LOGINHidup Emily mulai hancur sejak ia tanpa sengaja menabrak seorang pria asing yang dingin dan arogan. Ia mengira kejadian itu sepele, sampai pria tersebut muncul di tempat kerjanya dan membuatnya dipecat di hari yang sama. Saat hampir putus asa, sebuah surat lowongan Maid tiba-tiba muncul di gagang pintu rumahnya. Tanpa nama pengirim. Tanpa keterangan apa pun. Siapa yang mengirimnya? Emily tidak tahu bahwa pria yang ia tabrak bukan orang biasa. Dan sejak hari itu, ia sudah menjadi incarannya. “Ternyata dunia ini sempit, Nona kecil.” Pertemuan mereka baru saja dimulai.
View More“Tuan Dirga, apa kamu mahir memuaskan wanita?”
Detik pertanyaan tersebut mengudara, pria di hadapan Alisa langsung tersedak. Satu batuk, lalu dua, hingga dia buru-buru mengambil tisu dan menahan napasnya agar tidak terlalu memalukan. Alisa hanya tersenyum santai, nyaris menikmati pemandangan itu. Manik hitam legam pria bernama Dirga tersebut kini terarah lurus padanya. “Apa katamu?” tanyanya dengan nada tak percaya, menghapus ekspresi dingin yang sedari tadi mengintimidasi. Dengan tenang, Alisa menyandarkan dagu di kedua tangannya. Senyumnya tetap menggoda, seolah pertanyaannya barusan hanyalah sapaan ringan di pagi hari. “Pertanyaanku tidak begitu sulit. Tapi kalau Tuan Dirga masih bingung, izinkan diriku memperjelas.” Mata besar wanita itu menatap Dirga dalam-dalam. “Aku bertanya ... apakah kamu ahli bermain di ranjang?” Hening. Denting sendok dan suara tawa dari meja lain terdengar jauh, seakan teredam atmosfer penuh ketegangan antara dua orang asing ini. Walau ekspresi luarnya tampak sangat tenang, Alisa Bening Gunawan sebenarnya sedang sangat gugup dengan punggung berkeringat dingin. Bagaimana tidak? Saat ini, dia sedang duduk di restoran Ellowyn Hotel yang mewah, berhadapan dengan seorang pria tampan yang baru saja dia kenal, dan dengan kurang ajarnya menanyakan tentang kemampuan pria tersebut di ranjang! Itu sangat konyol! Tapi mau bagaimana lagi? Alisa harus melakukannya. Semua demi memenuhi permintaan sepupunya, Sabrina, yang menolak perjodohan paksa dengan putra kenalan sang ibu karena sudah memiliki kekasih. Sayangnya, kekasih Sabrina bukan ‘pilihan ibu’, jadi Sabrina terlalu takut untuk mengatakan ‘tidak’ secara langsung. Maka, dia pun menyuruh Alisa, si penulis cerita cinta fiksi, untuk menyamar menjadi dirinya dalam kencan buta ini! Kebetulan Alisa dan Sabrina memang seumuran. Menurut pandangan ibu Sabrina, dua puluh lima tahun adalah umur yang tepat untuk menikah. Namun, alih-alih ingin membangun rumah tangga, Alisa sendiri malah ingin membangun kariernya sebagai penulis fiksi menjadi penulis skenario. Masih banyak yang harus Alisa kejar, dan jodoh … tidak Alisa letakkan di daftar utamanya. Alisa masih memerlukan waktu untuk bertumbuh menjadi dewasa muda dengan impian tinggi. Ya, Alisa cukup ambisius melakukan pekerjaannya. Seperti sekarang, tugas Alisa sederhana. Dia membuat pria itu membatalkan perjodohan secara sukarela. Sebagai imbalan, Sabrina akan mengenalkannya kepada seorang produser film ternama. Sebuah kesempatan langka yang bisa mengubah naskah-naskah di laptop Alisa menjadi film sungguhan. Alisa sempat menolak, tapi akhirnya dia setuju, karena, hei ... siapa yang bisa menolak mimpinya sendiri? “Pria itu dingin, kaku, dan super serius,” begitu Sabrina mendeskripsikan Dirga. “Kamu tinggal katakan sesuatu yang menjijikkan, dan dia pasti langsung kabur.” Maka itulah sebabnya Alisa duduk di sini, memulai percakapan dengan pertanyaan yang tak layak dilontarkan pada pertemuan pertama. Dan Alisa berharap, pria itu akan marah dan pergi. Sayang memang, karena pria di depannya jauh dari kata ‘tidak menarik’. Manik hitam yang tajam dan penuh kontrol, rahang tegas yang memancarkan maskulinitas, dan tubuh atletis yang terbungkus kemeja pas badan. Jujur saja, Dirga mungkin adalah pria tertampan yang pernah Alisa temui secara langsung. Andai mereka bertemu dalam situasi berbeda ... mungkin Alisa akan tertarik dan— BRAK! Suara gelas wine yang dibanting ringan ke meja membuyarkan lamunannya. Alisa mengangkat pandangan dan mendapati Dirga kini menatapnya tanpa senyum. “Ada masalah, Tuan Dirga?” tanyanya dengan nada seolah tak bersalah. “Mungkin … aku menyinggungmu?” Diam-diam, Alisa menyembunyikan kesenangan dalam batinnya. ‘Sudah pasti pria ini tersinggung. Dia pasti langsung ingin membatalkan perjodohan. Good job, Alisa! Tinggal sedikit lagi, tugasmu selesai!’ Namun, ada kalanya hal yang sudah direncanakan tidak berjalan sesuai kenyataan. Karena alih-alih kemarahan maupun tatapan jijik seperti yang diharapkan, Alisa malah mendapati Dirga … tersenyum??? “Tersinggung?” Dirga menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, bahunya relaks, bahkan terlihat seperti menahan tawa kecil. “Sama sekali tidak. Kekhawatiran Nona justru bisa kumengerti.” Hah? Alisa mengerutkan kening, kaget. Dirga bukan hanya tidak marah, tapi dia malah terlihat... menikmati? Sudut bibir pria itu terangkat. Dengan gerakan santai, dia menyilangkan tangan, lalu menatap Alisa seperti seorang predator yang baru saja menemukan mangsanya. “Pernikahan itu seumur hidup,” katanya. “Dan jika Nona ragu aku bisa memuaskan, maka tentu itu masalah serius.” Alisa menelan ludah. Ini bukan naskah yang dia siapkan. Ini… jauh di luar skenario! “Jadi,” Dirga mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya turun satu oktaf, “Kalau Nona tidak keberatan ... mungkin, kita harus mengujinya malam ini juga?” Tubuh Alisa menegang. Pria ini … bilang apa!? ****Malam semakin larut. Emily menatap jam dinding. Jarumnya menunjuk setengah satu. “Ada apa?” suara Vincent terdengar dari sampingnya. Emily menoleh. “Aku gak bisa tidur.” “Apa mual?” tanya Vincent. Emily menggeleng pelan. Pandangannya meredup. “Aku masih kepikiran Lisa. Di mana wanita itu sekarang?” Ia menatap Vincent. “Bawa aku ke tempat Lisa.” “Buat apa?” Vincent mengernyit. Tangan Emily mengepal di atas selimut. “Kalau kamu gak mau, aku ke sana sendiri.” Ia hendak bangkit, tapi pergelangan tangannya ditahan. Vincent menghela napas. “Baiklah.” “Ayo, sekarang,” desak Emily. Tak lama kemudian, mereka pun beranjak, menuju tempat Lisa berada. ••• Sesampainya di sana, Emily melangkah masuk dengan tergesa. “Sayang, hati-hati.” Brak. Pintu dibukanya kasar. Lampu temaram menggantung, mengayun pelan. Di sudut ruangan, seorang wanita meringkuk di lantai. Senyum Emily terangkat tipis. “Grace. Menyedihkan.” Pandangan itu lalu bergeser. Sosok lain duduk terikat tak jauh dari sa
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti mendadak. Sebuah gudang tua berdiri kokoh di hadapannya, dikelilingi anak buah berbaju hitam, yang tak lain adalah anak buahnya.Saat ia keluar...“Bos, Mr. R ada di dalam,” lapor salah satu dari mereka.Vincent turun tanpa menoleh. Langkahnya tegas, tatapannya dingin.Pintu dibuka paksa.Brak.“Apa yang kalian—!” seorang pria paruh baya terkejut.“Seorang wanita membeli racun di sini,” ucap Vincent datar. “Akibatnya, adik istriku sekarat.”“Aku tidak ingat—”Vincent mengangkat tangan. Sebuah foto ditunjukkan tepat di depan wajah pria itu.“Kenal?”Wajah pria itu pucat. “I—iya. Dua minggu lalu. Dia membeli racun.”“Penawarnya, berikan padaku, Mr. R.”Pria itu menelan ludah. “Ada.”“Di mana? Tunjukkan.”“Di rak belakang.” Ia menunjuk ke arah sebuah lemari.Vincent mengikuti kemana arah jari itu menunjuk. Ia mengangguk kecil dan menara ke arah Grayson. Anak buahnya langsung bergerak menggeledah.“Yang mana?” tanya Grayson.Mr. R gemetar.Vincent su
