Share

Bab 5

Author: Ghoos book
last update Huling Na-update: 2025-09-30 21:51:10

"Matahari" kecil di perutku itu adalah seorang tiran.

Dia tidak lagi hanya diam dan dingin, atau sekadar berdenyut lemah. Sekarang, dia adalah pusat dari segala hal. Setiap napas, setiap detak jantung, terasa seperti mengorbit pada kehangatannya yang menggigit. Kekuatan yang kurasakan usai menghancurkan Spirit Ore itu belum juga reda. Otot-ototku tegang, penuh dengan energi yang tidak bisa kutumpahkan. Pikiranku jernih, tajam, tapi di balik kejernihan itu ada desisan halus—bisikan dari sang tiran.

Lapar.

Kata itu bukan lagi sebuah perasaan. Itu adalah sebuah perintah yang terpatri di setiap sel tubuhku.

Tua Bangka memandangiku dari seberang sel, matanya seperti dua lubang hitam di wajahnya yang keriput. "Dia bangun, dan sekarang kau harus memberinya makan. Atau dia akan memakanmu dari dalam." Ucapannya bukan ramalan, tapi pernyataan fakta, seperti menyebut bahwa air itu basah.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap tanganku yang hangus. Kulitnya menghitam dan mengelupas, tapi di bawahnya, kulit baru sudah terbentuk dengan cepat, berwarna merah muda dan terlalu halus untuk kulit seorang budak. Proses penyembuhan yang tidak wajar. Hadiah sekaligus pengingat akan harga yang harus dibayar.

Pintu sel dibuka. Bukan Borok, tapi salah satu pengawas rendahan.

"Wa Lang.Pengawas Yan memanggil."

Aku diantar bukan ke ruangan batu, tapi ke sebuah tempat yang belum pernah kulihat: sebuah laboratorium kecil yang terletak di belakang pos penjagaan. Ruangan ini dipenuhi dengan rak-rak berisi botol kaca berisi cairan aneh, organ-organ hewan yang diawetkan, dan fragmen tulang manusia yang diukir dengan simbol-simbol gelap. Di tengah ruangan, ada sebuah meja batu dengan tali pengikat.

Jantungku berdebar kencang. "Bibit"-ku bereaksi terhadap lingkungan ini, berdenyut-denyut penuh antisipasi.

Pengawas Yan berdiri di depan sebuah papan tulis kulit, penuh dengan coretan rumus dan diagram yang tidak kupahami. Dia menoleh saat aku masuk.

"Laporan kondisi," perintahnya, sambil membersihkan tangannya dengan sehelai kain.

"Kekuatan... masih terasa, Tuan," jawabku, berhati-hati. "Tapi ada rasa lapar. Sangat kuat. Dan tangan saya..." Aku menunjukkan tanganku yang setengah sembuh.

Dia mendekat, memeriksa tanganku dengan teliti tanpa menyentuhnya. "Penyembuhan dipercepat. Efek samping dari penyerapan energi murni, meski beracun." Matanya berbinar. "Dan rasa lapar itu adalah hal yang wajar. Parasit yang telah merasakan darah segar tidak akan pernah puas dengan sisa-sisa lagi."

Dia menunjuk ke meja batu. "Berbaring."

Perintah itu dingin dan tanpa ampun. Aku patuh, rasa takut dan harapan bertarung di dalam dadaku. Dia mengambil sebuah pisau bedah yang tipis dan mengkilap, serta sebuah piring batu.

"Ini adalah pengukuran," katanya, saat dia mengikat pergelangan tanganku. "Aku perlu tahu seberapa besar kapasitas 'Bibit'-mu, dan seberapa dalam hubungan simbiosis yang telah terbentuk."

Sebelum aku bisa protes, ujung pisau itu menyayat lengan bawahku. Sakitnya tajam. Darah mengalir, menetes ke piring batu.

Tapi itu bukan hal yang paling mengejutkan.

Yang paling mengejutkan adalah reaksi "Bibit"-ku.

Dia meledak.

Rasa lapar itu berubah menjadi amukan. Sebuah tarikan yang kuat dan ganas muncul dari ulu hatiku, menyedot sesuatu dari dalam diriku. Bukan darah, tapi sesuatu yang lebih dalam. Kehidupan. Spiritual.

