LOGINSeolah belum cukup semesta memberinya derita dari keluarganya sendiri, Liv Florence harus menelan pil pahit. Hidupnya hancur dalam satu malam, dia dijual pada Dante Greyson—mafia paling kejam dengan nama yang telah melekat pada kekejaman, darah dan kematian, agar ayahnya terbebas dari jeratan hutang yang telah menggunung. Tidak diberikan kesempatan untuk menolak, Liv dipaksa menikah untuk membayar kesalahan ayahnya. Pernikahan yang selalu Liv bayangkan adalah momen sakral dan indah, tidak berlaku padanya. Dan di balik dinding megah Mansion Greyson, adalah neraka baru bagi Liv Florence. Atau bahkan surga baru baginya. “Bilang padaku, siapa yang melukaimu?” Bibir Liv bergetar. “Aku bukan majikanmu.” Hidung Dante semakin dekat, deruan napasnya membelai pipi Liv, mendatangkan gelombang emosi yang tidak pernah Liv rasakan. Seperti ribuan kupu-kupu bertebaran di dalam perut, kemudian bermigrasi ke dalam dadanya, menggelayuti jantung yang sedari tadi tiada henti mengetuk keras dadanya. “Aku suamimu."
View More"Tuan! Nyonya menghilang!"
Telapak sepatu merah dari pantofel Dante baru memijaki ubin marmer kediamannya. Namun, seruan Kepala Pelayan berdengung bagai lelucon di hari yang seharusnya menjadikan perayaan satu tahun pernikahan mereka. "Apa yang sedang kau bicarakan?" Dia bersuara datar. Masih dengan kepercayaan diri, bahwa wanitanya kini tengah duduk manis di sofa favoritnya, seraya memangku buku astronomi kesayangannya. Tungkai pria itu melangkah percaya diri, membunyikan ketukan terkonsolidasi di setiap pijakan. "Seluruh pakaian Nyonya dan barang-barangnya tidak kami temukan. Seluruh pelayan sudah mencari Nyonya, tapi kami tidak menemukan tanda keberadaannya! Di ruang baca pun, tidak ada!" Laporan Allison diiringi khawatir dan panik luar biasa menghantam keras benak Dante. Dekapan pada buket bunga mawar merah melonggar, sebelum jatuh teronggok mengenaskan di atas marmer. Mata biru sebagaimana lautan di balik kacamata hitamnya membola, sementara bulatan kecil di dalam kornea mata menyusut. "Jangan bercanda." Bariton suaranya memberat, membunyikan ancaman bila laporan Allison adalah prank di hari anniversary-nya dengan Sang Istri. "Saya berani bersumpah demi nyawa saya sendiri, Tuan. Tuan bisa melihatnya langsung di kamar Nyonya." Napas Allison terputus-putus, lelah usai mencari Sang Majikan. Tungkai dibalut celana panjang hitam milik Dante diseret cepat, setiap ketukannya membunyikan emosi negatif yang merayapi benak, perlahan menumbuhkan ketakutan yang merupakan ancaman. "Untuk apa dia pergi?" Dante enggan percaya pada ucapan Allison. Namun, selama mengenal wanita setengah baya itu, Dante tak pernah mendengar kelakar darinya. "Tidak ada tempat yang menjadi tempatnya pulang selain mansion ini." Dari nada suaranya: terdapat getaran dari sebuah ketakutan, panik serta khawatir bila yang Allison katakan adalah kenyataan. "Tuan!!" Dari arah jam dua, berlarian seorang wanita pendek. Wajah bulat wanita itu membentangkan senyum, suara tawa kecilnya menjadi pertanyaan besar bagi Dante. Langkah kecil dari kaki pendeknya memutus jarak di antara mereka. "Kabar apa yang ingin kau sampaikan?" Suara rendah nan berat Dante menyapu rungu wanita tersebut. Sorot tajam dari iris biru Dante tidak membuat wanita tersebut melenyapkan senyumnya, seolah berkas yang ada di tangannya adalah harta paling penting dari nyawanya. "Saya membawa kabar bahagia!" Wanita itu memekik, lantas mengambil hasil laboratorium dari dalam amplop coklat. "Selamat Tuan, anda akan menjadi ayah. Nyonya sedang hamil saat in—" Kata-kata yang telah ia rangkai dengan suka-cita terputus, Sang Tuan terburu merebut kertas di tangannya. Telaga birunya seolah ingin membakar kertas tersebut. Setiap kata yang ia baca dipelototi, enggan terlewati barang satu huruf pun. Di balik wajahnya yang tak seperti biasanya datar dan pongah, terdapat debaran luar biasa di dalam dada, seakan jantungnya tengah memohon untuk dikeluarkan. Tanpa dapat semua orang prediksi, sosoknya melangkahkan tungkai dengan kecepatan tinggi. Pijakan dari sepatu pantofelnya menjejaki ketakutan. Gemuruh jantung di dalam dada adalah kidung yang mengiringi jalannya. Brak! Pintu kayu menjulang tinggi di depannya terbuka lebar, memberi jalan untuknya memastikan kabar dari Bennet. "Liv!!" Kala nama Sang Dara, ia bunyikan, lehernya mengetat, liukan urat menggarisi leher saling bertonjolan. "Liv!" Dia kembali memanggil Sang Istri. Namun, angin lalu yang menyahuti. Untuk memastikan lebih dalam keberadaan Sang Istri, kakinya dibawa menuju kamar. "Aku tidak akan membiarkanmu lari membawa keturunanku." Tekadnya mengakar, bersama ambisi yang kembali bangkit ke permukaan. Liv Florence Bailey Cruz, dari awal pernikahan mereka dikarenakan keturunan untuk mewarisi kartel yang ia pimpin. Namun, kini, dia pergi membawa pondasi dari hubungan mereka. "Pergilah sejauh yang kau mau, aku akan menangkapmu sekalipun kau pergi ke neraka." ** “Saya janji akan membayarnya segera. Saya bersumpah!” Itu adalah kalimat yang selalu didengar dari ayahnya saat ada laki laki itu menagih. “Jenis sampah apalagi yang kau keluarkan dari mulutmu?” hardik pria di hadapannya, genggaman di ujung tongkatnya mengetat. Punggung dibalut jas hitam berpadukan kameja putihnya terlihat tegap. Samar, otot bisepnya menonjol kokoh di balik balutan setelan formalnya. “Sampai aku turun tangan pun, kau masih beralasan?” Kata-kata yang dilontarkan terlampau dingin, membekukan nyali. “Tu-Tuan. Kali ini saya benar-benar bersumpah. Saya … saya ….” Lidah ayahnya terasa membeku, jelas tak memiliki kuasa melawan Tuannya. “Ben.” Tangan Dante mengulur, meminta pistol dari asisten pribadinya. Sebuah pistol jenis scarface bertempat di tangannya, terdengar suara pelatuk ketika ia tarik pelatuknya. Mendengar suara pelatuk, Kane meneguk saliva. Rasa takut menghantui. Nyawanya akan lenyap di tangan pria ini. Buih-buih keringat bermunculan di pelipis. Saraf di otaknya terasa berhenti berfungsi, buat pikirannya sejenak membeku tak mampu pikirkan jalan lain, sebelum ujung matanya menangkap pintu kamar yang telah rapuh, nyaris hancur. Di sana, Liv yakin, ada telinga yang diam-diam terpasang— mendengar dialog mereka, menangkap dan merekam ancaman. Dia telah mendapatkan jalan lain, dan berharap Sang Tuan akan menerima. “Sa-saya punya opsi lain.” Segera ayahnya mengalihkan pria yang sudah bersiap hendak menembaknya. “Tu-Tuan bisa menikahi putri saya.” Di belakang pintu yang telah dimakan rayap itu … dia menutup mulut, menahan napas agar kehidupannya tak dijangkau oleh mafia itu. Dia yakin, yang dimaksud ayahnya adalah dia, bukan kakaknya. Liv Florence Bailey Cruz, putri