แชร์

BAB 6 Perjamuan di Istana Singa

ผู้เขียน: Maulll
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-09 11:36:38

Malam itu, Jakarta diguyur hujan yang lebih tenang, namun suasana di dalam mobil SUV hitam Arlan terasa lebih membeku daripada es di kutub. Maya mengenakan gaun beludru berwarna biru tua yang dipadukan dengan syal sutra—pilihan yang menurut Arlan "aman" namun "berkelas" untuk bertemu ayahnya, Sang Singa Dirgantara.

​"Ayahku, Hendra Dirgantara, bukan tipe pria yang suka berbasa-basi," Arlan memecah keheningan saat mereka memasuki gerbang tinggi sebuah mension mewah di kawasan Menteng. "Dia akan mengujimu. Dia akan mencari retakan di fondasimu, Maya. Tetaplah pada pendirianmu seperti saat kamu mendebat Pak Baskoro tadi pagi."

​Maya merapikan gaunnya yang sebenarnya sudah sempurna. "Aku lebih takut pada tatapannya daripada pada audit pajak tahunan, Arlan."

​Arlan terkekeh kecil, lalu meraih tangan Maya dan mengecup punggung tangannya sekilas. "Kamu auditor terbaik yang pernah aku kenal. Anggap saja dia adalah laporan keuangan yang sedang mencoba menyembunyikan defisit. Temukan kebenarannya, dan dia akan menghormatimu."

​Pintu mension dibuka oleh pelayan berseragam rapi. Di dalam, kemewahan yang menyesakkan menyambut mereka. Lantai marmer Italia yang memantulkan cahaya lampu gantung kristal, lukisan-lukisan maestro yang menghiasi dinding, dan aroma cerutu mahal yang menggantung di udara. Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni, seorang pria berambut perak duduk dengan punggung tegak sempurna.

​Itulah Hendra Dirgantara.

​"Duduk," suara Hendra berat dan berwibawa, tanpa menoleh sedikit pun ke arah mereka.

​Arlan menarik kursi untuk Maya sebelum duduk di sampingnya. Suasana makan malam itu dimulai dengan keheningan yang menyesakkan, hanya terdengar denting alat makan perak yang beradu dengan piring porselen.

​"Jadi," Hendra akhirnya bersuara setelah menyesap red wine-nya. "Ini wanita yang membuat putraku menyerahkan konsesi akses Green Oasis kepada Mahakarya? Wanita yang membuat tim akuisisi terbaikku pulang dengan tangan hampa dari sebuah desa kecil?"

​Maya meletakkan sendoknya dengan perlahan, menatap lurus ke mata pria tua itu. "Saya Maya, Pak. Dan saya tidak membuat Arlan 'menyerah'. Kami hanya menemukan solusi yang lebih menguntungkan secara jangka panjang bagi kedua perusahaan."

​Hendra menaikkan sebelah alisnya. "Menguntungkan? Menyerahkan akses utama adalah kerugian strategis, Nona Maya."

​"Tidak jika akses itu dikelola bersama," balas Maya tenang. "Dengan kerja sama infrastruktur, biaya perawatan jalan akan dibagi dua, risiko konflik sosial dengan warga sekitar hilang, dan citra Dirgantara Group sebagai pengembang yang peduli lingkungan serta fasilitas publik akan meningkat pesat. Itu adalah nilai intangible yang jauh lebih mahal daripada sekadar kepemilikan lahan akses."

​Hendra terdiam. Ia menatap Maya selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Tiba-tiba, ia tertawa pendek—tawa yang tidak sampai ke mata, namun mengandung sedikit apresiasi.

​"Arlan tidak berbohong. Kamu memang punya otak yang tajam," ujar Hendra. "Tapi di dunia ini, otak saja tidak cukup. Kamu masuk ke keluarga ini dengan membawa beban persaingan bisnis. Apa kamu siap jika suatu saat aku memintamu memilih antara loyalitas pada suamimu atau loyalitas pada kebenaran hasil auditmu?"

​Pertanyaan itu adalah jebakan. Maya tahu itu.

​"Saya akan memilih integritas," jawab Maya mantap. "Karena jika saya kehilangan integritas, saya tidak akan berguna bagi Arlan maupun bagi Dirgantara Group. Arlan mencintai saya karena kejujuran saya, bukan karena saya bisa disetir."

​Hendra tersenyum tipis, lalu memberi isyarat kepada pelayan untuk menuangkan anggur lagi. "Jawaban yang berisiko. Aku suka."

​Namun, di tengah momen yang mulai mencair itu, sebuah suara langkah kaki yang anggun terdengar dari arah tangga besar. Seorang wanita muda dengan gaun merah menyala dan rambut yang ditata sempurna muncul dengan senyum kemenangan.

​"Maaf aku terlambat, Paman Hendra," ujar wanita itu dengan suara yang sengaja dibuat manja.

​Arlan menegang di samping Maya. Rahangnya mengeras.

​"Ah, Clarissa. Kemarilah," Hendra memberi isyarat. "Maya, perkenalkan, ini Clarissa. Dia adalah putri dari mitra bisnis utama kami di Singapura. Dan dulu... dia adalah seseorang yang sangat dekat dengan Arlan."

Clarissa berjalan menghampiri meja, matanya memindai Maya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Oh, jadi ini wanita dari 'F******k' itu? Aku sempat melihat foto-fotonya yang beredar di grup kolega. Ternyata aslinya lebih... sederhana ya, Arlan?"

​Maya merasakan gelombang panas menjalar di dadanya. Sindiran Clarissa sangat jelas. Arlan hendak bicara, namun Maya menahan lengannya di bawah meja.

​"Sederhana adalah bentuk kecanggihan yang paling tinggi, Clarissa," sahut Maya dengan senyum yang sangat sopan. "Terima kasih atas pujiannya."

​Clarissa mendengus, lalu duduk di kursi kosong tepat di depan Arlan. "Paman Hendra, aku dengar ada proyek resor baru yang sedang direncanakan? Ayahku sangat tertarik untuk berinvestasi. Tapi beliau bilang, beliau hanya mau bekerja sama jika Arlan yang memimpinnya secara penuh... tanpa gangguan dari pihak luar."

​Mata Clarissa melirik tajam ke arah Maya saat mengucapkan kata "gangguan".

​Makan malam yang tadinya mulai terasa hangat kini berubah menjadi medan perang baru. Clarissa jelas dikirim—atau setidaknya didukung oleh Hendra—untuk menguji kekuatan hubungan Arlan dan Maya.

​"Proyek itu sudah memiliki pemimpin tim auditnya sendiri, Clarissa," Arlan bersuara, suaranya dingin dan tajam. "Maya yang akan mengawasinya."

​"Oh, benarkah?" Clarissa tertawa renyah. "Sayang sekali. Aku baru saja akan menunjukkan foto-foto lama kita saat di London kepada Paman Hendra. Foto-foto yang menunjukkan betapa serasinya kita dalam mengelola bisnis... dan perasaan."

​Clarissa meletakkan ponselnya di atas meja, sengaja memperlihatkan sebuah foto lama di mana ia dan Arlan tampak sangat mesra di sebuah pesta mewah.

​Maya merasakan dadanya sesak. Ia tahu Arlan punya masa lalu, tapi melihatnya secara langsung di depan mata, ditambah dengan tekanan dari ayah Arlan, membuatnya merasa seperti orang asing yang masuk ke dunia yang tidak seharusnya ia tempati.

​"Arlan, aku ingin pulang," bisik Maya pelan.

​"Maya, jangan dengarkan dia," bisik Arlan kembali, namun Maya sudah berdiri.

​"Terima kasih atas makan malamnya, Pak Hendra. Makanannya sangat luar biasa," ujar Maya dengan martabat yang masih terjaga. "Clarissa, senang bertemu denganmu. Semoga investasi ayahmu berjalan lancar."

​Maya berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak, meskipun air mata sudah mulai menggenang di sudut matanya. Arlan segera mengejarnya, meninggalkan Hendra yang menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan dan Clarissa yang tersenyum puas.

​Di teras mension yang megah, di bawah rintik hujan yang kembali turun, Arlan berhasil meraih lengan Maya.

​"Maya, tunggu! Itu hanya masa lalu. Clarissa sengaja melakukan itu karena disuruh Ayah!"

Maya berbalik, wajahnya basah oleh air hujan dan air mata. "Ini bukan soal Clarissa, Arlan. Ini soal dunia kita yang berbeda. Aku hanya seorang auditor yang bertemu pria di F******k karena kita sama-sama suka alat berat. Tapi di sini... di rumah ini... aku hanyalah bidak dalam permainan catur ayahmu dan investasi Clarissa. Apa kamu benar-benar yakin pernikahan ini akan berhasil jika fondasinya adalah kebohongan dan tekanan bisnis?"

Arlan terdiam. Ia menatap Maya dengan tatapan yang sangat terluka. "Ini bukan kebohongan bagi saya, Maya. Dan aku akan membuktikannya. Bukan di F******k, bukan di meja makan ayahku, tapi di dunia nyata."

​Tanpa peringatan, Arlan menarik Maya ke dalam pelukannya dan menciumnya di tengah hujan yang menderu. Ciuman itu terasa seperti janji, seperti sebuah pernyataan perang melawan dunia yang mencoba memisahkan mereka.

