登入Pagi itu Stormhowl kembali sibuk. Suasana festival telah berganti menjadi kesibukan membangun kembali gerbang utara yang rusak akibat serangan rouge. Denting palu dan gesekan kayu memenuhi udara. Para prajurit bergantian membantu warga mengangkat balok-balok besar, sementara para penyembuh memeriksa mereka yang sempat terluka semalam. Tidak ada seorang pun mengeluh. Justru wajah-wajah mereka dipenuhi tekad.“Gerbang ini harus selesai sebelum matahari terbenam!”“Angkat yang itu!”“Pelan! Jangan sampai retak!”Di atas tembok, Calen mengamati pekerjaan mereka.Sorot matanya sesekali menyapu hutan di kejauhan.Tidak ada pergerakan.Justru itulah yang membuatnya semakin waspada.Cayden naik ke atas menara sambil membawa beberapa gulungan laporan.“Pengintai sudah kembali.”“Hasilnya?”“Tidak ada jejak kawanan rouge.”Calen tetap memandang ke arah pepohonan.“Mereka tidak mungkin menghilang begitu saja.”“Itu juga yang kupikirkan.”Cayden membuka salah satu laporan.“Ada hal lain yang leb
Berikut kelanjutan dengan ritme yang lebih tenang setelah dua bab penuh aksi. Fokusnya kembali ke hubungan Calen–Lyra, tetapi tetap menyisipkan benih misteri dan politik tanpa membuat tensi terus-menerus tinggi.⸻Bab 55Udara dini hari masih menyisakan embun ketika cahaya keemasan itu perlahan memudar.Taman belakang Kediaman Alpha kembali sunyi. Kelopak-kelopak bunga yang sempat beterbangan jatuh satu demi satu, seolah tidak pernah terjadi apa pun.Lyra berdiri mematung.Jaraknya dengan Calen begitu dekat hingga ia dapat merasakan hangat napas pria itu. Kedua tangan Calen masih berada di bahunya. Genggamannya tidak keras, hanya cukup untuk memastikan perempuan itu tidak kehilangan keseimbangan.“Apa kau baik-baik saja?” tanya Calen pelan.Lyra mengangguk refleks, meski kepalanya justru dipenuhi pertanyaan.“Saya… saya rasa begitu.”“Rasa?”“Saya tidak yakin.”Calen menatap wajahnya beberapa saat. Warna wajah Lyra sudah kembali normal. Napasnya pun stabil.Pria itu akhirnya melepaska
Keesokan paginya, seluruh Stormhowl masih membicarakan hal yang sama. Serangan rouge. Tidak ada yang membahas Festival Pemberkatan lagi.Apalagi perihal siapa yang ditolak atau siapa yang menerima souvenir. Seluruh perhatian tertuju pada satu pertanyaan. Bagaimana kawanan rouge bisa menembus wilayah Stormhowl?Di ruang rapat utama, suasana jauh lebih tegang. Peta wilayah terbentang di atas meja panjang.Calen berdiri di ujung meja. Tatapan biru keperakannya menyapu para perwira dan tetua pack. “Perkuat seluruh gerbang.”“Ya, Alpha.”“Patroli malam digandakan.”“Siap, Alpha.”“Pasang penjaga tambahan di tambang perak, kuil Shaman, dan jalur perdagangan timur.”“Baik, Alpha.”Jason mengangkat tangan. “Kalau mereka menyerang lagi?”“Biarkan mereka datang.” Suara Calen terdengar datar.Namun semua orang di ruangan itu tahu. Alpha mereka sedang marah.“Kalau tujuan mereka memang Stormhowl…” lanjut Calen, “Mereka tidak akan berhenti setelah gagal sekali.”Cayden mengangguk. “Aku juga berpik
Kalung pengendali itu berputar di jemari Cayden.“Bloodcrest…” gumam Jason.“Mm?” Cayden menggenggam benda itu erat.“Dan mereka ingin kita menemukannya.”Jason mengernyit, “Apa maksudmu?”“Ini terlalu jelas.” Tatapan Beta Stormhowl menjadi tajam.“Orang yang cukup pintar untuk mengendalikan puluhan rouge tidak mungkin meninggalkan bukti seperti ini secara tidak sengaja.”Mereka terdiam.Lalu secara bersamaan mengucapkan satu kalimat, “Ini umpan.”Sementara itu di ruang penyembuhan. Calen belum bergeser dari kursinya.Willa sudah menyelesaikan pemeriksaan sejak beberapa waktu lalu, tetapi Alpha Stormhowl itu tetap duduk di sana dan memandangi wajah Lyra.“Aku tidak pernah melihatnya seperti ini,” bisik Carmen.“Aku juga,” jawab Jason.“Menyeramkan.”“Sedikit.”Willa mendecih. “Tuan dan Nyonya semua tolong keluar sajalah.”“Hah?”“Tolong keluarlah.”“Tapi…”“Tuan.”Jason langsung menggamit lengan istrinya. “Baik, Bu Willa.”“Jangan seret aku!”Pintu tertutup.Kini hanya tersisa mereka
Calen Thorne berlari tanpa memedulikan siapa pun yang melihatnya. Dia sendiri tak ingat kapan terakhir kali dia bertingkah seperti ini.Bahkan ketika seluruh Stormhowl masih sibuk bersorak mengira ledakan dahsyat tadi berasal dari kekuatan Alpha mereka, Calen sudah menerobos kerumunan sambil menggendong Lyra erat di kedua lengannya.“Menyingkirlah!” Suara pria itu rendah. Namun cukup membuat seluruh jalan langsung terbuka. Tak seorang pun berani menghalangi.Terlebih, karena wajah Alpha Stormhowl saat itu terlihat jauh lebih menakutkan daripada saat ia berada di medan perang.“BU WILLA!”Pintu ruang penyembuhan hampir terlepas dari engselnya saat Calen menendangnya terbuka.Willa yang sedang menyusun ramuan sampai meloncat.“Dewi Bulan! Tuan Alpha… apa yang Anda lakukan pada pintuku?!”“Lihat dia.” Hanya dua kata. Tetapi suara Calen terdengar serak.Willa langsung berhenti bercanda. Ia belum pernah mendengar nada seperti itu dari Alpha Stormhowl. Bahkan ketika orang tua Calen meningga
“Ini bukan kawanan liar…” Tatapan Calen langsung berubah setajam belati.Ledakan di gerbang utara membuat seluruh aula berguncang. Musik festival berhenti. Suara jeritan menggantikan tawa yang beberapa saat lalu memenuhi Stormhowl.“SERIGALA ROUGE!”“LINDUNGI ANAK-ANAK!”“SEMUA ORANG MENJAUH DARI PINTU!”Puluhan prajurit langsung bergerak. Jason sudah berubah ke bentuk serigala bahkan sebelum orang lain selesai berteriak.“Akhirnya!” Delta Stormhowl itu menyeringai buas. “Aku sudah bosan menari!”“AYAH HATI-HATI!” teriak Jaden.“Tenang! Ayahmu sangat tampan saat bertarung!”“Tidak ada yang menanyakan itu!” bentak Carmen.Di sisi lain, Cayden menarik pedangnya. “Jason, pimpin evakuasi!”“Siap!”“Pasukan kedua ke gerbang utara!”“Siap!”Reva yang sejak tadi berdiri di dekatnya langsung berubah serius. “Aku ikut.”“Tidak.”Reva mengernyit. “Apa?”“Kau terluka beberapa hari lalu.”“Saya sudah sembuh.”“Tidak.”“Tuan Beta.”“Tidak.”“TUAN BETA, TOLONG IJINKAN SAYA!”“Kau tidak boleh memban
Reva menarik napas panjang sambil menggenggam kotak kayu kecil yang berisi lonceng angin kristal buatannya atau lebih tepatnya, pesanan khusus dari pengrajin terbaik Stormhowl.Di sisi lain, Cayden yang baru turun dari panggung bersama para prajurit justru berhenti melangkah.Ia yang dari tadi meme
Suara tawa Willa dan gerutuan Lyra membuat langkahnya terhenti.“Dari segala sisi bentuknya memang masih terlihat seperti kentang, kan?” keluh Lyra untuk kesekian kalinya.“Nona, kau terlalu serius mengkritisi karyamu.” Willa berusaha menahan tertawa sembari mengusap sudut matanya. “Tidak semua ora
Kabar baik akhirnya datang ke Stormhowl. Serangan terhadap tambang perak di wilayah utara berhasil digagalkan sehari sebelumnya. Para prajurit yang dikirim ke sana pun kembali dengan selamat.Bahkan Jason yang sempat menghilang selama dua hari terakhir akhirnya kembali ke Kediaman Utama dengan paka
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kediaman Alpha dipenuhi kebisingan suara. Dan sebagian besar suara itu berasal dari satu orang.“BUNDAAA! Aku tidak berhalusinasi!”“Jaden, pelankan suaramu.”“Aku serius!”“Jaden.”“Paman tersenyum!”Carmen yang sedang menuangkan teh ham