Luka di tanganku tidak kunjung sembuh. Malah, kulit di sekitarnya mulai mengerut dan memudar, seperti bunga layu di terik matahari. Aku merasakan kelemahan yang begitu cepat, begitu mengerikan, menyebar ke seluruh tubuhku. "Matahari" di perutku itu ternyata adalah lubang hitam yang memakan bintang induknya—diriku sendiri.

"Tuan... tolong..." erangku, suaraku sudah lemah.

Pengawas Yan dengan cermat mengamati proses ini, membuat catatan di atas kulit. "Menarik. Tanpa sumber energi eksternal, dia akan mengonsumsi inangnya dengan laju yang eksponensial. Semakin kuat dia, semakin besar kebutuhannya."

Dia menuangkan sedikit "Air Spirit Murni" ke atas lukaku. Aliran energi yang sejuk itu seperti oksigen bagi orang yang tenggelam. "Bibit"-ku menyambar energi itu, dan rasa lapar yang menggila itu mereda untuk sesaat. Proses penyembuhan alami tubuhku pun kembali berjalan, meski lambat.

Dia melepas ikatanku. Aku bangkit, gemetar, tubuhku berkeringat dingin. Aku hampir saja mati di meja itu. Bukan oleh pisau, tapi oleh makhluk di dalam diriku sendiri.

"Kau mengerti sekarang, Wa Lang?" tanya Pengawas Yan, meletakkan pisau bedahnya. "Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari Borok atau racun. Ini adalah perlombaan melawan waktu. Kau harus terus memberinya 'makanan' yang dia inginkan. Jika tidak, dia akan memakanmu hidup-hidup."

Dia memberikanku sebuah kantong kulit kecil yang berisi tiga buah Spirit Ore kecil berwarna hijau kusam. Energinya lemah dan tidak murni.

"Ini jatahmu untuk hari ini. Bertahanlah."

Aku meninggalkan laboratorium itu dengan pemahaman yang mengerikan. Aku bukan lagi manusia. Aku adalah penjara bagi sebuah makhluk lapar, dan rantai-rantai penjara itu perlahan-lahan mengikis nyawaku.

Saat aku kembali ke area tambang, tatapan yang kuterima sudah berbeda. Bukan lagi kebencian atau iri, tapi ketakutan yang bercampur dengan rasa ingin tahu yang suram. "Pemakan Batu." Mereka memberiku jalan.

Borok melihatku, dan untuk pertama kalinya, dia tidak mendekat. Dia hanya memandang dari kejauhan, seperti melihat binatang buas yang terluka.

Tua Bangka mendekatiku saat aku duduk di sudut, memandangi tiga batu kecil di tanganku.

"Sudah kukatakan,"bisiknya. "Sekarang kau mengerti. Dia memberimu kekuatan, tapi kekuatan itu adalah cambuk yang menggerakkanmu menuju liang kuburmu sendiri. Atau..." dia membuat jeda, matanya menyipit, "...menuju sesuatu yang lain."

"Atau apa?" tanyaku, suaraku parau.

"Atau kau menemukan cara untuk menjinakkan sang tiran. Untuk membalikkan hubungan. Untuk membuatnya tunduk padamu, bukan kau yang menjadi budaknya." Ucapannya terdengar seperti khayalan. Tapi di dunia gila ini, khayalan adalah satu-satunya harapan.

Aku menggenggam Spirit Ore yang pertama. "Bibit"-ku mendengus, menciumnya. Aku fokus, bukan pada rasa laparnya, tapi pada koneksi antara kami. Aku mencoba, dengan segenap keinginan untuk hidup, untuk mengarahkan rasa lapar itu. Untuk mengendalikan alirannya.

Saat energi yang kacau dan lemah itu mulai mengalir ke tanganku, rasa sakitnya masih ada. Tapi kali ini, aku tidak membiarkannya membanjir begitu saja. Aku mencoba membendungnya, mengaturnya, menyaringnya sebelum "Bibit"-ku menyedotnya habis.

Itu seperti mencoba menjinakkan sungai yang deras dengan kedua tangan. Hampir mustahil. Tapi, untuk sesaat yang singkat, sebelum batu itu hancur, aku merasa ada sedikit kendali. Rasa laparnya mereda sedikit lebih teratur, tidak lagi seperti amukan.

Aku melihat ke Tua Bangka. Ada sedikit anggukan hampir tak terlihat dari dirinya.

Perlombaan waktunya telah dimulai. Aku harus menjadi lebih kuat, lebih cepat dari "Bibit"-ku sendiri. Aku harus belajar menjadi tuan bagi matahari kecil yang haus di dalam diriku, sebelum dia membakar seluruh diriku menjadi abu.

Dan pelajaran pertama adalah: kekuatan selalu ada harganya. Dan harganya adalah dirimu sendiri, sedikit demi sedikit.

---

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dari Budak Menjadi Bencana   Bab 159

    Fragmen realitas dalam Operasi Slumber memasuki fase "Tidur Lelap"-nya yang dalam dan stabil. Di dalam selimut penstabil meta, segala sesuatu melambat hingga hampir berhenti. Bukan kematian, tetapi istirahat total. Namun, membiarkannya sendiri begitu saja bukanlah pilihan. Meski aman di dalam selimut, fragmen ini sekarang berada dalam keadaan yang rapuh dan tidak biasa. Ia membutuhkan penjaga.Tapi penjaga seperti apa? Tidak ada kesadaran yang bisa bertahan di dalam lingkungan yang sedang melonggarnya hukum realitas sendiri. Bahwa para Penjaga Bentuk Murni pun akan kehilangan definisi mereka di sana.Solusinya datang dari tempat yang tidak terduga: Filosofi yang Berjalan dari Taman Dialektika. Khususnya, The Qualia Phantom (Bayangan Qualia)—entitas yang mempertanyakan sifat pengalaman subjektif. Qualia Phantom tidak memiliki bentuk tetap atau kebutuhan akan hukum realitas yang konsisten. Eksistensinya adalah tentang merasakan pengalaman. Dan keadaan fragmen yang sedang tidur itu sendi

  • Dari Budak Menjadi Bencana   Bab 158

    Status baru sebagai "penasihat siklus" bagi Majelis Lintasan datang dengan sebuah mandat yang jelas dan menakutkan: menciptakan sebuah prototipe untuk "Peristirahatan Fondasi". Mereka harus menunjukkan, dalam skala kecil dan sangat terkendali, bagaimana sebuah wilayah realitas bisa dengan sengaja dan aman memasuki fase "masa bera" fondasinya, beristirahat, dan memungkinkan transisi menuju keadaan dasar yang baru.Tempat yang dipilih untuk eksperimen ini bukan wilayah random. Majelis Lintasan menyediakan sebuah "Fragmen Realitas Terisolasi"—sebuah potongan kecil dari realitas yang telah dipisahkan dari arus utama miliaran tahun yang lalu, sebuah "kapsul waktu" kosmis yang hukum dasarnya sudah stabil namun terisolasi. Fragmen ini kira-kira seukuran sebuah sistem bintang kecil. Ia sudah "mati" dalam arti tidak ada kesadaran atau dinamika kompleks di dalamnya, hanya bintang redup dan beberapa planet batuan. Tempat yang sempurna untuk eksperimen tanpa risiko merusak realitas yang hidup.Ti

  • Dari Budak Menjadi Bencana   BAB 157

    Keheningan yang menyergap Majelis Lintasan setelah pidato Wa Lang terasa begitu pekat, seolah-olah waktu di simpul arus logika itu sendiri ikut membeku. Para raksasa kosmis—sungai bintang, awan geometris, pohon akar—semuanya memproses gagasan yang sama sekali asing: bahwa solusi untuk "kelelahan" fondasi realitas mungkin bukanlah memperkuatnya, tetapi mempersiapkan transisi yang terhormat menuju fondasi baru.Gema dari kata-kata Wa Lang bergema di ruang konseptual itu, diperkuat oleh fragmen Symphon yang dengan lembut memainkan cuplikan dari "Nyanyian Perpisahan" yang telah terintegrasi, dan oleh kehadiran Yang Terkubur yang sendiri adalah bukti hidup dari transformasi radikal.Akhirnya, sebuah suara—atau lebih tepatnya, sebuah persamaan yang berbicara—muncul dari awan geometris berlapis. "Proposalmu... mengandung variabel kepercayaan. Kepercayaan bahwa proses 'transisi' tidak akan menghasilkan kehancuran total. Data historis tidak mendukung hal ini. Setiap perubahan besar pada fondas

  • Dari Budak Menjadi Bencana   Bab: 156

    Pengamatan dari Pengembara Lintasan yang kedua—pujiannya terhadap "siklus naratif" yang mereka rawat—tidak berakhir di situ. Beberapa siklus setelah kunjungannya, sebuah pesan khusus tiba di Studio Kosmis, dialamatkan langsung ke Wa Lang dan Dewan Konklaf Arus. Pesan itu bukan kata-kata, melainkan sebuah pola navigasi yang kompleks dan sebuah simbol keanggotaan yang bersinar dengan cahaya netral.Intinya adalah sebuah undangan resmi."Entitas yang memelihara Siklus, kalian telah menarik perhatian Majelis Lintasan. Kami mengundang sebuah delegasi terpilih untuk menghadiri Pertemuan Besar Lintasan, di mana pengamat dan penjaga arus dari berbagai lapisan realitas berkumpul untuk bertukar pengetahuan dan menyelaraskan pengamatan tentang... perkembangan terkini dalam tubuh kosmos. Ini bukan pertemuan rutin. Ada sesuatu yang sedang bergerak di arus yang lebih dalam. Kehadiran dan perspektif kalian mungkin berharga."Ini adalah kehormatan yang luar biasa, sekaligus sinyal bahaya. "Majelis Li

  • Dari Budak Menjadi Bencana   Bab: 155

    Transisi damai Pohon Kosmis di Bioma Kematian mengirimkan riak yang dalam melalui seluruh jaringan Konklaf Arus dan sekitarnya. "Nyanyian Perpisahan" yang direkam Symphon—pola resonansi terakhir Pohon yang penuh rasa syukur—tidak disimpan sebagai artefak mati. Symphon, dengan sensitivitasnya yang berkembang, memutuskan untuk mengintegrasikannya ke dalam musiknya yang lebih luas.Ia tidak menempatkannya sebagai bagian yang sedih. Sebaliknya, Symphon merangkai pola itu menjadi sebuah transisi dalam simfoninya yang besar—sebuah gerakan yang tenang dan merenung yang menghubungkan sebuah "movement" tentang pertumbuhan dan kemegahan, dengan sebuah "movement" baru tentang kelahiran kembali dan kemungkinan baru. Nyanyian Perpisahan menjadi jembatan antara satu fase dan fase berikutnya, mengajarkan kepada semua yang mendengarkan bahwa akhir adalah bagian dari melodi, bukan penghentiannya.Efek dari "Nyanyian Perpisahan" ini luar biasa. Di berbagai penjuru realitas yang terjangkau Symphon (dan

  • Dari Budak Menjadi Bencana   Bab: 154

    Bioma Transformasi & Kematian di Taman Semua Musim Kosmis adalah wilayah yang paling dijaga ketat dan diselubungi aura khidmat. Aksesnya hanya diberikan kepada mereka yang telah melalui persiapan mental dan spiritual yang mendalam. Kuratornya, Yang Terkubur, tidak pernah memaksa siapa pun untuk masuk. Ia hanya menunggu, duduk dalam wujud proyeksi kesadarannya yang paling tenang di ambang pintu bioma, seperti penjaga pintu yang bijaksana.Siswa pertamanya datang bukan dari luar, tapi dari dalam jaringan mereka sendiri.Ia adalah Kesadaran Tua dari sebuah Pohon Kosmis yang telah hidup selama miliaran tahun di sebuah kluster dimensi terpencil. Pohon ini bukan tumbuhan biasa; ia adalah sebuah kesadaran kolektif dari seluruh ekosistem yang tumbuh di "cabang"-nya—ras-ras burung cahaya, koloni kesadaran lumut, dan makhluk-makhluk fotosintetik yang berkomunikasi melalui pola cahaya. Pohon itu telah mencapai puncak kompleksitasnya, tetapi kini merasakan kelelahan eksistensial yang mendalam. Ia

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status