LOGIN"Tuan tolong ke rumah sakit, Nyonya mengalami pendarahan hebat!!"Bagai palu godam menghantam telak dadanya, kalimat itu hancurkan seluruh imajinasi semulanya terangkai indah.Liv? Pendarahan? Benaknya penuh keterkejutan menanyakan hal tersebut, menepis untuk percaya saat ia sendiri telah berekspektasi kebahagiaan rumah tangga mereka.Setiap langkah menapak di ubin, tak begitu ia rasakan pijakannya kala kalut dalam kepala begitu ricuh. Dadanya berdegup jauh lebih kencang, rona di wajah surut oleh ketegangan.Begitu jauh suara-suara di sekitar, nyaris tak dapat didengar saat fokusnya telah pecah berkeping-keping. Ketakutan yang tidak pernah datang bahkan dalam bentuk bayangan sekalipun, terasa begitu sangat nyata.Napasnya terputus-putus, dadanya berat untuk menampung lebih banyak oksigen. Nyaris tubuh gagah itu runtuh begitu tiba di depan ruang emergency room."Tuan!" Allison menyeru, ia hampiri Tuannya yang sedang menyetabilkan aliran napas."Bagaimana bisa terjadi—" Bahkan untuk ber
Sementara waktu Hailey melipir dari keramaian pesta menuju kamar mandi. Baru saja ia mencicipi kek dengan krim penuh sampai mengotori riasannya berujung harus memperbaiki riasan dengan harga ribuan dollar.Di dalam cermin, sosoknya begitu sempurna. Gaun malam jatuh sempurna membentuk siluet indah pada tubuhnya, kilauan dari kalungnya menyimpan kesan kemewahan yang sangat cocok untuknya.Dari dalam tas, ponsel ia raih. Aplikasi kamera pun ia kunjungi sebelum mengabadikan dirinya pada sebuah foto untuk ia kirim pada Liv."Mari kita lihat, siapa yang akan hancur di sini." Terkekeh puas usai mengirim foto dirinya disertai kalimat provokatif.Sentuhan terakhir adalah tatanan rambutnya, selepas semuanya beres Hailey bersiap pergi dari kamar mandi."Akh!"Jeritannya mengalun sebab kejutan berupa kedua pistol yang saat ini menempel di pelipisnya."A-apa yang kalian lakukan?" Tubuhnya bergetar mengetahui posisinya sangat tidak am
"Nyonya tolong hentikan!"Sesungguhnya tidak ada hal mengejutkan yang membuat dada Anna ingin mengeluarkan jantungnya dari apa yang ia lihat saat ini."Berikan itu! Liv sangat membutuhkan alkohol!"Melihat Liv hendak meminum alkohol, wajar jika jantung Anna terasa meloncat. Untung saja ia segera datang dan mencegah hal buruk terjadi."Mohon maaf Nyonya, untuk ini saya melarang. Tidak peduli jika nanti Tuan memecat saya, setidaknya saya bisa menyelamatkan nyawa bayi di kandungan anda." Anna mengoceh, sebotol wine berusaha ia jauhkan dari jangkauan Liv."Hanya satu teguk saja. Itu tidak akan membuat bayi Liv mati." Sementara perempuan itu memohon dengan wajah telah dibanjiri air mata."Ayolah Anna ... Liv sangat membutuhkan alkohol.""Ada cara lain untuk menghilangkan rasa sedih anda." Perlahan, nada suara Anna stabil kembali, jauh lebih lembut saat teringat besarnya luka yang terlihat di wajah basah Liv Greyson.
Matahari belum menempati singgasananya, tetapi alam bawah sadar Dante telah datang memenuhi raga.Teringat rencana mereka untuk berjalan-jalan di pagi hari, sontak Dante periksa sosok yang seharusnya ada mendekapnya.Sayang, yang ia dapat lagi-lagi kekosongan. Hampa dalam benak pun tumbuh, berikut ngilu tak terukur akan adanya kecewa."Pergi lagi?" Suara seraknya bertanya culas. "Sebenarnya apa yang dia pikirkan?"Berdasarkan penyelidikan dari Ace, tidak ada hal mencurigakan dari Liv. Isi ponselnya bersih, tidak ada satupun riwayat mencurigakan seperti perselingkuhan yang sebelumnya Dante curigakan.Tanpa sadar, lidahnya membunyikan decakan keras—bunyikan kemarahan usai dikecewakan yang kedua kalinya oleh orang yang sama.***"Kau tahu ke mana istriku pergi?"Sebab tidak ada satupun orang yang bisa Dante tanyai selain Allison mengenai kepergian Liv, buat Allison terdampar di ruangan suram miliknya."Pag
Matahari dari Timur menyingsing sebelum cahaya merebak penuhi bentala Los Angeles. Karena cahayanya yang terang dari balik jendela, seseorang terbangun.Perlahan tapi pasti, kelopak matanya terbuka. Samar terlihat olehnya kekosongan di sisi, hal aneh yang ia temukan saat bangun tidur.Di hari kemarin dan sebelum-sebelumnya, paginya selalu disambut oleh manis dari senyuman sang istri. Sayangnya hari ini ia tidak diberikan seulas pun senyum dari Liv, justru kekosongan ia dapatkan yang kemudian menjalari benak.Saat hendak turun kemudian menghampiri sang istri yang kemungkinan di luar kamar, matanya lebih dulu menangkap post it di atas nakas.[Liv berangkat kuliah karena ada kelas pagi. Maaf tidak bisa bangun bersama. Liv cinta Dante semuka bumi"Tumben sekali," gumam Dante sebab ini kali pertama ia ditinggalkan.Sekelibat ingatan kemarin malam datang. Saat matanya temukan kejanggalan pada sang istri, membuat
Cklek.Terdengar engsel pintu dari sudut kanan kamar, yang kemudian menampilkan sesosok insan hanya berbalut kaos abu-abu kebesaran yang menenggelamkan tubuh mungilnya.Sebuah handuk bertengger di atas kepala, belum ia singkirkan sebelum mengenakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.Ting.Bersamaan hairdryer hendak ia ambil, denting notifikasi menyeret atensi, membuatnya beralih pada benda pipih yang tergeletak di sisi nakas."Hailey?" Bibirnya gumamkan nama tersebut.Terbesit perasaan tak enak—mengingat kemarin ia mendapatkan pesan provokatif dari Hailey—untuk saat ini, dia ingin menghindarinya.Awalnya demikian. Namun, sebuah foto yang Hailey kirimkan akhirnya menuntun ibu jari Liv 'tuk membuka pesan tersebut."Bukankah ini—"Dan rasa penasarannya tersebut menjatuhkan Liv pada jurang paling dalam.Tepat di depan matanya, sosok Hailey begitu cantik mengenakan gaun rumbai dengan kalung emerald persis seperti yang ia kenakan sewaktu kencan dengan Dante.Tidak hanya kalung emerald,
Berada di ruangan tak membuat hati Liv tenang. Ketakutan selalu bertambah seiring waktu berjalan. Setiap dinding mengurung ruangan, seperti menyempit, menempatkannya dalam ruang yang menghimpit.Detik yang ia jalani, sangat menyiksa. Inginnya pergi keluar. Menghirup segar dari embusan angin. Saat d
Pergerakan terlihat dari kedua pelupuk mata semulanya tertutup. Dalam keadaan buram, ruangan serba putih tersuguhkan sebelum penglihatan benar-benar sempurna.Aroma obat-obatan menyeruak memasuki ruang di hidungnya. Karena itu, hidungnya berkerut, menolak untuk mencium bau obat yang sangat menyenga
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan tekan—"Lidahnya membunyikan decakan, menarik ponsel dari sisi telinga. Ibu jari lagi-lagi menekan tombol panggil pada sederet nomor yang akan menghubungkan ia dengan sang suami."Nomor yang anda tuju—"Mematikan panggilan begitu suara operator
Dalam satu langkah, dinding yang menjadi tempatnya berdiam diri selagi mendengarkan apa yang Allison katakan, Liv keluar. Wajahnya mengeruh, rahang menegang begitu kalimat dari Allison mengusik."Apa yang kau katakan?" Sontak Allison terkejut. Badannya membalik. Tanpa mampu ia kontrol, bola mata m







