로그인Tatiana duduk mematung di kursinya, jemarinya bergerak kaku di atas papan ketik komputer yang layarnya hanya menampilkan barisan data yang tak lagi ia mengerti. Ia baru saja kembali dari rubanah seolah tidak terjadi apa-apa, mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar tersengal.
Ia tahu siapa Kaliel. Ia yang menuliskan setiap tetes darah yang menempel di tangan pria itu. Namun, melihatnya secara langsung me
Kaliel sedang berada di dalam mobil, menatap jalanan dengan pikiran yang tertuju pada sebuah gudang rahasia di pinggiran Sektor Onyx, saat ponselnya bergetar. Begitu membaca pesan dari Tatiana, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang."Putar arah. Ke Lamone Cafe. Sekarang!" perintahnya yang membuat sopirnya langsung membanting setir tanpa berani bertanya.Amarah Kaliel mendidih di setiap jengkal nadinya. Bagaimana bisa gadis itu pergi menemui Elise sendirian setelah apa yang mereka lalui pagi ini?Ketika pintu kafe terbuka dengan cukup keras, suasana tenang di dalam ruangan itu seketika berubah mencekam. Beberapa pelanggan menoleh, namun langsung membuang muka saat melihat siapa yang berdiri di sana.Di sudut ruangan, Tatiana duduk deng
Keheningan setelah badai gairah itu pecah saat Kaliel menarik diri dan pandangannya jatuh pada noda merah yang menghiasi sprei putih di bawah mereka. Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya, hanya tatapan intens yang seolah sedang menandai sebuah wilayah yang baru saja ia taklukkan.Tanpa sepatah kata pun, Kaliel menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Tatiana, lalu dengan mudah ia mengangkat gadis itu ke dalam gendongannya."Bersembunyilah di kamarku," gumam Kaliel rendah saat ia mulai melangkah keluar dari kamar.Tatiana menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kaliel. "Aku berdarah, kan?" tanya Tatiana, ia mengigit bibirnya karena terlalu malu.Kaliel mengangguk kecil. Ia membuka pintu kamar utama menggunakan kakinya, gerakannya tetap stabil meski s
Ciuman itu dimulai dengan lembut, sentuhan hangat yang terasa sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi keterpaksaan atau keraguan yang membayangi. Tatiana memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi itu, secara sukarela membuka diri bagi pria yang baru saja ia akui sebagai kekasihnya.Kaliel menanggapi perubahan itu dengan intensitas yang meningkat. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Tatiana, lalu dengan satu gerakan kuat namun terkendali, ia memutar tubuh gadis itu hingga kini Tatiana duduk tepat di atas pangkuannya.Selimut sutra yang membungkus tubuh Tatiana merosot ke bawah, namun kali ini Tatiana tidak mencoba menariknya kembali.Kaliel menjauhkan bibirnya sejenak, menatap pemandangan indah di hadapannya dengan napas yang mulai memberat. Sudut bibirnya ter
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden penthouse terasa seperti jarum yang menusuk langsung ke bola mata Tatiana. Ia mengerang, menutupi wajahnya dengan bantal sambil merasakan denyut menyakitkan di pelipisnya itu adalah efek samping dari Il Fuoco yang tidak ia duga akan separah ini.Namun, rasa sakit di kepalanya mendadak hilang, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya saat ia menyadari satu hal, ia tidak merasakan kain apa pun menempel di kulitnya di balik selimut sutra ini.Tatiana tersentak duduk, mengabaikan rasa pening yang menyerangnya. Ia menyingkap sedikit selimutnya dan langsung terbelalak. Kosong. Benar-benar tidak ada seh
Sepanjang perjalanan dari kantor, Tatiana memilih untuk duduk di kursi belakang, ia tidak bisa terus-terusan berdekatan dengan Kaliel tanpa memikirkan tawaran tidak masuk akal pria itu.Ia menatap ke luar jendela, membiarkan lampu-lampu Sektor Onyx yang mulai menyala menjadi latar belakang pikirannya yang berkecamuk.Namun, mobil hitam itu tidak melaju menuju penthouse. Kendaraan mewah itu justru melambat dan berhenti di depan sebuah bangunan dengan arsitektur klasik yang sangat elegan.Plume…Tatiana terpaku menatap papan nama restoran itu. Napasnya tertahan. Ia ingat betul saat ia duduk di depan laptopnya, mengetikkan deskripsi tentang restoran ini dengan
Tatiana duduk mematung di kursinya, jemarinya bergerak kaku di atas papan ketik komputer yang layarnya hanya menampilkan barisan data yang tak lagi ia mengerti. Ia baru saja kembali dari rubanah seolah tidak terjadi apa-apa, mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar tersengal.Ia tahu siapa Kaliel. Ia yang menuliskan setiap tetes darah yang menempel di tangan pria itu. Namun, melihatnya secara langsung membuat kenyataan itu terasa jauh lebih menyesakkan.Kalau aku memang terjebak di sini dan mencintainya, aku ingin dia keluar dari dunia kejam yang kutuliskan untuknya, batin Tatiana pedih. Ia merasa berdosa karena telah memberikan beban seberat itu pada pria yang kini menjadi pusat dunianya.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Kaliel melangk







