LOGINKapal Master Seo Hwan tiba-tiba terangkat.
Bukan perlahan.
Seluruh badan kapal terlontar beberapa chi ke atas seolah ada tangan raksasa yang mendorongnya dari bawah laut. Air di sekelilingnya terbelah dan jatuh kembali seperti hujan.
Sesaat kemudian kapal itu jatuh kembali ke permukaan.
Benturannya keras.
Papan-papan kayu berderak dari setiap sambungan. Suaranya terdengar sampai puluhan la
Di kapalnya di sisi utara zona, Takeda Raigen duduk di ruang navigasi.Peta Laut Xinghai terbuka di depan meja.Bekas sensasi panas di meridian tangannya masih belum sepenuhnya hilang.Seorang perwira dari armada utama baru saja tiba."General Kang Baekryong kembali ke armada Haneulguk," lapor perwira itu."Ia mencoba dari jalur selatan."Takeda Raigen mengangguk sedikit."Hasilnya sama?""Dari yang bisa kami lihat, ya."Perwira itu menelan ludah sebelum melanjutkan."Kapalnya terdorong mundur hampir sejauh kapal Tuan Jenderal."Ia berhenti sebentar."Dan Master Seo Hwan terlihat kapalnya terangkat dari dalam zona."Takeda Raigen menatap peta."Zona itu tidak bereaksi terhadap kekuatan."
Kapal Master Seo Hwan tiba-tiba terangkat.Bukan perlahan.Seluruh badan kapal terlontar beberapa chi ke atas seolah ada tangan raksasa yang mendorongnya dari bawah laut. Air di sekelilingnya terbelah dan jatuh kembali seperti hujan.Sesaat kemudian kapal itu jatuh kembali ke permukaan.Benturannya keras.Papan-papan kayu berderak dari setiap sambungan. Suaranya terdengar sampai puluhan langkah di permukaan laut. Tiang layar retak di bagian tengah dengan bunyi kering yang panjang.Beberapa tali layar terlepas.Master Seo Hwan menggenggam sisi kapal.Seluruh tulangnya bergetar dari tekanan yang menjalar melalui badan kapal. Getaran itu naik dari papan kayu ke telapak kakinya, lalu ke meridian tubuhnya.Napasnya terpotong selama beberapa detik.Darah di dadanya terasa berputar.
Takeda Raigen menggenggam tiang kapal dengan satu tangan.Tubuhnya menyerap guncangan itu tanpa bergeser.Meridian di tangan kanannya terasa panas.Bukan panas dari teknik yang berhasil.Panas dari Qi yang dipaksa keluar terlalu cepat oleh zona.Dari posisi mundurnya, di kejauhan arah selatan, ia melihat siluet kapal kecil lain.Kapal itu juga terdorong mundur.Gerakannya hampir identik.Jaraknya terlalu jauh untuk melihat lambang.Namun pria yang berdiri di haluan kapal itu tidak perlu lambang untuk dikenali."General Kang Baekryong," kata Takeda Raigen pelan.Lebih kepada dirinya sendiri."Ia mengalami hal yang sama."Fujita mengikuti arah pandangannya.Ia melihat kapal kecil di selatan.
Energi di dalam zona tidak bergerak seperti arus laut biasa yang mengalir ke satu arah.Ia berputar.Tidak hanya di permukaan. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas sekaligus. Pusaran kecil muncul dan hilang di berbagai titik, saling bertaut seperti bagian dari satu sistem raksasa yang sudah berumur sangat tua.Permukaan laut terlihat tenang dari jauh.Namun di bawah kabut, energi itu berputar tanpa henti.Seperti ribuan roda kecil yang bekerja bersama dalam satu mekanisme yang tidak terlihat."Ini bukan formasi buatan," katanya pelan kepada dirinya sendiri.Tangannya segera menarik Qi yang ia kirim ke dalam zona sebelum pusaran di depannya menyerapnya lebih jauh."Terlalu besar," gumamnya.Ia menatap pusaran yang berputar di bawah kapal."Dan terlalu tidak beraturan untuk
Kapal nomor tiga berbalik.Ketegangan turun satu tingkat.Namun tidak hilang.Dari tepi Pulau Karang Merah, Zhao Wuchen menyaksikan semua itu dengan tangan terlipat di dada.Di sebelahnya, Master Lan Qiyue berdiri diam.Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja melihat percikan api mendekati bubuk mesiu."Hampir," kata pemimpin regu Zhao Wuchen.Nada suaranya masih tegang."Hampir sekali.""Hampir akan menjadi semakin dekat setiap hari," jawab Zhao Wuchen pelan.Ia menatap dua armada yang kini hanya menjadi bayangan di kejauhan."Sampai suatu hari seseorang tidak cukup sabar."Pemimpin regu itu menghela napas."Kalau kedua kekaisaran itu akhirnya saling tembak di sini..."Ia menelan ludah.
"Mereka pergi ke mana sebenarnya?" tanya nelayan muda itu.Nelayan tua di sampingnya tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir teh dan menghirupnya perlahan sebelum berbicara."Ke tempat yang tidak seharusnya dimasuki kapal perang," katanya akhirnya.Ia menatap laut yang tertutup kabut tipis di kejauhan."Dan mereka tahu itu."Nelayan muda itu mengerutkan kening."Kalau tahu, kenapa tetap pergi?"Nelayan tua itu menghela napas pendek."Karena yang di seberang juga tahu dan tetap pergi."Ia menunjuk samar ke arah laut."Begitulah cara dua kekaisaran bekerja."Ia meneguk tehnya lagi."Mereka tidak bisa berhenti sebelum yang satunya berhenti lebih dulu."Beberapa nelayan lain di warung itu ikut mendengar percakap
Rong Tian mendengarkan semua ini dengan wajah yang tetap tenang. Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada reaksi yang terlihat. Tapi dalam hatinya, amarah mulai menyala."Lima ratus tahun," batinnya dengan nada dingin, "dan dunia menjadi seperti ini."Ia mengambil napas dalam, menenangkan diri. Waja
Pada saat ini, semua orang hanya melongo, menatap peragaan Seni Pedang yang sangat berkelas dari pemuda asing namun aneh ini.Dan disaat Rong Tian menyelesaikan lapis terakhir dengan satu tusukan lurus ke depan, ujung pedang berhenti tepat di depan batang bambu latihan yang tertancap di tanah.Clin
Perjalanan dari Desa Heishan ke Kota Heiyang memakan waktu lima sampai enam hari jika berjalan kaki. Rong Tian tidak terburu-buru. Ia ingin melihat kondisi dunia sekarang dengan matanya sendiri, merasakan perubahan yang terjadi selama lima abad ia tidak ada.Setengah hari perjalanan dari Desa Heish
Elder Wei yang mendengar bisikan itu ikut menambahkan dengan suara rendah."Di Tahap Jiwa Muda," ucapnya sambil menatap Rong Tian dengan tatapan penuh rasa hormat campur takut, "yang menembus level enam sampai sepuluh disebut Demigods oleh aliran putih. Kalau aliran hitam, mereka menyebutnya Semi D