​Di saat yang sama, dari jendela lantai atas, Clarissa memotret momen itu dengan senyum licik. Ia segera mengirimkan foto itu ke sebuah kontak di ponselnya dengan pesan singkat: "Rencana B dimulai. Hancurkan reputasi auditornya."

Maya tidak tahu bahwa besok pagi, sebuah skandal besar terkait manipulasi laporan keuangan di PT Mahakarya akan meledak, dan namanya akan menjadi tersangka utama. Perjalanan dari F******k menuju suami istri kini benar-benar berubah menjadi perjalanan melalui neraka.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 20 Rahasia Sang Mandor

    Hujan di Singapura telah reda, meninggalkan aspal yang mengilap di bawah lampu jalanan Clarke Quay. Namun, di dalam mobil yang melaju menuju pelabuhan udara, keheningan yang tercipta jauh lebih dingin daripada udara malam. Maya masih memegang ponselnya, menatap layar yang kini gelap setelah panggilan video dari ibunya berakhir. Arlan, di sampingnya, tampak seolah baru saja dihantam oleh godam besar."Lima puluh tahun," gumam Arlan, suaranya hampir tidak terdengar di antara deru mesin mobil. "Jika akta itu valid, maka seluruh fondasi Dirgantara Group... pusat perbelanjaan itu, kompleks perkantoran Sudirman, hingga proyek Green Oasis... semuanya berdiri di atas tanah pinjaman."Maya menarik napas panjang, mencoba menstabilkan logikanya yang mulai goyah. Sebagai auditor, ia terbiasa dengan angka-angka yang hilang, tapi ia tidak pernah menyangka akan menemukan bahwa seluruh "kerajaan" pria yang dicintainya adalah sebuah pinjaman sejarah. "Kakekku adalah seorang mandor, Arla

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 19 Dansa di Atas Bara

    Singapura menyambut mereka dengan kemilau lampu neon yang memantul di atas permukaan Marina Bay yang tenang. Namun, bagi Maya dan Arlan, keindahan kota singa ini terasa seperti labirin yang penuh dengan jebakan tak kasat mata. Mereka tidak lagi tinggal di apartemen mewah yang disediakan perusahaan, melainkan di sebuah hotel butik kecil di kawasan Heritage yang tidak terdaftar dalam radar protokol Dirgantara maupun Mahakarya.Target mereka malam ini adalah *The Grand Zenith Gala*, sebuah pesta eksklusif yang diadakan oleh firma hukum *Vanguard & Co.*—firma yang sama yang telah memanipulasi karier Maya selama tiga bulan terakhir. Firma ini bukan sekadar penyedia jasa hukum; mereka adalah arsitek keuangan di balik pencucian uang internasional yang digunakan Clarissa untuk menyokong ambisi Hendra Dirgantara yang gagal."Ingat, Maya," bisik Arlan sambil merapikan simpul dasi kupu-kupunya di depan cermin. "Tujuan kita bukan untuk berkonfrontasi. Kita butuh kunci enkripsi fisi

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 18 Jaring di Balik Layar

    Lampu neon di ruang kerja darurat kediaman Menteng berderit pelan, menciptakan irama monoton yang menemani kesunyian dini hari. Maya duduk mematung di depan layar monitor, matanya terpaku pada baris kode yang baru saja ia pecahkan dari server ruko Tangerang. Di sampingnya, segelas kopi yang sudah dingin tak tersentuh. Arlan masuk membawa dua helai selimut, wajahnya tampak lelah setelah berjam-jam berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengamankan Gunawan. "Maya, istirahatlah. Gunawan sudah di sel, Ibu sudah dalam pengawalan ketat di desa. Tidak ada lagi yang perlu kamu cemaskan malam ini." Maya tidak menoleh. Jemarinya menunjuk ke sebuah folder tersembunyi yang diberi nama sandi *'Project Glass'*. "Ada satu hal yang terlewat, Arlan. Gunawan memang yang menarik pelatuk ancaman itu, tapi dia tidak bekerja sendiri di sisi administratif. Dia butuh seseorang yang tahu persis jadwal auditku, lokasi ibuku, dan bahkan detail terkecil tentang akun bank pribadiku

