintah Adista dengan nada tegas tak terbantahkan, jari-jari lentiknya dengan cekatan memasukkan kancing kemeja ke lubangnya. "Tulang rusukmu itu belum sembuh total, Fero. Dokter Andi bilang kamu tidak boleh banyak melakukan gerakan yang meregangkan otot dada.""Sejak kapan mengancingkan kemeja masuk dalam kategori olahraga ekstrem, Sayang?""Sejak aku yang menjadi pengawas pribadimu!" sahut Adista, memelototi suaminya dengan galak. "Kamu mau jahitan di dalam dadamu bermasalah lagi? Kamu mau dirawat berminggu-minggu lagi di ruanga
Dernière mise à jour: 2026-07-11
Chapter: BaikanSuara derit pelan dari engsel pintu memecah keheningan yang menyelimuti ruang ICU. Adista melangkah masuk dengan ragu-ragu, ujung sepatunya nyaris tak bersuara menyentuh lantai keramik. Di atas ranjang pasien, Fero ternyata belum memejamkan matanya. Kepala pria itu menoleh pelan, menyambut kedatangan Adista dengan seulas senyum tipis. Adista menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Jemarinya yang dingin perlahan terulur, meraih tangan Fero, lalu menggenggamnya erat-erat."Kamu belum tidur?" tanya Adista pelan, memecah kecanggungan yang sempat menjadi dindingdi antara mereka."Aku takut kalau aku tidur, kamu tidak akan kembali lagi ke ruangan ini," jawab Fero dengan suara seraknya.Adista menundukkan kepalanya. Rasa bersalah kembali meremas dadanya dengan kuat."Fero... aku minta maaf.""Untuk apa? Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa.""Untuk sikapku tadi. Untuk kata-kataku yang kejam," isak Adista tertahan, air mata penyesalan menetes membasahi punggung tangan suaminya. "Seharu
Dernière mise à jour: 2026-07-06
Chapter: BASTIAN TAHU SEMUASuara gemericik air di kamar mandi membuat Alma gelisah. Bagaimana kalau Bastian benar-benar meminta haknya malam ini? Dia tidak menginginkan hal itu terjadi. Alma masih berada di rencana pertama, berpura-pura pasrah untuk mencari peluang kabur dari pernikahan mereka."Ayo berpikirlah, Alma. Kamu harus melakukan sesuatu supaya Bastian tidak menyentuhmu malam ini," gumamnya pelan.Pura-pura tidur.Hanya itu yang terpikirkan oleh Alma sekarang. Dia berharap Bastian tidak menyadari kalau dia sedang berakting. Wanita itu ingin mempertahankan diri. Bastian memang sudah merenggut ciuman pertamanya, tetapi tidak untuk mahkotanya yang berharga.Alma mulai menutup mata. Sebisa mungkin dia berusaha untuk menenangkan diri. Memiringkan tubuh dan menutupi setengahnya dengan selimut. Dia ingin posisinya sekarang terlihat natural. Walau jujur sekarang jantung Alma seirama dentuman musik diskotik.Beberapa menit berlalu, suara pintu kamar mandi dibuka terdengar. Bersamaan dengan itu, aroma sabun mand
Dernière mise à jour: 2023-06-27
Chapter: JANGAN COBA MENYENTUHKUAlma duduk di depan cermin rias. Dia sudah dirias layaknya pengantin pada umumnya. Di tubuh wanita itu melekat kebaya putih buatan desainer terkenal pilihan Bastian. Ternyata selama ini dia menyelidiki semua tentang Alma dari Rosa, termasuk ukuran bajunya. Hanya dia saja yang tidak menyadari pergerakan lelaki itu.Seorang wanita paruh baya tersenyum menghampiri Alma. Dia memperhatikan Alma dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wanita paruh baya itu mengakui kecantikan yang terpancar dari calon istri tuannya."Nyonya Muda sangat cantik, hanya saja ... sejak tadi Nyonya tidak mau tersenyum. Bukankah ini hari bahagia Nyonya dan Tuan Muda?" Itu suara Mbok Darmi, pengasuh Bastian sejak kecil.Mereka sudah berkenalan kemarin. Bastian mempercayakan Mbok Darmi untuk mengurus keperluan Alma juga. Wanita itu masih berusaha beradaptasi, tetapi dia menerima kehadiran Mbok Darmi dengan baik."Mungkin hanya Bastian yang bahagia, Mbok. Bukan saya," sahut Alma yang sekarang menyeka air matanya yang ja
