Se connecterTerlempar ke dunia beastmen, Lin Xiao harus terikat dengan lima penguasa klan yang haus akan gairah demi menjalankan misi Sistem Kemakmuran Spesies. Di tengah perebutan wilayah dan insting liar yang posesif, ia terjebak dalam pusaran cinta erotis yang memanjakan tubuh dan jiwanya. Kini, sang designer terkenal harus belajar tunduk pada sentuhan buas para suami binatang yang tak pernah puas memilikinya.
Voir plusFajar menyingsing dengan warna ungu kemerahan yang membasahi langit samudra, menandakan hari perayaan agung yang telah dinanti oleh seluruh klan di Benua Binatang.Bahtera Kerajaan kini telah bersandar di dermaga utama istana daratan yang baru saja selesai dipugar. Ribuan rakyat dari berbagai klan, serigala, harimau, burung, naga, hingga klan rubah, berkumpul di alun-alun besar, menciptakan lautan makhluk yang bersorak menyambut era baru.Di dalam kamar rias, Lin Xiao berdiri di depan cermin kristal besar. Ia mengenakan gaun sutra berwarna putih gading dengan sulaman benang emas yang membentuk motif lima elemen. Jubah transparan yang menjuntai di bahunya berkilau tertimpa cahaya, membuatnya tampak seperti dewi yang turun dari khayangan. Riasan wajahnya tipis namun tegas, menonjolkan kecantikannya yang telah kembali pulih sepenuhnya pasca persalinan."Kau tampak sangat memukau, Ratu," suara berat Bai Ze memecah keheningan. Ia masuk mengenakan jubah kebesaran klan harimau, tampak gagah
Malam telah melarut di atas Bahtera Kerajaan, menyisakan keheningan yang tenang di bawah siraman cahaya bintang yang memantul di permukaan laut. Di dalam paviliun, suasana terasa begitu damai.Mo Ye baru saja selesai merapal mantra Aqueous Cradle, sebuah sihir air tingkat tinggi yang menciptakan gelembung-gelembung udara hangat di sekitar keranjang bayi.Kelima putra mereka, Ares, Bumi, Sky, Ocean, dan Zen telah terlelap dengan napas yang teratur, terbuai dalam tidur yang dalam dan dilindungi oleh aliran energi yang lembut.Lin Xiao bersandar pada tumpukan bantal sutra di ranjang kebesarannya. Ia melihat kelima suaminya duduk melingkar di sekeliling tempat tidur, menanggalkan aura kaku mereka sebagai raja. Ruangan itu kini hanya diterangi oleh pendaran kristal redup, menciptakan atmosfer yang sangat intim dan pribadi.“Akhirnya... mereka tidur juga,” bisik Lin Xiao sembari mengulurkan tangannya, yang segera disambut oleh genggaman hangat Cang Yan.“Anak-anak itu benar-benar menguras t
Aroma minyak cendana dan kehangatan dari tungku api yang dijaga Cang Yan memenuhi paviliun, menciptakan suasana yang begitu damai setelah keriuhan “perang popok” mereda.Lin Xiao duduk bersandar di tumpukan bantal sutra, bahunya tersampir kain halus yang siap disingkap. Di hadapannya, kelima raja binatang itu duduk melingkar di lantai, tidak ada lagi pedang atau wajah angkuh, yang tersisa hanyalah binar pemujaan saat mereka menatap wanita yang telah menjadi jantung bagi eksistensi mereka.“Kemarilah, Yan. Berikan Ares padaku lebih dulu. Dia yang paling keras berteriak,” ujar Lin Xiao lembut, merentangkan tangannya.Cang Yan menyerahkan Ares dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah menyerahkan permata paling rapuh di dunia. Begitu bibir mungil Ares menyentuh dada Lin Xiao, sang bayi langsung terdiam. Lin Xiao memejamkan mata, merasakan aliran energi panas yang samar, sebuah cinta yang membara dan penuh semangat dari putra sulungnya.“Dia menghisapnya seolah sedang menelan api,” bis
Langkah kaki logam yang sempat terdengar di balik pintu paviliun rupanya hanyalah awal dari kegilaan baru yang melanda Bahtera. Tiga hari telah berlalu sejak persalinan yang mengguncang dunia itu, dan Lin Xiao baru saja melewati fase kritis pemulihannya. Namun, kedamaian yang ia harapkan justru berubah menjadi komedi posesif yang melelahkan sekaligus menggelikan.Di sudut ruangan yang kini telah diperbaiki, Cang Yan berdiri tegak seperti patung api di depan keranjang bayi Ares Yan. Seorang pelayan senior mendekat dengan nampan berisi air hangat untuk memandikan sang pangeran kecil, namun langkahnya terhenti oleh geraman rendah yang keluar dari dada Cang Yan.“Berhenti di sana,” desis Cang Yan, matanya berkilat merah tajam. “Jangan berani-berani menyentuh kulitnya dengan tangan kasarmu itu. Aku yang akan memandikannya.”“Tapi Yang Mulia, Anda belum tidur selama dua hari—”“Aku tidak butuh tidur! Aku hanya butuh memastikan tidak ada kuman asing yang menempel pada putraku!” Cang Yan meny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires