Dari Facebook Jadi Suami Istri

Dari Facebook Jadi Suami Istri

last updateHuling Na-update : 2026-05-01
By:  MaulllOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
20Mga Kabanata
169views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar Maya. Gadis berusia dua puluh enam tahun itu masih bergelung di balik selimut tebalnya, mengabaikan bunyi alarm yang sudah berteriak tiga kali sejak pukul enam pagi. Maya bukan pemalas, ia hanya lelah setelah lembur menyelesaikan laporan audit perusahaan konstruksi tempatnya bekerja hingga pukul dua dini hari. Namun, ada satu bunyi yang akhirnya berhasil menarik kesadarannya sepenuhnya: bunyi denting notifikasi ponsel yang khas. ​Maya meraba nakas, menemukan benda pipih itu, dan menyipitkan mata melihat layarnya yang terang. Sebuah notifikasi dari aplikasi biru tua—Facebook. ​"Seorang pria bernama Arlan Dirgantara mengirimkan Anda permintaan pertemanan." ​Maya berkerut dahi. Nama itu sama sekali tidak terasa akrab. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang, membiarkan rambut panjangnya yang berantakan jatuh ke bahu. Dengan ibu jari, ia mengetuk profil pria tersebut. Foto profilnya memperlihatkan seorang pria yang berdiri di depan sebuah ekskavator besar berwarna kuning mengkilap, mengenakan rompi proyek dan helm keselamatan. Wajahnya tidak terlihat sepenuhnya karena terhalang kacamata hitam, tapi ada aura ketegasan yang terpancar dari postur tubuhnya. ​"Siapa ini? Perasaan aku nggak punya teman kontraktor,"

view more

Kabanata 1

BAB 1 Notifikasi yang Mengubah Takdir

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar Maya. Gadis berusia dua puluh enam tahun itu masih bergelung di balik selimut tebalnya, mengabaikan bunyi alarm yang sudah berteriak tiga kali sejak pukul enam pagi. Maya bukan pemalas, ia hanya lelah setelah lembur menyelesaikan laporan audit perusahaan konstruksi tempatnya bekerja hingga pukul dua dini hari. Namun, ada satu bunyi yang akhirnya berhasil menarik kesadarannya sepenuhnya: bunyi denting notifikasi ponsel yang khas.

​Maya meraba nakas, menemukan benda pipih itu, dan menyipitkan mata melihat layarnya yang terang. Sebuah notifikasi dari aplikasi biru tua—Facebook.

​"Seorang pria bernama Arlan Dirgantara mengirimkan Anda permintaan pertemanan."

​Maya berkerut dahi. Nama itu sama sekali tidak terasa akrab. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang, membiarkan rambut panjangnya yang berantakan jatuh ke bahu. Dengan ibu jari, ia mengetuk profil pria tersebut. Foto profilnya memperlihatkan seorang pria yang berdiri di depan sebuah ekskavator besar berwarna kuning mengkilap, mengenakan rompi proyek dan helm keselamatan. Wajahnya tidak terlihat sepenuhnya karena terhalang kacamata hitam, tapi ada aura ketegasan yang terpancar dari postur tubuhnya.

​"Siapa ini? Perasaan aku nggak punya teman kontraktor," gumam Maya pelan. Suaranya serak khas orang bangun tidur.

​Ia melihat kolom 'Teman yang Sama'. Kosong. Benar-benar orang asing. Biasanya, Maya akan langsung menekan tombol 'Hapus', namun entah mengapa pagi ini jempolnya justru menekan tombol 'Konfirmasi'. Mungkin karena ia sedang merasa sepi, atau mungkin karena ia baru saja bermimpi tentang tumpukan tanah dan alat berat—efek samping bekerja di perusahaan pengembang properti.

​Tak sampai satu menit setelah konfirmasi itu, sebuah pesan masuk di Messenger.

​Arlan: "Terima kasih sudah dikonfirmasi. Maaf mengganggu pagi-pagi."

​Maya tertegun. Cepat sekali? Ia menimbang-nimbang untuk membalas, tapi jarinya sudah bergerak lebih dulu.

​Maya: "Sama-sama. Kita saling kenal?"

​Arlan: "Secara langsung belum. Saya hanya sering melihat komentar-komentar cerdasmu di grup 'Diskusi Properti Indonesia'. Saya suka cara Anda menganalisis regulasi PSU (Prasarana, Sarana, dan Utilitas) kemarin."

​Maya tersenyum tipis. Ternyata seorang pengagum intelektual, pikirnya. Percakapan itu berlanjut lebih jauh dari yang Maya duga. Arlan ternyata adalah seorang pengembang muda yang sedang merintis proyek perumahan di pinggiran kota. Mereka memiliki banyak kesamaan minat, mulai dari urusan teknis alat berat hingga kecintaan pada kopi pahit tanpa gula.

Satu bulan berlalu sejak notifikasi pertama itu. F******k yang awalnya hanya tempat Maya mengeluh tentang kemacetan atau membagikan foto kucing jalanan, kini menjadi ruang tunggu yang paling ia nantikan. Setiap kali melihat ikon lonceng merah menyala, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

​Arlan adalah sosok yang misterius namun hangat. Ia sering mengirimkan foto-foto kegiatannya di lapangan—bukan foto narsis, melainkan foto progres pekerjaan atau masalah yang ia hadapi. Suatu hari, Arlan mengirimkan foto sebuah backhoe yang terperosok ke dalam lumpur setelah hujan badai.

​Arlan: "Hari yang berat. Tanah di sini lebih lunak dari dugaan awal. Sepertinya jadwalku akan mundur satu minggu."

​Maya: "Gunakan pelat baja untuk alasnya, Arlan. Jangan dipaksa ditarik begitu saja, nanti hidroliknya bermasalah. Kamu butuh operator yang lebih berpengalaman untuk medan seperti itu."

​Arlan: "Kamu tahu banyak soal alat berat untuk ukuran seorang auditor wanita. Mengagumkan."

​Pujian itu membuat pipi Maya bersemu merah. Hubungan mereka yang awalnya profesional dan teknis perlahan mulai bergeser ke arah personal. Mereka mulai membicarakan masa kecil, kegagalan di masa lalu, hingga harapan tentang masa depan. Maya bercerita tentang impiannya memiliki rumah kecil dengan taman yang luas untuk anak-anaknya kelak, sementara Arlan bercerita tentang ambisinya membangun pemukiman yang layak bagi masyarakat kelas menengah bawah.

​Hingga suatu malam, Arlan melontarkan pertanyaan yang membuat Maya terdiam cukup lama.

Arlan: "Maya, kita sudah mengobrol setiap hari selama tiga bulan. Aku merasa sudah mengenal jiwamu lewat tulisan-tulisanmu. Tapi, F******k adalah tempat yang semu. Bagaimana kalau kita bertemu?"

​Maya memandangi layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Takut dan penasaran bertarung di dalam dadanya. Di dunia digital, seseorang bisa menjadi siapa saja. Namun, selama ini Arlan tidak pernah memintanya mengirimkan foto aneh atau bertanya hal-hal yang tidak sopan. Pria itu selalu menjaga batas, meski perhatiannya terasa sangat nyata.

​Maya: "Di mana?"

​Arlan: "Di kafe dekat kantormu. Aku tahu kamu sering ke sana setiap hari Jumat sore untuk membeli latte sebelum pulang. Aku akan memakai kemeja biru."

​Maya tersentak. Ia baru sadar bahwa ia sering mengunggah update status di kafe tersebut. Ternyata Arlan memerhatikannya sedalam itu.

​Hari Jumat yang dinanti pun tiba. Maya mengenakan blus putih yang simpel namun elegan dengan rok span berwarna cokelat tua. Ia mematut diri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Ada rasa gugup yang asing, rasa yang bahkan tidak ia rasakan saat mempresentasikan laporan di depan direksi.

​Saat ia melangkah masuk ke kafe, aroma biji kopi yang baru digiling langsung menyambutnya. Matanya berkeliling, mencari sosok dengan kemeja biru. Di sudut dekat jendela, seorang pria sedang duduk dengan tenang, membelakangi pintu masuk. Bahunya lebar, dan ia tampak sedang membaca sebuah buku.

​Maya mendekat dengan langkah ragu. "Arlan?" tanyanya pelan.

​Pria itu menoleh. Dan saat itulah, dunia Maya seolah berhenti berputar sejenak. Wajah pria itu jauh lebih tampan daripada di foto profilnya yang buram. Matanya tajam namun memiliki binar kebaikan, dan senyumnya... senyumnya adalah jenis senyum yang bisa membuat seseorang merasa aman.

​"Maya," Arlan berdiri, suaranya berat dan bariton, jauh lebih nyata daripada suara yang ia bayangkan saat membaca pesan teks. "Senang akhirnya bisa melihatmu tanpa perantara layar."

​Pertemuan itu tidak berakhir dengan kekakuan. Justru sebaliknya, mereka mengobrol seolah sudah berteman selama puluhan tahun. Arlan menceritakan kesulitan mengelola proyek properti, sementara Maya menimpali dengan keluh kesah menghadapi klien yang keras kepala.

​Namun, di tengah tawa mereka, sebuah kenyataan pahit muncul. Maya menyadari bahwa Arlan bukan sekadar pengembang biasa. Ia adalah anak dari pemilik grup perusahaan yang menjadi saingan terbesar perusahaan tempat Maya bekerja.

​"Kenapa kamu tidak memberitahuku siapa ayahmu yang sebenarnya, Arlan?" tanya Maya saat mereka berjalan menuju parkiran.

Arlan menghentikan langkahnya, menatap Maya dalam-dalam. "Karena di F******k, aku ingin dikenal sebagai Arlan yang menyukai alat berat dan diskusi properti, bukan sebagai Arlan si ahli waris. Aku ingin orang menyukaiku karena pikiranku, Maya. Dan aku rasa, aku sudah menemukan orang itu."

​Maya terpaku. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia menyadari bahwa notifikasi sederhana di pagi hari sebulan yang lalu telah menariknya ke dalam sebuah pusaran emosi yang jauh lebih kompleks dari sekadar pertemanan digital. Ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang yang akan melibatkan keluarga, persaingan bisnis, dan janji suci yang belum terbayangkan sebelumnya.

Malam itu, mereka berpisah dengan sebuah janji untuk bertemu kembali. Maya masuk ke dalam mobilnya, membuka aplikasi F******k, dan melihat profil Arlan sekali lagi. Status hubungan pria itu masih tertulis 'Single'.

​Tanpa sadar, Maya tersenyum. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa bulan ke depan, status itu akan berubah, dan bukan hanya di dunia maya, melainkan di atas buku nikah yang sah. Tapi sebelum itu terjadi, badai besar dari masa lalu Arlan dan tekanan keluarga Maya sudah mengintai di balik tikungan.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

Maulll
Maulll
Menyala.........
2026-04-29 17:09:32
0
0
20 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status