Share

Satu Lutut Han Que.

Author: Jimmy Chuu
last update publish date: 2026-04-20 17:01:53

Rong Tian berdiri di depan ambang dan menatap Han Que dari kepala sampai kaki. Pandangannya singkat, tapi cukup untuk membaca semuanya: cara berat badan Han Que bertumpu di kaki kanan, cara bahu kirinya lebih kaku, dan cara mulutnya terlalu keras berteriak untuk menutup sesuatu yang lebih dalam dari marah.

Di dalam kepala Rong Tian, satu penilaian muncul lalu turun seperti pisau. Manusia yang pernah melihat langit sedikit sering menjadi paling bising saat sadar dirinya te

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Retak di Dalam Cahaya Pucat

    Rong Tian membiarkan darah itu keluar sampai warnanya berubah. Ketika yang menetes tak lagi hitam pekat, ia mulai mencabut jarum satu per satu, lalu menepuk ringan sisi lutut dengan dua jari.“Turun,” katanya pada istri Zhou Kaimin.Perempuan itu menatapnya seolah tak paham. Zhou Kaimin pun ikut membeku satu tarikan napas.“Turun,” ulang Rong Tian. “Kalau kaki ini tidak kau pakai sekarang, rasa takutmu sendiri yang akan menutupnya lagi.”Qingfeng turun ke sisi meja, membantu memegang siku perempuan itu. Wang Fu tetap berdiri di pintu, tapi matanya kini tak lagi di lorong, melainkan pada kaki kiri yang perlahan turun menyentuh lantai batu.Tumit itu gemetar. Lututnya goyah, dan napas perempuan itu pecah dua kali.“Berdiri,” kata Rong Tian.Ia berdiri.Awalnya cuma setenga

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Darah Hitam di Ujung Telapak

    Zhou Kaimin berdiri di sisi meja, diam seperti patung yang dipaku dari rasa malu. Dari luar, Zhao Meiyan menyandarkan siku di kusen jendela rumah teh dan berkata dengan suara cukup keras untuk didengar separuh lorong, “Bagus juga. Orang-orang yang mengaku tabib itu rupanya cuma menjual api untuk menutup es.”Pedagang kulit mendecih, tapi kali ini tak banyak orang ikut menertawakannya. Mereka sedang melihat kulit paha yang menghitam, mencium bau obat lama yang asam, dan menyadari bahwa perempuan itu memang bukan pura-pura sakit.“Apa masih bisa diselamatkan?” tanya Zhou Kaimin akhirnya.Rong Tian tidak memandangnya. “Bisa.”Satu kata itu membuat beberapa orang di luar otomatis bergerak lebih dekat. Rong Tian mengangkat kepala sedikit dan menatap Wang Fu.“Tutup garis depan. Siapa pun yang mendorong terlalu dekat, lempar keluar.”

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Tandu yang Masuk Lewat Pintu Samping

    Rumah Zhou Kaimin tidak jauh dari blok utara, tetapi malam itu jalan yang ia tempuh terasa lebih sempit daripada biasanya. Ia baru sampai di halaman samping ketika pelayan tuanya berlari keluar dengan wajah pias.“Nyonya kambuh lagi.”Zhou Kaimin masuk hampir menabrak kusen. Di dalam ruang kecil berlampu redup, istrinya terbaring miring dengan tangan mencengkeram kain alas, wajahnya putih kehijauan, dan napasnya terputus-putus seperti ada es tipis yang digesekkan di dalam dada.Kaki kirinya yang selama bertahun-tahun tak bisa digerakkan kini kejang hebat. Dari pinggang bawah sampai paha, kulitnya tampak menggelap di satu garis yang membuat pelayan tua di pojok hampir menangis.“Sejak kapan,” tanya Zhou Kaimin sambil meraih pergelangan istrinya.“Baru setengah dupa,” jawab pelayan itu dengan suara bergetar. “Awalnya Nyonya bilang pinggangn

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Teh Dingin di Rumah Teh Wu Laosan

    Lampu minyak di rumah teh Wu Laosan diturunkan setengah, dan teh krisan di atas meja bundar sudah keburu dingin sebelum satu pun orang di dalam ruangan itu bicara jujur.Mereka datang dengan wajah seolah sedang memikirkan keselamatan Pasar Hantu Shiqiao, padahal masing-masing hanya sibuk menghitung dagangan, jalur, dan muka sendiri.Zhou Kaimin duduk paling dekat jendela dengan punggung tegak, tetapi urat di pelipisnya sudah lama bergerak. Di kiri kanannya ada penarik iuran lorong, pemilik kios obat liar, pedagang kulit, pengelola gudang kecil, dan dua wakil blok yang semalam paling cepat menyuruh Balai Pengobatan Bulan Patah ditukar demi ketenangan.Zhao Meiyan berdiri dekat tiang, kipas lipatnya diketuk-ketukkan ke pergelangan tangan. Wu Laosan tak ikut duduk di meja rapat, hanya menumpu siku di balik meja teh sambil menuang cangkir demi cangkir seperti orang yang tak peduli, padahal telinganya menangkap semua.

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Empat Kata di Dinding Belakang

    Rumor pun bergerak lagi, tapi kali ini lebih hati-hati.Ada yang menyebutnya Tuan Berjubah Putih, ada yang berkata dia cuma tabib balai yang terlalu sukar dibaca, dan ada pula yang berbisik bahwa pria itu mungkin ahli besar dari luar jalur pasar yang sengaja menyembunyikan pedangnya.Rong Tian mendengar sebagian bisik itu, tapi ia tidak membantah dan tidak mengaku. Ia hanya kembali duduk di meja depan, membersihkan ujung jarum seperti semua yang baru saja terjadi hanyalah kerja malam yang harus diselesaikan sebelum lampu mati.Penolakan seperti itu jauh lebih berat daripada jawaban. Orang-orang Shiqiao paham bahasa orang yang tidak butuh memperkenalkan dirinya karena perkenalan justru akan membuat terlalu banyak kepala bergerak.Nama Balai Pengobatan Bulan Patah pun terdengar berbeda ketika akhirnya disebut-sebut lagi. Tidak lagi dengan nada meremehkan, juga tidak dengan manis palsu, melainkan dengan

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Bayangan di Balik Lautan Kesadaran

    Kerumunan luar menahan napas. Mereka mungkin tak paham banyak soal kutukan jiwa, tapi semua orang tahu ada jenis luka yang lebih buruk daripada daging terbelah, sebab tubuh masih hidup tetapi akal pecah lebih dulu.Rong Tian mendekat, menatap pupil pria itu, kulit tengkuknya, lalu ujung kukunya. “Siapa yang mengutuk.”“Kami tidak tahu.”Rong Tian menyentuh belakang telinga pria itu dengan dua jari. “Kalian tahu. Kalian hanya tidak berani mengucapkannya.”Pria yang terkena kutukan mengeluarkan suara kecil seperti orang yang sedang berdiri di tepi jurang. Dari sudut bibirnya menetes garis keperakan tipis.Qingfeng melihatnya lebih dulu. “Darah qi.”Rong Tian mengangguk. “Kutukan pengikat takut.”Xiao Li merinding, tapi tetap mendekat. “Apa maksudnya.”

  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Pengepungan di Balai Bulan Patah

    Gu Han mengangkat tangannya yang dipenuhi bekas luka bakar, mengusap udara dengan gerakan melingkar perlahan. Matanya menyipit tajam, seperti membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa."Bau darah masih segar."Bisikannya pelan seperti gemerisik daun mati. Suaranya hampir tertelan angin ma

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Jalan Yang Dipilih

    Perubahan tidak datang dengan cepat. Tetapi ia datang.Rong Tian mulai menunggu sebelum bertindak. Ia mulai mendengar sebelum memutuskan. Ia tidak lagi mencari pembenaran atas kekejaman masa lalunya, tetapi ia juga tidak lari dari tanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.Pusaran Gelap perlaha

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Kemarahan Sang Raja Pedang

    Dini hari belum sepenuhnya tiba. Langit masih gelap dengan warna kebiruan yang samar di ufuk timur. Udara dingin menusuk tulang, membawa embun yang membasahi segala yang disentuhnya.Di halaman Kuil Awan Putih, pohon plum yang meranggas berdiri dengan dahan-dahan kosongnya yang menjulang ke langit.

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang    Balai Pengobatan Bulan Patah

    Pagi buta di Pusaran Gelap terasa berbeda.Kabut tipis menggantung di antara lorong-lorong batu yang sempit, merayap perlahan mengikuti celah-celah kecil. Lampion bambu yang tergantung di sepanjang gang masih menyala redup, nyala lilinnya bergetar pelan ditiup angin dingin yang membawa bau embun da

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status