Mag-log inPagi itu, cahaya matahari menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar Maya. Gadis berusia dua puluh enam tahun itu masih bergelung di balik selimut tebalnya, mengabaikan bunyi alarm yang sudah berteriak tiga kali sejak pukul enam pagi. Maya bukan pemalas, ia hanya lelah setelah lembur menyelesaikan laporan audit perusahaan konstruksi tempatnya bekerja hingga pukul dua dini hari. Namun, ada satu bunyi yang akhirnya berhasil menarik kesadarannya sepenuhnya: bunyi denting notifikasi ponsel yang khas. Maya meraba nakas, menemukan benda pipih itu, dan menyipitkan mata melihat layarnya yang terang. Sebuah notifikasi dari aplikasi biru tua—Facebook. "Seorang pria bernama Arlan Dirgantara mengirimkan Anda permintaan pertemanan." Maya berkerut dahi. Nama itu sama sekali tidak terasa akrab. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang, membiarkan rambut panjangnya yang berantakan jatuh ke bahu. Dengan ibu jari, ia mengetuk profil pria tersebut. Foto profilnya memperlihatkan seorang pria yang berdiri di depan sebuah ekskavator besar berwarna kuning mengkilap, mengenakan rompi proyek dan helm keselamatan. Wajahnya tidak terlihat sepenuhnya karena terhalang kacamata hitam, tapi ada aura ketegasan yang terpancar dari postur tubuhnya. "Siapa ini? Perasaan aku nggak punya teman kontraktor,"
view morePagi itu, cahaya matahari menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar Maya. Gadis berusia dua puluh enam tahun itu masih bergelung di balik selimut tebalnya, mengabaikan bunyi alarm yang sudah berteriak tiga kali sejak pukul enam pagi. Maya bukan pemalas, ia hanya lelah setelah lembur menyelesaikan laporan audit perusahaan konstruksi tempatnya bekerja hingga pukul dua dini hari. Namun, ada satu bunyi yang akhirnya berhasil menarik kesadarannya sepenuhnya: bunyi denting notifikasi ponsel yang khas.
Maya meraba nakas, menemukan benda pipih itu, dan menyipitkan mata melihat layarnya yang terang. Sebuah notifikasi dari aplikasi biru tua—Facebook. "Seorang pria bernama Arlan Dirgantara mengirimkan Anda permintaan pertemanan." Maya berkerut dahi. Nama itu sama sekali tidak terasa akrab. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang, membiarkan rambut panjangnya yang berantakan jatuh ke bahu. Dengan ibu jari, ia mengetuk profil pria tersebut. Foto profilnya memperlihatkan seorang pria yang berdiri di depan sebuah ekskavator besar berwarna kuning mengkilap, mengenakan rompi proyek dan helm keselamatan. Wajahnya tidak terlihat sepenuhnya karena terhalang kacamata hitam, tapi ada aura ketegasan yang terpancar dari postur tubuhnya. "Siapa ini? Perasaan aku nggak punya teman kontraktor," gumam Maya pelan. Suaranya serak khas orang bangun tidur. Ia melihat kolom 'Teman yang Sama'. Kosong. Benar-benar orang asing. Biasanya, Maya akan langsung menekan tombol 'Hapus', namun entah mengapa pagi ini jempolnya justru menekan tombol 'Konfirmasi'. Mungkin karena ia sedang merasa sepi, atau mungkin karena ia baru saja bermimpi tentang tumpukan tanah dan alat berat—efek samping bekerja di perusahaan pengembang properti. Tak sampai satu menit setelah konfirmasi itu, sebuah pesan masuk di Messenger. Arlan: "Terima kasih sudah dikonfirmasi. Maaf mengganggu pagi-pagi." Maya tertegun. Cepat sekali? Ia menimbang-nimbang untuk membalas, tapi jarinya sudah bergerak lebih dulu. Maya: "Sama-sama. Kita saling kenal?" Arlan: "Secara langsung belum. Saya hanya sering melihat komentar-komentar cerdasmu di grup 'Diskusi Properti Indonesia'. Saya suka cara Anda menganalisis regulasi PSU (Prasarana, Sarana, dan Utilitas) kemarin." Maya tersenyum tipis. Ternyata seorang pengagum intelektual, pikirnya. Percakapan itu berlanjut lebih jauh dari yang Maya duga. Arlan ternyata adalah seorang pengembang muda yang sedang merintis proyek perumahan di pinggiran kota. Mereka memiliki banyak kesamaan minat, mulai dari urusan teknis alat berat hingga kecintaan pada kopi pahit tanpa gula. Satu bulan berlalu sejak notifikasi pertama itu. F******k yang awalnya hanya tempat Maya mengeluh tentang kemacetan atau membagikan foto kucing jalanan, kini menjadi ruang tunggu yang paling ia nantikan. Setiap kali melihat ikon lonceng merah menyala, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Arlan adalah sosok yang misterius namun hangat. Ia sering mengirimkan foto-foto kegiatannya di lapangan—bukan foto narsis, melainkan foto progres pekerjaan atau masalah yang ia hadapi. Suatu hari, Arlan mengirimkan foto sebuah backhoe yang terperosok ke dalam lumpur setelah hujan badai. Arlan: "Hari yang berat. Tanah di sini lebih lunak dari dugaan awal. Sepertinya jadwalku akan mundur satu minggu." Maya: "Gunakan pelat baja untuk alasnya, Arlan. Jangan dipaksa ditarik begitu saja, nanti hidroliknya bermasalah. Kamu butuh operator yang lebih berpengalaman untuk medan seperti itu." Arlan: "Kamu tahu banyak soal alat berat untuk ukuran seorang auditor wanita. Mengagumkan." Pujian itu membuat pipi Maya bersemu merah. Hubungan mereka yang awalnya profesional dan teknis perlahan mulai bergeser ke arah personal. Mereka mulai membicarakan masa kecil, kegagalan di masa lalu, hingga harapan tentang masa depan. Maya bercerita tentang impiannya memiliki rumah kecil dengan taman yang luas untuk anak-anaknya kelak, sementara Arlan bercerita tentang ambisinya membangun pemukiman yang layak bagi masyarakat kelas menengah bawah. Hingga suatu malam, Arlan melontarkan pertanyaan yang membuat Maya terdiam cukup lama. Arlan: "Maya, kita sudah mengobrol setiap hari selama tiga bulan. Aku merasa sudah mengenal jiwamu lewat tulisan-tulisanmu. Tapi, F******k adalah tempat yang semu. Bagaimana kalau kita bertemu?" Maya memandangi layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Takut dan penasaran bertarung di dalam dadanya. Di dunia digital, seseorang bisa menjadi siapa saja. Namun, selama ini Arlan tidak pernah memintanya mengirimkan foto aneh atau bertanya hal-hal yang tidak sopan. Pria itu selalu menjaga batas, meski perhatiannya terasa sangat nyata. Maya: "Di mana?" Arlan: "Di kafe dekat kantormu. Aku tahu kamu sering ke sana setiap hari Jumat sore untuk membeli latte sebelum pulang. Aku akan memakai kemeja biru." Maya tersentak. Ia baru sadar bahwa ia sering mengunggah update status di kafe tersebut. Ternyata Arlan memerhatikannya sedalam itu. Hari Jumat yang dinanti pun tiba. Maya mengenakan blus putih yang simpel namun elegan dengan rok span berwarna cokelat tua. Ia mematut diri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Ada rasa gugup yang asing, rasa yang bahkan tidak ia rasakan saat mempresentasikan laporan di depan direksi. Saat ia melangkah masuk ke kafe, aroma biji kopi yang baru digiling langsung menyambutnya. Matanya berkeliling, mencari sosok dengan kemeja biru. Di sudut dekat jendela, seorang pria sedang duduk dengan tenang, membelakangi pintu masuk. Bahunya lebar, dan ia tampak sedang membaca sebuah buku. Maya mendekat dengan langkah ragu. "Arlan?" tanyanya pelan. Pria itu menoleh. Dan saat itulah, dunia Maya seolah berhenti berputar sejenak. Wajah pria itu jauh lebih tampan daripada di foto profilnya yang buram. Matanya tajam namun memiliki binar kebaikan, dan senyumnya... senyumnya adalah jenis senyum yang bisa membuat seseorang merasa aman. "Maya," Arlan berdiri, suaranya berat dan bariton, jauh lebih nyata daripada suara yang ia bayangkan saat membaca pesan teks. "Senang akhirnya bisa melihatmu tanpa perantara layar." Pertemuan itu tidak berakhir dengan kekakuan. Justru sebaliknya, mereka mengobrol seolah sudah berteman selama puluhan tahun. Arlan menceritakan kesulitan mengelola proyek properti, sementara Maya menimpali dengan keluh kesah menghadapi klien yang keras kepala. Namun, di tengah tawa mereka, sebuah kenyataan pahit muncul. Maya menyadari bahwa Arlan bukan sekadar pengembang biasa. Ia adalah anak dari pemilik grup perusahaan yang menjadi saingan terbesar perusahaan tempat Maya bekerja. "Kenapa kamu tidak memberitahuku siapa ayahmu yang sebenarnya, Arlan?" tanya Maya saat mereka berjalan menuju parkiran. Arlan menghentikan langkahnya, menatap Maya dalam-dalam. "Karena di F******k, aku ingin dikenal sebagai Arlan yang menyukai alat berat dan diskusi properti, bukan sebagai Arlan si ahli waris. Aku ingin orang menyukaiku karena pikiranku, Maya. Dan aku rasa, aku sudah menemukan orang itu." Maya terpaku. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia menyadari bahwa notifikasi sederhana di pagi hari sebulan yang lalu telah menariknya ke dalam sebuah pusaran emosi yang jauh lebih kompleks dari sekadar pertemanan digital. Ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang yang akan melibatkan keluarga, persaingan bisnis, dan janji suci yang belum terbayangkan sebelumnya. Malam itu, mereka berpisah dengan sebuah janji untuk bertemu kembali. Maya masuk ke dalam mobilnya, membuka aplikasi F******k, dan melihat profil Arlan sekali lagi. Status hubungan pria itu masih tertulis 'Single'. Tanpa sadar, Maya tersenyum. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa bulan ke depan, status itu akan berubah, dan bukan hanya di dunia maya, melainkan di atas buku nikah yang sah. Tapi sebelum itu terjadi, badai besar dari masa lalu Arlan dan tekanan keluarga Maya sudah mengintai di balik tikungan.Hujan di Singapura telah reda, meninggalkan aspal yang mengilap di bawah lampu jalanan Clarke Quay. Namun, di dalam mobil yang melaju menuju pelabuhan udara, keheningan yang tercipta jauh lebih dingin daripada udara malam. Maya masih memegang ponselnya, menatap layar yang kini gelap setelah panggilan video dari ibunya berakhir. Arlan, di sampingnya, tampak seolah baru saja dihantam oleh godam besar."Lima puluh tahun," gumam Arlan, suaranya hampir tidak terdengar di antara deru mesin mobil. "Jika akta itu valid, maka seluruh fondasi Dirgantara Group... pusat perbelanjaan itu, kompleks perkantoran Sudirman, hingga proyek Green Oasis... semuanya berdiri di atas tanah pinjaman."Maya menarik napas panjang, mencoba menstabilkan logikanya yang mulai goyah. Sebagai auditor, ia terbiasa dengan angka-angka yang hilang, tapi ia tidak pernah menyangka akan menemukan bahwa seluruh "kerajaan" pria yang dicintainya adalah sebuah pinjaman sejarah. "Kakekku adalah seorang mandor, Arla
Singapura menyambut mereka dengan kemilau lampu neon yang memantul di atas permukaan Marina Bay yang tenang. Namun, bagi Maya dan Arlan, keindahan kota singa ini terasa seperti labirin yang penuh dengan jebakan tak kasat mata. Mereka tidak lagi tinggal di apartemen mewah yang disediakan perusahaan, melainkan di sebuah hotel butik kecil di kawasan Heritage yang tidak terdaftar dalam radar protokol Dirgantara maupun Mahakarya.Target mereka malam ini adalah *The Grand Zenith Gala*, sebuah pesta eksklusif yang diadakan oleh firma hukum *Vanguard & Co.*—firma yang sama yang telah memanipulasi karier Maya selama tiga bulan terakhir. Firma ini bukan sekadar penyedia jasa hukum; mereka adalah arsitek keuangan di balik pencucian uang internasional yang digunakan Clarissa untuk menyokong ambisi Hendra Dirgantara yang gagal."Ingat, Maya," bisik Arlan sambil merapikan simpul dasi kupu-kupunya di depan cermin. "Tujuan kita bukan untuk berkonfrontasi. Kita butuh kunci enkripsi fisi
Lampu neon di ruang kerja darurat kediaman Menteng berderit pelan, menciptakan irama monoton yang menemani kesunyian dini hari. Maya duduk mematung di depan layar monitor, matanya terpaku pada baris kode yang baru saja ia pecahkan dari server ruko Tangerang. Di sampingnya, segelas kopi yang sudah dingin tak tersentuh. Arlan masuk membawa dua helai selimut, wajahnya tampak lelah setelah berjam-jam berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengamankan Gunawan. "Maya, istirahatlah. Gunawan sudah di sel, Ibu sudah dalam pengawalan ketat di desa. Tidak ada lagi yang perlu kamu cemaskan malam ini." Maya tidak menoleh. Jemarinya menunjuk ke sebuah folder tersembunyi yang diberi nama sandi *'Project Glass'*. "Ada satu hal yang terlewat, Arlan. Gunawan memang yang menarik pelatuk ancaman itu, tapi dia tidak bekerja sendiri di sisi administratif. Dia butuh seseorang yang tahu persis jadwal auditku, lokasi ibuku, dan bahkan detail terkecil tentang akun bank pribadiku
Hujan deras mengguyur Jakarta, menciptakan tabir air yang mengaburkan pandangan. Di sebuah ruko tua yang terletak di sudut terpencil kawasan industri Tangerang, sebuah lampu neon yang rusak berkedip-kedip, menerangi papan nama kusam bertuliskan *PT Sentosa Logistik Utama*. Ini adalah salah satu dari lima vendor fiktif yang ditemukan Maya dalam auditnya—perusahaan yang secara administratif menyerap miliaran rupiah dari Dirgantara Group, namun secara fisik hanya berupa bangunan kosong yang dikelilingi ilalang. Arlan mematikan mesin SUV hitamnya sekitar lima puluh meter dari lokasi. Di dalam kabin yang gelap, cahaya dari tablet Maya menyinari wajah mereka yang tegang. Di kursi belakang, dua pria tegap dari tim keamanan profesional yang disewa Arlan memeriksa peralatan komunikasi mereka. "Berdasarkan pelacakan GPS dari ponsel Pak Lukman sebelum disita, dia melakukan panggilan terakhir ke menara seluler di area ini," bisik Maya. "Dan menurut data penggunaan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu