LOGINPintu ganda itu tertutup dengan bantingan keras setelah Elise melangkah keluar dengan kemarahan yang tertahan. Keheningan yang menyesakkan langsung menyergap ruangan itu. Tatiana berdiri mematung, ia tidak tahu harus berbuat apa atau harus memulai pembicaraan dari mana. Perlahan, ia meletakkan map yang sejak tadi didekapnya ke atas meja kerja.
Tatiana memberanikan diri melangkah mendekat, berdiri tepat di hada
Tatiana hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan lenguhan yang hampir lolos saat kecupan-kecupan kecil Kaliel berpindah ke bahunya. Sentuhan pria itu selalu berhasil membuatnya lemas."Sudah, Kaliel... lepaskan dulu. Aku mau mandi," bisik Tatiana sambil menepuk pelan lengan yang masih mengunci pinggangnya.Kaliel mendengus pelan, namun akhirnya melonggarkan kunkungannya dengan enggan. "Mandilah. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makan siang yang enak untukmu. Jangan coba-coba kabur dari meja makan seperti kemarin."Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemercik air shower terdengar, Tatiana menyandarkan punggungnya pada pintu. Ia memejamkan mata erat-erat. Hasrat seksualnya yang melonjak drastis bela
Mereka sudah ke kamar, membersihkan diri dan siap untuk tidur kalau saja pria tinggi itu tidak mendekap Tatiana di depan ranjang mereka.Kaliel terdiam sejenak saat merasakan hawa tubuh Tatiana yang menembus pakaian tidurnya.Ia menggeser telapak tangannya, menempelkannya pada punggung Tatiana yang terasa tidak biasa. "Kau hangat," gumam Kaliel, kernyitan di dahinya kembali dalam, kali ini karena rasa khawatir. "Apa kau salah makan hari ini?"Tatiana mendengus pelan di dalam pelukan pria itu, memukul dada Kaliel lemah. "Aku hampir tidak sanggup mengunyah makananku," sahutnya dengan suara yang mulai serak. "Di dalam perutku ini cuma ada dua cangkir kopi. Dasar jahat."Mendengar pengakuan itu, rasa bersalah langsung menyergapnya. Bagaimana bisa ia tidak m
Tidak bisa dipungkiri lagi, Tatiana kini memang sudah sangat bergantung pada Kaliel. Dinamika hubungan mereka yang intens dan perhatian pria itu yang tanpa batas, meski sering kali melelahkan. Perlahan-lahan mulai mengikis jarak di antara mereka.Beberapa hari setelah pertemuan penuh ketegangan dengan Jane, Kaliel membawa Tatiana ke sebuah butik estetik bernuansa putih bersih milik Claire Delacour. Tempat itu terasa memancarkan kemewahan yang sunyi di setiap sudutnya.Claire, seorang wanita paruh baya dengan gaya berkelas yang mengalungkan pita meteran di lehernya, berjalan memutari Tatiana. Matanya yang tajam dan berpengalaman meneliti setiap jengkal proporsi tubuh gadis itu dari atas sampai bawah dengan teliti.Setelah beberapa saat mengamati, Claire melipat tangan di depan dada, mengangguk-anggu
Tatiana mengembuskan napas panjang, merasa sangat lega karena urusan dengan Jane akhirnya selesai juga. "Nama mereka sulit-sulit sekali," omelnya pelan sambil memijat pelipisnya yang mendadak terasa agak pening mendengar deretan nama desainer dan pengrajin kelas atas tadi.Mereka berjalan keluar menuju area parkir. Dengan gerakan yang penuh perhatian dan sangat natural, Kaliel melangkah lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Tatiana."Serahkan padaku, Nona," ujar Kaliel dengan nada sopan yang dibuat-buat.Tatiana meliriknya sekilas sebelum masuk ke dalam mobil. "Dasar," cibirnya, meskipun sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyuman tipis atas perlakuan manis pria itu.***Mereka akhirnya sampai di
Kaliel tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Jane. "Aku juga suka ide itu," dukungnya tanpa ragu, membuat Tatiana mengela napas lega.Jane tampak menelan ludah, buru-buru membolak-balik tabletnya dengan raut wajah agak kebingungan. "Ide itu? Tapi Tuan, Nona... itu agak terlalu sederhana untuk budget yang Anda berikan kepada kami," ujar Jane dengan nada sungkan, merasa sayang jika anggaran fantastis itu tidak dipakai untuk membuat pesta termegah abad ini.Tatiana menggeleng pelan, langsung menyuarakan isi kepalanya sebelum Jane mencoba membujuk mereka kembali ke konsep awal. "Lebih baik kita optimalkan untuk makanan misalnya, atau cincin pernikahan," dia menelengkan kepalanya, sebenarnya dia juga tak yakin dengan apa yang dia ucapkan. "Yang jelas aku tidak ingin terlalu mencolok."Tatiana melirik Kaliel,
Tatiana mengelap bibirnya dengan tisu setelah suapan terakhirnya. Mereka kemudian bangkit dan melangkah menuju area supermarket besar yang berada di dalam mal tersebut untuk mengisi kulkas mereka yang kosong.Begitu mereka melewati barisan troli dan masuk ke area bahan makanan segar, Kaliel menoleh ke arah Tatiana sambil mendorong troli di samping gadis itu. "Kau ingin makan apa beberapa hari ke depan?" tanya Kaliel, siap mengambil apa saja yang diinginkan calon istrinya."Daging?" jawab Tatiana dengan nada bertanya, matanya langsung berbinar saat melihat etalase bagian daging segar yang memamerkan potongan-potongan premium.Kaliel terkekeh pelan dan langsung mengarahkan troli mereka ke stan daging. "Daging, pilihan yang bagus. Aku akan memilihkan potongan terbaik untukmu, dan pastikan kita juga me
Butuh waktu tiga jam bagi Tatiana untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Setelah membasuh wajahnya berkali-kali dan mencoba menata hatinya yang retak, ia akhirnya melangkah keluar rumah dan berjalan menuju kediaman Edward. Tanpa mengetuk lagi, ia langsung mela
Tatiana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tangisnya pecah seketika. Tubuhnya gemetar hebat di bawah tekanan rasa bersalah. "Kukira aku tidak akan pernah goyah... aku mengaku aku salah, Kaliel!" seru Tatiana di balik tangannya, suaranya parau dan terseda
Edward memaksakan sebuah senyuman tipis, menatap wajah Tatiana yang tampak begitu kuyu di bawah pendar lampu kamar. "Kau kelihatan lelah," bisiknya parau.Tatiana menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan gel
Kaliel tidak langsung menyambut uluran tangan Joe. Alih-alih terharu, ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai. Sebuah senyuman tipis, setengah sinis, terukir di sudut bibirnya. Sebagai pria yang sudah kenyang dengan intrik, Kaliel tidak akan sebod