Dernière mise à jour: 2023-06-05
Chapter: KAMU HANYA MILIKKU, BASTIAN!"Sekarang jelaskan padaku, tentang siapa wanita itu," ucap ketus wanita yang kini duduk tidak jauh dari Bastian tersebut.Raut wajah wanita itu tampak tidak senang setelah apa yang dia lihat. Dia membutuhkan penjelasan dari Bastian tentang siapa wanita yang ada bersamanya.Sudah beberapa bulan belakangan ini Bastian mansion itu dan lebih banyak menghabiskan waktu di bangunan megah tersebut."Baiklah. Aku juga tidak suka basa-basi. Dia calon istriku. Seseorang yang akan mendampingi hidupku selain kamu," ucap Tian santai. Tidak terdeteksi sedikit pun rasa bersalah di sana."Apa? Calon istri katamu? Kamu sudah punya aku dan Angelina, Tian! Buat apa kamu berniat untuk menikah lagi? Aku tidak setuju!" Wanita itu terlihat sangat emosi.Dia Sabrina, istri pertama Bastian. Wanita itu sangat menentang keputusan yang diambil oleh suaminya. Dia tidak akan membiarkan Bastian menikahi Alma."Aku tidak butuh restu darimu, Sabrina Sayang." Bastian terdengar meledek.Lelaki itu tampak sangat percaya
Dernière mise à jour: 2023-06-05
Chapter: BALASAN DOSA MASA LALUMobil yang mereka tumpangi masuk ke area sebuah mansion mewah. Struktur bangunan yang sebagian besar terbuat dari kaca premium membuat bangunan besar itu tampak terbuat dari susunan kristal yang indah. Tidak bisa dipungkiri, Alma terpesona dengan kemegahan yang ditawarkan mansion milik Tian tersebut.Kendaraan roda empat itu berhenti saat pandangan Alma masih menyisir bagian luar bangunan yang bisa dia lihat. Bastian bisa melihat sorot kekaguman dari mata Alma karena sekarang dia sudah turun dan membukakan pintu untuk gadis itu. Mendengar bunyi pintu mobil yang terbuka, Alma sedikit tersentak."Silakan turun, Tuan Puteri. Mulai hari ini dan seterusnya kamu akan tinggal di dalam mansion besar ini. Aku yakin, tempat ini seratus kali lebih baik daripada rumah lamamu itu." Tian mengedarkan tatapan sombong ke arah mansionnya, lalu menatap Alma seraya tersenyum miring.Alma tertawa kecil, bukan tawa yang tulus."Kamu pikir tempat ini lebih baik untukku? Kamu salah, Tian! Rumahku jauh lebih
Dernière mise à jour: 2023-06-05
Chapter: TAKDIR YANG TAK ADILTidak ada lagi kebahagiaan yang tersisa. Seakan semuanya terenggut begitu saja. Begitu pula dengan hari ini. Hari di mana Alma merasa harga dirinya tergadai. Dia dipaksa ibu tirinya untuk menikah dengan seseorang yang dia benci."Tidak! Aku tidak sudi menikah dengan laki-laki itu, Ma. Dia sudah beristri. Tolong, jangan lakukan ini padaku, kumohon ..."Alma meronta saat dua orang laki-laki asing datang untuk membawa dia keluar dari rumah peninggalan ayahnya.Di antara dua orang itu, ada satu lelaki yang memimpin. Namanya Bastian, atau biasa dipanggil Tian. Pria itu musuh bebuyutan Alma saat mereka duduk di bangku SMA. Wanita itu mengetahui status Tian dari unggahan di sosial media lelaki itu. Dia sudah menikah lima tahun lalu dan memiliki seorang putri.Bastian hanya duduk dan menyilangkan kedua tangan. Tatapannya dingin, tanpa belas kasihan. Di masa lalu, Alma memang pernah menjahili lelaki itu, tetapi balasan yang dia terima sekarang jelas tidak adil. Alma benci harus dijodohkan deng
Dernière mise à jour: 2023-06-05
Chapter: Jangan Dekati Dia!Mesin mobil sedan mewah milik Adam menderu halus membelah kemacetan Jakarta yang mulai mereda di malam hari. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana terasa sedikit mencekam. Adam menggenggam kemudi dengan erat, buku-buku jarinya memutih. Sesekali matanya melirik ke arah kaca spion tengah, lalu beralih pada Kiara yang duduk tenang di sampingnya sambil menatap lampu-lampu kota di balik jendela.Pikiran Adam masih tertahan pada kejadian di kantor tadi. Bayangan Zaki yang berdiri begitu dekat dengan Kiara, serta cara lelaki baru itu menatap kekasihnya, terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya."Saya tidak suka cara lelaki itu menatapmu, Kiara," ujar Adam tiba-tiba. Suaranya berat, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka.Kiara menoleh, sedikit terkejut namun kemudian menghela napas panjang. Dia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini sejak Adam menjemputnya dengan wajah ditekuk. "Siapa? Zaki? Dia cuma staf baru, Mas. Dia hanya berusaha bersikap sopan pada su
Dernière mise à jour: 2026-02-03
Chapter: Usaha Jihan"Ini DP dari saya, lima puluh juta rupiah. Saya sudah memasukkan kamu ke perusahaan tempat anak saya bekerja. Namanya Adam. Dia manager di sana. Tugas kamu adalah mendekati Kiara, seorang supervisor di sana. Buat wanita itu jatuh cinta sama kamu. Saya mau anak saya kembali fokus ke perusahaan keluarga kami, dan menggantikan papanya sebagai pewaris. Kalau kamu berhasil memisahkan anak saya dari wanita miskin itu, saya akan menambahkan lima puluh juta lagi." Jihan menyodorkan sebuah amplop coklat pada lelaki muda dengan penampilan perlente di hadapannya. Dia sengaja melakukan itu supaya Adam dan Kiara berpisah. Jihan tidak mau Adam fokus mengejar Kiara sampai memilih bekerja di perusahaan orang lain. Terutama karena status sosial Kiara yang menurut Jihan tidak layak menjadi kandidat menantunya. "Ibu tenang saja, saya akan melakukan tugas ini dengan baik. Dengan wajah saya yang rupawan, saya yakin saya akan bisa dengan mudah menaklukan hati Kiara. Saya sudah bertahun-tahun berprofesi s
Dernière mise à jour: 2026-02-02
Chapter: Melepas RinduKiara melangkah santai ke arah ruang kerja Adam. Dia tidak ingin ada yang curiga kalau sekarang hubungannya dengan Adam bukan lagi hanya karyawan dan bos. Setibanya di depan ruangan sang bos, Kiara membuka pintunya pelan, dan masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Tiba-tiba Adam menariknya, dan merapatkan tubuh keduanya. Membuat Kiara terkejut setengah mati. "Lama sekali, saya sudah rindu kamu, Kiara," bisik Adam dengan gairah tertahan. "Kita baru pisah beberapa menit, Mas. Bisa-bisanya kamu bilang rindu? Dasar tukang gombal!" Kiara mencubit kecil perut Adam, dan tidak ada penolakan dari lelaki itu. Dia hanya meringis kecil. "Satu detik saja saya sudah rindu, bagaimana dengan beberapa menit? Saya mau melepas rindu dulu sama kamu sebelum memulai pekerjaan," bisik Adam lagi, satu tangannya mengunci pintu, dan langsung membungkam bibir Kiara dengan ciuman. Adam membimbing Kiara mengikuti langkahnya tanpa melepaskan ciuman mereka. Wanita itu tidak menolak. Dia mengikuti kemauan Adam t
