Pukul tujuh pagi, gedung pencakar langit PT Mahakarya Bangun Nusantara tampak angkuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Maya berdiri di depan pintu lift, jemarinya meremas tali tas kulitnya hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam pantulan pintu lift yang mengilat, ia melihat sosok wanita yang tampak tegar dengan blazer abu-abu, namun di dalam dadanya, jantungnya berdegup seperti genderang perang.Saat pintu lift terbuka di lantai tiga puluh, suasana kantor terasa berbeda. Biasanya, rekan-rekan kerjanya akan menyapa dengan riuh rendah soal kopi atau kemacetan. Pagi ini, keheningan yang mencekam menyambutnya. Siska, sang sekretaris, hanya meliriknya dengan tatapan kasihan sebelum menunjuk ke arah ruang rapat utama dengan dagunya.Di dalam, Pak Baskoro sudah menunggu. Di atas meja jati yang panjang, sebuah tablet menampilkan foto candid Maya dan Arlan di kafe tempo hari. Foto itu diambil dari sudut yang cerdik, membuat mereka tampak seperti sepasang kekasih yang tengah berbagi ra
Last Updated : 2026-04-08 Read more