pertama Kane yang tak pernah dianggap anak. Rasa takut menghantam, merayap sebagaimana serangga di seluruh sel, membuatnya bergidik kala bayangan pria menyeramkan itu dapat menghabiskan hidup bersamanya. Pria berwajah tanpa ekspresi itu menyahut, “Apa yang bisa Putrimu berikan kepadaku?” Seraya menunduk, Kane menjawab dengan suara bergetar. “Di-dia bisa memasak. Dan jug—” “Aku tidak sedang menyediakan panggung untuk komedi. Dan sekarang kau bermain-main denganku?” Jemari Dante mengusap halus permukaan pistolnya. Mulutnya meniup ujung pistol yang bisa kapan saja menembuskan peluru di kepala Kane. Liv Florence bergetar ketakutan, bola matanya nyaris keluar dan menggelinding melihat tingkah pongah dan menyeramkan Dante. Pria itu bukan sembarang manusia, dia adalah asisten malaikat maut. Liv yakin, jika dia menikah dengan Dante, artinya dia bisa mati kapan saja. Dan hidupnya bukan lagi tentang cara untuk bertahan, tapi mencari cara untuk tidak mati sia-sia di tangan Dante. “A-apa yang Ayah katakan?” Suaranya tergagap, menahan takut yang telah mengakar. Tangisnya mendesak, sementara telinga tetap terjaga untuk menangkap dialog mereka di balik pintu kayu rapuh. Butir-butir keringat dingin bercucuran di pelipis, benaknya terdorong logika untuk lari saat itu juga, sebelum dijebloskan dalam sangkar pria berbahaya itu. “Anak saya masih perawan.” Kane berucap cepat, khawatir pistol yang Dante pegang lebih dulu menembaknya. “Tuan bisa menjadikannya pelacur.” Jantung Liv berdegup terlalu kencang. Kata-kata sang ayah merupakan titik terendah dalam hidupnya, seolah belum cukup oleh penderitaan fisik dan batin selama ini. Sementara di balik pintu yang menjadi tempat Liv menguping, seringai Dante membentang, sorot tajam dari telaga biru di balik kacamatanya hitamnya bergulir liar, mencari gerangan yang Kane maksud. “Benar juga.” Dia bergumam. “EOA Cartel membutuhkan pewaris, aku bisa menjadikannya mesin produksi anakku.” Karena akhirnya dia dapat menggunakan putri tidak bergunanya sebagai tumbal agar dia dapat terlepas dari jeratan hutang atas kesalahannya sendiri. “Tuan bisa mengambilnya dan menjadikannya sebagai apapun yang Tuan mau.” Tanpa naluri sebagai ayah, lupakan darahnya yang mengalir deras di nadi sang putri, Kane berikan secara suka rela putri yang selama ini ia besarkan. “Tapi, Tuan … saya mohon untuk Tuan menikahinya terlebih dulu sebelum menjadikannya mesin untuk menghasilkan keturunan Tuan.” Dante menarik napas, lantas mengembuskan begitu panjang. Kepalanya menimang permintaan tidak tahu diri orang itu, orang yang telah berani menggelapkan dana pertanian kokain.Rencana telah matang sempurna, tak ada celah Dante biarkan demi kemenangan EOA.Baginya, Arizona adalah emas. Harta karun bagi setiap organisasi ilegal yang mengoperasikan n*rkotika sepertinya. Dan untuk merebut kekuasaan di tanah tandus itu, ia harus melawan predator yang terkenal keberingasannya.Beberapa kali mendapat teror, entah itu anggotanya yang tiba-tiba mati, atau bahkan ancaman cyber di gadgetnya.George tidak akan membiarkan siapapun menyentuh sejengkal pun tanah kekuasaannya, sementara Dante telah berani mengusik singa yang sedang tertidur.Rompi anti peluru telah membingkai sempurna di balik kaosnya, jaket boomber turtleneck melapisi kaos agar rompi anti peluru tak dapat dilihat jelas oleh orang-orang.Di balik jaket boomber yang ia resletingkan hingga leher, pistol, magasin, serta granat kecil terpasang sebagai senjata yang akan ia gunakan.Tibalah detik terjadinya peperangan demi satu wilayah untuk mencapai kekuasaan di dunia n*rkotika."Signore, anda yakin?" Persiap
