Beranda / Romansa / Dead&Queen / Bab 2 : Lembur bersama

Share

Bab 2 : Lembur bersama

Penulis: Ucyl_16
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-27 15:06:45

Kafe itu bernama "Kopi Titik Koma", tempat favorit para kreatif yang butuh kafein dan privasi. Gio memesan dua americano tanpa gula, plus croissant hangat.

"Jadi, lo pindah dari Singapura?" tanya Alma, mencoba memulai percakapan netral.

"Bukan pindah. Kabur," jawab Gio sambil menyobek croissant. "Dua tahun di sana bikin gue sadar: kreativitas nggak bisa dikurung dalam meeting room ber-AC."

"Dan lo pikir Paper&Pixel lebih 'bebas'?" Alma terkekeh. "Wait till you see our burnout rate."

Gio menatapnya. "Lo tuh kayak benteng, tau? Lengkap dengan parit dan panah api."

"Benteng bertahan karena desainnya sempurna."

"Tapi nggak ada yang bisa masuk. Termasuk ide baru."

Alma meminum kopinya, rasa pahitnya sepadan dengan nada bicara Gio. "Gue nggak butuh ide baru. Gue butuh ide yang menang."

"Ah, si Copy Queen dan tahtanya," Gio menggeleng. "Ever thought that maybe... you're lonely up there?"

Pertanyaan itu menggantung. Alma tiba-tiba teringat malam-malam di mana satu-satunya suara adalah ketikan keyboard dan dinginnya kopi yang terlupakan.

"Deadline minggu depan," ujarnya tiba-tiba, mengubah topik. "Konsep harus fix besok."

Gio mengangguk. "Kantor jam 8 malem. Gue bawa sketchbook dan semangat."

"Gue bawa laptop dan toleransi terakhir."

Mereka tertawa—singkat, tapi cukup untuk mencairkan suasana.

---

Sementara itu, di lantai 7 Paper&Pixel, Wina dan Anya sedang memandangi layar komputer dengan mata berbinar.

"Lihat nih!" bisik Wina, menunjukkan foto Alma dan Gio yang duduk berhadapan di kafe. "Kevin ngirim dari jendela divisi akunting!"

Anya langsung membuka grup W******p rahasia mereka— "Kantor Demi Drama". Dengan cepat, dia mengetik:

[BREAKING NEWS] GiAl Lunch Date!

Lokasi: Kopi Titik Koma

Status: Masih musuhan atau sudah bikin chemistry?

Balasan berdatangan:

"Plot twist: besok mereka meeting pake couple outfit."

"Aku taruhan 50rb mereka bakal ribut lagi pas revisi storyboard."

"Yang jelas, Bu Henny menang lotre chemistry hari ini."

Rian, yang kebetulan lewat, mengintip layar Anya. "Demi apa sih lo pada heboh banget?"

"Demi hiburan, Ri," jawab Wina. "Kantor ini kan basically sinetron tanpa iklan."

---

Malam itu, Alma pulang lebih lambat dari biasanya. Langit Jakarta sudah gelap, tapi pikirannya masih terang oleh pertanyaan Gio, "Ever thought that maybe you're lonely up there?"

Dia membuka pintu apartemennya, melepas sepatu, dan menjatuhkan diri ke sofa. Matanya menatap langit-langit.

"Apa iya selama ini gue terlalu fokus pada kesempurnaan sampai lupa pada... sesuatu?"

HP-nya bergetar. Pesan dari Gio:

"Btw, tadi gue lupa kasih tau. Judul konsep kita: 'Bare You, Flawed & Free'. Kalo lo nggak suka, kita bisa ribut lagi besok. 😉"

Alma membaca pesan itu tiga kali. Jarinya mengetik balasan:

"Boleh. Tapi typo di 'flawed'. Harusnya pake 'a'. Jadi besok lo bisa sekalian belajar spelling."

Dia menyimpan HP-nya, lalu tersenyum sendiri.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam lama, hari ini terasa... berbeda.

Pukul 8:17 malam, ruang kerja Paper&Pixel sudah sepi kecuali dua titik cahaya dari meja kerja Alma dan Gio. Laptop Alma terbuka lebar dengan spreadsheet timeline proyek berwarna-warni, sementara Gio asyik mencoret-coret di buku sketsanya.

"Jadi, gue udah breakdown semua deliverables," Alma memecah kesunyian, memutar layarnya ke arah Gio. "Besok pagi kita presentasi moodboard, lalu—"

"Tunggu," Gio menyela, mendorong buku sketsanya ke depan Alma. "Gue ubah sedikit approach-nya. Daripada pakai model profesional, kenapa nggak pakai wajah-wajah nyata? Tukang teh tarik langganan lo, satpam kantor, atau bahkan..." — jarinya menunjuk ke arah Alma — "lo sendiri."

Alma mengernyit. "Gue? Nggak mungkin. Itu melanggar aturan dasar branding."

"Aturan itu dibuat buat dilanggar—dengan strategi," balas Gio, mata berbinar. "Bayangin: Copy Queen yang selalu perfect, ternyata juga punya jerawat saat deadline. Itu namanya relatable."

Alma terdiam. Di sudut hatinya, ide itu masuk akal—tapi itu berarti membuka bagian dirinya yang selalu dia sembunyikan.

"Gue nggak mau jadi bahan kampanye," akhirnya dia berkata, suara rendah.

Gio memandangnya lama. "Atau... lo takut orang tau lo nggak sempurna?"

Ruangan menjadi sunyi. Di luar, hujan mulai turun, mengetuk jendela dengan rintik-rintiknya.

Tiba-tiba, lampu padam.

"Typical," desis Alma dalam gelap.

"Tenang, gue punya..." suara Gio disertai bunyi ritsleting tas. "LED portable. Buat emergency kayak gini."

Cahaya kecil menyala, menerangi wajah mereka yang tiba-tiba berjarak sangat dekat. Alma bisa melihat bayangan bulu mata Gio jatuh di pipinya, dan—

"Baterai low," Gio menghela napas saat lampu mulai redup. "Jadi... gimana? Lo mau ambil risiko, atau kita main aman aja?"

Alma menarik napas. Dalam kegelapan yang nyaris sempurna itu, dia mendengar suara hujan, detak jam dinding, dan... suara hatinya sendiri.

"Oke," bisiknya. "Tapi gue nggak mau muka gue full frame."

"Deal," jawab Gio. "Gue kasih efek silhouette dikit. Biar misterius."

Lampu menyala tiba-tiba, menyoroti senyum kecil mereka.

Di lantai bawah, Anya yang sedang lembur mendadak melihat notifikasi di grup W******p:

[FOTO]— dari Kevin di divisi IT: "GiAl masih meeting jam segini. Sendirian. Gelap-gelapan. 👀"

Balasan langsung membanjiri grup:

"Plot twist: mereka sebenernya rival di kantor, tapi lovers di GoodNovel."

"Besok kita siapin popcorn aja dah."

"Bu Henny pasti bangga—chemistry mereka udah bisa nyalain listrik kantor."

Pukul 11:23 malam, Alma mengunci pintu kantor. Hujan sudah reda, meninggalkan udara segar.

"Jadi, besok jam 8 pagi di ruang meeting?"tanyanya pada Gio yang berdiri di sampingnya.

"Atau..." Gio mengambil dua gelas teh tarik dari kantong plastik yang sengaja dia beli lewat gojek. "Kita rayakan konsep yang udah fix dulu? 15 menit aja. Di taman dekat sini."

Alma seharusnya menolak. Dia punya rutinitas malam: skincare, baca draft, tidur tepat waktu. Tapi malam ini—

"15 menit," katanya, mengambil satu botol.

Di bangku taman yang masih basah, mereka bersulang untuk ide gila yang mungkin akan gagal total... atau mengubah segalanya.

Gio mengangkat botolnya. "Untuk ketidaksempurnaan."

Alma tersenyum. "Dan deadline yang nggak mungkin kita tepati."

