Se connecterRong Tian mengangguk kecil. “Dan saat kau menoleh ke sana, ia sudah ada di panggung.”Pelayan itu menutup mata. Ia tak sanggup membantah.Kerumunan elit di ambang mulai gelisah. Mereka yang tadinya bicara paling nyaring kini justru sibuk menatap sisi-sisi ruangan yang baru saja ditelanjangi di depan mereka.Penilai artefak tua yang sombong itu berdeham, lalu mencoba menyelamatkan muka. “Sekalipun itu benar, apa gunanya sekarang. Sepatu itu sudah diambil.”“Baru sekarang kau menyebut sepatu,” kata Rong Tian.Tua itu membeku.Rong Tian menatap ke bawah panggung. “Jadi kau sudah tahu apa yang hilang sebelum anak keluarga Guo menyebutnya.”Ruangan seketika lebih sunyi daripada duka. Mata orang-orang langsung pindah ke penilai tua itu, dan rasa malu yang tadinya milik Guo Shengyin bergeser ke waj
Seorang penilai artefak tua langsung mencibir. “Lidah anak muda zaman sekarang memang lebih cepat daripada matanya.”Rong Tian menoleh sedikit ke arahnya. “Kalau matamu benar-benar cepat, kau tak akan masih berdiri di luar sambil menebak bentuk luka rumah lelang dari asap yang sudah dingin.”Wajah tua itu langsung kaku. Pedagang kaya di sebelahnya menahan senyum, lalu buru-buru menurunkannya saat sadar dirinya juga termasuk target penghinaan tak langsung itu.Guo Shengyin memandang Rong Tian lama sekali. Ada marah, ada malu, ada harapan yang tak sudi mengaku dirinya berharap.“Aku bawa kau masuk,” katanya akhirnya. “Kalau mulutmu cuma penuh asap, kau keluar dari sini dengan darah.”“Kalau mulutku benar,” jawab Rong Tian, “maka yang berdarah harusnya bukan aku.”Panggung utama Rumah Lelang
Pembaca tersayang,Aku ingin minta maaf atas kekeliruan pada update tiga bab sebelumnya karena terjadi pengulangan. Saat ini naskahnya sudah direvisi, tetapi masih menunggu proses penyelesaian dan persetujuan dari pihak editor, yang rencananya selesai pada hari Senin.Terima kasih karena sudah tetap sabar menunggu. Bab yang akan tayang nanti adalah kelanjutan dari bagian cerita yang masih menggantung, jadi semoga penantian ini bisa terbayar dengan lebih baik.Sekali lagi, maaf dan terima kasih atas pengertiannya.++++Feng Wu Dalu tidak menyambut dengan abu singgasana. Ia menyambut dengan jalan-jalan bersih, kereta mahal, jubah sutra, dan wajah-wajah rapi yang terlalu keras berusaha tampak tenang.Namun justru itu yang membuat luka kota ini terasa berbeda. Kalau Xing Chen berbau kematian dan kekalahan yang dipaksa ditelan, Feng Wu berbau teh mahal, minyak ram
Rong Tian mencabut satu jarum di pinggang dan menggantinya dengan sudut yang berbeda. Begitu qi masuk lagi, darah hitam di baskom menetes lebih deras, kali ini bercampur serpih beku tipis yang membuat uap pucat naik ke udara.Bau logam dingin menyebar. Seorang lelaki di luar memalingkan wajah, seorang lain menutup hidung, dan dua orang yang tadi masih berdiri dekat kusen rumah teh mundur sekaligus seperti kaki mereka didorong dari bawah.Zhou Kaimin menatap semuanya tanpa berkedip. Ia sudah terlalu lama menahan aib ini, terlalu lama memilih jalan belakang, dan terlalu lama membiarkan tabib-tabib bodoh merusak tubuh istrinya demi menjaga wajahnya sendiri.Rong Tian menatapnya sebentar. “Kalau dari awal kau lebih selektif memilih tabib, perempuan ini tak perlu duduk tujuh tahun menunggu keajaiban murahan.”Wajah Zhou Kaimin mengeras. Tak ada bantahan yang bisa keluar dari mulutnya, dan just
Zhou Kaimin menutup matanya sesaat. Ia sudah menghabiskan perak, muka, dan kesabarannya untuk mencari tabib. Ada yang menusuk pinggang istrinya seperti sedang memaku daging, ada yang memberi rebusan panas sampai seluruh tubuhnya berkeringat lalu menyebutnya perbaikan, ada pula yang dengan angkuh menjual harapan hanya agar bisa membawa pulang bayaran lebih besar.Tak satu pun menyentuh akar penyakit.“Panggil tandu,” katanya.Pelayan tua itu ragu. “Tuan... kalau dibawa keluar sekarang, orang-orang akan tahu.”“Panggil.”Nadanya membuat pelayan itu tak berani bicara lagi. Tak lama kemudian, tandu kecil keluar dari rumah Zhou Kaimin melalui gang samping, ditutup kain gelap seadanya dan dibawa cepat menuju Balai Pengobatan Bulan Patah.Usaha itu sia-sia sejak langkah pertama. Pasar hantu hidup dari rahasia, tetapi justru karena
Lampu minyak di rumah teh Wu Laosan diturunkan setengah, dan teh krisan di meja bundar sudah keburu dingin sebelum orang-orang yang duduk di sekelilingnya benar-benar bicara inti persoalan.Mereka datang dengan wajah seolah sedang memikirkan keselamatan Pasar Hantu Shiqiao, padahal tiap kepala di ruangan itu hanya sibuk menakar untung, rugi, dan muka sendiri.Zhou Kaimin duduk paling dekat jendela dengan punggung lurus dan wajah kaku. Di kiri kanannya ada pedagang kulit, penarik iuran lorong, pemilik kios obat liar, pengelola gudang kecil, dan dua lelaki yang biasanya tak pernah bicara keras kecuali saat merasa aman berdiri di tengah kerumunan.Zhao Meiyan berdiri dekat tiang, kipas lipatnya diketuk pelan ke telapak tangan. Wu Laosan tidak ikut duduk di meja rapat, hanya menyandar di balik meja teh sambil menuang cangkir demi cangkir seperti orang tua yang malas ikut campur, walau telinganya menangkap setiap kata lebih b
Madam Lan menarik napas panjang dengan susah payah. Tubuhnya masih sangat tegang seperti papan kayu, tetapi keputusan sudah dibuat dengan tegas.Ia tidak bertanya lebih jauh tentang kalimat aneh tadi. Tidak mencoba memahami kata-kata yang melampaui akal sehat, tidak menyimpulkan apapun yang berbaha
Malam semakin dalam ketika Rong Tian melangkah keluar dari Paviliun Harta Karun Langit dengan tenang. Udara dingin menyapu wajah pucat, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore yang ringan.Langit gelap total tanpa bintang yang terlihat. Awan tebal menutupi bulan purnama, membuat kota tampak le
Pedang itu berhenti tepat di depan tenggorokan Lin Xuan dengan presisi sempurna. Jarak hanya satu inci yang sangat tipis, cukup dekat untuk merasakan hawa dingin dari logam tajam.Keringat dingin mengalir sangat deras di pelipis Lin Xuan. Matanya melebar penuh ketakutan yang sangat nyata dan melump
Rong Tian melangkah masuk melewati ambang pintu kayu phoebe merah dengan tenang tanpa tergesa. Jubah putih kasarnya yang sederhana dari kain katun kasar kontras tajam dengan kemegahan bangunan yang dihiasi ukiran naga berlapis emas, membuat beberapa kepala berjubah sutra menoleh dengan tatapan pena







