MasukUntuk sesaat, semua orang di lorong tampak terlalu lambat untuk percaya pada mata mereka sendiri. Tidak ada yang bicara di detik pertama, dan justru diam itu lebih keras daripada teriakan.
Sisik yang retak itu memancarkan cahaya dari dalamnya, cahaya yang sama dengan cahaya di mata naga itu, tapi lebih tipis dan lebih tidak terkontrol.
Suara dari retakan sisik itu tidak keras, hampir seperti kerikil kecil yang retak, tapi di dalam lorong yang sunyi ka
Rong Tian mengangkat tangan kanan dan membiarkan qi bergerak ke ujung dua jari. Kali ini ia tidak mendorong tenaga keluar seperti gelombang, melainkan menahannya sampai tipis, sampai rasa tajamnya berkumpul dan berubah dari kemarahan menjadi niat.Di atas, Qingfeng baru saja menaruh kain balut ketika mangkuk air hangat di meja bergerak lagi. Bukan hanya bergetar, melainkan membentuk lingkaran kecil yang terus berlari ke sisi mangkuk.Wang Fu segera melangkah ke ambang dan menutup pintu setengah. “Tidak ada yang masuk.”Xiao Li sudah bergerak ke lorong luar. “Yang berdiri terlalu dekat, mundur. Kalau masih ingin menempel di jendela, cari ibu kalian untuk mengantar.”Seorang penjaga loteng yang berdiri di atas tong kayu mendecih. “Jangan sok besar kepala. Kami cuma mau lihat.”Xiao Li menatapnya dari bawah. “Kalau cuma mau lihat, kuberi nas
Ruang bawah Balai Pengobatan Bulan Patah tidak besar, tetapi malam itu kesempitannya justru terasa seperti keuntungan.Dinding batu, rak tua, cermin kusam, dan Kalung Bintang Pemusnah yang tergantung di hadapannya membuat seluruh tekanan terkumpul di satu titik, tanpa memberi Rong Tian jalan untuk pura-pura tak melihat apa yang sudah lama menunggu.Ia duduk bersila di lantai batu, meletakkan cermin di depan lutut, lalu membiarkan qi di tubuhnya turun setipis benang. Kalung itu masih memancarkan garis retak kebiruan yang nyaris tak terlihat, tetapi Rong Tian tahu yang pecah bukan permukaannya saja.Yang retak adalah penahanan terakhir.Ia tak menutup mata seperti orang yang hendak mencari ketenangan. Yang datang lebih dulu justru potongan-potongan gambar yang tajam, kota yang pernah terbakar di bawah langit merah, aula kekaisaran yang lantainya licin oleh darah, rumah lelang yang patah di bawah cahaya perak, dan dirinya sendiri dalam jalan lama yang selalu memilih memotong seluruh jala
Rong Tian membiarkan darah itu keluar sampai warnanya berubah. Ketika yang menetes tak lagi hitam pekat, ia mulai mencabut jarum satu per satu, lalu menepuk ringan sisi lutut dengan dua jari.“Turun,” katanya pada istri Zhou Kaimin.Perempuan itu menatapnya seolah tak paham. Zhou Kaimin pun ikut membeku satu tarikan napas.“Turun,” ulang Rong Tian. “Kalau kaki ini tidak kau pakai sekarang, rasa takutmu sendiri yang akan menutupnya lagi.”Qingfeng turun ke sisi meja, membantu memegang siku perempuan itu. Wang Fu tetap berdiri di pintu, tapi matanya kini tak lagi di lorong, melainkan pada kaki kiri yang perlahan turun menyentuh lantai batu.Tumit itu gemetar. Lututnya goyah, dan napas perempuan itu pecah dua kali.“Berdiri,” kata Rong Tian.Ia berdiri.Awalnya cuma setenga
Zhou Kaimin berdiri di sisi meja, diam seperti patung yang dipaku dari rasa malu. Dari luar, Zhao Meiyan menyandarkan siku di kusen jendela rumah teh dan berkata dengan suara cukup keras untuk didengar separuh lorong, “Bagus juga. Orang-orang yang mengaku tabib itu rupanya cuma menjual api untuk menutup es.”Pedagang kulit mendecih, tapi kali ini tak banyak orang ikut menertawakannya. Mereka sedang melihat kulit paha yang menghitam, mencium bau obat lama yang asam, dan menyadari bahwa perempuan itu memang bukan pura-pura sakit.“Apa masih bisa diselamatkan?” tanya Zhou Kaimin akhirnya.Rong Tian tidak memandangnya. “Bisa.”Satu kata itu membuat beberapa orang di luar otomatis bergerak lebih dekat. Rong Tian mengangkat kepala sedikit dan menatap Wang Fu.“Tutup garis depan. Siapa pun yang mendorong terlalu dekat, lempar keluar.”
Rumah Zhou Kaimin tidak jauh dari blok utara, tetapi malam itu jalan yang ia tempuh terasa lebih sempit daripada biasanya. Ia baru sampai di halaman samping ketika pelayan tuanya berlari keluar dengan wajah pias.“Nyonya kambuh lagi.”Zhou Kaimin masuk hampir menabrak kusen. Di dalam ruang kecil berlampu redup, istrinya terbaring miring dengan tangan mencengkeram kain alas, wajahnya putih kehijauan, dan napasnya terputus-putus seperti ada es tipis yang digesekkan di dalam dada.Kaki kirinya yang selama bertahun-tahun tak bisa digerakkan kini kejang hebat. Dari pinggang bawah sampai paha, kulitnya tampak menggelap di satu garis yang membuat pelayan tua di pojok hampir menangis.“Sejak kapan,” tanya Zhou Kaimin sambil meraih pergelangan istrinya.“Baru setengah dupa,” jawab pelayan itu dengan suara bergetar. “Awalnya Nyonya bilang pinggangn
Lampu minyak di rumah teh Wu Laosan diturunkan setengah, dan teh krisan di atas meja bundar sudah keburu dingin sebelum satu pun orang di dalam ruangan itu bicara jujur.Mereka datang dengan wajah seolah sedang memikirkan keselamatan Pasar Hantu Shiqiao, padahal masing-masing hanya sibuk menghitung dagangan, jalur, dan muka sendiri.Zhou Kaimin duduk paling dekat jendela dengan punggung tegak, tetapi urat di pelipisnya sudah lama bergerak. Di kiri kanannya ada penarik iuran lorong, pemilik kios obat liar, pedagang kulit, pengelola gudang kecil, dan dua wakil blok yang semalam paling cepat menyuruh Balai Pengobatan Bulan Patah ditukar demi ketenangan.Zhao Meiyan berdiri dekat tiang, kipas lipatnya diketuk-ketukkan ke pergelangan tangan. Wu Laosan tak ikut duduk di meja rapat, hanya menumpu siku di balik meja teh sambil menuang cangkir demi cangkir seperti orang yang tak peduli, padahal telinganya menangkap semua.
"Pameran tiga hari lagi. Enam faksi besar sudah bergerak ke wilayah pameran. Klan Bai sudah mengirim orang. Sekte iblis sudah ada di Ashgar sejak dua minggu lalu meski dengan nama yang berbeda."Rakhim tidak langsung menjawab. Matanya menatap cakrawala yang mulai berubah warn
Mo Jian menatap Rafiq Mahrun sebentar, lalu menjauhkan tangannya dari sisi tubuh dan melipat keduanya di depan dada dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat jelas."Pelindung Ketiga Ordo Api Terang sangat waspada," kata Mo Jian."Di ruangan yang beris
Gu Zhi yang berdiri beberapa langkah di belakang Mo Jian mendengar pertukaran itu. Sudut bibirnya bergerak sedikit ke atas, seperti seseorang yang menyaksikan permainan anak-anak dan merasa terhibur oleh betapa mudahnya mereka digerakkan.Ku Zhen duduk di atas batu pasir kecil dengan tangan bersila
Segel Bara Langit tahap kedua tidak memandang siapa yang berdiri di bawahnya.Tekanan kubah panas itu menghimpit rata, dari pimpinan sekte hingga murid kelas dua, dari Enam Pelindung Ordo Api Terang hingga pengamat yang berdiri di tepi dataran. Semua merasakannya di dada. Semua merasakannya di meri







