LOGINHidup Emily mulai hancur sejak ia tanpa sengaja menabrak seorang pria asing yang dingin dan arogan. Ia mengira kejadian itu sepele, sampai pria tersebut muncul di tempat kerjanya dan membuatnya dipecat di hari yang sama. Saat hampir putus asa, sebuah surat lowongan Maid tiba-tiba muncul di gagang pintu rumahnya. Tanpa nama pengirim. Tanpa keterangan apa pun. Siapa yang mengirimnya? Emily tidak tahu bahwa pria yang ia tabrak bukan orang biasa. Dan sejak hari itu, ia sudah menjadi incarannya. “Ternyata dunia ini sempit, Nona kecil.” Pertemuan mereka baru saja dimulai.
View More‘Ada tamu penting datang ke restoran! Cepat ke sini sebelum Bos marah!’
Emily menatap layar ponselnya, pesan singkat itu membuat jantungnya hampir meloncat keluar. “Serius?! Kenapa baru bilang sekarang?!” serunya panik, wajahnya memucat. “Aku bisa telat—gawat!” Tanpa sempat berpikir panjang, ia berlari di trotoar, melewati kerumunan orang yang berlalu-lalang, hampir menabrak beberapa di antaranya. Napasnya memburu, rambutnya berantakan, tapi ia tak peduli. Setiap langkah hanya diiringi satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya. Jangan sampai telat. Namun, nasib memang suka bercanda. Di tengah langkah yang terburu dan pandangan yang tak fokus, Emily tanpa sengaja menabrak seseorang. Tubuhnya oleng, dan detik berikutnya, Bruk! Ia jatuh tepat di bawah kaki seorang pria. “Ah, pinggangku…!” pekiknya sambil mengelus bagian yang nyeri. Ketika pandangannya jatuh pada sepasang sepatu hitam yang berkilap, Emily sempat terdiam. Ia perlahan mendongak, dan di hadapannya berdiri seorang pria tinggi, tegap, membuat napasnya tertahan sesaat. Astaga… kenapa orang ini berdiri di tengah jalan seperti patung? “Hei, Paman! Kenapa berdiri di tengah jalan, sih? Jalan ini luas sekali! Apa Paman pikir jalan ini warisan nenek moyang Paman? Seenaknya berdiri di tengah jalan!” Pria itu menghentikan pembicaraan di telepon. Emily melihat tangannya bergerak santai menurunkan ponsel, lalu matanya beralih padanya. Tatapan itu dingin, hingga membuat tengkuknya menegang. “Kenapa malah menyalahkanku atas kecerobohanmu sendiri?” Tatapan sinis dan dingin dari pria itu membuatnya geram—ia bisa merasakan jelas kesombongan yang memancar dari sorot mata pria itu. Tangan Emily terkepal kuat, menahan emosi yang mulai mendidih mendengar ucapan pria itu. “Dasar menyebalkan,” gumamnya pelan, tapi nada kesalnya jelas terdengar. Seketika pria itu membungkuk sedikit, membuat Emily spontan mendorong tubuhnya ke belakang, berusaha memberi jarak agar tidak terlalu dekat. Namun tatapan pria itu terasa begitu menusuk, dingin, tajam, dan membuat bulu kuduknya berdiri. Hingga akhirnya, suara pria itu terdengar. Berat, dalam, dan entah kenapa membuat jantung Emily berdegup lebih cepat. “Kalau kamu tidak bisa memakai matamu dengan baik, lebih baik serahkan saja matamu padaku. Biar kujual ke pelelangan pasar gelap.” Emily terpaku. Kalimat itu terdengar begitu absurd hingga otaknya butuh waktu beberapa detik untuk mencerna maksudnya. Apa tadi dia bilang... menjual mata? “Apa maksudmu, Paman? Tega sekali. Tidak punya rasa perikemanusiaan.” “Memang. Kamu mau apa kalau aku tidak punya rasa perikemanusiaan?” pria itu menjawab, nadanya jelas menjengkelkan untuk di dengar. Emily mendengus pelan, membuang pandangannya. Namun pria itu kembali bersuara dingin. “Dan satu lagi. Jangan pernah panggil aku ‘Paman’. Apa kamu tidak tahu siapa aku? Dasar lancang.” Alis Emily terangkat, tidak tahu siapa dia? Sungguh sangat menggemaskan sekali mendengar pertanyaan itu. “Cih, lucu sekali pertanyaan, Paman. Tidak punya cermin di rumah, ya? Sampai harus bertanya begitu?” Wajah pria itu menegang, tapi Emily lebih cepat mengangkat tangannya, memberi isyarat agar ia tidak banyak bicara. “Apa? Mau bertanya lagi?” suaranya meninggi. “Nih, aku bantu jawab. Paman itu pria paling menyebalkan yang kutemui hari ini!” “Rupanya kamu memang belum tahu siapa aku.” Emily menatapnya dengan mata membulat, bisa merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Pria itu menyeringai—senyum yang membuat bulu kuduknya meremang. Tatapannya menyapu wajah Emily perlahan, seolah ingin menghafal setiap detailnya. “Kutandai wajahmu, Nona kecil.” Emily tak sempat merespons ketika pria itu sudah berujar lagi. “Semoga kita bertemu kembali.” Punggung pria yang berjalan pergi dengan langkah tenang namun angkuh adalah pemandangan terakhirnya. Emily masih terpaku di tempat, napasnya belum juga stabil. Dada terasa sesak menahan emosi yang belum reda. Ia mengepalkan tinjunya ke udara dan berteriak lantang, “HEI! DASAR PAMAN MENYEBALKAN SEDUNIA! SEMOGA PAMAN MENDAPATKAN ISTRI YANG LEBIH MENYEBALKAN DARI DIRIMU!” Suara itu menggema, tapi pria itu sama sekali tidak menoleh. Seolah teriakannya hanya dihembus angin. Emily mendengus kesal. Tangannya cepat merogoh ponsel dari saku rok, dan matanya langsung membesar. “Ya ampun! Hampir telat!” Ia berdiri terburu-buru, menepuk roknya yang kotor sambil bergumam pelan, “Semua gara-gara pria itu. Semoga aku gak ketemu lagi sama dia.” Tanpa pikir panjang, Emily berlari sekuat tenaga menuju restoran tempatnya bekerja, sementara sisa rasa kesal masih menggelayut di dadanya. .... Di menit-menit terakhir, Emily tiba di restoran, napasnya tersengal dan penampilannya berantakan. “Akhirnya sampai juga,” bisiknya lirih. Tangannya menekan dada, berusaha meredakan detak jantung yang menggila. Tenang, Emily, tenang. Namun, belum sempat ia menarik napas lega... Suara langkah sepatu pantofel mendekat, berhenti tepat di depannya. Emily mendongak dan mendapati tatapan Meliana menelusurinya dari ujung kaki hingga kepala. Tatapan menilai itu membuatnya kesal. “Astaga, Emily. Habis dikejar anjing?” “Diam! Ini semua gara-gara kamu memberitahuku mendadak,” jawab Emily, nada suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan. Meliana terkekeh pelan, menutupi mulutnya dengan tangan. Tawa itu membuat Emily semakin kesal. Menyebalkan sekali! “Baiklah, baiklah, maaf.” Meliana tersenyum geli, tapi Emily bisa melihat sedikit rasa bersalah di matanya. Emily masih kesal. Dalam hati, ia menyalahkan Meliana yang mendadak memberitahunya soal tamu penting. Kenapa tidak dari kemarin saja? Sekarang, dia harus bergegas memperbaiki penampilan dan bersikap profesional. Sangat menyebalkan. Meliana tersenyum geli, lalu Emily merasakan tepukan ringan di bahunya. “Cepat bersiap, Emily.” Meliana menuntunnya memutar badan, lalu mendorongnya pelan. Sebuah bisikan terdengar di telinga Emily. “Kita akan berkumpul sebentar lagi untuk rapat singkat, dan aku sudah menjadikanmu partnerku untuk melayani mereka.” Seketika mata Emily membesar. Apa? Tidak, ini tidak mungkin. “A... apa katamu tadi?” “Sudah, cepat bersiap!” “Ingat, tamunya bukan orang sembarangan!” seru Meliana.Malam semakin larut. Emily menatap jam dinding. Jarumnya menunjuk setengah satu. “Ada apa?” suara Vincent terdengar dari sampingnya. Emily menoleh. “Aku gak bisa tidur.” “Apa mual?” tanya Vincent. Emily menggeleng pelan. Pandangannya meredup. “Aku masih kepikiran Lisa. Di mana wanita itu sekarang?” Ia menatap Vincent. “Bawa aku ke tempat Lisa.” “Buat apa?” Vincent mengernyit. Tangan Emily mengepal di atas selimut. “Kalau kamu gak mau, aku ke sana sendiri.” Ia hendak bangkit, tapi pergelangan tangannya ditahan. Vincent menghela napas. “Baiklah.” “Ayo, sekarang,” desak Emily. Tak lama kemudian, mereka pun beranjak, menuju tempat Lisa berada. ••• Sesampainya di sana, Emily melangkah masuk dengan tergesa. “Sayang, hati-hati.” Brak. Pintu dibukanya kasar. Lampu temaram menggantung, mengayun pelan. Di sudut ruangan, seorang wanita meringkuk di lantai. Senyum Emily terangkat tipis. “Grace. Menyedihkan.” Pandangan itu lalu bergeser. Sosok lain duduk terikat tak jauh dari sa
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti mendadak. Sebuah gudang tua berdiri kokoh di hadapannya, dikelilingi anak buah berbaju hitam, yang tak lain adalah anak buahnya.Saat ia keluar...“Bos, Mr. R ada di dalam,” lapor salah satu dari mereka.Vincent turun tanpa menoleh. Langkahnya tegas, tatapannya dingin.Pintu dibuka paksa.Brak.“Apa yang kalian—!” seorang pria paruh baya terkejut.“Seorang wanita membeli racun di sini,” ucap Vincent datar. “Akibatnya, adik istriku sekarat.”“Aku tidak ingat—”Vincent mengangkat tangan. Sebuah foto ditunjukkan tepat di depan wajah pria itu.“Kenal?”Wajah pria itu pucat. “I—iya. Dua minggu lalu. Dia membeli racun.”“Penawarnya, berikan padaku, Mr. R.”Pria itu menelan ludah. “Ada.”“Di mana? Tunjukkan.”“Di rak belakang.” Ia menunjuk ke arah sebuah lemari.Vincent mengikuti kemana arah jari itu menunjuk. Ia mengangguk kecil dan menara ke arah Grayson. Anak buahnya langsung bergerak menggeledah.“Yang mana?” tanya Grayson.Mr. R gemetar.Vincent su
Di dalam perjalanan, pandangan Emily kosong. Adegan di gudang tadi masih melekat, berulang tanpa izin. Jarinya saling meremas.“Mampir ke taman?” suara Vincent memecah lamunannya.Emily mengangguk.Mobil berhenti. Mereka duduk di bangku kayu, angin sore menyentuh wajahnya. Emily menatap danau kecil di depan, riaknya bergetar pelan.“Aku sudah berjanji,” ucap Vincent rendah, “akan membalas apa pun yang orang lain lakukan padamu.”Emily tak menjawab. Dadanya naik turun, perlahan.“Hai, Kakak Ipar.”Emily menoleh. “Tuan Dominic?” Tatapannya turun pada tangan Elowen. “Kenapa—”“Aku sudah melamar adikmu,” ujar Dominic santai. “Tunjukkan cincin yang kuberikan, Owen.”Elowen mengangkat jari, matanya berbinar.“Owen mau menikah dengan—”“Bukan paman,” Dominic memotong lembut. “Calon suami.”“Iya. Calon suami, Owen,” ulang Elowen, tersenyum kecil.“Owen,” suara Emily bergetar tipis, “pernikahan bukan seperti permainan.”“Aku sudah menjelaskan,” sahut Vincent. “Waktu kamu dirawat.”Dominic mela
Emily duduk di balkon, menatap langit hitam yang dipenuhi bintang. “Sudah setengah dua belas, belum tidur?” suara Vincent terdengar di belakangnya.Emily tak langsung menoleh. “Kalau Owen menikah, tugasku sebagai kakak selesai.”“Tentu,” jawab Vincent tenang. “Tugas menjaga itu akan beralih ke Dominic.”Emily menunduk. Jemarinya saling meremas. “Dengan sikap Tuan Dominic seperti itu, aku masih ragu.”Kedua bahunya tiba-tiba ditarik. Tubuhnya berbalik, memaksanya menatap Vincent. Mata mereka bertemu, jaraknya dekat.“Owen pasti mengadu kalau Dominic menyakitinya,” ucap Vincent pelan. “Sekarang, apa ada aduan darinya?”Emily terdiam. Ingatannya berputar, namun tak menemukan satu keluhan pun.“Tidak, kan?” lanjut Vincent.“Tidak,” jawabnya lirih.Emily menyandarkan kepala ke dada Vincent. Detak jantung pria itu terasa stabil di pelipisnya.“Aku ngantuk,” gumamnya. “Nyanyikan lagu tidur untukku.”Vincent menghela napas kecil, lalu suaranya mengalun rendah.“Tidurlah… pejamkan matamu…mal
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.