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 17 Operasi Tengah Malam

    Hujan deras mengguyur Jakarta, menciptakan tabir air yang mengaburkan pandangan. Di sebuah ruko tua yang terletak di sudut terpencil kawasan industri Tangerang, sebuah lampu neon yang rusak berkedip-kedip, menerangi papan nama kusam bertuliskan *PT Sentosa Logistik Utama*. Ini adalah salah satu dari lima vendor fiktif yang ditemukan Maya dalam auditnya—perusahaan yang secara administratif menyerap miliaran rupiah dari Dirgantara Group, namun secara fisik hanya berupa bangunan kosong yang dikelilingi ilalang. Arlan mematikan mesin SUV hitamnya sekitar lima puluh meter dari lokasi. Di dalam kabin yang gelap, cahaya dari tablet Maya menyinari wajah mereka yang tegang. Di kursi belakang, dua pria tegap dari tim keamanan profesional yang disewa Arlan memeriksa peralatan komunikasi mereka. "Berdasarkan pelacakan GPS dari ponsel Pak Lukman sebelum disita, dia melakukan panggilan terakhir ke menara seluler di area ini," bisik Maya. "Dan menurut data penggunaan

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 16 Pembersihan Massal

    Gedung Dirgantara Group yang menjulang tinggi di kawasan Sudirman biasanya tampak seperti benteng kekuasaan yang tak tergoyahkan. Namun pagi itu, suasananya lebih mirip dengan sarang lebah yang baru saja disodok dengan galah besi. Kabar tentang kembalinya Arlan Dirgantara sebagai pimpinan tim restrukturisasi khusus telah menyebar ke setiap lantai, dari lobi hingga ruang dewan direksi yang eksklusif.Arlan melangkah masuk melalui pintu kaca utama dengan langkah yang tidak lagi ragu. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap, namun ia sengaja tidak mengenakan dasi—sebuah pernyataan simbolis bahwa ia bukan lagi "anak manis" perusahaan yang patuh pada tradisi kolot. Di sampingnya, Maya berjalan dengan tas kerja berisi dokumen-dokumen yang bisa meledakkan karier siapa pun di gedung itu."Siap, Maya?" tanya Arlan pelan saat mereka berada di dalam lift eksekutif."Aku lahir untuk hari seperti ini, Arlan," jawab Maya dengan senyum tipis yang mematikan. "Ingat, mereka akan men

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 15 Kepulangan ke Sarang Srigala

    Suasana di Bandar Udara Internasional Changi pagi itu sangat kontras dengan ketenangan yang Maya rasakan di Kalimantan. Suara pengumuman penerbangan dalam berbagai bahasa, deru koper yang ditarik di atas lantai marmer, dan aroma kopi mahal yang tajam menyambut kepulangannya dari masa cuti singkat sekaligus tugas audit lapangannya. Maya berdiri di depan dinding kaca besar, menatap pesawat-pesawat yang lepas landas menuju cakrawala biru. Di sampingnya, Arlan berdiri dengan kemeja yang lebih rapi, meski bekas terbakar matahari di wajahnya masih sangat kentara."Kamu yakin ingin melakukan ini sekarang?" tanya Arlan, suaranya rendah namun penuh kekhawatiran. "Begitu kita mendarat di Jakarta, semua kamera dan mata-mata ayahku akan langsung tertuju padamu. Kamu tidak lagi berada di bawah perlindungan hukum firma Singapura jika kita keluar dari zona aman ini."Maya membetulkan letak kacamatanya, menatap pantulan dirinya di kaca. "Kita tidak bisa selamanya bersembunyi di balik h

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 7 Jejak Digital yang Mematikan

    Pagi itu, kantor PT Mahakarya Bangun Nusantara tidak lagi terasa seperti tempat kerja bagi Maya. Atmosfernya lebih menyerupai ruang interogasi. Belum sempat Maya meletakkan tasnya di meja, dua orang petugas keamanan perusahaan sudah berdiri di depan kubikelnya.​"Mbak Maya, Anda diminta segera ke r

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 5 Badai di Lantai Tiga Puluh

    Pukul tujuh pagi, gedung pencakar langit PT Mahakarya Bangun Nusantara tampak angkuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Maya berdiri di depan pintu lift, jemarinya meremas tali tas kulitnya hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam pantulan pintu lift yang mengilat, ia melihat sosok wanita yang

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 4 Skenario di Ambang Pintu

    Hujan semakin menderu saat SUV hitam milik Arlan membelah kegelapan jalanan menuju desa tempat tinggal ibu Maya. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, ketegangan terasa lebih mencekam daripada badai di luar. Maya mencengkeram sabuk pengamannya, matanya terpaku pada wiper yang bergerak cepat menyap

  • Dari Facebook Jadi Suami Istri   BAB 3 Rahasia di Balik Sertifikat Tua

    Malam itu, gerimis tipis membasahi kaca jendela kafe kecil yang terletak jauh dari pusat bisnis kota. Maya sengaja memilih tempat yang terpencil, sebuah kedai kopi tua dengan penerangan remang-remang yang biasanya hanya dikunjungi oleh mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Ia tidak ingin ada s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status