LOGINDiriku hanyalah seorang wanita kuliahan, yang hanya tinggal bersama dengan adikku. Tiba-tiba, angin misterius mengelilingi kami dan membuat pandangan kami seketika gelap. Saat terbangun, kami merasuki kedua putri Duke Roseary. Aku menjadi karakter Viyuranessa Roseary. Ia merupakan karakter antagonis di sebuah cerita novel yang ku baca sebelumnya. Ia akan dihukum mati oleh tunangannya, ialah Sang Putra Mahkota. Kami harus menghadapi seorang pangeran yang terkenal kejam di kerajaan ini. Dengan pengetahuan bahkan kemampuanku ini, akankah aku berakhir sama seperti Viyuranessa Roseary di cerita itu? Di ruang dan waktu yang berbeda dari sebelumnya ini, akankah ceritaku akan lebih baik? Atau malah sebaliknya, kah? Akankah perasaanku ini akan tetap sama.... By: _yukimA15 >This is My Story<
View MoreCerita novel yang berlatarkan seperti abad pertengahan Eropa. Mata biru berkilauan memperhatikan lapangan yang begitu luas di depannya. Lapangan yang menyilaukan matanya ini berada di dalam area akademi kerajaan bernama Diamondver. Ia sekali-kali melihat para eksekutor yang mana mereka ialah prajurit dari istana. Mereka sibuk melakukan segala persiapan tanpa ada rasa semangat tergambar di wajah mereka. Pekerjaan yang bagi mereka begitu lebih lambat dan terasa sangat berat dari biasanya.
'Tentunya berat, kan....' Para bangsawan muda bahkan akademisi yang menonton, jauh berada di tepi lapangan. Tiada yang berani bergerak leluasa mendekati area tengah. Suasana mencekam begitu dingin, mereka berkeringat dingin. 'Rasa takut itu....' Seorang wanita remaja berambut perak kebiruan yang panjangnya hingga melewati pinggulnya, berdiri di atas panggung yang didirikan di tengah lapangan akademi. Guillotine tampak jelas oleh mata blue diamond miliknya. 'Pilihan ini yang bisa ku lakukan....' Menunjukkan ekspresinya yang dingin. Tatapannya yang datar mengarah pada seorang Pangeran bersurai hitam yang seumuran dengannya. Tatapan tajam dari mata iris Red Diamond pria tersebut, tidak lepas dari pandangan wanita dingin tersebut padahal terdapat wanita berambut pendek hijau toska di belakangnya yang melihatnya dengan iba. 'Kebencian itu....' Usai melaksanakan pekerjaan mereka atas perintah Sang Pangeran, para eksekutor mulai mundur dan menjauh dari panggung atas perintah pria berpangkat lebih tinggi dari mereka. Langka yang begitu berat dikala mereka menjauhi tempat tersebut. 'Ku harap setelah ini segera berakhir....' Gadis yang akan berakhir di guillotine, diminta mengucapkan ucapan terakhir. Mata birunya masih mengarah pada Pangeran yang berjarak sekitar dua langkah darinya. Tatapan dinginnya mulai berubah menjadi lembut. Ia bahkan tersenyum lebar. "Aku mencintaimu." "Aku berharap atas kebahagiaanmu." Bilah tajam dari guillotine mulai ditarik oleh gravitasi bumi. Mempertahankan senyumannya dengan perasaan damai dikala, ia mulai menutup matanya. *** "Cerita yang menyedihkan...." Aku sedang berada di dalam kamarku. Memeluk bantal dan menempelkan daguku pada bantal tersebut. Aku memikirkan kejadian novel yang ku baca Sebelumnya. Adik perempuanku memasuki kamarku. "Kak Yui! Bukankah kemarin kakak punya novel itu?! Pinjam!" "Sudah hilang," ucapku singkat. "Hah!?? Padahal, bukankah buku itu masih baru? Baru saja aku mau membacanya lagi! Makanya jangan ditaruh sembarang tempat!" Adikku malah menceramahkan diriku. Aku tahu kamarku ini begitu berantakan dan tidak enak dipandang olehnya. Selagi sudah bersih dan cukup nyaman ditempati oleh diriku sendiri, setidaknya aku masih