LOGINSialan! Semesta seolah sedang meludahi wajahku tepat saat jemariku hampir menyentuh tirai cahaya Aurora di langit Moonsphire. Mimpi itu sudah di depan mata, namun mereka kembali datang untuk merenggut nyawaku—tepat sebelum keajaiban semesta dimulai. Ternyata, kecantikan dan bakatku yang dielu-elukan di atas panggung sandiwara hanyalah sampah di mata pria itu. Semua lampu sorot dan tepuk tangan penonton tidak cukup untuk memenangkan satu keping hatinya. Jauh di belakangku, di dalam kegelapan yang pekat, dia justru membagi ranjang dan rahasia dengan sosok yang paling aku percayai. Pengkhianatan mereka adalah belati yang jauh lebih tajam daripada pedang mana pun yang pernah menembus dadaku. Tujuh kali. Tujuh kali aku mati bersimbah darah, menyaksikan mereka berdua tertawa di atas panggung sandiwara yang mereka bangun dari kehancuranku. Dan tujuh kali pula aku ditarik paksa dari liang lahat, bangkit dengan dendam yang membakar namun selalu kandas di tengah jalan. Waktu telah menjadi labirin yang menyesatkan, dan kini aku tersungkur di sini; terperangkap dalam kastil megah yang tak lebih dari sekadar peti mati berlapis emas. Aku bukan lagi seorang selebritas yang dipuja banyak orang. Aku adalah sosok yang terbentuk dari dendam yang belum terbalas, yang ditulis oleh darah dan perselingkuhan.
View MoreNapas Tristan terasa panas dan beraroma alkohol tipis, memburu di atas permukaan kulit Briana yang mulai meremang. Briana memalingkan wajah, mencoba menghindari tatapan predator suaminya, namun jemari kuat Tristan mencengkram rahangnya, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam kegelapan matanya."Kau ingin tahu rasanya disakiti, Ana?" bisik Tristan rendah, suaranya parau oleh perpaduan antara kemarahan dan gairah yang meledak-ledak. "Atau kau ingin aku memperlakukanmu seperti pria-pria yang kau temui di luar sana?"Tanpa menunggu jawaban, Tristan merenggut kerah gaun Briana. Suara kain sutra yang robek terdengar nyaring di kamar yang sunyi itu, mengekspos kulit bahu Briana yang putih pucat ke udara dingin kastil. Briana tersentak, namun sebelum ia sempat memprotes, bibir Tristan sudah menerjang bibirnya dengan kasar. Tidak ada kelembutan di sana—hanya ada klaim kepemilikan yang destruktif.“Emphh…” ia memukul dada Tristan agar pria itu tidak melanjutkan, “D-Dasar brengsek kau
Derap kuda itu berhenti tepat di depan gerbang besi taman, memecah kabut yang menyelimuti Swan Lake. Debu beterbangan, menari-nari tertiup angin dingin yang tiba-tiba terasa lebih tajam. Briana menegakkan punggungnya, topeng ketenangannya terpasang kembali dengan sempurna. Ia tidak menoleh, namun telinganya menangkap suara langkah sepatu bot yang berat dan berirama tegas di atas jalan setapak berbatu. "Yang Mulia Duchess," sebuah suara pria yang berat dan familiar menyapa. Laura segera bergeser, berdiri sedikit di belakang Briana sebagai pelindung, sementara gadis itu akhirnya berbalik. Di hadapannya berdiri Duke Obsidian, “Duke Obsidian, dia bangsawan dari Inggris, Duchess. Sir Obsidian adalah salah satu keturunan dari orang kepercayaan ratu.” Bisik Laura menjelaskan. “Duke Obsidian,” Briana menaikkan sebelah alisnya, suaranya sedingin es. Obsidian menunduk dalam, sebuah gerakan hormat yang kaku. "Maafkan saya mengganggu waktu Anda, Duchess Briana. Namun, saya melihat Anda
"Pungut kertas-kertas itu, Briana," perintahnya, suaranya kembali ke mode seorang Duke yang memberi perintah kepada bawahannya. "Kita punya tanggung jawab yang harus diselesaikan, terlepas dari perasaanmu yang sedang kacau."Briana mencengkram pinggiran meja, buku-buku jarinya memutih. Ia tahu Tristan sengaja melakukannya—memberinya perintah untuk mengalihkan gairah yang masih mengambang di udara menjadi sesuatu yang dingin dan teknis.Briana terpaku sejenak, membiarkan detak jantungnya yang berpacu melambat. Perintah itu—begitu dingin, begitu otoriter—adalah sebuah tamparan halus. Tristan tidak sedang memintanya bekerja; ia sedang mengembalikan batasan, menempatkan Briana kembali ke dalam tempat yang semestinya.Dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar tidak menunjukkan getaran, Briana membungkuk. Jemarinya yang masih sedikit gemetar memungut lembaran-lembaran kertas yang berserakan di atas karpet beludru. Setiap kertas yang ia raih—laporan pajak, nota pengeluaran, angka-angka
Ketegangan di ruang kerja itu seakan memuncak hingga ke titik didih. Pernyataan Tristan bukan sekadar tawaran, melainkan sebuah pengakuan keputusasaan yang justru menghujam tepat di ulu hati Briana."Kau pikir semudah itu?" suara Briana bergetar, bukan karena takut, melainkan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia mendorong dada Tristan, namun pria itu justru mencengkeram pinggangnya lebih erat, mengunci posisinya di antara tubuh sang Duke dan meja kerja yang berantakan."Aku tidak bisa membaca pikiranmu, Briana! Aku mencoba memberimu ruang, mencoba menjadi suami yang setidaknya tidak membebanimu dengan kehadiranku yang berantakan, tapi setiap langkah yang kuambil, kau memandangnya sebagai penghinaan," desis Tristan. Suaranya serak, matanya yang hazel berkilat dengan gairah sekaligus rasa frustrasi yang mendalam."Karena kau memang menghinaku!" balas Briana menantang. "Kau membawaku ke dunia ini… atau entah bagaimana takdir mempermainkanku, dan satu-satunya hal yang bisa kau tawa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews