แชร์

Bab 89

ผู้เขียน: Mami
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-21 21:57:54

"Kenapa Dante mengikuti Liv?"

Setinggi apapun gengsi untuk mendekati sang istri, kemudian menghidu panjang aroma yang keluar dari tubuh Liv, nyatanya terkalahkan oleh keinginannya itu.

"Kakiku sendiri yang mengikutimu." Pria itu menyangkal, saat kakinya sendiri digerakkan oleh keinginannya.

Jelas Liv tak mempercayai. Saat melihat kaki Dante, keningnya berkerut, mempertanyakan alasan bodoh yang sangat tidak masuk akal itu.

"Tidak percaya?"

Berlagak bersikap dingin, berbeda jauh dengan isi hati
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 103. Mendadak Hilang

    "Sekarang nikmati saja sepuasnya kebahagiaanmu. Sebelum semua kebahagiaan itu aku miliki." Menahan mata 'tuk tetap tatapi Hailey, berusaha menyurutkan getaran takut yang mengalir di setiap darahnya. Liv biarkan Hailey berbicara sepuas hati."Seandainya Liv memberikan Dante kepada Hailey. Apa ada kemungkinan Dante akan menerima Hailey? Dan apakah Hailey bisa membuat Dante jatuh cinta?" Menurut keyakinan Liv, Hailey tidak akan pernah mendapatkan cintanya Dante.Dia sendiri telah melihat dan mendengar ke arah mana cinta Dante ditujukan—dia, Liv Florence Bailey Cruz, ah, seharusnya bukan Cruz, melainkan Greyson.Liv Florence Bailey Greyson. Satu-satunya perempuan yang menerima cintanya Dante Greyson."Tentu saja." Sementara Hailey menjawab angkuh. "Aku cantik, menarik, seksi, dan permainan ranjangku adalah paling memuaskan bagi para lelaki. Tentu Dante akan jatuh cinta kepadaku.""Bahkan Hailey tidak begitu mengenal Dante. Hailey sudah berbicara seakan tipe Dante sama dengan tipe pria-p

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   102. Nyonya Greyson Yang Sesungguhnya

    Brak!Tubuhnya terpental beberapa langkah ke samping, menubruk dinding tak jauh darinya begitu hantaman keras datang dari seseorang.Kali ini, segera Liv lihat gerangan tersebut. Namun, orang tersebut berlalu sangat cepat, membuat Liv tak sempat berlari mengejarnya karena sudah tak tahan membuang air kecil."Dua kali ditabrak. Entah kenapa hari ini sial sekali." Menggerutu jengkel, menahan diri agar tidak melampiaskan emosinya yang begitu mudah terpancing."Dari yang Liv lihat, sepertinya itu orang yang sama." Bergumam heran seorang diri di dalam bilik kamar mandi, mencari jawaban selama membuang cairan dari kantong kemihnya.Selesaikan menunaikan hajat, pun ia keluar 'tuk mencuci tangan. Agaknya sudah cukup lama ia di kamar mandi. Khawatir Dante menunggu lama, gerakannya dipercepat.Yang Liv niatkan agar cepat-cepat menyusul Dante justru harus terjeda. Mungkin saja ini akan terasa sangat lama sebab gerangan yang tak sengaja ia temui kali ini adalah Hailey."Waw! Siapa ini?" Dari per

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 101. Diintai

    "Di tempat ramai seperti ini, apa wajar jika kita merasa seperti sedang diikuti?"Mendengar pertanyaan itu membuat Dante menyapukan pandangan ke arah sekitar.Tidak ada yang aneh.Asumsi Liv di tempat ramai seperti ini, tidak dapat Dante buktikan dengan mata kepalanya sendiri.Apa yang terjadi di bioskop ini sewajarnya keramaian saja, bahkan tak ada satupun orang melirik mereka dan orang mencurigakan."Tidak ada siapapun yang memperhatikan kita." Serahkan tacos pada Liv berikut es krim oreo Dante suapkan, barangkali pikiran negatif Liv tentang penguntitan segera hilang."Begitu, ya?" Bergumam tak jelas, pertanyakan perasaannya sendiri.Pastikan dalam benaknya bahwa yang ia lihat memanglah ilusi, tetapi semakin Liv tilik kembali, dia benar-benar merasakan tatapan beberapa orang mengarah padanya, seakan mereka tengah menilai dan mengintai."Hmm. Sepertinya hanya perasaanmu saja." Selipkan beberapa helai