ingat jelas barang-barang yang ku tempati dimana. "Terserah aku mau ngapain!" Aku merasa kesal karena mood ku yang jelek. Aku melempar bantal yang ada di pelukan ku ke wajah adikku. "Beh... Ya sudahlah, aku akan pinjam ke temanku lagi!" Adikku yang bernama Azu keluar dari kamarku. "...." Aku terdiam, merebahkan diriku di ranjang dengan raut wajahku yang murung. Iris mata bergerak mengarah ke luar jendela memperhatikan langit yang dihiasi penampakan gedung-gedung pencakar langit, begitu cerah. "Bodoh! Bodoh sekali diriku ini!" Menghembuskan nafas keresahan yang begitu panjang, wajahku kemudian naik hingga cahaya mentari mencerahkan wajahku yang sebelumnya suram. Dengan sedikit senyuman tipis, aku berpikir, 'Sesulit apapun itu, mana mungkin aku memilih pilihan bodoh sepertimu..., Viyuranessa Roseary.' *** Diriku hanyalah seorang wanita kuliahan yang hanya tinggal bersama dengan adikku yang umurnya tidak terlalu jauh dariku. Kami tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Menjalani kehidupan seperti biasanya, kami terfokuskan pada hidup dan mengejar karir. Perasaan yang menginginkan pasangan pun terabaikan, meskipun.... 'Cinta bertepuk sebelah tangan ternyata cukup menyakitkan.' 'Cukup pikirkan kehidupan kami dimasa depan.' 'Aku tidak ingin kehidupan kami berakhir buruk seperti cerita itu...' Aku teringat dengan karakter antagonis di sebuah cerita novel yang memiliki sifat yang banyak kemiripan denganku. 'Kisah cintanya lebih sulit dariku... Daripada bertahan pada cinta yang bertepuk sebelah tangan, lebih baik menyerah dan mencari kebahagiaan yang lebih layak, kan?' Aku yang sedang memandang kue yang sengaja ku biarkan di hadapanku agar suhunya turun, pikiranku buyar dengan ucapan Azu, "Bagaimana kalau kita tambahkan Cheese Cream di tengah kue ini, kak Yui?" "O, owh... Sudah ku katakan aku akan membuat Strawberry Shortcake. Kalau kamu menambahkannya, ya sudah beda lagi judulnya! Daripada mikir yang lain, lebih baik kamu potong saja stroberinya! Bukankah kamu sendiri yang tidak suka dengan cheese cream?" "Bercanda doang, kak Yui sih bengong daritadi." Aku menatap adikku dengan ekspresi datar karena ia memang sering memberikan saran aneh kepadaku. Azu sengaja mengedipkan matanya dengan wajah polosnya kepadaku. Iris mataku terlihat setengah bagian dan kembali menatap Spongecake yang sudah diletakkan Whipping Cream di atasnya. Tanganku segera menganggkat pisau oles untuk merapikan lapisan itu sebelum stroberi-stroberi yang menggoda itu, menimpanya. Sebelum pisau oles itu menyentuh cream itu, tiba-tiba pisau oles terjatuh dari tanganku dan jatuh ke lantai. 'Tanganku?' Aku melihat tangan dan tubuhku terlihat tembus pandang, sehingga aku bisa melihat kue dibalik tanganku dengan jelas. "Azu! Kenapa tubuhku-!" Aku juga melihat tubuh saudariku bersinar dan tembus pandang. Seolah-olah, Azu seperti sebuah hologram yang akan menghilang. "Kak Yui! Apa yang terjadi!!?" Azu mulai panik. "Aku tidak mau mati!! Kuenya belum dimakan!" 'Bukan saatnya memikirkan kuenya, bodoh!' tatapanku malas melihat tingkah adikku. "Nggak lucu, Azu." "Tolong!" Aku dan Azu terkejut saat mendengar tiba-tiba ada suara yang berbicara di kepala kami. "Apakah kakak yang bicara tadi?" "Bukan!" "Ya ga perlu ngegas juga, kak." "Bukannya kamu sendiri yang panik dari tadi." "Iyakah? Hehehe." Suara tersebut mengatakan lagi, "Tolong! ... Ku mohon! Selamatkan...!" Tiba-tiba banyak angin yang mengelilingi kami hingga disekitaran kami bergerak. Saat itu, seseorang membunyikan bel apartemen yang kami tempati. "HUWAAHH!!! Kak Yui! Tubuh kita semakin transparan!" Mendengar suara Azu yang keras, seseorang yang membunyi bel tersebut segera mendobrak pintu tersebut. Saat itu juga, aku mendengar dobrakan pintu tersebut. "Ya, aku tahu! Dan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan!" Lalu dengan santai aku mengatakan, "Pasrah saja." "Beh," Azu tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhku semakin tranparan dan ku dengar suara langkah kaki menuju ke arah kami. Azu melihat sosok tersebut dan dari ekspresi wajahnya menunjukkan ia tidak mengenalinya. Aku pun menoleh ke belakang. Sebelum sosok orang tersebut terlihat olehku. Saat itu, pandanganku gelap. Dan... saat aku membuka kembali mataku, aku terkejut saat melihat ruangan yang jauh lebih besar yang begitu sangat asing terlihat. 'Dimana aku?' Aku beranjak dari tempat tidur dan memegang beberapa helai rambutku. 'Kapan rambutku mulai sepanjang ini?' Saat aku menyadari warna rambutku berbeda dan aku berpikir, 'Warna perak kebiruan? Apa kepalaku masih eror karena angin itu?!' Sebuah cermin besar menunjukkan sosok diriku. Aku tercengang saat melihat sosok diriku sendiri. "Wha wha what!!?" 'Mata berwarna blue diamond... Iris diamond dimiliki darah bangsawan yang menujukkan kapasitas sihir melimpah dalam cerita novel yang baru selesai ku baca kemarin... Apa ini diriku!?' Banyak pertanyaan di kepalaku, hingga aku pun teringat dengan sosok yang aku lihat. 'Oh, ya! Viyuranessa Roseary, karakter antagonis di novel itu.' 'Ibarat sepertinya bisa kita katakan bahwa ia adalah orang jahat dari orang baik yang tersakiti.' Aku segera berjalan menuju jendela besar kamar. Aku menatap beberapa pekerja yang dengan giatnya bekerja. Sudut bibirku naik saat mengingat para pekerja itu adalah orang-orang yang telah diselamatkan Viyuranessa Roseary dari kejamnya kehidupan di ibukota. 'Hanya karena kehadiran tokoh protagonis itu, kecemburuan dan kedengkian, membuat hidup Viyuranessa Roseary berakhir di eksekusi dengan guillotine.' Aku menyentuh bayangan diriku di kaca jendela dengan lembut. Lalu, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang maid menunjukkan sosoknya. "Selamat pagi, Lady Viyura! Apakah tidur anda nyenyak?" ucap Maid itu dengan bersemangat. 'Maid yang setia melayani Viyuranessa Roseary. Ia bernama Klea. Viyuranessa sudah menyelamatkan nyawa Klea dari penjahat dengan sihirnya saat ia berkeliling di kota.' 'Aku bahkan bisa menangis karena Klea terbunuh oleh pangeran disaat pangeran ingin menghunuskan pedangnya kepada Viyuranessa... Namun, Klea malah berdiri di hadapannya hingga Klea yang terbunuh.' 'Entah kenapa aku bisa menangis hanya karena seorang pelayan yang mati saat membacanya. Tapi, kehilangan seseorang yang mungkin bisa dikatakan seorang teman bagi Viyuranessa, tentu saja itu membuatku sedih, kan?' '... Sebenarnya, hunusan pedang itu sengaja ia arahkan kepada Viyuranessa hanya karena... Viyuranessa tidak sengaja membuat wanita yang ia cintai menangis dengan perkataannya. Padahal, Viyuranessa adalah tunangan resminya.' Tanpa sadar, aku meneteskan air mataku saat membayangkan orang yang di depanku akan mati karena diriku. "Lady! Apa yang terjadi? Kenapa anda tiba-tiba?!" maid itu pun panik. "Tidak tidak! Bukan apa-apa!" Aku tersenyum tipis. "Aku teringat dengan novel- Hem itu... cerita yang ku baca kemarin." 