LOGINSialan! Semesta seolah sedang meludahi wajahku tepat saat jemariku hampir menyentuh tirai cahaya Aurora di langit Moonsphire. Mimpi itu sudah di depan mata, namun mereka kembali datang untuk merenggut nyawaku—tepat sebelum keajaiban semesta dimulai. Ternyata, kecantikan dan bakatku yang dielu-elukan di atas panggung sandiwara hanyalah sampah di mata pria itu. Semua lampu sorot dan tepuk tangan penonton tidak cukup untuk memenangkan satu keping hatinya. Jauh di belakangku, di dalam kegelapan yang pekat, dia justru membagi ranjang dan rahasia dengan sosok yang paling aku percayai. Pengkhianatan mereka adalah belati yang jauh lebih tajam daripada pedang mana pun yang pernah menembus dadaku. Tujuh kali. Tujuh kali aku mati bersimbah darah, menyaksikan mereka berdua tertawa di atas panggung sandiwara yang mereka bangun dari kehancuranku. Dan tujuh kali pula aku ditarik paksa dari liang lahat, bangkit dengan dendam yang membakar namun selalu kandas di tengah jalan. Waktu telah menjadi labirin yang menyesatkan, dan kini aku tersungkur di sini; terperangkap dalam kastil megah yang tak lebih dari sekadar peti mati berlapis emas. Aku bukan lagi seorang selebritas yang dipuja banyak orang. Aku adalah sosok yang terbentuk dari dendam yang belum terbalas, yang ditulis oleh darah dan perselingkuhan.
View MoreLangit di atas Moonsphire tidak pernah terlihat seindah ini. Cahaya Aurora menari-nari dalam gradasi ungu dan hijau zamrud, memantul di permukaan danau yang beku. Namun bagi Briana Eleanor Maguy, keindahan ini tidak berlangsung lama.
Dor…! Dentuman shotgun teredam oleh tawa kecil seseorang di balik pohon berbalut salju, “Berhasil!” senyum kemenangan terlihat samar di sudut bibirnya. Langkah Briana berhenti, tubuhnya tertekan ke belakang, lalu menyadari ada yang salah. “Shit…” daun semanggi berkelopak empat yang digenggamnya perlahan terlepas, melayang ke udara. “Tidak lagi…” satu detik kemudian tubuh Briana terjun bebas ke bawah tebing, lalu berakhir di atas aliran sungai yang telah menjadi hamparan es. Brak. Rasa sakit itu datang tiba-tiba, seiring dengan bunyi retakan halus di sekitar tempat tubuhnya mendarat. Ia merasa ada ribuan jarum es yang menusuk ke paru-parunya. “Uhuk, uhuk…” Briana terbatuk, darah merah segar menodai gaun sutra putihnya. Di atas tebing Moonsphire, William berdiri dengan wajah dingin, sementara Charlotte bersandar di bahu pria itu dengan senyum yang tak lagi berpura-pura tulus. "Sampai bertemu di neraka, Briana…" bisik Charlotte, suaranya seringan bulu namun setajam silet. "Dan kamu, masih saja cukup bodoh untuk percaya padaku.” Ia memainkan senjata laras pendek di tangannya, sebuah revolver yang baru saja memuntahkan timah panas tepat di dada Briana. Pandangan Briana mengabur. ‘Kenapa ini terjadi lagi padaku, Tuhan?’ Ia merasa hampir mencapai kebahagiaan, ketika jatah cuti syutingnya dimanfaatkan untuk pergi berlibur bersama kekasihnya, William Rhys Thaddeus. Sebuah pelarian dari dunia panggung yang dirancang dengan rapi, manis, namun takdir rupanya senang melihat Briana hancur. Saat jantungnya berhenti berdetak untuk yang ketujuh kalinya, ia bersumpah: tidak akan lagi menjadi perempuan yang lemah. OKE! CUT! Briana tersentak bangun, paru-parunya meraup oksigen dengan rakus. Tapi anehnya ia tidak merasakan sakit yang membakar, justru kelembutan kasur bulu angsa dan aroma lavender yang menenangkan. Ia mengerjapkan mata. Langit-langit di atasnya terbuat dari kayu jati berukir dengan lampu gantung kristal yang berpendar redup. Ia menoleh ke samping, dan jantungnya hampir melompat keluar. Seorang pria asing duduk di kursi beludru di samping tempat tidur, sedang membaca sebuah perkamen dengan ekspresi datar yang mengintimidasi. Pria itu mengenakan jubah hitam dengan sulaman benang emas, rambutnya gelap sepekat malam, dan rahangnya yang tegas memberikan kesan otoritas mutlak. "Sudah bangun?" suara pria itu berat dan dingin, seperti gesekan logam berharga. Briana terpaku. Ia memindai kamar itu dengan cepat. Dekorasi klasik, arsitektur abad pertengahan yang terlalu sempurna, dan pria ini... "Sial," umpat Briana lirih. Ia memijat pelipisnya. "Siapa sutradaranya? Kenapa script-nya berubah lagi? Dan siapa kamu? Pemeran pengganti?" Pria itu meletakkan perkamennya. Matanya yang tajam menatap Briana seolah-olah wanita itu baru saja berbicara dalam bahasa burung. "Sutra—apa? Scripe? Kenapa bicaramu jadi aneh? Apa kamu kehilangan akal sehatmu setelah pingsan, Briana?" Briana mendengus, mencoba turun dari tempat tidur dengan gaya diva yang masih melekat. "Dengar, aku ini selebritas kelas atas. Aku tidak keberatan melakukan adegan improvisasi, tapi setidaknya beritahu aku kalau kita sedang melakukan scene film kolosal. Di mana kameranya?" Ia mulai menggedor-gedor dinding kayu, mencari celah kabel atau lensa tersembunyi. Namun, yang ia temukan hanyalah debu tipis dan dinginnya batu kastil yang nyata. Tidak ada kru film. Tidak ada penata rias. “Kalau ini bukan salah satu scene film. Katakan padaku, siapa kamu? Di mana aku sekarang?” Briana berhenti di depan sebuah cermin besar berlapis emas. Ia melihat pantulan dirinya, seorang wanita dengan kecantikan bangsawan, namun matanya memancarkan kelelahan dari jiwa yang telah mati tujuh kali. "Tristan Alistair Ludwig," suara pria itu memecah keheningan. “Itu namaku, dan kau tidak bertanya dari semalam karena sibuk menangis,” Tristan mendengus, sepertinya ia sedikit kesal. "Kau lupa, atau memang sengaja tidak mau mengenalku? Kamu berada di kediaman Ludwig sekarang, dan kita punya urusan yang belum selesai. Jadi berhenti bertingkah gila, Briana." Mendengar nama itu, kepingan memori asing namun tajam menghantam kepala Briana. Tristan Alistair Ludwig. Nama itu tidak ada dalam enam kehidupan sebelumnya, ini adalah variabel baru. Kesadaran menghantamnya seperti palu godam. Tekstur gaunnya, suhu ruangan, detak jantungnya yang nyata—ini bukan set film. Ia memang tidak sedang berakting. Briana berbalik, menatap pria bernama Tristan itu dengan tatapan yang kini berubah drastis. Ia bukan lagi Briana si selebritas yang bingung; ia adalah Briana yang baru saja mengingat setiap tetes darah yang ia tumpahkan akibat ulah William dan Charlotte. "Abad pertengahan..." bisiknya pada diri sendiri. Senyum miring yang getir muncul di bibirnya. "Baiklah. Jika takdir ingin memutar film ini untuk kedelapan kalinya, maka kali ini aku akan memperbaiki nasibku yang kurang beruntung. Aku akan menjadi sutradaranya di sini, bukan sebagai pemain yang berakhir dengan takdir mengenaskan." Gumam Briana yang membuat Tristan semakin dibuat penasaran. Briana Eleanor Maguy. Seorang gadis yang ditemui Tristan dalam pesta perjamuan di kediamannya, saat itu Briana tengah mengamuk, hingga berakhir menyiramkan segelas anggur ke arah seorang tamu. Tristan berjalan mendekatinya, “Masih mikirin soal semalam, hm…?” Briana terkesiap, lamunannya buyar seketika, ”Semalam?” kedua alisnya menukik tajam, mencoba untuk mengingat sesuatu yang terlewat. Tristan mengunci arah pandang mereka, “Sudahlah… kamu tidak perlu mikirin pria pengecut macam dia.” Nasehat Tristan dengan wajah malaikatnya. “Tinggallah di sini. Terima tawaranku semalam, aku mohon…” “...Tawaran, semalam?” ulang Briana semakin