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 100. Lain Dari Yang Lain

    "Musik ini terdengar sangat sedih. Apa itu artinya Dante pernah menyesal telah menikah dengan Liv?"Beberapa sekon Dante diam, mulutnya terkatup rapat. Tidak sedikit pun memberi tanda akan berbicara dan menjawab pertanyaan Liv.Ke lima jari melekuk di atas permukaan meja itu pun Dante raih, ibu jarinya mengusap di sana. Cukup lama ia hanya diam, memerhatikan setiap lekukan jari lentik sang istri."Apa kau tahu apa judul lagu ini?" Dan Liv menggeleng pelan, adalah jawaban dari sempitnya pengetahuan Liv dalam musik instrumental."Adageitto symphony no. 5." Lapisan kulit bergelombang di kening Liv, pertanyakan judul lagu yang terdengar aneh dan asing di telinganya."Itu ... judul musik ini?"Dante mengangguk, tak jua menaikkan pandang 'tuk balas tatapan rasa penasaran Liv."Ya.""Lagu itu ... memiliki makna tersendiri?" Bertanya lagi karena Dante tidak kunjung melanjutkan maksud lagu ini dengan mereka. "Dan apa hubungannya lagu itu dengan kita, jika memang Dante pernah menyesal menikah

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 99. Hal 'Spesial'

    Kilauan cahaya keemasan terpantul menyisipkan kesan elegan nan indah secara bersamaan oleh lampu gantung melingkar di atas kepala.Permukaan meja bundar menyimpan siluet keemasan akan cahaya lilin yang berdiri dari candlelabrum yang mengukirkan kemewahan di setiap incinya.Angin dari pendingin udara membawa serta aroma cedar menghangatkan relung, menyeruak lembut menyapu rongga hidung.Di atas kemewahan lantai marmer, tumit heels berketuk membunyikan ketakjuban dari si pemilik.Sejauh mata memandang, ruangan bernuansa eksklusivitas tinggi tersuguhkan, aroma cedar menyeruak menyisip di udara yang ia hidu."You like it?" Bariton si pria jatuh halus di antara hening yang mendamaikan.Mulutnya terbuka selama takjub bergelayut dalam benak, tak lupa jemari lentiknya menutup mulut. Pantulan cahaya keemasan tersimpan cantik di manik hijaunya, mengilaukan bahagia yang saat ini ia rasakan."Bagaimana tidak?" Dia bertanya selagi menahan napas karena takjub. "Dante begitu effort menyiapkan semua

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 98. Emerald dan Kamu

    Gulungan benang rajut terjatuh dari pangkuan begitu hakpen baru hendak Liv lingkari dengan benang rajutnya. Setengah dari kaus kaki bayi hasil tangannya turut jatuh saat ia hendak mengambil gulungan benang rajut.Sebuah tangan datang mengambilkan kaos kaki bayinya. Begitu punggung Liv tegak bersandar pada kursi kayu, kaos kaki tersebut berpindah tangan padanya."Terima kasih, Anna," kata Liv disisipi senyum tipis, kembali melanjutkan kegiatan dalam merajut kaos kaki bayinya."Nyonya sedang membuat kaos kaki bayi untuk Adik Bayi?" tanya Anna, letakan kudapan manis untuk menemani waktu luang Liv."Iya." Tujukan fokus begitu khusyuk pada rajutannya, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Anna. Penuh antusias, Liv sodorkan kaos kaki tersebut. Bibirnya melengkung cerah. "Warna biru pastel ini sangat lucu, bukan?"Anna mengangguk. "Pasti sangat cocok jika dipakai Adik Bayi."Hentikan gerakan tangan, perhatikan detail menggemaskan kaos kaki mungil di tangannya. Imaji momen paling indah kebersam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status