Di dalam perjalanan, pandangan Emily kosong. Adegan di gudang tadi masih melekat, berulang tanpa izin. Jarinya saling meremas.“Mampir ke taman?” suara Vincent memecah lamunannya.Emily mengangguk.Mobil berhenti. Mereka duduk di bangku kayu, angin sore menyentuh wajahnya. Emily menatap danau kecil di depan, riaknya bergetar pelan.“Aku sudah berjanji,” ucap Vincent rendah, “akan membalas apa pun yang orang lain lakukan padamu.”Emily tak menjawab. Dadanya naik turun, perlahan.“Hai, Kakak Ipar.”Emily menoleh. “Tuan Dominic?” Tatapannya turun pada tangan Elowen. “Kenapa—”“Aku sudah melamar adikmu,” ujar Dominic santai. “Tunjukkan cincin yang kuberikan, Owen.”Elowen mengangkat jari, matanya berbinar.“Owen mau menikah dengan—”“Bukan paman,” Dominic memotong lembut. “Calon suami.”“Iya. Calon suami, Owen,” ulang Elowen, tersenyum kecil.“Owen,” suara Emily bergetar tipis, “pernikahan bukan seperti permainan.”“Aku sudah menjelaskan,” sahut Vincent. “Waktu kamu dirawat.”Dominic mela
Emily duduk di balkon, menatap langit hitam yang dipenuhi bintang. “Sudah setengah dua belas, belum tidur?” suara Vincent terdengar di belakangnya.Emily tak langsung menoleh. “Kalau Owen menikah, tugasku sebagai kakak selesai.”“Tentu,” jawab Vincent tenang. “Tugas menjaga itu akan beralih ke Dominic.”Emily menunduk. Jemarinya saling meremas. “Dengan sikap Tuan Dominic seperti itu, aku masih ragu.”Kedua bahunya tiba-tiba ditarik. Tubuhnya berbalik, memaksanya menatap Vincent. Mata mereka bertemu, jaraknya dekat.“Owen pasti mengadu kalau Dominic menyakitinya,” ucap Vincent pelan. “Sekarang, apa ada aduan darinya?”Emily terdiam. Ingatannya berputar, namun tak menemukan satu keluhan pun.“Tidak, kan?” lanjut Vincent.“Tidak,” jawabnya lirih.Emily menyandarkan kepala ke dada Vincent. Detak jantung pria itu terasa stabil di pelipisnya.“Aku ngantuk,” gumamnya. “Nyanyikan lagu tidur untukku.”Vincent menghela napas kecil, lalu suaranya mengalun rendah.“Tidurlah… pejamkan matamu…mal
“Eugh…”Emily mengerang lirih. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum terbuka. Cahaya menusuk samar, membuat kepalanya berdenyut. Pandangannya sempat mengabur, lalu perlahan kembali jelas.“Sayang…”Ia mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. “Tuan…” ucapnya terhenti saat melihat sebelah suam
Satu Bulan Kemudian. Vincent tak lagi mencari keberadaan Emily. Sejak foto itu jatuh ke tangannya, sejak kata pengkhianatan bergaung di kepalanya, ia memilih menutup semuanya. Yang ia lakukan kini hanya satu, menjadi dirinya yang dulu. Bos mafia tanpa celah, tanpa hati. Hari-harinya diisi rapat g
Dua hari kemudian... Emily menjerit. Saat punggung tangannya di tekan kuat. Ia tak perlu menengadah untuk tahu siapa pelakunya. Tentu saja Grace. “Seharusnya Kak Emily berterima kasih,” suara itu terdengar manis. “Aku masih memberimu makan.” Sebuah piring diletakkan di depannya. Isinya membuat
Tiga hari kemudian.Sudah tiga hari Emily mengamati Grace dari kejauhan. Setiap geraknya tampak biasa. Senyumnya lembut, sikapnya sopan, tak ada satu pun yang terlihat janggal.Namun dada Emily tetap terasa tak nyaman.‘Benar-benar wajah polos yang pandai menyamar. Manis di depan, busuk di belakang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.