Matahari merangsak naik perlahan saat waktu bergeser, langit telah mengusir gelap, membangunkan para insan di bumi Los Angeles.Cahaya redup dari lampu tidur menyapu halus sisi wajah Liv yang saat ini masih bertempat dalam dekapan Dante.Irama napasnya mengalun halus. Ia hanyut dalam kedamaian yang selalu ia dambakan. Kelopak matanya yang tertutup, menurunkan bulu mata lentiknya hingga bayangan lembut terlukis di bawah matanya.Di sisi pipi berwarna putih bagai lobak itu, telunjuk Dante menyapu, menelusuri halus garis pipi turun hingga rahang sang dara.Telaga birunya bertaut dipenuhi oleh damba tanpa tepi, bukan lagi tatap tajam yang selalu ia sorotkan. Perempuan ini ... dia bukan agunan dari hutang kreditunya, bukan juga pion di atas bidak permainan yang ia balut dengan ikatan suci.Kini ia seolah bermetamorfosis menjadi kelemahan yang menyusup tanpa Dante sadari. Menggoreskan retakan pada dinding sampai kekuasaan yang selama ini ia jaga agar tetap kokoh, kini lumpuh tanpa pondasi
Musim panas dan musim semi adalah penantian panjang usai derita dari musim dingin menahan. Melihat batang dari pohon akhirnya kembali menumbuhkan pucuk, bunga-bunga indah bermunculan, aroma kesegaran tercium menyegarkan.Tak salah mengapa orang-orang sangat menantikan musim semi. Tak hanya berakhirnya musim dingin yang menyiksa, musim semi juga menjadi tanda atas datangnya musim panas."Ayo makan burung. Tidak perlu malu-malu." Melempar biji-bijian di atas paving blok, mengundang burung-burung merpati menghampirinya agar mendapat hadiah kecil."Mereka lucu sekali." Antusias memberi pangan pada burung-burung tersebut, bahkan sosok yang mengajaknya ke tempat ini ia abaikan."Kau begitu menyukai mereka." Berdiri di samping Liv tak cukup membuatnya diacuhkan, burung-burung tersebut telah menyita sepenuhnya perhatian Liv."Mereka menggemaskan." Tawanya ringan, tapi mampu menggetarkan hal lain pada diri Dante."Makanlah yang banyak. Ayo makan burung, makan." Menaburkan dalam jumlah banyak
"Jadi?" Menahan desir geli merayapi perut, lekas bermigrasi ke bibir agar tersimpul sebuah senyum mengejek sang istri yang kini nampak duduk malu-malu.Jemari di antara paha memilin kain, menjadikan benda tersebut perisai dari rasa malu. Giginya menghimpit bibir bagian dalam, menahan mulut agar tidak memberi klarifikasi panjang lebar.Akhirnya, kepala hanya bergeleng, tanpa ada suara sebagai jawaban, menghindari telaga jernih bagai samudra milik Dante yang seakan tengah menembus ke setiap lapisan isi kepalanya."Dunia ini memang sempit." Punggung dihempaskan pada sandaran kursi mobil, meloloskan satu helaan napas panjang."Kita bertemu dengan tidak sengaja di toko permen, padahal sebelumnya aku ingin menjemputmu."Dalam diam yang merupakan caranya menghindar, bulatan mata yang menyimpan iris hijau terang itu membola tak percaya. "Lalu memberikan permen ini." Satu kotak coklat berikut satu kaleng permen Dante perlihatkan.Liv tahu, Dante tidak memiliki maksud lain, tapi sudut hatinya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews