Chapter: Memasang Jebakan"Mmmhhhh!"Lily mendorong dada dewa yang tiba-tiba saja mencium bibirnya, padahal mereka masih ada di depan pintu. Apalagi Dewa mencium bibirnya dengan sangat rakus seperti tidak bertemu satu minggu. "Lily jahat! Kok aku didorong sih, Sayang? Kamu nggak tau, aku kangen banget sama kamu. Di jalan aku terus kepikiran buat cium kamu pas kita ketemu. Ini baru cium sebentar, kamu sudah mendorongku seperti itu. Kenapa? Aku bau, ya? Maaf, deh," omel Dewa, sementara Lily menahan tawa. Dia gemas sekali dengan tingkah suaminya sore ini. Cup!Lily mengecup bibir suaminya singkat, dan menarik lelaki itu masuk ke dalam rumah. "Mas sadar nggak sih? Kita masih di depan rumah. Gimana kalau tiba-tiba ada tetangga lewat? Mas nggak malu ciuman brutal kaya gitu di tempat umum?" cecar Lily yang lagi-lagi tertawa geli. "Namanya juga kangen, Sayang. Aku juga nggak peduli gimana reaksi tetangga pas lihat kita ciuman. Terpenting aku bisa menyalurkan rasa kangenku sama kamu.""Kenapa nggak dianuin sekalian
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Memanfaatkan KeadaanBima duduk di kursi kerjanya dengan tidak tenang. Otaknya dipenuhi dengan keinginannya untuk bisa menjatuhkan Samudra Property. Dia tidak menyangka ternyata Dewa begitu cerdas. Lelaki itu begitu teliti, dan tidak sembarangan menerima tawarannya. Padahal dia sudah menawarkan investasi dalam angka yang cukup besar. Sementara semakin hari keadaan Niagara Property semakin mengenaskan. Sahamnya terus merosot, banyak investor yang memutuskan kontrak. Bima khawatir dia akan bangkrut kalau keadaan ini terus menerus terjadi. Kalau dia berhasil bekerjasama dengan Samudra Property, kemungkinan perusahaan miliknya akan naik kepermukaan. Semuanya akan membaik kalau dia bisa menemukan kelemahan perusahaan saingannya itu. Ponsel Bima berdering. Dia memutuskan menerima panggilan itu setelah tahu kalau ayahnya yang menelepon. "Ya, Pa," sahut Bima ramah. "Kamu sedang apa, Nak?" tanya Johan dari ujung sama."Biasa, Pa. Mikirin cara keluar dari masalah ini. Aku pusing, omset Niagara semakin menurun.
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Hiburan KecilSetelah lift yang membawa Rissa turun tertutup rapat, keheningan di lantai itu pecah menjadi bisik-bisik yang riuh. Para karyawan kembali ke meja masing-masing, namun fokus mereka jelas bukan pada pekerjaan. Drama yang baru saja terjadi menjadi topik hangat di setiap grup pesan singkat dan sudut ruangan."Gila ya, aku benar-benar nggak nyangka," bisik seorang staf administrasi kepada rekannya di pantry. "Padahal Rissa itu branding-nya di kantor kan elegan, pinter, dan profesional banget. Dia salah satu karyawan teladan kita, lho.""Itulah yang namanya 'don't judge a book by its cover'," sahut rekan lainnya sambil menggelengkan kepala. "Ternyata di balik prestasinya, dia senekat itu sampai berani kirim foto nggak senonoh ke Pak Dewa. Itu sih sudah bukan genit lagi, tapi sudah nggak punya harga diri."Beberapa karyawan senior yang sudah lama mengenal Rissa tampak menyayangkan kejadian ini. Mereka mengakui bahwa secara kinerja, Rissa adalah aset perusahaan. Sayangnya, perilaku moral
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Pemecatan Rissa"Selamat pagi, Lina. Pak Dewa sudah ada di ruangannya?" tanya Rissa dengan nada sok akrab, sembari membenarkan letak tas branded-nya di bahu.Lina tidak membalas senyuman itu. Dia justru menatap Rissa dengan tatapan datar yang sulit diartikan. "Selamat pagi, Rissa. Pak Dewa lagi nggak pengen diganggu. Ada Bu Lily di dalam."Rissa mendengus remeh, tangannya sudah menyentuh gagang pintu ruangan Dewa. "Oh, ayolah. Gue punya laporan penting yang harus dibahas secara privat sama dia. Lo tahu kan, proyek ini nggak bisa jalan tanpa gue.""Sebaiknya Lo lepasin gagang pintu itu," potong Lina tegas, membuat gerakan Rissa terhenti. "Pak Dewa udah ngeluarin memo pagi ini. Mulai detik ini, seluruh tanggung jawab, akses dokumen, dan tugas-tugas Lo udah resmi dialihkan ke Rosa."Rissa ternganga. Matanya membulat sempurna. "Apa?! Rosa? Si anak baru itu? Lo bercanda, ya? Dia nggak tahu apa-apa soal detail proyek besar ini!""Rosa mungkin baru, tapi dia profesional dan tahu batasan antara peke
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Foto Tak SenonohSuasana syahdu di depan perapian perlahan berpindah ke kamar tidur. Dewa baru saja meletakkan ponselnya di atas nakas dan hendak merebahkan diri di samping Lily ketika tiba-tiba layar ponselnya menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal melalui aplikasi WhatsApp.Awalnya Dewa mengira itu adalah urusan pekerjaan darurat. Begitu dia membuka pesan tersebut, rahangnya seketika mengeras. Matanya menatap tajam ke layar dengan kilat kemarahan yang tertahan. Di sana, terpampang sebuah foto tidak senonoh—seorang wanita yang sengaja berpose sangat berani dengan pakaian yang sangat minim, dan itu jelas sekali adalah Rissa.Di bawah foto itu, tertulis pesan: "Selamat malam, Pak Dewa. Saya tahu Bapak sedang di Puncak, tapi saya yakin Bapak lebih butuh kehangatan yang saya tawarkan daripada sekadar udara dingin di sana. Bukan untuk malam ini, tapi berlaku untuk malam-malam kedepannya. Saya tunggu balasan Bapak."Lily yang menyadari perubahan ekspresi suaminya, menyentuh
Terakhir Diperbarui: 2026-01-03
Chapter: Momen BerduaSore berganti malam, dan udara Puncak semakin menusuk tulang. Alih-alih memesan makanan dari luar, Dewa dan Lily memutuskan untuk menghabiskan malam terakhir mereka di vila dengan memasak bersama. Di dapur vila yang hangat dan beraroma kayu, keduanya mulai berbagi tugas.Dewa menyingsingkan lengan kemejanya hingga ke siku, menampakkan lengan kokohnya saat dia mulai memotong daging steak premium yang mereka bawa dari Jakarta. Sementara itu, Lily berdiri di sampingnya dengan celemek lucu, sibuk mengaduk saus jamur dan menyiapkan sayuran."Mas, tolong jagain sausnya sebentar ya, aku mau ambil lada di lemari atas," pinta Lily.Baru saja Lily hendak menjinjit untuk meraih botol lada, Dewa sudah lebih dulu berdiri di belakangnya. Dengan mudah, Dewa mengambil botol itu dan memberikannya pada Lily, dia tidak langsung menjauh. Dewa justru melingkarkan tangannya di pinggang Lily, mengurung istrinya di antara tubuhnya dan meja dapur."Butuh bantuan lain, Sayang?" bisik Dewa tepat di telinga
Terakhir Diperbarui: 2026-01-03
Chapter: BASTIAN TAHU SEMUASuara gemericik air di kamar mandi membuat Alma gelisah. Bagaimana kalau Bastian benar-benar meminta haknya malam ini? Dia tidak menginginkan hal itu terjadi. Alma masih berada di rencana pertama, berpura-pura pasrah untuk mencari peluang kabur dari pernikahan mereka."Ayo berpikirlah, Alma. Kamu harus melakukan sesuatu supaya Bastian tidak menyentuhmu malam ini," gumamnya pelan.Pura-pura tidur.Hanya itu yang terpikirkan oleh Alma sekarang. Dia berharap Bastian tidak menyadari kalau dia sedang berakting. Wanita itu ingin mempertahankan diri. Bastian memang sudah merenggut ciuman pertamanya, tetapi tidak untuk mahkotanya yang berharga.Alma mulai menutup mata. Sebisa mungkin dia berusaha untuk menenangkan diri. Memiringkan tubuh dan menutupi setengahnya dengan selimut. Dia ingin posisinya sekarang terlihat natural. Walau jujur sekarang jantung Alma seirama dentuman musik diskotik.Beberapa menit berlalu, suara pintu kamar mandi dibuka terdengar. Bersamaan dengan itu, aroma sabun mand
Terakhir Diperbarui: 2023-06-27
Chapter: JANGAN COBA MENYENTUHKUAlma duduk di depan cermin rias. Dia sudah dirias layaknya pengantin pada umumnya. Di tubuh wanita itu melekat kebaya putih buatan desainer terkenal pilihan Bastian. Ternyata selama ini dia menyelidiki semua tentang Alma dari Rosa, termasuk ukuran bajunya. Hanya dia saja yang tidak menyadari pergerakan lelaki itu.Seorang wanita paruh baya tersenyum menghampiri Alma. Dia memperhatikan Alma dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wanita paruh baya itu mengakui kecantikan yang terpancar dari calon istri tuannya."Nyonya Muda sangat cantik, hanya saja ... sejak tadi Nyonya tidak mau tersenyum. Bukankah ini hari bahagia Nyonya dan Tuan Muda?" Itu suara Mbok Darmi, pengasuh Bastian sejak kecil.Mereka sudah berkenalan kemarin. Bastian mempercayakan Mbok Darmi untuk mengurus keperluan Alma juga. Wanita itu masih berusaha beradaptasi, tetapi dia menerima kehadiran Mbok Darmi dengan baik."Mungkin hanya Bastian yang bahagia, Mbok. Bukan saya," sahut Alma yang sekarang menyeka air matanya yang ja
Terakhir Diperbarui: 2023-06-05
Chapter: KAMU HANYA MILIKKU, BASTIAN!"Sekarang jelaskan padaku, tentang siapa wanita itu," ucap ketus wanita yang kini duduk tidak jauh dari Bastian tersebut.Raut wajah wanita itu tampak tidak senang setelah apa yang dia lihat. Dia membutuhkan penjelasan dari Bastian tentang siapa wanita yang ada bersamanya.Sudah beberapa bulan belakangan ini Bastian mansion itu dan lebih banyak menghabiskan waktu di bangunan megah tersebut."Baiklah. Aku juga tidak suka basa-basi. Dia calon istriku. Seseorang yang akan mendampingi hidupku selain kamu," ucap Tian santai. Tidak terdeteksi sedikit pun rasa bersalah di sana."Apa? Calon istri katamu? Kamu sudah punya aku dan Angelina, Tian! Buat apa kamu berniat untuk menikah lagi? Aku tidak setuju!" Wanita itu terlihat sangat emosi.Dia Sabrina, istri pertama Bastian. Wanita itu sangat menentang keputusan yang diambil oleh suaminya. Dia tidak akan membiarkan Bastian menikahi Alma."Aku tidak butuh restu darimu, Sabrina Sayang." Bastian terdengar meledek.Lelaki itu tampak sangat percaya
Terakhir Diperbarui: 2023-06-05
Chapter: BALASAN DOSA MASA LALUMobil yang mereka tumpangi masuk ke area sebuah mansion mewah. Struktur bangunan yang sebagian besar terbuat dari kaca premium membuat bangunan besar itu tampak terbuat dari susunan kristal yang indah. Tidak bisa dipungkiri, Alma terpesona dengan kemegahan yang ditawarkan mansion milik Tian tersebut.Kendaraan roda empat itu berhenti saat pandangan Alma masih menyisir bagian luar bangunan yang bisa dia lihat. Bastian bisa melihat sorot kekaguman dari mata Alma karena sekarang dia sudah turun dan membukakan pintu untuk gadis itu. Mendengar bunyi pintu mobil yang terbuka, Alma sedikit tersentak."Silakan turun, Tuan Puteri. Mulai hari ini dan seterusnya kamu akan tinggal di dalam mansion besar ini. Aku yakin, tempat ini seratus kali lebih baik daripada rumah lamamu itu." Tian mengedarkan tatapan sombong ke arah mansionnya, lalu menatap Alma seraya tersenyum miring.Alma tertawa kecil, bukan tawa yang tulus."Kamu pikir tempat ini lebih baik untukku? Kamu salah, Tian! Rumahku jauh lebih
Terakhir Diperbarui: 2023-06-05
Chapter: TAKDIR YANG TAK ADILTidak ada lagi kebahagiaan yang tersisa. Seakan semuanya terenggut begitu saja. Begitu pula dengan hari ini. Hari di mana Alma merasa harga dirinya tergadai. Dia dipaksa ibu tirinya untuk menikah dengan seseorang yang dia benci."Tidak! Aku tidak sudi menikah dengan laki-laki itu, Ma. Dia sudah beristri. Tolong, jangan lakukan ini padaku, kumohon ..."Alma meronta saat dua orang laki-laki asing datang untuk membawa dia keluar dari rumah peninggalan ayahnya.Di antara dua orang itu, ada satu lelaki yang memimpin. Namanya Bastian, atau biasa dipanggil Tian. Pria itu musuh bebuyutan Alma saat mereka duduk di bangku SMA. Wanita itu mengetahui status Tian dari unggahan di sosial media lelaki itu. Dia sudah menikah lima tahun lalu dan memiliki seorang putri.Bastian hanya duduk dan menyilangkan kedua tangan. Tatapannya dingin, tanpa belas kasihan. Di masa lalu, Alma memang pernah menjahili lelaki itu, tetapi balasan yang dia terima sekarang jelas tidak adil. Alma benci harus dijodohkan deng
Terakhir Diperbarui: 2023-06-05
Chapter: Boleh Saya Lihat?"Kiara, ke ruangan saya sekarang."Kiara menatap teman-teman satu divisinya setelah membaca pesan tersebut. Tentu saja ekspresi Kiara menarik perhatian teman-temannya. "Kenapa, Ki?" tanya Nina penasaran. "Kayaknya perang dengan Pak Devil akan segera dimulai lagi. Orangnya udah nge-chat. Minta gue ke ruangannya." Kiara berucap tidak bersemangat. Seketika tawa teman-teman satu divisinya pecah. "Pak Adam kangen sama Lo, Ki. Dia nggak tahan lama-lama ngehindar dari Lo," celetuk Raul, lalu melanjutkan tawanya. "Padahal lebih bagus nggak interaksi sama dia, lebih adem.""Halah, diam-diam Kiara pasti juga kangen itu lama nggak tatapan mata sama pak Adam." Arga ikut nimbrung. "Pastinya. Tapi Kiara malu-malu buat mengakui kalo dia kangen sama si bapak ganteng satu itu. Diembat yang lain nanti Lo kecarian, Ki.""Kak Nina, mulai, deh. Udah ah, gue mau ke ruangannya Pak Adam. Daripada nanti dia merepet kayak biasanya. Males."Kiara beranjak dari kursinya, melangkah ke arah pintu keluar diiri
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: MenghindarTiga hari kemudian, Kiara sudah kembali bekerja. Selama tiga hari sebelum dia kembali ke rutinitasnya, tidak ada gangguan dari Adam. Walaupun terasa aneh, Kiara sangat bersyukur. Dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan dari bosnya itu. Tapi ternyata kejadian itu berlanjut saat Kiara kembali ke kantor. Beberapa kali dia menangkap basah Agam yang berusaha menghindar. Bahkan saat diminta mengantarkan berkas ke ruangannya, Adam tidak sedikit pun menatap wajah Kiara. Bahkan langsung meminta Kiara untuk keluar dari ruangan itu. Membuat Kiara bertanya-tanya. Padahal dia sangat yakin kalau dirinya tidak memiliki salah apapun pada Adam. Walaupun memang dia sempat mendiamkan bosnya itu di komunikasi mereka yang terakhir. "Pak Adam menghindari kalian nggak beberapa hari ini?" celetuk Kiara sesaat kerjaannya terselesaikan. "Kagak. Kayak biasa aja, sih. Normal," sahut Raul. "Ke gue juga biasa. Malah kemarin dia sempat minta tolong gue buat kerjain bagian Lo, Ra. Gue tanya, kan? Tum
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Mimpi Basah"Ki, sorry, bukan niat gue buat ikut campur, cuma tadi pak Adam chat gue soal Lo. Emang Lo diapain lagi sama dia sampe Lo marah? Gue jadi kepo. Betewe pak Adam kayaknya kelimpungan banget diambekin sama Lo. Keg ngerasa kehilangan gitu."Kiara menghela napas membaca pesan dari Nina. Dia tidak mungkin sampai mendiamkan Adam kalau lelaki itu tidak keterlaluan. Di saat badannya butuh istirahat, lelaki itu tidak memiliki simpati sedikitpun. "Jelas kelimpungan, gak punya temen debat dia. Dia juga pasti lagi mikirin tentang apa lagi yang bisa gue kerjain supaya gue nggak nganggur selama sakit. Lo bayangin aja, Kak... masa dia maksa gue kerja di saat gue masih dirawat gini? Punya hati nggak sih? Gue jadi kesel sama dia. Biar aja, kali ini gue mau kasih dia pelajaran. Enak aja dia ngebabuin gue mulu!" balas Kiara panjang lebar. "Ck, keterlaluan sih pak Adam. Pantesan Lo sampe marah ke dia. Lagian apa salahnya sih dia sesekali kerjain sendiri, apalagi Lo lagi sakit. Gue juga heran, kok ada ma
Terakhir Diperbarui: 2025-12-30
Chapter: Kelimpungan“Ini sudah tiga jam. Apa kerjaan kamu sudah selesai, Kiara?” Tepat tiga jam sejak pesan terakhir yang dikirimkan oleh Adam, Kiara kembali mendapati nama lelaki itu muncul di layer ponselnya sebagai pengirim pesan. Dia tentu menagih sesuai kesanggupan Kiara. Beruntung, lima menit lalu semua pekerjaan yang diminta oleh Adam sudah selesai dia kerjakan.“Sudah, Pak. Kebetulan sudah saya selesaikan beberapa menit lalu. Sebentar, saya akan kirimkan file-nya ke Bapak.” “(Daftar Visa Aktif Karyawan . docx).”“(Akumulasi Data Kehadiran Karyawan .docx).”“Oke.”Kiara menatap kesal respon Adam setelah dia mengirimkan dua file yang diminta oleh lelaki itu. Lelaki itu seakan tidak ada inisiatif untuk berterima kasih atas kerja keras Kiara. Padahal bosnya itu tahu kalau kondisinya sekarang sedang sakit, dan tidak seharusnya menghandle pekerjaan.“Susah banget ya buat lo ngucapin makasih? Lo manusia bukan sih, Dam? Sumpah, gue kesel banget sama lo! Kalo nggak inget lo atasan gue, udah gue racun lo
Terakhir Diperbarui: 2025-12-29
Chapter: Di kejar Deadline Sudah tiga hari berlalu, tetapi Kiara belum juga bisa keluar dari rumah sakit. Kondisinya masih lumayan mengkhawatirkan. Hal itu tentu saja mengundang simpati dari rekan-rekan kerjanya. Mereka kembali datang ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Kiara yang terkini. Tentu saja kehadiran mereka membuat Kiara merasa senang. Setidaknya, dia memiliki mereka yang mau menjadi temannya dalam suka, dan duka.“Udah tiga hari lo di sini, Ki. Keadaan lo gimana? Masih belum ada perubahan, ya? Gue kangen lo. Kantor sepi kalo nggak ada lo,” ucap Nina yang tengah duduk di pinggiran ranjang tempat Kiara dirawat.“Iya, Ki. Kita khawatirin lo banget. Apalagi semenjak kita jenguk waktu itu, lo nggak ada kasih kabar apa-apa.” Arga menambahkan.“Karena itu semua, gue ngajak mereka buat dateng ke sini lagi jengukin lo. Kita nggak bisa tenang kalo belum tau keadaan lo secara langsung.” Susan ikut bicara.Kiara tersenyum, menatap teman-temannya satu per satu. Mereka satu-satunya alasan dia betah di kantor.
Terakhir Diperbarui: 2025-12-14
Chapter: Tips Kocak“Jadi tadi siapa yang kirim kopi?” Nina tampaknya sangat penasaran. Dia langsung menanyakan itu saat jam istirahat mereka tiba.“Kalo lo ragu buat minum mending kagak usah diminum, deh. Takutnya ada racunnya.” Raul ikut menyahut.“Iya bener. Selain racun, bisa jadi kopi itu ada peletnya. Ngeri.” Arga menambahkan.“Apaan deh kalian. Ini kopi ternyata dari pak Adam.” Kiara buka suara. Dia tidak mau semua teman-temannya semakin rebut memperdebatkan tentang si pengirim kopi yang sekarang isinya tinggal setengah itu.“What? Serius? Gue asal nebak aja padahal tadi. Cie … fix pak Adam suka sama lo, Ki. Jangan lupa ntar bagi PJ kalo kalian jadian.” Arga langsung menghujani Kiara dengan ejekan. Gadis itu tentu sudah sangat biasa dengan sikap teman satu divisinya yang satu itu.“Nggak usah bikin gossip deh, Kak. Tadi itu pak Adam kirim kopi karena dia merasa bersalah doang, udah bikin gue lembur dengerin semua omelan dia. Mana mungkin dia suka gue. Suk amah disayang-sayang, bukannya diomelin ti
Terakhir Diperbarui: 2025-12-14