'Apa yang terjadi denganku? Perasaanku menjadi lemah. Hal seperti ini saja sudah membuatku menjatuhkan air mata.' Aku segera mengusap air mataku. Lalu, aku tersenyum bahagia dan terkekeh sedikit, "Hehe," hingga Klea pun ikut terkekeh. Maid itu segera menghela nafas dan kemudian ia meletakkan teh dan kue di atas meja yang dekat jendela. "Saya akan menyiapkan gaun anda, nona." Aku segera duduk di kursi dan melihat pemandangan luar sambil menyeruput teh itu. 'Enak!' 'Meski aku lebih suka susu stroberi. Teh juga kegemaranku. Teh yang diolah hati-hati dengan tangan profesional seperti ini pasti sangat mahal.' Namun usai mencicipi kue itu, ingin sekali memuntahkannya. Tapi masih terpaksa ku telan. 'Apa di dunia ini tidak ada mentega, krim, keju terutama!! Kue ini hanya menggunakan susu, gandum, telur, minyak, gula dan buah sebagai rasanya. Bahkan minyak dan susunya tidak diproses dengan baik! Rasanya liar! Bahkan tengik.' 'Aku tidak suka susu murni begini.' Aku segera mendorong sepiring kue itu ke tengah meja. 'Bahkan mentega ga ada... Padahal di dunia sebelumnya, penemuan mentega sudah berabad-abad dahulu.' 'Segitunya kah bergantung dengan sihir!' "Hmm...." Aku menoleh ke luar jendela, menatap langit biru yang cerah. 'Sepertinya aku lupa sesuatu.' Lalu, aku teringat dengan sesuatu itu, 'Bukankah Viyuranessa memiliki seorang adik? Dan juga, Azu menyukai tokoh itu karena...' Aku tiba-tiba berdiri, "Pink!" Klea terkejut, "Apa-apa?! Ada apa dengan pink? Apa anda mau menggunakan gaun pink, Lady Viyura?" Klea sedang memegang gaun biru. "Haha, maaf mengagetkanmu... Warna biru saja!" ucapku dengan tatapan datar. Melihat tingkahku, Klea pun tersenyum yang tentunya ia sedang memikirkan hal yang aneh menurut ku. "Apa Lady Viyura bersikap aneh hari ini karena putra mahkota akan datang ke mansion ini?" ucap Klea. "Apaan itu?" Ekspresiku masih datar, padahal aku sedikit bingung. _____ See U... - This is My Story - by: yukimA15Angin malam bertiup dan tak henti menggerakkan dahan-dahan pinus. Membawakan hawa dingin yang menusuk tulang di tengah hutan dekat kediaman Duke Roseary. Namun, keheningan itu terganggu auman penuh amarah. "Emangnya harus aku pikirin!!? Mati saja kamu! Rasakan ini! Bangkitlah api-api kehidupan!" Joul berteriak. Kobaran api kemerahan meledak dari kedua telapak tangannya, menerangi pepohonan dan bayangan hitam yang mengerikan. Terkesan menghiasinya. Hawa panas menyapu wajahku, namun aku hanya berdiri. Ku hembuskan napas pelan nan pasrah ini. Ekspresi wajahku yang sedingin es membuat nyali Joul seketika menciut. Kengerian dariku mulai terasa oleh matanya. Instingnya berteriak untuk mundur, memaksa tubuhnya beralih ke posisi bertahan sebelum apinya sempat menyentuhku. Sebelum matanya berkedip, aku sudah lenyap dari matanya. Aku muncul tepat di belakang punggungnya. Sebuah tendangan telak seakan mematahkan tulang belakang Joul. "Engh!" Pria itu terpental, wajahnya menghantam tan
"Tidak bisa," aku menahan tangannya dan kembali merapikan pakaianku. Rean tentunya tersentak atas penolakan tersebut. "Maksudku, sebentar lagi jam makan malam, aku harus kembali!" Aku meletakkan roti yang ku beli sebelumnya ke atas mejanya. Aku bisa melihat wajahnya yang sedikit cemberut dengan tangannya yang beralih memainkan rambutku. Sedangkan Iris Red Diamond nya mengarah pada roti tersebut. "Tiap diam-diam pergi berkeluyuran apa kamu selalu memperhatikan tiap waktu itu?" "Iya. Malas saja mencari alasan kepada ayahku." Aku segera melihat ke luar jendela. Langit sudah jingga. Lalu, aku kembali menoleh ke dirinya, ia seketika membeku melihat ekspresi dingin yang ku buat. "Oh iya, kalau sudah menikah dan kamu berselingkuh.... Sebelum meninggalkanmu, tentunya aku akan menghukum mu!" "Hemm, menghukum dengan apa?" "Minimal dipotong," mataku mengarah ke bawah dengan tersenyum manis. Ia meneguk kasar ludahnya dan langsung menutup bagian bawahnya. "Lagian aku tidak sep