tidak mengerti. “Rupanya kau terlalu banyak minum, sampai-sampai melupakan semua pembahasan panjang yang pernah kita sepakati bersama.” Briana mencoba mencerna, sebentar-sebentar dahinya mengernyit, sebentar-sebentar manik matanya bergerak tak tenang. Kemudian samar-samar ingatannya tentang pesta semalam, berdansa dengan seorang Duke tampan, sebotol anggur di tangannya, dan pagi ini mereka berakhir di dalam kamar yang sama. Ia mengangkat wajahnya, terlihat tegas dan berani. “Nama kamu, Tristan, ya? Aku tidak ingat betul soal semalam. Tapi mulai sekarang, bisakah kita menjadi partner?” Tristan menyipitkan mata, merasa ada yang berbeda dari wanita di hadapannya. “Kalau begitu kamu setuju dengan persyaratan itu,” kaki Tristan melangkah satu tapak, hingga jarak mereka hanya sebatas hembusan napas. Briana Eleanor Maguy yang ia kenal lemah dan penakut, kini tampak berbeda. Ia terlihat begitu berani, bahkan menerima keinginan Duke Tristan Alistair Ludwig tanpa berpikir panjang. Briana terdiam, dagunya terangkat, menunggu penjelasan dari Tristan yang dirasa rumit. “Tetap tinggal di sini bersamaku. Abaikan William mulai dari sekarang. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, keinginanmu, asal kau setuju dengan satu hal.” “Katakan padaku. Aku tidak suka menunggu,” sahut Briana datar, namun tegas. “Ternyata kau adalah perempuan yang tidak sabaran. Aku suka itu…” sudut bibirnya terangkat sebelah, menyimpan sarkasme yang tajam. “Tristan,” ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Briana tidak suka orang yang bertele-tele. “Okey…” Tristan makin mendekat, jarinya membetulkan letak rambut Briana yang menutupi wajah cantiknya, “Tetaplah di sisiku, akan aku jadikan kau satu-satunya selir kesayangan keluarga Ludwig. Aku akan—” Briana menarik mundur langkahnya, membiarkan tangan Tristan menggantung di udara. “Kau sudah gila?” mata indah itu kini membulat, memperlihatkan sisi gelap kemarahannya.Napas Tristan terasa panas dan beraroma alkohol tipis, memburu di atas permukaan kulit Briana yang mulai meremang. Briana memalingkan wajah, mencoba menghindari tatapan predator suaminya, namun jemari kuat Tristan mencengkram rahangnya, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam kegelapan matanya."Kau ingin tahu rasanya disakiti, Ana?" bisik Tristan rendah, suaranya parau oleh perpaduan antara kemarahan dan gairah yang meledak-ledak. "Atau kau ingin aku memperlakukanmu seperti pria-pria yang kau temui di luar sana?"Tanpa menunggu jawaban, Tristan merenggut kerah gaun Briana. Suara kain sutra yang robek terdengar nyaring di kamar yang sunyi itu, mengekspos kulit bahu Briana yang putih pucat ke udara dingin kastil. Briana tersentak, namun sebelum ia sempat memprotes, bibir Tristan sudah menerjang bibirnya dengan kasar. Tidak ada kelembutan di sana—hanya ada klaim kepemilikan yang destruktif.“Emphh…” ia memukul dada Tristan agar pria itu tidak melanjutkan, “D-Dasar brengsek kau
Derap kuda itu berhenti tepat di depan gerbang besi taman, memecah kabut yang menyelimuti Swan Lake. Debu beterbangan, menari-nari tertiup angin dingin yang tiba-tiba terasa lebih tajam. Briana menegakkan punggungnya, topeng ketenangannya terpasang kembali dengan sempurna. Ia tidak menoleh, namun telinganya menangkap suara langkah sepatu bot yang berat dan berirama tegas di atas jalan setapak berbatu. "Yang Mulia Duchess," sebuah suara pria yang berat dan familiar menyapa. Laura segera bergeser, berdiri sedikit di belakang Briana sebagai pelindung, sementara gadis itu akhirnya berbalik. Di hadapannya berdiri Duke Obsidian, “Duke Obsidian, dia bangsawan dari Inggris, Duchess. Sir Obsidian adalah salah satu keturunan dari orang kepercayaan ratu.” Bisik Laura menjelaskan. “Duke Obsidian,” Briana menaikkan sebelah alisnya, suaranya sedingin es. Obsidian menunduk dalam, sebuah gerakan hormat yang kaku. "Maafkan saya mengganggu waktu Anda, Duchess Briana. Namun, saya melihat Anda
"Pungut kertas-kertas itu, Briana," perintahnya, suaranya kembali ke mode seorang Duke yang memberi perintah kepada bawahannya. "Kita punya tanggung jawab yang harus diselesaikan, terlepas dari perasaanmu yang sedang kacau."Briana mencengkram pinggiran meja, buku-buku jarinya memutih. Ia tahu Tristan sengaja melakukannya—memberinya perintah untuk mengalihkan gairah yang masih mengambang di udara menjadi sesuatu yang dingin dan teknis.Briana terpaku sejenak, membiarkan detak jantungnya yang berpacu melambat. Perintah itu—begitu dingin, begitu otoriter—adalah sebuah tamparan halus. Tristan tidak sedang memintanya bekerja; ia sedang mengembalikan batasan, menempatkan Briana kembali ke dalam tempat yang semestinya.Dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar tidak menunjukkan getaran, Briana membungkuk. Jemarinya yang masih sedikit gemetar memungut lembaran-lembaran kertas yang berserakan di atas karpet beludru. Setiap kertas yang ia raih—laporan pajak, nota pengeluaran, angka-angka
Ketegangan di ruang kerja itu seakan memuncak hingga ke titik didih. Pernyataan Tristan bukan sekadar tawaran, melainkan sebuah pengakuan keputusasaan yang justru menghujam tepat di ulu hati Briana."Kau pikir semudah itu?" suara Briana bergetar, bukan karena takut, melainkan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia mendorong dada Tristan, namun pria itu justru mencengkeram pinggangnya lebih erat, mengunci posisinya di antara tubuh sang Duke dan meja kerja yang berantakan."Aku tidak bisa membaca pikiranmu, Briana! Aku mencoba memberimu ruang, mencoba menjadi suami yang setidaknya tidak membebanimu dengan kehadiranku yang berantakan, tapi setiap langkah yang kuambil, kau memandangnya sebagai penghinaan," desis Tristan. Suaranya serak, matanya yang hazel berkilat dengan gairah sekaligus rasa frustrasi yang mendalam."Karena kau memang menghinaku!" balas Briana menantang. "Kau membawaku ke dunia ini… atau entah bagaimana takdir mempermainkanku, dan satu-satunya hal yang bisa kau tawa
Pertempuran di jalur belakang berakhir secepat badai yang berlalu. Pasukan bayaran Elian yang tersisa melarikan diri ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan mayat-mayat yang segera tertutup salju. Tristan berdiri mematung di hadapan Briana, napasnya yang berat menguap di udara dingin. Tristan mengu
Tristan merapikan jubah hitamnya dengan sentakan kasar, seolah sedang membuang sisa-sisa gairah yang masih membakar urat nadinya. Ia tidak melepaskan pandangannya dari Briana, tatapan yang menjanjikan bahwa interupsi ini hanyalah penundaan, bukan pembatalan."Pergilah mandi, Briana," perintah Trist
Pertempuran meletus sebelum kata-kata Elian benar-benar menguap di udara dingin. Tristan tidak menunggu aba-aba formal; ia memacu kudanya, membelah salju yang kini ternoda jelaga hitam dari gudang gandum yang terbakar.Suara denting pedang yang beradu menjadi musik latar yang mengerikan di lembah t
Matahari pagi belum benar-benar menampakkan dirinya, namun cahaya abu-abu fajar sudah mulai menyelinap melalui celah gorden beludru yang berat. Di dalam kamar utama, keheningan yang menyelimuti terasa jauh berbeda dari ketegangan yang mencekam tadi malam. Keheningan ini lebih berat, lebih intim, da






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews