MasukTangan Elia bergetar hebat hingga amplop cokelat tebal itu terjatuh ke lantai marmer ruang tamunya. Bunyi gedebuk pelan itu terdengar seperti dentum meriam di telinganya yang mendadak berdenging. Napasnya memburu, sementara butiran keringat dingin mulai merusak lapisan masker wajah yang belum sempat dia bilas.Joni, pria utusan Dewa itu, masih berdiri mematung di ambang pintu. Tatapannya kosong namun menusuk, seolah sedang menatap seonggok benda tak berharga, bukan seorang manusia."T-tunggu... ini pasti salah paham," gagap Elia, suaranya naik satu oktav karena panik. "Aku dan Lily... kami dulu tetangga. Aku hanya bercanda. Biasalah, obrolan sesama wanita. Dewa tidak mungkin seserius ini, kan?"Joni tidak bergeming. "Bagi Tuan Dewa, tidak ada yang 'remeh' jika itu menyangkut air mata istrinya. Anda baru saja membangunkan singa yang sedang menjaga sarangnya, Nyonya Elia."Setelah Joni berbalik dan deru mobil hitam itu menjauh, Elia segera memungut surat itu kembali. Dengan jemari
Tangan Elia bergetar hebat hingga amplop cokelat tebal itu terjatuh ke lantai marmer ruang tamunya. Bunyi gedebuk pelan itu terdengar seperti dentum meriam di telinganya yang mendadak berdenging. Napasnya memburu, sementara butiran keringat dingin mulai merusak lapisan masker wajah yang belum sempat dia bilas.Joni, pria utusan Dewa itu, masih berdiri mematung di ambang pintu. Tatapannya kosong namun menusuk, seolah sedang menatap seonggok benda tak berharga, bukan seorang manusia."T-tunggu... ini pasti salah paham," gagap Elia, suaranya naik satu oktav karena panik. "Aku dan Lily... kami dulu tetangga. Aku hanya bercanda. Biasalah, obrolan sesama wanita. Dewa tidak mungkin seserius ini, kan?"Joni tidak bergeming. "Bagi Tuan Dewa, tidak ada yang 'remeh' jika itu menyangkut air mata istrinya. Anda baru saja membangunkan singa yang sedang menjaga sarangnya, Nyonya Elia."Setelah Joni berbalik dan deru mobil hitam itu menjauh, Elia segera memungut surat itu kembali. Dengan jemari
Setelah keheningan malam menyelimuti rumah besar mereka dan Lily telah terlelap dengan raut wajah yang jauh lebih tenang berkat sesi konseling tadi siang, Dewa melangkah keluar menuju ruang kerjanya. Ruangan itu kedap suara, remang, dan hanya diterangi lampu meja yang menyorot tajam ke arah beberapa berkas.Dewa menekan satu tombol di ponselnya. Tidak butuh waktu lama sampai pintu ruang kerja diketuk pelan. Joni, pria bertubuh tegap dengan wajah dingin yang telah menjadi tangan kanan Dewa selama bertahun-tahun, melangkah masuk."Anda memanggil saya, Pak?" tanya Joni dengan nada datar namun penuh kepatuhan.Dewa menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang konsisten—tanda bahwa dia sedang merencanakan sesuatu yang serius. "Kamu sudah mendapatkan alamat lengkap Elia, mantan tetangga kami di rumah lama, kan?""Sudah, Pak. Dia tinggal di perumahan kelas menengah di pinggiran kota. Suaminya, Hendra, menjalankan bisnis distribusi suku cadang yang sa
Sesampainya di rumah, Dewa tidak membiarkan Lily berlarut-larut dalam kesedihan. Baginya, ketenangan pikiran istrinya adalah prioritas mutlak. Sambil menemani Lily beristirahat di kamar, Dewa diam-diam menghubungi asisten pribadinya untuk mengatur pertemuan penting besok pagi. Dia tidak hanya memanggil satu ahli, melainkan dua sekaligus.Keesokan harinya, suasana rumah terasa lebih tenang. Dewa sengaja meminta pelayan untuk menyiapkan teh aromaterapi dan camilan sehat di ruang keluarga yang menghadap ke taman belakang yang asri."Mas, kenapa ada Dokter Sarah pagi-pagi begini?" tanya Lily heran saat melihat dokter kandungannya sudah duduk di sofa, bersanding dengan seorang wanita paruh baya berwajah teduh yang belum pernah Lily lihat sebelumnya.Dewa membimbing Lily duduk di sofa yang empuk. "Aku ingin kamu merasa benar-benar tenang, Ly. Selain Dokter Sarah, ini adalah Ibu Kinanti. Beliau adalah seorang psikolog yang ahli dalam mendampingi ibu hamil agar tetap rileks dan bahagia."