Dernière mise à jour: 2026-01-28
Chapter: Mulai Dicurigai"Ul, Kiara udah dateng?"tanya Nina ke Raul. Dia baru saja datang, bertanya seperti itu karena di atas meja kerja Kiara sudah ada sekotak donat dan juga kopi. "Belum, Nin. Gue pas sampe belum ada siapa-siapa.""Terus itu... donat sama kopi dari siapa? Lo tau?"cecar Nina lagi. "Ga tau gue. Dari pak Adam kali. Itu kan donat mahal, karyawan biasa kayak kita mah mikir dua kali buat beli, mana di tanggal tua gini, kan?""Eh, iya juga ya. Lo curiga gak sih sama tingkahnya Kiara? Semenjak dia ditugasin keluar sama pak Adam, sekarang dia jarang muring-muring. Dua hari ini dia malah anteng banget. Diminta ke ruangan pak Adam juga nggak sebete biasanya. Apa jangan-jangan mereka udah jadian?" "Gue juga kepikiran gitu, Nin. Tapi... masa iya? Kiara kan anti banget sama pak Adam. Aneh banget nggak sih kalo mereka tiba-tiba jadian? Kayak nggak masuk akal gitu." "Ya siapa tau, kan? Namanya perasaan mah bisa berubah kapan aja, Ul. Lo lupa, di awal masuk kan si Kiara naksir sama pak Adam. Dia ilfeel
Dernière mise à jour: 2026-01-18
Chapter: Perdebatan Dengan IbuAdam baru saja sampai di apartemennya. Sayang sekali, rasa bahagia yang menyelimuti hatinya harus tersingkir sejenak sesaat setelah dia melihat ibunya sudah menunggu di depan pintu sambil bersidekap. Hubungan mereka memang tidak cukup baik. Adam bahkan tidak terlalu nyaman berada di dekat ibunya yang selalu berusaha mengontrolnya sejak kecil. Itu juga yang menjadikan Adam alasan mengapa dia memilih untuk tinggal di apartemen daripada rumah besar milik keluarganya. Dia merasa jauh lebih damai tanpa rongrongan kedua orangtuanya. Adam juga bisa mencapai apa yang diinginkannya tanpa penolakan. Ujungnya memang dia harus berdebat, tetapi setidaknya dia punya sedikit kebebasan. "Ada apa mama ke sini?" tanyanya dingin. "Begitu cara kamu menyambut kedatangan wanita yang sudah mengandung mu selama sembilan bulan, Adam?" balas ibunya sama-sama dingin. "Lalu aku harus apa, Ma? Menyiapkan karpet merah? Membuat pesta terompet?" tanya Adam asal. "Cukup basa-basinya. Mama hanya ingin tahu, kapan
Dernière mise à jour: 2026-01-15
Chapter: Kasmaran"Sekarang bagaimana? Kamu menginginkan milik saya memasuki tubuhmu, Kiara Sayang?" tanya Adam setelah momen pelepasan Kiara berakhir. Kiara mengangguk cepat dengan mata sayunya menatap Adam. Begitu menggemaskan. "Tuntun dia, Sayang. Bawa dia memasuki tubuhmu," perintah Adam dengan berbisik. Seperti dihipnotis, Kiara mengikuti apa yang Adam perintahkan. Dia memegang milik kekasihnya itu, dan menuntunnya ke liang kenikmatannya. Kiara mendesis saat perlahan benda itu mulai memasukinya. Adam juga menikmati momen itu sambil menatap ekspresi sensual Kiara."Rasanya penuh banget, Mass," ucap Kiara sesaat setelah milik Adam memasukinya sepenuhnya. "Bergerak, Sayang. Kamu atur sendiri temponya. Dia akan patuh padamu malam ini," bisik Adam lagi. Kiara lagi-lagi patuh. Dia berpegangan erat pada pundak Adam, dan mulai menggerakkan tubuhnya. Desahannya terus terdengar bersahutan dengan derasnya hujan. Menikmati setiap sentuhan milik Adam dalam dirinya. Bukan hanya Adam, nyatanya Kiara juga se
Dernière mise à jour: 2026-01-12