Share

Bahagia dan Duka Datang Bersama

Penulis: Agus Irawan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-17 03:19:09

Abian duduk membisu di ruang kerja ayahnya. Pagi itu, suasana rumah keluarga Adiyaksa sedikit lebih tenang dibanding malam sebelumnya yang nyaris meledak karena masa lalu yang menyeruak tanpa aba-aba. Tania kini duduk bersandar di sofa, mengenakan gaun berwarna pastel lembut. Wajahnya masih menyisakan kelelahan emosional, tapi matanya tak lagi menyala penuh dendam.

Devan menyuguhkan teh untuk istrinya sebelum ia duduk di samping Abian. “Kita harus bicara,” ujar pria paruh baya itu.

Abian mengangguk pelan. “Tentang pertunanganku dengan Hana?”

Tania menarik napas panjang sebelum menjawab. “Tentang pernikahan kalian.”

Alis Abian terangkat. “Pernikahan? Kita belum bertunangan secara resmi. Lagipula ini hanya—”

“Awalnya hanya sandiwara, ya, aku tahu,” sela Tania lembut namun tegas. “Tapi kamu sudah dewasa, Abian. Kami sudah lama menunggu kamu membawa pulang seseorang. Dan saat kamu akhirnya memilih, meskipun pura-pura, ternyata gadis itu... bukan orang yang buruk.”

Devan menimpali, “Ibumu sudah membuka hati. Aku juga. Setelah semalam, kami menyadari... mungkin Hana memang bukan pilihan yang salah.”

Abian berdiri dari kursinya, berjalan pelan ke jendela dan menatap ke taman belakang. Ia mengingat wajah Hana yang terluka ketika pergi malam itu. “Tapi dia terluka. Karena kalian. Karena aku juga. Dia tak pantas dipaksa dalam pernikahan semacam ini.”

“Kami tidak memaksa,” ujar Tania. “Kami hanya... meminta. Jika kau bersedia, setelah pertunangan malam ini, segera jadikan dia istrimu yang sah. Bukan karena kontrak. Tapi karena pilihanmu.”

Abian diam lama. Pilihan? Kata itu menghantam dadanya. Di satu sisi, Hana adalah gadis yang mampu membuat orang tuanya luluh, gadis yang tidak pernah ia duga akan membuatnya merasa nyaman. Namun di sisi lain, hatinya masih terikat oleh janji dan kenangan masa lalu. Janji yang diucapkan Felia sebelum pergi ke luar negeri. Janji untuk kembali dan menikah dengannya.

Ia masih menunggu. Selama bertahun-tahun. Meskipun hatinya mulai ragu, masih ada satu sudut kecil dalam jiwanya yang percaya Felia akan kembali padanya. Bahwa kisah mereka belum selesai.

“Bagaimana bisa aku menikahi Hana, sementara hatiku belum bisa lepas dari masa lalu?” gumam Abian pelan, hampir tak terdengar.

Tania menatap putranya, menyadari bahwa luka itu belum benar-benar sembuh. Namun waktu tak akan menunggu. Dan gadis sebaik Hana mungkin tak akan bertahan jika terus disakiti.

Suara pintu diketuk. Adrian muncul dari balik daun pintu. “Tuan muda, acara pertunangan malam ini sudah siap. Gaun untuk Nona Hana juga telah dikirim ke apartemennya.”

Abian mengangguk. “Baik. Pastikan dia datang.”

Adrian menunduk hormat. “Seperti biasa, saya akan menjemputnya.”

Tania menatap putranya. “Tolong jangan buat dia menangis lagi, Abian.”

Abian tidak menjawab. Tapi sorot matanya menyiratkan bahwa dirinya berada di persimpangan: antara merelakan masa lalu, atau mempertahankan janji yang belum tentu ditepati.

Malam pun tiba. Cahaya lampu kristal menghiasi ballroom keluarga Adiyaksa. Para tamu penting telah berkumpul. Semua mata tertuju pada pasangan di tengah ruangan.

Abian berdiri gagah dalam setelan jas hitamnya. Namun matanya sibuk mencari satu sosok. Hana. Di mana dia?

Lalu... sorotan lampu mengikuti langkah seorang perempuan bergaun merah marun elegan. Hana Delia muncul di ambang pintu dengan tatapan bingung sekaligus memukau. Ia tampak menawan, meski langkahnya terasa ragu.

Abian terpaku. Napasnya tercekat sesaat.

Semua berdiri memberi tepuk tangan, termasuk Tania dan Devan.

Acara berlangsung dengan lancar. Senyum-senyum canggung di antara keduanya perlahan mencair dalam pelukan para tamu dan keluarganya. Meski hubungan mereka belum sepenuhnya lepas dari rasa sungkan, setidaknya malam itu berjalan tanpa hambatan.

Hari-hari menjelang pernikahan pun tiba. Gaun putih Hana sudah disiapkan, undangan sudah tersebar, dan persiapan hampir sempurna. Abian menjalani semuanya dengan diam, mencoba mengabaikan bisikan kecil dalam hatinya yang masih bertanya, "Apakah Felia akan kembali?"

Namun ia tak pernah menyampaikan keraguannya pada siapa pun. Termasuk pada Hana.

Hari pernikahan pun digelar dengan megah. Hana tampak memesona dalam balutan gaun putihnya. Abian berdiri di sampingnya, tersenyum meski hatinya belum sepenuhnya tenang.

Upacara berjalan khidmat. Satu demi satu doa dipanjatkan. Janji suci diucapkan. Hana kini resmi menjadi istri Abian Adiyaksa.

Namun tepat di malam pertama mereka sebagai pasangan sah, sebuah pesan masuk ke ponsel Abian. Sebuah nama terpampang jelas di layar.

[Felia]

Ponsel itu masih tergeletak di meja nakas, tepat di samping tempat tidur pengantin yang masih rapi. Hana belum menyentuhnya, tapi matanya tak lepas dari layar yang beberapa menit lalu menampilkan satu notifikasi itu. Pesan yang seolah menampar seluruh harapannya pada malam pertama pernikahannya.

“Aku sudah berada di bandara, aku ingin kamu jemput aku, Abian...”

– Felia

Hana menelan ludah. Dingin. Tangannya gemetar. Tapi ia mencoba tetap tenang.

Abian sedang di kamar mandi, air mengalir, suaranya samar dari balik pintu. Tapi ketenangan Hana tinggal di ambang, menunggu runtuh kapan saja.

Kenapa sekarang? Kenapa di malam ini? Di malam saat aku resmi jadi istrimu, Abian... kenapa dia kembali?

Batin Hana berteriak, tapi bibirnya tetap terkunci.

Ia bangkit perlahan dari tempat tidur. Mengenakan selimut tebal menutupi gaun tidur tipis yang tadi ia pakai demi tampil cantik malam ini. Malam yang harusnya menjadi awal. Namun kini terasa seperti akhir.

“Apa ini semua hanya peran? Apa hatimu memang belum pernah kuseret masuk ke dalam hubungan ini, Abian?”

Pintu kamar mandi berderit. Abian keluar dengan rambut basah, mengenakan piyama abu-abu. Wajahnya terlihat kaget saat melihat Hana berdiri membelakanginya, menatap jendela.

“Kenapa kamu belum tidur?” tanyanya, berusaha santai.

Hana menoleh perlahan, sorot matanya tajam tapi rapuh. “Fel... Felia mengirim pesan.”

Abian membeku.

Hana melanjutkan dengan suara yang nyaris tak terdengar, “Dia sudah di bandara. Dia ingin kamu jemput.”

Abian tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah ponselnya yang masih terbuka. Notifikasi itu nyata.

“Aku tanya sekali, Abian...” Hana menahan napas. “Apa kamu masih mencintainya?”

Abian membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar.

Hana tertawa lirih, miris. “Aku tahu jawabannya dari matamu...”

“Ada apa dengan hatimu, Hana?”

Batin itu datang lagi, menghantam seperti gelombang yang tak bisa ia lawan.

Ia melangkah ke luar kamar, berjalan dengan tubuh lemas meski langkahnya tegas.

Abian memanggil, “Hana, tunggu...”

Tapi Hana hanya menjawab dalam hati.

“Aku butuh waktu. Untuk tahu... apakah aku bisa terus bertahan sebagai istrimu. Atau aku hanya bayangan dari wanita yang kau tunggu selama ini.”

Hana berlari. Gaun putih panjang itu menyeret debu dan dedaunan sepanjang trotoar. Tumit tingginya ia copot entah sejak kapan, kini hanya kaki telanjangnya yang menginjak dinginnya malam. Napasnya berat, matanya masih berkaca-kaca, dan hatinya tak berhenti berdebat dengan dirinya sendiri.

"Aku hanya butuh Ibu... hanya Ibu yang bisa tenangkan aku malam ini..." batinnya merintih dalam diam.

Mobilnya ia tinggalkan di jalan besar. Jalanan kompleks terlalu padat, penuh orang berdiri dan berbisik. Lampu ambulans menyala merah—berputar seperti isyarat bahaya yang menyesakkan dada.

Langkah Hana melambat. Nafasnya tercekat.

"Apa ini? Kenapa ramai sekali? Bukankah... Ibu sudah sembuh? Bukankah operasi kemarin berhasil?"

Tangan Hana bergetar saat mendorong tubuh orang-orang yang menghalangi pandangannya.

"Permisi... saya anaknya... saya anak Bu Calista!" serunya panik.

Seorang tetangga, menahan pundaknya. Wajah wanita paruh baya itu basah oleh air mata.

"Hana... ibu kamu tadi ditemukan tidak sadarkan diri, sejak kepulangannya dari pernikahan kamu... katanya sempat pusing, dan saat ia akan masuk kerumah tiba-tiba dia jatuh. Kami sudah mencoba menelpon kamu tapi kamu tidak mengangkat telepon."

Ia baru sadar kalau ia meninggalkan ponselnya.

Hana melangkah gontai menuju pintu ambulans yang terbuka.

Dua paramedis tengah memasang oksigen dan mengatur infus di tubuh sang ibu, yang tampak lemas dan tak bergerak.

“Ibu…” suara Hana pecah.

Mereka segera menutup pintu ambulans.

“Kami harus segera bawa ke rumah sakit, tekanan darah dan ginjalnya drop parah.”

Tanpa pikir panjang, Hana masuk ke dalam ambulans, masih dalam balutan gaun pengantin. Tangannya menggenggam tangan ibunya yang dingin.

“Ibu... bangun, aku... aku sudah menikah, Bu. Tapi aku... aku bingung. Aku butuh Ibu...”

Tak ada jawaban.

Hanya suara mesin ambulans dan napas berat ibunya di balik masker oksigen. Tiba-tiba Calista kejang, dan membuat Hana semakin panik.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Keraguan dan Penerimaan

    Devan berdiri di hadapan ketiganya dengan sikap keras kepala khasnya. Suasana hangat yang semula menyelimuti ruangan itu kini berubah menjadi dingin dan tegang. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan di antara diam yang menyesakkan. Felia menunduk, sementara tangannya mengepal di pangkuannya, ia berusaha menahan air mata, dan ia tidak datang untuk berdebat atau menuntut apa pun. Ia hanya ingin melihat anaknya, dan barangkali… mendapatkan sedikit rasa maaf dari keluarga yang pernah begitu hancurkan. "Om, aku mengerti keraguan Om. Dan aku tidak berharap semua orang langsung memaafkan aku. Tapi yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah membuktikan lewat tindakan… bukan kata-kata," ujarnya lirih, penuh ketulusan. Tania menyentuh lengan Devan dengan lembut, mencoba menenangkan. "Devan, lihat dia. Dia datang dengan tulus, bukan dengan tuntutan atau drama. Kamu selalu mengajarkan kita tentang keluarga—sekarang buktikan bahwa kita memang keluarga yang bisa memberi kesempatan kedua, mem

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Akhirnya Semua Berbeda

    Felia melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Adiyaksa, untuk menemui putrinya Alena yang kini di asuh oleh Hana dan Abian. "Permisi," ucap Felia masih berdiri di ambang pintu, kemudian Hana yang sedari tadi berada di ruang tamu menoleh ia telah kembali dari rumah amannya di luar kota bersama Abian. "Felia, silakan masuk," sambut Hana dengan ramah, "Silakan, duduk." Kemudian Felia duduk tepat di samping Hana, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "Di mana Alena?" "Mmmm... dia masih berada di kamarnya Fel, hari inikan libur sekolah, sepertinya Alena masih tidur." Hana segera bangkit untuk membangunkan putri angkatnya itu. Karena merasa tidak enak, Felia melarang Hana untuk memanggil putrinya itu, "Tidak, jangan Han aku tidak mau mengganggu hari liburnya. Kalau begitu aku pamit saja ya..." "Loh, kok buru-buru Fel. Mainlah sebentar di sini, mungkin Alena akan merasa senang kalau kamu bermain dengannya," Hana melarang Felia untuk pergi. Beberapa saat kemudian Alena tu

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Kenyataan Telah diketahui

    Sore itu Hana menelpon suaminya, Abian. Ia tampak bingung antara harus keluar sendiri atau diam-diam tanpa pengawalan, ia diliputi rasa gelisah setelah beberapa kali mendapat terror dari orang yang sama sekali tidak dikenalnya. 'Halo Bi... kamu masih di mana?' tanyanya melalui panggilan seluler. Di seberang sana Abian menjawab, ia baru saja bertemu dengan Raka Supradja. 'Iya Hana... ada apa sayang? Apa ada masalah?' 'Bi, aku mau keluar sebentar boleh?' 'Mau ke mana? Nanti di antar sopir ya... bodyguard juga akan ikut mengawal kamu, aku masih di jalan ini kejebak macet.' 'Ya sudah baik, aku di antar sopir dan bodyguard saja... kamu jangan khawatirkan aku ya, bye sayang...' Hana lantas mengakhiri panggilan itu, dan bersiap pergi. Alena pun ikut bersamanya karena ia akan bertemu Felia, bukan orang lain. Sore menjelang malam, Hana keluar dari vilanya di antar sopir pribadi dan dibelakang satu mobil seorang bodyguard yang di sewa Abian untuk pengamanan. Satu jam perjalanan

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Mencari Bukti

    Di ruang tengah, suara detik jam terdengar begitu jelas sunyi yang menegangkan ketika dua pria itu berhadapan. Abian berdiri tegak, mengenakan kemeja hitam tanpa jas, menatap pria paruh baya yang kini duduk di hadapannya. Tatapan mereka saling bertaut, tatapan keduanya seperti ingin saling mendominasi berusaha saling menundukkan.Raka Surapradja meneguk teh yang disediakan, lalu tersenyum samar."Aku tidak datang untuk menimbulkan kerusuhan," ucapnya perlahan. "Hanya ingin memastikan bahwa keluarga Adiyaksa membayar lunas dosa-dosa masa lalu mereka."Abian menyipitkan mata. “Dosa siapa? Ayahku? Kakekku? Atau kau hanya menutupi kegilaanmu sendiri dengan menyebut ‘balas dendam’?”Raka tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan selembar foto lama dari dalam sakunya, memperlihatkan wajah-wajah yang pernah bersama dalam satu masa Calista, Mira, dan seorang pria muda yang diyakini sebagai ayah Hana."Calista mencintai orang yang salah, Abian. Dan aku hanya memperjuangkan kebenaran yang tak p

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Penjaga Untuk Hana

    Rumah keluarga Adiyaksa dijaga ketat sejak pagi. Petugas keamanan dari perusahaan dikerahkan atas perintah Devan sendiri. Setelah paket ancaman diterima malam sebelumnya, Abian tidak ingin mengambil risiko sedikit pun. Apalagi saat ini Hana sedang ada di rumah. Hana duduk dengan Alena di pangkuannya. Anak itu masih belum mengerti apa yang sedang terjadi, hanya merasakan ketegangan di sekitar orang-orang dewasa yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Abian berdiri sambil berbicara di telepon dengan suara tertekan. “Saya ingin semua keamanan diperketat apalagi keamanan untuk Hana, dan putri saya Alena. Kalian harus cari Raka Surapradja. Cari juga semua properti atas nama itu dalam dua puluh tahun terakhir.” Ia menutup telepon, kemudian menatap Hana. “Kita akan bawa anak-anak ke vila aman yang sudah disiapkan. Ini mungkin hanya gertakan, tapi aku tak mau ambil risiko.” Hana menggenggam tangannya. “Aku tidak akan lari, Bi. Tapi aku juga tak akan biarkan orang gila itu menyentuh a

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Ancaman yang Nyata

    Hana memandangi surat misterius di tangannya. Surat itu dikirim tanpa nama, tanpa alamat pengirim, dan tanpa jejak elektronik. Namun yang paling mengganggunya adalah foto tua hitam putih yang jelas menunjukkan ibunya Calista di masa muda. Garis tinta merah menyilang wajahnya, seolah menjadi peringatan… atau ancaman. “Ini bukan hanya tentang kita lagi,” gumam Hana sambil duduk di ruang kerja rumahnya. Abian masuk, membawa secangkir teh. “Kamu belum istirahat?” Hana menyerahkan surat itu. “Seseorang mengingatkan kita… bahwa cerita Mama belum selesai.” Abian membaca isinya, matanya menajam. “Akar dari kehancuranmu belum dicabut... Ini bukan ucapan acak. Ini ditulis oleh orang yang tahu terlalu dalam tentang masa lalu keluargamu.” “Dan itu berarti... bukan Mira. Tapi seseorang yang mengenal Mama sejak dulu,” bisik Hana. Abian mengangguk. “Kita harus menyelidiki. Dari awal. Dari tempat Mama pernah tinggal, sekolah, dan semua lingkaran sosialnya.” Sementara di rumah yang sudah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status