...Apabila anda pernah mengalami keguguran, ada kemungkinan besar anda akan mengalaminya lagi di kehamilan selanjutnya...Kalimat dalam artikel yang Lily baca di internet membuatnya cemas. Dia takut kalau dia akan mengalaminya lagi. Memang saat itu keguguran terjadi karena dicelakai oleh seseorang, tetapi tetap saja dia terpengaruh dengan isi artikel itu."Mas, gimana kalau misalnya aku sampai keguguran lagi?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca pada Dewa yang sedang memeriksa email di sisinya. Mereka berdua tengah bersiap tidur. "Kenapa kamu tiba-tiba berpikiran seperti itu, Ly?" tanya Dewa yang langsung menyimpan tabletnya ke dalam laci."Tadi aku baca di artikel kalau kemungkinan keguguran akan terjadi lagi pada seorang wanita yang pernah mengalaminya. Aku takut bayi kita....""Sudah aku bilang, jangan baca-baca yang aneh-aneh di internet. Tidak semuanya akurat. Dokter saja bisa salah diagnosa, apalagi hanya tulisan seseorang. Kamu harus yakin, Sayang. Anak kita akan selamat sampa
Sinar matahari pagi di kediaman Darto dan Rahma semakin cerah, menembus kaca-kaca besar yang menghadap ke taman belakang yang asri. Lily, yang merasa jauh lebih segar setelah menghabiskan bubur buatan mertuanya, perlahan menuruni tangga dibantu oleh Dewa. Langkah mereka pelan, penuh kehati-hatian, hingga sampai di area ruang keluarga yang letaknya bersebelahan dengan teras belakang.Langkah Dewa terhenti saat dia mendengar suara ibunya yang terdengar sangat antusias dari arah teras. Dia memberikan isyarat pada Lily untuk diam sejenak.Di sana, Rahma sedang duduk di kursi rotan dengan ponsel di telinganya. Dia tampak sedang melakukan panggilan video dengan seseorang."Jeng Sari! Ya ampun, itu yang warna baby blue lucu sekali! Bahannya apa? Katun organik, kan? Aku tidak mau yang kasar, Jeng. Kulit cucuku nanti pasti sangat sensitif," suara Rahma terdengar renyah namun penuh penekanan.Lily dan Dewa saling berpandangan. Mereka berdiri di balik pilar besar, tidak sengaja menjadi pende
Ponsel Dewa bergetar di atas meja kerja saat dia sedang memeriksa laporan keuangan bulan ini. Nama "Farhan" muncul di layar. Farhan adalah teman masa kecilnya yang sudah hampir lima tahun menetap di Dubai untuk mengurus bisnis properti."Halo, Dewa! Aku baru mendarat kemarin. Bisa ketemu? Jangan b
Sebelum menuju bandara untuk penerbangan kembali ke Jakarta, Dewa menyempatkan diri singgah di kawasan bisnis terpadu di Batam. Di sana berdiri sebuah gedung perkantoran yang tampak lebih modern meski tidak semegah gedung miliknya. Di lobi gedung tersebut, terpampang logo Niagara Property, perusaha
Di kantor, Dewa benar-benar menjadi bayangan dari dirinya sendiri. Ruangan kerja yang biasanya menjadi tempat ia menaklukkan angka-angka dan strategi bisnis kini terasa seperti penjara yang menyesakkan. Beberapa kali asistennya masuk untuk meminta tanda tangan pada dokumen penting, sementara Dewa
Pesawat yang membawa Dewa mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, tepat saat matahari mulai terik. Tanpa membuang waktu, Dewa langsung menuju kantor pusat Samudera Property. Wajahnya begitu serius, tanpa senyum, dengan rahang mengeras, memancarkan wibawa seorang pemimpin yang sedang dikhianati. Selu







