INICIAR SESIÓNRibuan bayangan pedang muncul di udara, berkilat-kilat mematikan. Semua mengarah ke Rong Tian, lalu menyerang bersamaan seperti hujan mematikan yang tak terhindarkan.
Tapi Rong Tian hanya mengangkat tangannya lagi dengan gerakan santai, seolah mengusir lalat.
Cahaya putih meledak dari telapak tangannya, menyapu segala arah. Semua bayangan pedang lenyap sebelum sempat menyentuhnya, seperti salju yang meleleh terkena matahari yang terik.
Pemuda itu memuntahkan darah, tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat pasi karena syok.
“Mustahil!”
“Ayo serang lagi!”
Pemuda lain tidak menyerah, amarah membakar matanya. Ia mengeluarkan api merah terkuatnya dengan berteriak keras, suaranya memecah keheningan.
"Neraka Merah!"
Api merah membentuk naga besar dengan mata menyala, sebuah wujud yang mengerikan. Naga itu meluncur ke arah Rong Tian dengan mulut terbuka lebar, siap menelan mangsanya.
Rong Tian menatap naga api itu dengan tatapan datar, tanpa sedikit pun rasa takut.
Ia menghembuskan napas pelan, sebuah embusan yang tak terlihat. Cahaya putih keluar dari mulutnya, bertabrakan dengan naga api, dan naga api itu langsung padam, lenyap jadi asap hitam yang cepat menghilang.
Pemuda itu jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi. Napasnya terengah berat, seolah baru saja berlari maraton.
Satu per satu, tujuh pemuda itu kalah, tubuh mereka tak berdaya. Mereka semua terluka parah, beberapa sudah tidak bisa berdiri lagi, hanya bisa berbaring di tanah sambil memegangi luka mereka.
Hanya satu pemuda yang masih berdiri kokoh, menatap Rong Tian dengan mata dingin penuh kebencian.
"Kau kuat," ucapnya pelan dengan nada datar, suaranya dipenuhi dendam. "Tapi aku tidak akan mundur."
Ia menarik pedang panjang dari punggungnya, sebuah senjata yang tampak kuno dan mematikan. Pedang hitam dengan ukiran tengkorak di gagangnya, pedang pusaka Sekte Bayangan Yin yang terkenal mematikan.
"Teknik terlarang," ucapnya sambil mengangkat pedangnya tinggi, sebuah ritual yang mengerikan.
"Bayangan Kematian Abadi."
Energi iblis di tubuhnya meledak keluar, lebih pekat dan lebih gelap dari sebelumnya. Bahkan enam pemuda lainnya harus mundur karena tidak tahan dengan tekanan yang keluar dari tubuhnya.
Pemuda itu mengayunkan pedangnya dengan seluruh kekuatan, sebuah gerakan yang penuh keputusasaan.
Bayangan hitam besar muncul di belakangnya, bayangan berbentuk kelelawar raksasa dengan mata merah menyala. Sayapnya terbentang lebar menutupi langit, sebuah pemandangan yang menakutkan.
"Mati!" teriaknya dengan suara menggelegar, penuh amarah dan dendam.
Bayangan itu terbang ke arah Rong Tian dengan kecepatan luar biasa, mulutnya terbuka lebar menampakkan taring tajam.
Rong Tian menatap bayangan itu, ada kilatan aneh di matanya, sesuatu seperti nostalgia yang samar.
"Bayangan Kematian Abadi," gumamnya pelan. "Teknik yang aku ciptakan sendiri dulu."
Ia mengangkat tangan kanannya, kali ini dengan gerakan lebih terkontrol dan tenang.
Cahaya putih keluar dari tangannya, cahaya begitu terang hingga siang hari seolah jadi malam. Cahaya murni yang begitu kuat hingga membuat mata perih, memaksa semua orang memejamkan mata.
Cahaya itu menembus bayangan kelelawar raksasa, dan bayangan itu lenyap seperti tidak pernah ada.
Pemuda itu melebarkan matanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tidak mungkin," bisiknya dengan suara gemetar, tak sanggup menerima kenyataan.
Tapi sebelum ia selesai berbicara, cahaya putih itu sudah sampai di depannya.
Ia mencoba memblokir dengan pedangnya, pedang pusaka yang terkenal tidak bisa dihancurkan itu.
Pedang itu hancur menjadi serpihan kecil, berhamburan di udara. Dan cahaya putih itu menembus dadanya, menciptakan lubang sempurna.
Pemuda itu mundur beberapa langkah, terhuyung-huyung. Ia menatap lubang besar di dadanya dengan tatapan tidak percaya, darah mengalir deras dari luka itu. Lalu tubuhnya roboh ke tanah dengan mata masih terbuka lebar, menatap kosong ke langit.
Enam pemuda yang tersisa terdiam membeku, takut. Sangat takut, sebuah teror yang melumpuhkan. Tangan mereka gemetar hebat, tak sanggup memegang senjata.
Tapi mereka tidak mundur, dendam masih membakar jiwa mereka. Mereka masih punya dendam yang harus dibalas.
"Maju!" teriak salah satu dari mereka dengan suara bergetar, mencoba mengumpulkan sisa keberanian. "Kita bunuh dia bersama!"
Enam pemuda itu menyerang lagi, kali ini benar-benar bersamaan tanpa koordinasi. Tidak ada strategi, tidak ada teknik hebat, hanya serangan brutal dari segala arah dengan amarah dan putus asa yang membabi buta.
Rong Tian menghela napas panjang, sebuah desahan yang tak terdengar.
Ia menggerakkan kedua tangannya dengan tenang, sebuah tarian yang anggun namun mematikan. Cahaya putih meledak dari seluruh tubuhnya, cahaya itu menyebar ke segala arah seperti gelombang kejut yang tak terbendung.
Lima pemuda terlempar jauh, tubuh mereka menghantam pohon dengan keras. Tulang patah, darah keluar dari mulut dan hidung mereka, mati seketika.
Hanya satu pemuda yang masih hidup, tapi tubuhnya sudah terluka sangat parah. Ia jatuh berlutut sambil batuk darah, napasnya terengah berat.
Ia menatap Rong Tian dengan tatapan penuh kebencian, sebuah api dendam yang tak padam.
"Kau siapa sebenarnya?" tanyanya dengan suara lemah, nyaris tak terdengar.
Rong Tian menatap dia dengan tatapan datar, tidak menjawab.
Pemuda itu tertawa lemah, tawa yang terdengar menyedihkan dan putus asa.
"Tidak penting," bisiknya, menyerah pada nasib.
Ia mengangkat tangan kanannya dengan susah payah, di tangannya ada belati kecil yang masih tersembunyi. Dengan kekuatan terakhir yang tersisa, ia melempar belati itu ke arah Rong Tian.
Belati itu terbang cepat, mengarah langsung ke jantung Rong Tian.
Rong Tian tidak menghindar, tubuhnya tetap tegak. Ia hanya menatap belati itu dengan tatapan datar dan acuh.
Belati itu mengenai dadanya.
Tapi tidak menembus, sebuah keajaiban yang tak terduga. Bunyi logam beradu terdengar nyaring, belati itu menghantam dada Rong Tian seperti menghantam baja yang tak tertembus.
“Tak!” lalu patah di tengah, pecahannya jatuh ke tanah dengan bunyi ringan.
Tidak ada darah, tidak ada luka, bahkan jubah putihnya tidak robek sedikit pun.
Pemuda itu melebarkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Belatinya yang terbuat dari besi hitam pusaka itu patah begitu saja.
"Tidak mungkin," bisiknya dengan suara gemetar, sebelum jiwanya meninggalkan raga.
Lalu tubuhnya roboh ke samping, mati dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya.
Rong Tian menatap pecahan belati di tanah, sebuah bukti kekuatan yang tak masuk akal. Ia mengangkat tangannya, menyentuh dadanya sendiri di tempat belati tadi menghantam.
"Belati itu patah," gumamnya pelan dengan nada heran.
Ia merasakan dadanya, tidak ada rasa sakit sama sekali, tidak ada bekas benturan. Seolah belati itu hanya menyentuh batu, tak meninggalkan jejak.
"Tubuhku sekeras ini?" bisiknya sambil menatap tangannya sendiri, sebuah pertanyaan yang penuh keheranan.
Ia tutup mata sebentar, merasakan aliran qi murni di tubuhnya. Qi itu mengalir tenang, tapi ia bisa rasakan kekuatan luar biasa di dalamnya, kekuatan yang jauh melebihi perkiraannya.
"Kultivasiku," gumamnya sambil membuka mata perlahan, "tidak berkurang sama sekali. Bahkan mungkin lebih tinggi dari sebelumnya."
Ia menatap sepuluh mayat yang berserakan di sekelilingnya, pemandangan yang mengerikan. Sepuluh pemuda yang tadi masih hidup dan penuh nafsu, sekarang sudah jadi mayat dingin.
"Tapi aku tidak paham cara menggunakan qi murni ini dengan benar," bisiknya sambil mengepalkan tangannya. "Aku hanya menggerakkan tangan dengan asal, dan hasilnya terlalu dahsyat. Aku hampir tidak bisa kontrol kekuatannya."
Ia diam sebentar, menatap tangannya dengan ekspresi serius.
"Aku harus mempelajari seni beladiri aliran putih," gumamnya dengan nada pelan tapi penuh tekad. "Teknik kultivasi aliran lurus. Hanya dengan itu aku bisa menyesuaikan dengan energi qi yang kumiliki sekarang."
Ia menatap simbol kelelawar merah di jubah salah satu mayat, sebuah tanda yang kini tak lagi berarti. Ada perasaan aneh di dadanya, bukan sedih, bukan marah, tapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan.
"Mereka memakai nama Sekte Bayangan Yin," bisiknya. "Tapi mereka tidak tahu apa arti nama itu sebenarnya."
Ia mengepalkan tangannya erat, sebuah tekad baru muncul.
"Apa yang sebenarnya terjadi selama aku tidak sadar?"
Bersambung
Madam Lan mengangkat kepala lebih tinggi. Mata menatap Rong Tian dengan tatapan yang masih gemetar."Kamu tahu siapa saja pemimpin sekte iblis terdepan yang tewas di tanganku," lanjut Rong Tian dengan nada yang sedikit lebih tegas.Aula bergetar secara psikologis. Tidak ada gempa fisik, tetapi setiap orang merasakan tekanan yang tidak terlihat."Sebagai orang yang menguasai informasi Jianghu, kamu pasti tahu."Madam Lan menarik napas yang terputus-putus. Ia tahu. Ia sangat tahu.Xu Ying Ming, pemimpin Sekte Iblis Teratai Bulan Perak, mati. Hei Zongyuan, pemimpin Sekte Bayangan Yin, mati. Persekutuan Bulan Hitam, organisasi pembunuh bayaran terbesar di ibu kota, dihancurkan.Semua oleh satu orang. Tuan Berjubah Putih.Rong Tian melangkah maju satu langkah. "Jika aku ingin, Paviliun Harta Karun Langit bisa aku rata tanahkan hanya sekali jentikan jari!"Suaranya tidak keras. Tidak ada teriakan, tidak ada ancaman dramatis. Hanya pernyataan fakta yang dingin.Tetapi setiap orang di aula it
Jubah sutra hijau giok Madam Lan yang sangat mahal terseret di lantai, kusut dan kotor oleh debu. Ujung jubah basah oleh air mata dan darah yang menetes tanpa henti."Mohon ampun untuk ponakan hamba yang bodoh," suaranya keluar sangat gemetar dari bibir yang masih menempel di lantai dingin. "Ia layak mati seribu kali dengan cara paling menyakitkan untuk penghinaan yang dilakukannya kepada Tuan Yang Mulia."Napasnya tersengal sangat hebat, terdengar sangat jelas di aula yang sunyi total. Punggung naik turun tidak teratur seperti orang sekarat, menunjukkan betapa sulitnya bernapas dalam posisi kowtow yang sangat hina itu."Tetapi hamba memohon... hamba mohon dengan sangat pada belas kasihan Tuan... mohon belas kasihan Tuan yang Mulia dan Agung."Tubuhnya bergetar sangat hebat dalam posisi menyembah itu. Gemetar seperti daun kering di badai dahsyat, tidak bisa dikendalikan sama sekali oleh kehendak.Air mata terus mengalir tanpa henti, bercampur dengan darah dari dahi yang pecah parah. G
