MasukKapal Master Seo Hwan tiba-tiba terangkat.Bukan perlahan.Seluruh badan kapal terlontar beberapa chi ke atas seolah ada tangan raksasa yang mendorongnya dari bawah laut. Air di sekelilingnya terbelah dan jatuh kembali seperti hujan.Sesaat kemudian kapal itu jatuh kembali ke permukaan.Benturannya keras.Papan-papan kayu berderak dari setiap sambungan. Suaranya terdengar sampai puluhan langkah di permukaan laut. Tiang layar retak di bagian tengah dengan bunyi kering yang panjang.Beberapa tali layar terlepas.Master Seo Hwan menggenggam sisi kapal.Seluruh tulangnya bergetar dari tekanan yang menjalar melalui badan kapal. Getaran itu naik dari papan kayu ke telapak kakinya, lalu ke meridian tubuhnya.Napasnya terpotong selama beberapa detik.Darah di dadanya terasa berputar.
Takeda Raigen menggenggam tiang kapal dengan satu tangan.Tubuhnya menyerap guncangan itu tanpa bergeser.Meridian di tangan kanannya terasa panas.Bukan panas dari teknik yang berhasil.Panas dari Qi yang dipaksa keluar terlalu cepat oleh zona.Dari posisi mundurnya, di kejauhan arah selatan, ia melihat siluet kapal kecil lain.Kapal itu juga terdorong mundur.Gerakannya hampir identik.Jaraknya terlalu jauh untuk melihat lambang.Namun pria yang berdiri di haluan kapal itu tidak perlu lambang untuk dikenali."General Kang Baekryong," kata Takeda Raigen pelan.Lebih kepada dirinya sendiri."Ia mengalami hal yang sama."Fujita mengikuti arah pandangannya.Ia melihat kapal kecil di selatan.
Energi di dalam zona tidak bergerak seperti arus laut biasa yang mengalir ke satu arah.Ia berputar.Tidak hanya di permukaan. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas sekaligus. Pusaran kecil muncul dan hilang di berbagai titik, saling bertaut seperti bagian dari satu sistem raksasa yang sudah berumur sangat tua.Permukaan laut terlihat tenang dari jauh.Namun di bawah kabut, energi itu berputar tanpa henti.Seperti ribuan roda kecil yang bekerja bersama dalam satu mekanisme yang tidak terlihat."Ini bukan formasi buatan," katanya pelan kepada dirinya sendiri.Tangannya segera menarik Qi yang ia kirim ke dalam zona sebelum pusaran di depannya menyerapnya lebih jauh."Terlalu besar," gumamnya.Ia menatap pusaran yang berputar di bawah kapal."Dan terlalu tidak beraturan untuk
Kapal nomor tiga berbalik.Ketegangan turun satu tingkat.Namun tidak hilang.Dari tepi Pulau Karang Merah, Zhao Wuchen menyaksikan semua itu dengan tangan terlipat di dada.Di sebelahnya, Master Lan Qiyue berdiri diam.Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja melihat percikan api mendekati bubuk mesiu."Hampir," kata pemimpin regu Zhao Wuchen.Nada suaranya masih tegang."Hampir sekali.""Hampir akan menjadi semakin dekat setiap hari," jawab Zhao Wuchen pelan.Ia menatap dua armada yang kini hanya menjadi bayangan di kejauhan."Sampai suatu hari seseorang tidak cukup sabar."Pemimpin regu itu menghela napas."Kalau kedua kekaisaran itu akhirnya saling tembak di sini..."Ia menelan ludah.
"Mereka pergi ke mana sebenarnya?" tanya nelayan muda itu.Nelayan tua di sampingnya tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir teh dan menghirupnya perlahan sebelum berbicara."Ke tempat yang tidak seharusnya dimasuki kapal perang," katanya akhirnya.Ia menatap laut yang tertutup kabut tipis di kejauhan."Dan mereka tahu itu."Nelayan muda itu mengerutkan kening."Kalau tahu, kenapa tetap pergi?"Nelayan tua itu menghela napas pendek."Karena yang di seberang juga tahu dan tetap pergi."Ia menunjuk samar ke arah laut."Begitulah cara dua kekaisaran bekerja."Ia meneguk tehnya lagi."Mereka tidak bisa berhenti sebelum yang satunya berhenti lebih dulu."Beberapa nelayan lain di warung itu ikut mendengar percakap
"Aku mengirim orang yang cukup kuat untuk pengintaian," balas Kaisar dengan nada keras.Ia menatap Takeda Raigen lurus."Dan tidak cukup penting untuk menjadi alasan perang jika sesuatu terjadi."Ia berhenti sebentar."Kau siapkan dirimu untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari pengintaian."Takeda Raigen tidak menjawab.Namun ia memahami satu hal.Sejak sebelum rapat ini dimulai, Kaisar sudah memikirkan skenario yang jauh lebih besar dari sekadar mengirim kapal pengintai.Di Cheonsang, surat dengan isi hampir sama tiba dari arah yang berbeda.Kaisar Seonghwa Jinmu membacanya sambil duduk.Ia membaca perlahan. Setiap baris diperiksa dengan tenang.Ketika selesai, ia menutup surat itu dan meletakkannya menghadap bawah di meja.Ia memang
Bola energi gelap itu tiba-tiba terpental balik dengan kecepatan dua kali lipat, meluncur kembali ke arah Han Yelou yang masih berdiri dengan tangan terangkat.Wraaak!Bola energi itu menghantam dada Han Yelou dengan kekuatan penuh. Tubuhnya terlempar ke belakang seperti layangan putus, melayang di
Rong Tian menatap tangannya sendiri, sebuah tangan yang tampak muda dan tanpa cela. Tangan ini, yang kini terasa asing, telah melintasi lima abad tanpa ia sadari sedikit pun.Tubuh yang ia tempati sekarang telah melompati waktu begitu jauh, sebuah kenyataan yang sulit dicerna. Perasaan disorientasi
Rong Tian masih berdiri diam. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Ia hanya menatap Elder itu dengan tatapan datar, seperti menatap sesuatu yang membosankan.Di dalam hatinya, ia bahkan sedikit merasa lucu."Elder Jiwa Muda awal," gumamnya dalam hati sambil mengamati aura yang mengepul dari tu
Balai utama Desa Heishan terasa seperti sebuah kuburan yang dingin, bukan tempat pertemuan para ahli.Udara di dalamnya berat, dipenuhi keheningan yang menyesakkan, hanya sesekali dipecahkan oleh desahan samar atau gesekan kain.Suara pertemuan yang seharusnya penuh semangat justru terdengar sepert