Mereka tertawa, dan untuk pertama kalinya, Alma merasa... cukup.

Bukan sebagai Copy Queen yang sempurna.

Tapi sebagai Alma—yang kadang takut, tapi tetap maju.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dead&Queen   Bab 151 : Akhirnya

    Alma pulang kampung tanpa rencana besar. Hanya koper kecil. Hanya niat menenangkan kepala. Desa itu masih sama—jalan sempit, pohon mangga di tikungan, dan rumah tua dengan teras rendah yang selalu menyambutnya pulang tanpa tanya. Ibunya memeluk lebih lama dari biasanya. Bapaknya tidak banyak bicara. Sampai malam itu. Mereka duduk di ruang tengah. Lampu kuning. Jam dinding berdetak pelan. “Ma,” suara Bapaknya rendah tapi tegas, “kamu sudah cukup lama sendiri.” Alma diam. “Bapak gak mau kamu nunggu sesuatu yang gak pasti,” lanjutnya. “Ada laki-laki baik. Keluarganya jelas. Niatnya baik. Besok… kita akad.” Kata besok jatuh seperti pintu yang ditutup pelan—tapi rapat. Alma ingin bertanya. Ingin menolak. Ingin bilang bahwa hatinya belum selesai. Tapi wajah Bapaknya bukan wajah memaksa. Itu wajah orang tua yang takut anaknya terus berjalan tanpa sandaran. “Ini bukan paksaan,” ibunya menyentuh tangannya lembut. “Ini ikhtiar.” Alma mengangguk. Karena kadang, lelah membuat kita berhenti me

  • Dead&Queen   Bab 150 : Pertama kalinya

    Ia berhenti di beberapa kalimat, membiarkan maknanya lewat tanpa di tahan. Seperti membaca sesuatu yang dulu terlalu berat untuk di sentuh, kini hanya terasa… ada.Sekali. Dua kali. Ia menunggu reaksi dari tubuhnya sendiri. Bukan dari ingatan. Bukan dari kepala. Menunggu dada sesak. Menunggu perut mengeras. Menunggu rasa ingin menjelaskan, membela, atau membantah— refleks lama yang biasanya datang tanpa diundang.Tapi yang datang… hening. Hening yang tidak kosong. Hening yang tidak dingin. Dadanya tidak sakit. Tidak sesak. Hanya terasa penuh— bukan oleh emosi, melainkan oleh kesadaran yang akhirnya utuh.Kesadaran bahwa ia pernah mencintai dengan jujur. Bahwa ia pernah di tinggalkan tanpa penjelasan. Dan bahwa dua hal itu bisa sama-sama benar tanpa harus saling meniadakan.Ia mengetik balasan. Kata pertama muncul. Lalu terhapus. Kalimat kedua sempat terbentuk— lebih rapi, lebih dewasa, lebih tenang. Lalu menghilang juga. Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan.Ada banyak. Terlal

  • Dead&Queen   Bab 149 : Pesan dari dia?

    Di sisi paling belakang gedung, dekat pilar besar yang setengah tertutup bayangan lampu, seseorang berdiri tanpa jas resmi. Ia tidak ingin terlihat seperti tamu. Tidak ingin terlihat seperti bagian dari acara. Tidak ingin ada yang menoleh dan bertanya kenapa ia ada di sana. Hanya kemeja gelap dengan kancing terbuka satu— pilihan yang sengaja netral, cukup rapi untuk tidak mencolok, cukup santai untuk bisa pergi kapan saja. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali ia bercermin dengan niat. Bukan karena lupa memotong, tapi karena ada hal-hal yang belakangan tidak lagi ia atur dengan ketat. Wajahnya lebih tirus— bukan karena sakit, melainkan karena hidup yang terus berjalan meski seseorang memilih menjauh, dan tubuh yang ikut menyesuaikan tanpa diminta. Gio. Ia datang tanpa undangan fisik. Tanpa niat mendekat. Tanpa rencana apa pun selain memastikan satu hal sederhana, apakah Alma baik-baik saja. Tidak untuk mengganggu. Tidak untuk mengubah apa pun. Hanya memastikan b

  • Dead&Queen   Bab 148 : SAH?

    Dua Tahun Kemudian Gedung pernikahan itu penuh lampu gantung dan bunga putih. Cahayanya lembut, tidak menyilaukan. Aromanya tipis—melati dan sesuatu yang manis, hampir seperti kenangan yang tidak memaksa untuk diingat. Tidak berlebihan. Tidak terlalu sederhana. Persis seperti Rian dan Reina—berisik di luar, rapi di dalam. Alma duduk di barisan depan, mengenakan gaun pastel sederhana yang ia pilih tanpa banyak pertimbangan. Tidak ingin terlalu menonjol. Tidak ingin menghilang juga. Ia sempat merapikan ujung gaunnya, refleks lama yang muncul setiap kali gugup—lalu tersenyum sendiri karena menyadari, ia tidak sedang menunggu siapa pun hari ini. Musik mengalun. Pintu terbuka. Reina berjalan masuk. Wajahnya bersinar. Matanya berbinar. Langkahnya mantap—meski kepalanya sedikit menoleh ke arah Rian dengan ekspresi yang hanya bisa diartikan sebagai ancaman penuh cinta. “JANGAN SALAH JALAN,” bisik Reina lewat gigi terkatup, senyumnya tetap terpasang sempurna. Rian

  • Dead&Queen   Bab 147 : Tak sepi

    Hari-hari setelah telepon dari Ibu, sesuatu di dalam diri Alma bergeser. Bukan karena ia sudah tidak sedih. Bukan juga karena semuanya tiba-tiba baik-baik saja. Tapi karena ia berhenti melawan rasa capeknya sendiri. Di kantor, suasana masih sama. Terlalu rapi. Terlalu profesional. Terlalu pura-pura normal. Alma berjalan menuju mejanya—lalu berhenti. Karena di kursinya… ada sticky note warna kuning. “JANGAN PANIK. Ini bukan PHK. Ini cuma Rian minjem kursi lo semalem. Maaf.” Alma menghela napas panjang. Lalu—tertawa kecil. Pelan, tapi nyata. “Gue tau ini lo,” gumamnya. Belum sempat ia duduk, suara Reina muncul dari belakang. “Kalau dia minjem kursi, gue minjem martabat,” kata Reina santai sambil naruh kopi di meja Alma. “Rian barusan jatuh dari tangga pantry. Pelan-pelan tapi dramatis.” “Gue gak jatuh,” bantah Rian dari kejauhan. “Gue… menguji gravitasi.” Reina menoleh ke Alma. “Liat? Ilmuwan gagal.” Alma menahan tawa. Untuk pertama kalinya, dadanya terasa agak longgar.

  • Dead&Queen   Bab 146 : Tidak lagi sendiri

    Beberapa detik berlalu. Alma mendengar napas bapaknya di seberang sana. Stabil. Seperti orang yang sudah menyiapkan diri untuk jawaban apa pun. Lalu bapaknya berkata, lebih lembut dari yang Alma ingat. “Ma, hidup itu nggak selalu minta kita kuat. Kadang cuma minta kita jujur sama capek kita sendiri.” Air mata Alma menggenang, tapi ia menahannya. Bahunya sedikit bergetar. “Bapak nggak mau nyalahin siapa pun,” lanjutnya. “Bukan kamu, bukan dia. Tapi Bapak cuma mau kamu inget satu hal—kalau ada orang yang benar-benar niat, dia nggak akan ninggalin kamu sendirian terlalu lama.” “Pak…” suara Alma bergetar. Satu kata itu keluar seperti bocor dari dinding yang sudah terlalu lama ia tahan. “Bapak tau kamu sayang. Kelihatan dari caramu diem,” katanya pelan. “Tapi jangan sampai rasa sayang itu bikin kamu lupa—kamu juga anak yang harus bapak jaga.” Alma menutup mata. Air matanya akhirnya jatuh, satu per satu, membasahi punggung tangannya. “Kalau nanti dia balik dan jelasin, dengar,” la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status