Madam Lan berteriak dengan suara yang pecah total tanpa kontrol. Tidak ada ketenangan yang biasa, tidak ada kontrol sama sekali atas emosi, hanya ketakutan murni yang meledak keluar tanpa bisa ditahan.Ia melangkah maju dengan tubuh gemetar hebat, menempatkan dirinya di antara Lin Xuan dan Rong Tian. Gerakan itu bukan perlindungan berani dari bibi yang sayang, tetapi tindakan sangat putus asa dari orang yang sudah kehilangan akal sehat sepenuhnya.Tangannya gemetar sangat hebat di samping tubuh yang kaku. Jari-jari bergetar tidak terkendali seperti daun kering, keringat mengalir sangat deras di pelipis meski udara tidak panas sama sekali, membasahi leher putih dan punggung yang basah."Tuan Berjubah Putih," katanya dengan suara yang bergetar sangat tidak terkendali seperti gemetar kedinginan. Setiap kata keluar dengan sangat susah payah, seperti tenggorokan yang tertutup rapat oleh ketakutan yang melumpuhkan seluruh tubuh."Mohon... mohon maafkan ketidaksopanan ponakan hamba yang sang
Pedang itu berhenti tepat di depan tenggorokan Lin Xuan dengan presisi sempurna. Jarak hanya satu inci yang sangat tipis, cukup dekat untuk merasakan hawa dingin dari logam tajam.Keringat dingin mengalir sangat deras di pelipis Lin Xuan. Matanya melebar penuh ketakutan yang sangat nyata dan melumpuhkan.Napasnya terputus-putus tidak teratur seperti orang tenggelam. Kaki gemetar hebat, hampir ambruk ke lantai, tetapi tubuh terlalu takut untuk bergerak sama sekali.Kerumunan tidak berani bernapas terlalu keras. Semua mata tertuju pada ujung pedang yang bergetar kecil di udara seperti ular berbisa.Rong Tian tetap diam tanpa ekspresi apapun. Ia tidak mengangkat tangan untuk bertindak, tidak mengeluarkan suara ancaman, hanya berdiri di sana dengan tatapan dingin yang kosong.Semua orang di aula yang ramai itu kini mengerti dengan sangat jelas. Orang berpakaian putih kasar ini sama sekali bukan orang biasa yang bisa diremehkan.Ujung pedang itu bergetar kecil di depan tenggorokan Lin Xuan
Lin Xuan mendengar bisikan itu dan senyumnya melebar sangat puas. Ia merasa didukung penuh oleh massa yang memihaknya. "Dengar itu?" katanya dengan nada sangat puas seperti pemenang pertandingan."Semua orang tahu Anda bukan siapa-siapa yang penting. Keluar sebelum saya panggil penjaga untuk menyeret Anda," ancamnya sambil mengangkat dagu tinggi dengan sikap angkuh maksimal.Rong Tian masih tidak menjawab sama sekali. Tatapannya tidak berubah walau sedikit, tubuhnya tidak bergerak seperti patung giok.Lin Xuan tersinggung sangat berat karena diabaikan. Diabaikan di depan umum membuatnya merasa dipermalukan parah. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, tangan terkepal erat sampai buku-buku jari memutih."Baik. Kalau Anda tidak mau pergi dengan baik-baik," katanya sambil berbalik ke arah lorong dengan gerakan dramatis. "Penjaga!"Lima pria berbaju seragam coklat tua dari kain katun tebal muncul dari pintu samping. Mereka adalah penjaga keamanan paviliun, petugas yang ditugaskan menjag
Aula utama Paviliun Harta Karun Langit dipenuhi keramaian yang teratur seperti pasar istana. Kultivator berjubah sutra berwarna-warni dan pedagang kaya berkeliling di antara etalase jade putih dan gulungan kuno yang disegel lilin merah.Lampion sutra merah berjajar rapi di sepanjang pilar kayu cendana tua. Cahaya kuning hangat memantul di lantai batu giok putih yang dipoles halus, menciptakan kilauan yang menenangkan mata seperti permukaan danau.Lonceng angin kecil dari perunggu berbunyi halus di sudut-sudut aula. Suaranya lembut, berirama seperti air mengalir, seperti musik yang mengalir tanpa henti dari instrumen guqin.Di meja-meja transaksi yang terbuat dari kayu rosewood tua, pedagang dan pembeli berbicara dengan nada rendah penuh kehati-hatian. Uang Batu Energi berkualitas tinggi berpindah tangan, gulungan informasi rahasia diserahkan dalam amplop sutra tertutup rapat.Suasana tertib seperti upacara istana. Tidak ada keributan yang mengganggu, tidak ada teriakan kasar, hanya bi







