LOGINTerlempar ke dunia beastmen, Lin Xiao harus terikat dengan lima penguasa klan yang haus akan gairah demi menjalankan misi Sistem Kemakmuran Spesies. Di tengah perebutan wilayah dan insting liar yang posesif, ia terjebak dalam pusaran cinta erotis yang memanjakan tubuh dan jiwanya. Kini, sang designer terkenal harus belajar tunduk pada sentuhan buas para suami binatang yang tak pernah puas memilikinya.
View More“Di mana ini?”
Lin Xiao kemudian tersedak. Paru-parunya dipaksa menghirup udara yang begitu lembap dan kaya akan oksigen hingga kepalanya pening. Ia membuka mata dan segera disambut oleh pemandangan yang mustahil.
Tidak ada plafon minimalis atau lampu gantung mahal. Di atasnya, kanopi pohon raksasa setinggi puluhan meter menutupi langit, menyaring cahaya matahari menjadi berkas-berkas hijau yang redup.
Ia mencoba duduk, dan saat itulah ia menyadari kondisi tubuhnya. Tangannya yang biasanya memegang penggaris baja dan pena sketsa kini tampak lebih mungil dan sangat rapuh.
Kulitnya seputih porselen, bersih namun kini ternoda oleh lumpur hitam yang pekat. Ia hanya mengenakan selembar kain compang-camping yang nyaris tidak menutupi dadanya.
Lin Xiao ingat betul momen terakhirnya. Ia sedang berada di studio desainnya, menatap layar monitor yang menampilkan maket interior apartemen mewah di Beijing.
Kopi ketiga hari itu sudah dingin. Jantungnya tiba-tiba berdegup tidak keruan, seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas sebelum akhirnya rasa sakit tajam menghujam dadanya. Pandangannya menggelap di atas tumpukan cetak biru.
Dia, sang desainer interior perfeksionis yang tidak pernah membiarkan ada meleset satu milimeter pun dalam pekerjaannya, baru saja mati karena ambisinya sendiri.
Namun sekarang, ia tidak merasa mati.
Sret. Sret.
Suara gesekan dedaunan semak belukar membuat bulu kuduknya berdiri.
“Siapa di sana?” Lin Xiao memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak akar pohon yang mencuat dari tanah.
Bukannya jawaban, sebuah geraman rendah yang menggetarkan tanah terdengar. Dari balik bayang-bayang pohon purba, sesosok makhluk muncul.
Seekor serigala perak raksasa, ukurannya sebesar mobil SUV, dengan bulu yang berkilau tajam seperti bilah pedang di bawah cahaya hutan. Matanya yang berwarna emas dingin mengunci pergerakan Lin Xiao.
Lin Xiao membeku. Sebagai desainer, ia selalu bangga dengan kontrol dirinya, tapi di hadapan predator ini, logikanya runtuh. “Jangan... jangan mendekat,” bisiknya, meski ia tahu itu sia-sia.
Serigala itu melangkah maju. Tiap langkahnya tidak bersuara, menunjukkan dominasi yang mutlak. Jarak mereka kini hanya terpaut dua meter. Lin Xiao bisa mencium bau tanah, darah samar, dan aroma maskulin yang tajam dari napas sang predator.
[Peringatan: Detak jantung melampaui batas aman. Calon pasangan sedang melakukan penilaian,] suara mekanis itu kembali muncul.
“Diam! Apa pun kau, tolong diam!” jerit Lin Xiao dalam hati, tangannya mencengkeram tanah hingga kuku-kukunya kotor.
Serigala itu berhenti. Kepalanya miring, menatap Lin Xiao dengan tatapan yang anehnya terlihat... haus. Bukan hanya haus akan daging, tapi sesuatu yang lebih primitif.
Makhluk itu mendekat, moncongnya yang besar kini hanya beberapa inci dari wajah Lin Xiao. Hawa panas dari hidungnya menerpa kulit leher Lin Xiao yang terbuka.
“Kau mau memakanku?” tanya Lin Xiao dengan suara bergetar. Air mata ketakutan menggenang di sudut matanya. “Lakukan dengan cepat jika iya.”
Serigala itu mengeluarkan suara mendengus, seolah mengejek kepasrahan Lin Xiao. Tiba-tiba, tubuh raksasa itu mulai berkedut. Tulang-tulangnya berderak, otot-ototnya bergeser dan menyusut dalam proses yang mengerikan sekaligus mengagumkan.
Hanya dalam hitungan detik, serigala itu menghilang. Sebagai gantinya, seorang pria berdiri di hadapan Lin Xiao.
Pria itu bertelanjang dada, dengan bahu lebar dan otot-otot perut yang keras seperti pahatan batu. Rambut peraknya panjang berantakan, dan di matanya masih tersisa kilatan emas binatang buas. Atmosfer di sekitar mereka berubah seketika; dari ketegangan maut menjadi ketegangan seksual yang menyesakkan udara.
Lin Xiao menelan ludah, matanya tak sengaja memindai proporsi tubuh pria itu—garis ototnya, kekuatannya. Sebagai desainer, ia menghargai estetika, tapi ini terlalu berlebihan.
Pria itu berlutut di depan Lin Xiao, lalu menjepit tubuh kecil wanita itu di antara kedua lengannya yang kokoh. Ia menunduk, mengubur wajahnya di ceruk leher Lin Xiao, dan menghirup aroma kulitnya dengan dalam.
“Argh...” Lin Xiao merintih kecil saat merasakan ujung hidung pria itu yang dingin menyentuh kulitnya.
“Bau yang aneh,” suara pria itu berat dan serak, seperti gesekan logam. “Sangat manis dan sangat lemah.”
Lin Xiao mencoba mendorong dada pria itu, tapi tangannya justru terasa seperti menyentuh dinding beton yang panas. “Lepaskan aku. Siapa kau?”
Pria itu menarik kepalanya, menatap langsung ke mata Lin Xiao. Tangan besarnya yang kasar mencengkeram rahang Lin Xiao, memaksanya untuk terus menatap.
“Namaku Cang Yan. Dan aku tidak mencium bau tanda klan mana pun pada kulitmu,” gumamnya lalu ibu jarinya mengusap bibir bawah Lin Xiao yang bergetar, sebuah gerakan yang sangat posesif sekaligus mengancam.
“Apa artinya itu?” Lin Xiao bertanya, napasnya memburu.
Cang Yan menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. Tatapannya turun ke tubuh Lin Xiao yang hampir tidak tertutup kain, lalu kembali ke matanya dengan intensitas yang membuat Lin Xiao merasa telanjang sepenuhnya.
“Artinya, tidak ada pejantan yang melindungimu. Di hutan ini, betina tanpa tanda klan hanya punya dua pilihan nasib,” ucap Cang Yan lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Lin Xiao, hingga embusan napasnya membuat Lin Xiao merinding hebat.
“Jadi, beritahu aku, Orang Asing. Kau ingin menjadi milikku untuk kulindungi, atau tetap menjadi mangsaku untuk kukoyak?”
“Tetaplah di sana. Jika kau melangkah satu senti lagi, aku akan membiarkannya menggigit leherku!”Suara Lin Xiao melengking di antara pepohonan hitam yang membeku. Ia berdiri di tengah-tengah lingkaran ketegangan yang nyaris meledak. Di depannya, Cang Yan dan Fei Lian akhirnya berani menembus kabut, dengan raut wajah mereka penuh amarah dan kecemasan.Namun, di belakang Lin Xiao, sosok Mo Ye melingkar pelan. Ekor hitam raksasanya masih melilit pinggang Lin Xiao, tapi kepalanya terkulai di bahu wanita itu.“Lin Xiao, apa kau gila?” teriak Cang Yan, lalu cakarnya mencengkeram tanah hingga bebatuan hancur. “Dia itu monster! Dia buangan klan yang terkutuk! Kau akan mati karena racunnya sebelum matahari terbenam!”“Dia benar, Kecil,” Fei Lian menimpali dari dahan pohon di atas mereka, dan sayap emasnya bergetar hebat. “Ular tidak punya perasaan. Dia hanya akan melilitmu sampai tulangmu hancur. Kemarilah, aku akan membawamu ke langit yang hangat.”Lin Xiao tidak bergerak. Ia merasakan kulit
“Jangan bergerak, atau sesuatu yang lebih tajam dari pisau akan menembus kulitmu.”Suara itu bukan berasal dari mulut manusia, melainkan bisikan yang berdesis, merambat di udara yang lembap dan berbau amis. Lin Xiao membeku. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa mencekik kerongkongannya.Ia baru saja melangkah mundur saat merasakan sesuatu yang dingin, licin, dan luar biasa kuat melilit pergelangan kaki kanannya. Lilitan itu tidak kasar, namun tekanannya konsisten, mengunci pergerakannya di atas tanah hitam yang becek.“S-siapa di sana?” suara Lin Xiao bergetar hebat lalu menundukkan kepalanya dan melihat sisik-sisik hitam legam yang berkilat basah di bawah cahaya redup hutan kabut. Itu bukan akar pohon. Itu adalah bagian dari tubuh makhluk hidup yang sangat besar.“Sistem! Beri aku analisis! Apa ini?” jeritnya dalam hati.Lilitan itu semakin naik, kini melingkari betisnya hingga ke paha. Lin Xiao mencoba meronta, namun setiap gerakan yang ia buat justru memicu lilitan itu m
“Lepaskan dia, atau aku akan merobek sayapmu dari punggungmu, Fei Lian!”Geraman Cang Yan bukan lagi suara manusia. Itu adalah getaran rendah yang keluar dari tenggorokan seekor predator yang sedang menjaga wilayahnya.Ia berdiri dengan kaki kokoh, dengan otot-otot lengannya mengeras hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon purba. Di belakangnya, Lin Xiao mencengkeram kain compang-campingnya, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di ujung jari.Fei Lian, pria dengan rambut pirang pucat yang berkilau, hanya menanggapi dengan senyum tipis yang meremehkan. Mata kuningnya yang tajam tidak sedikit pun melirik ke arah Cang Yan; fokusnya terkunci sepenuhnya pada wajah pucat Lin Xiao.“Serigala tanah selalu begitu kasar,” suara Fei Lian halus, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.“Klan Elang tidak datang untuk berperang, Cang Yan. Aku datang untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik langit. Betina seindah ini tidak pant
“Jangan berani-berani menyentuhnya, Tua Bangka. Dia betinaku!”Suara Cang Yan menggelegar, memantul di dinding-dinding batu yang mengelilingi pusat pemukiman klan Serigala Perak. Suasana yang tadinya bising oleh bisikan-bisikan sinis mendadak senyap. Angin hutan yang membawa bau daging panggang dan tanah basah seolah berhenti berembus.Lin Xiao berdiri gemetar di samping pria itu. Matanya menyapu sekeliling, dan hatinya mencelos. Di ingatannya yang masih segar, ia terbiasa dengan lantai marmer yang mengilap, pendingin ruangan yang tenang, dan estetika minimalis yang bersih. Namun, apa yang ada di depannya sekarang adalah kebiadaban yang nyata.Rumah-rumah di sini hanyalah tumpukan batu dan kayu kasar yang diikat dengan akar pohon. Bau kotoran hewan dan amis darah segar menusuk hidungnya. Tidak ada kehalusan, tidak ada simetri. Hanya ada kekuatan kasar.“Betinamu?” seorang pria tua dengan jubah kulit beruang, sang Tetua Klan melangkah maju. Wajahnya penuh kerutan sedalam parit.“Cang Y
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.