Tiba-tiba datang ke ruangannya, Rean tersentak aku tiba-tiba berada di balik pintu. "Yu?" "Ku rasa tidak ada yang menyadarinya, kan?" ucapku di kala membuka sedikit pintu tersebut dengan pelan, lalu perlahan masuk ke dalam. "Kamu sudah datang ke sini, belum sempat aku merasakannya." "Aku langsung lompat dari gedung pertunjukkan teater tadi hingga ke sini." Rennel tidak dapat membayangkan maksud perkataan ku. Ia melihat ke luar jendela dan membayangkan jarak gedung tersebut dengan tempat ini. "Oh begitu," ucap Rean. Lalu ia terpikirkan hal yang mesti ia tingkatkan, "Sepertinya aku harus melatih kecepatan sensorku ini lagi." "Bukankah kamu langsung menyadari keberadaanku tadi- Oh, jika saja musuh memberikan serangan kejutan seperti itu, serem juga ngebayanginnya." Lalu aku langsung terpikirkan hal menarik. "Pasang barier saja! Sebelumnya itu, apa kamu mengkhawatirkan suatu hal?" "Khawatir anda akan melupakannya lagi," ucap Rennel, dari raut wajahnya aku sudah mengerti ma
Para penonton ikut terbawa dengan pertunjukan cerita yang belum pernah mereka ketahui ini. Seperti layaknya etika di bioskop pada zaman modern, mereka menonton dengan serius. Aku memerankan karakter antagonis yang merupakan kakak tiri pertama, awalnya Jesshiena memintaku memerankan karakter utamanya, tentunya aku menolaknya karena tidak ingin menjadi pusat perhatian. Terutama mengingat diriku ini sedang menyamar. "Apaan ini!? Pakaianku sudah menggunung begini! Cinderella!!!" Sang Cinderella ditindas oleh ibu tiri dan kedua saudara tirinya. Ibunya telah tiada dan hanya ada ayahnya yang jarang pulang karena pekerjaannya. Dimanfaatkan sebaliknya oleh mereka, yang mana diharapkan oleh ayahnya mereka bisa mengurus dan menemani anak kesayangannya. Namun, ia malah dijadikan sebagai pembantu rumah tangga. Walaupun bisa mengadu ke Sang Ayahnya, ia tidak memiliki bukti untuk meyakinkannya. 'Baik boleh tapi bodoh jangan ya. Aku tidak terlalu menyukai cerita ini. Di manapun tempat yang tid
Saat kami akan pulang, Countess Vivicy Lobart mengatakan kepadaku,"Terima kasih banyak, Lady Viyuranessa! Saya sangat berterima kasih atas bantuannya! Padahal saya sangat hina di waktu itu dan pastinya saya akan dilihat sangat menjijikan! Tetapi hanya anda yang berbeda! Saya sungguh berterima kasi
"Bagaimana kalau bibi bekerja denganku saja?!"Mendengar penawaran ku, ia menyilang kan tangannya di depan dadanya. "Bekerja dengan mu?! Dunia orang dewasa bukan taman bermain, anak kecil!"Aku segera membuka tudung jubah yang ku kenakan sehingga ia bisa melihat warna dan iris mataku. Ia tersentak,
Aku pergi ke ibu kota untuk pergi menjelajahi ibu kota. Di perjalan melintasi tengah kota yang tentunya banyak yang berlalu lalang di sekitarku. Semua hal menarik di sini aku hiraukan karena aku terus terbenam di pikiranku.'Kenapa di ingatan Viyuranessa hanya ada sosok pangeran itu, sih? Dan juga,
"Yu!?" gumamku. Aku baru sadar bahwa Pangeran Agnreandel menyebut nama singkatku yang hanya dipanggil saudariku. "Bukankah anda dari tadi memanggil saya dengan nama yang disebutkan adikku tadi? Anda tidak perlu memanggil nama terlalu singkat itu, Yang Mulia! Nama panggilanku itu Viyura." "Apa saya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews