로그인"Nggak nyangka gue bisa bertahan meeting 12 jam sama si manusia energizer itu," gumamnya sambil membuka kunci.
Di dalam, lampu menyala. Rian—sahabat sekaligus tetangga apartemennya—sudah duduk di sofa sambil memegang mangkuk mie instan. "Gue kira lo udah jadi korban pertama pembunuhan art director baru." sambutnya, mata menyipit melihat keadaan Alma. Alma melemparkan tasnya ke karpet. "Masih belum. Tapi besok mungkin." Rian mengangkat alis saat melihat senyum kecil di wajah Alma. "Wait. Lo... nggak benci dia?" "Gue benci caranya nyerobot ide orang. Tapi..." Alma menghela napas. "Konsepnya bagus. Lebih bagus dari yang gue susun seminggu." "Damn, jadi julukan 'DeadQueen' di grup WA beneran terjadi? Deadline bikin lo lunak?" Alma melemparkan bantal ke arahnya. "Diem lo. Besok kita presentasi ke Bu Henny." Saat masuk kamar, HP-nya bergetar. Notifikasi dari Gio: "Btw, gue baru inget. Lo punya alergi kacang kan? Jangan sentuh snack bowl di ruang meeting besok—gue liat ada kacangnya. Ntar lo bersin terus nggak bisa tunjukin ekspresi 'berani' buat kampanyenya sendiri. 😏" Alma tertegun. "Bagaimana dia bisa tahu?" Bahkan Rian butuh tiga bulan untuk mengingat alerginya. Jarinya mengetik balasan: "Lo stalker? Tapi thanks." Tiga titik muncul—lalu hilang—beberapa kali sebelum balasan datang: "Observasi, Queen. Kunci kerja kreatif." Lima belas menit kemudian, HP-nya berbunyi lagi. Foto dari Gio—sebuah sketsa cepat di buku gambarnya: Alma dengan rambut sedikit acak, memegang botol bir, dan tersenyum. Captionnya: "Versi favorit gue dari Copy Queen. Jangan di-burn ya. 😉" Alma menyimpan fotonya—tanpa membalas. Tapi di suatu tempat di Jakarta, seorang tersenyum melihat notifikasi "Foto telah disimpan" muncul di layarnya. Karena terkadang, karya terbaik lahir bukan dari kesempurnaan— Tapi dari keberanian mengacak semua rencana. Alma menggeser bantalnya untuk kesekian kalinya, mencoba menemukan posisi yang nyaman. Matanya tak lepas dari layar ponsel yang memamerkan sketsa dirinya hasil coretan Gio. Dalam cahaya redup lampu tidur, garis-garis pensil itu terlihat hidup, menangkap ekspresinya yang jarang terlihat orang lain. Jarinya membuka aplikasi pesan, mengetik dengan hati-hati: "Gue punya 3 keberatan soal sketsa ini..." Dia berhenti, menghapus, menulis ulang. Proses ini berulang tiga kali sebelum akhirnya mengirim. Tak sampai sepuluh detik, balasan sudah datang. Dinding apartemennya yang tipis meneruskan suara Rian: "Al, lo mau begadang silakan, tapi tolong vibrate hapenya dimatiin. Gue bisa dengar bunyi 'tik' itu dari tadi!" --- Pagi itu, lobi Paper&Pixel terasa berbeda. Udara bergetar dengan antisipasi saat Wina berdiri di dekat lift, dua puluh menit lebih awal dari biasanya. Cici tiba-tiba muncul di samping mereka, napasnya pendek. "Katanya Kevin liat mereka pulang bareng kemarin," bisiknya, matanya berbinar seperti anak kecil yang tahu rahasia terlarang. "Dan—dan mereka berhenti di minimarket dekat kantor. Beli es krim. Satu cup. Dua sendok." Wina hampir menjatuhkan cangkirnya. *Ding.* Pintu lift terbuka. Alma melangkah keluar dengan blazer beigenya yang—seperti biasa—sempurna tanpa cacat. Tapi ada sesuatu yang berbeda: rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan di bagian belakang, seolah-olah... terlalu sering bersandar pada sesuatu—atau seseorang—semalam. Dan di belakangnya, Gio muncul dengan kemeja yang masih sama dari kemarin. Kemeja itu kini lebih kusut, dengan lipatan aneh di sekitar pinggang—seperti pernah direnggut erat oleh tangan seseorang. "Demi semua yang suci..." Wina berbisik, suaranya serak. "Mereka pakai warna matching." Cici menahan napas,. "Dan itu blazer favorit Alma. Dia nggak pernah pinjemin ke siapa pun." Di kejauhan, Kevin berjalan mendekat dengan senyum paling menyebalkan seantero Paper&Pixel. "Oh, kalian belum dengar bagian terbaiknya. Tadi pagi, aku liat Gio masuk parkiran bareng Alma." Cici menahan jeritan. Flashback Di minimarket, saat Gio mengulurkan tangan untuk membayar es krim. "Aku yang bayar." ucap Alma, Gio menyambar terlebih dulu. "Nggak perlu." sambil menyodorkan uang ke arah kasir. Jari mereka bersentuhan—terlalu lama untuk sekadar transaksi biasa. Setelahnya, mereka pulang ke arah mobil masing-masing dengan Gio menggunakan blazer Alma untuk menutupi badannya karena tumpahan teh tarik milik Alma. Back to normal Sunyi yang tebal menyelimuti ruangan ketika Bu Henny mengamati presentasi mereka. Hanya suara jari Bu Henny yang terdengar, dan mata yang tajam menyapu setiap detail storyboard. Berhenti di slide kelima dimana foto silhouette Alma terpampang besar. "Ini..." Suaranya pecah setelah tujuh detik hening yang menegangkan. "Berbeda." Bibirnya yang tipis meregang perlahan, membentuk senyum yang selama ini hanya muncul saat melihat konsep-konsep brilian. *Klak.* Bunyi pensil terjatuh dari tangan Wina memecah konsentrasi ruangan. Gadis magang itu membeku, pipinya memerah ketika semua mata beralih ke arahnya. Tapi tak satu pun pandangan yang bisa menandingi intensitas tatapan yang kini tertuju ke arah slide presentasi - dimana foto profil Alma dalam silhouette hitam putih terpampang, dengan tagline tebal di bawahnya: "PERFECTLY IMPERFECT - Because Real Beauty Has No Filter" Gio menggeser kursinya mundur, membuat kaki kursi berderit pelan. "Kami ingin..." Suaranya sengaja dibuat rendah, justru membuat setiap kata terdengar lebih menggema. "...kampanye ini bernapas. Berdetak." Tangannya terbuka ke arah gambar Alma. "Dan siapa yang lebih paham makna 'berani tampil apa adanya' daripada seseorang yang selalu bersembunyi di balik kesempurnaan?" Alma merasakan telapak tangannya berkeringat. Lima tahun karirnya di Paper&Pixel, baru kali ini ia merasa begitu terbuka. Blazer beigenya tiba-tiba terasa terlalu ketat, kerah kemejanya menggaruk leher. Di sudut matanya, ia melihat Wina membekukan suapan sandwich di tengah jalan, mulut sedikit terbuka. Di sudut kantor yang sepi, bau kopi dan popcorn microwave bercampur saat Alma menyendok nasi goreng dari kotak makanan daur ulang. Rian duduk di hadapannya, mengamati ekspresinya yang tak biasa. "Lo..." Suaranya pecah, lebih lembut dari biasanya. "...nggak heran gue setuju jadi model kampanye ini?" Rian menyelesaikan kunyahannya dengan saksama. Sendok plastiknya berhenti bergerak, menancap di antara nasi goreng. "Heran?" Dia mengambil teguk teh manisnya - dua kantong teh, tiga sendok gula, persis seperti kebiasaannya. "Tapi..." Sebuah jeda sengaja dibuat sembari matanya mengamati lingkaran hitam tipis di bawah mata Alma. "Mungkin lo akhirnya nemu seseorang yang bisa lihat celah di benteng lo. Bukan cuma yang berhenti ngeliat tembok luarnya doang." "Tapi ini bukan karena rumor tentang lo sama Gio?" tanya Rian tiba-tiba, menyendok nasi gorengnya. Alma menahan suapannya, "Rumor apa?" "Katanya, lo akhirnya nemu orang yang bisa tembus pertahanan. Bukan cuma berhenti di depan."goda Rian "Hah!?" pekik Alma. Di seberang ruangan, Wina dan Cici berpura-pura tidak mendengar sambil jari-jari mereka menari cepat di grup chat: [Grup Chat P&P FBI MELEDAK.]Alma pulang kampung tanpa rencana besar. Hanya koper kecil. Hanya niat menenangkan kepala. Desa itu masih sama—jalan sempit, pohon mangga di tikungan, dan rumah tua dengan teras rendah yang selalu menyambutnya pulang tanpa tanya. Ibunya memeluk lebih lama dari biasanya. Bapaknya tidak banyak bicara. Sampai malam itu. Mereka duduk di ruang tengah. Lampu kuning. Jam dinding berdetak pelan. “Ma,” suara Bapaknya rendah tapi tegas, “kamu sudah cukup lama sendiri.” Alma diam. “Bapak gak mau kamu nunggu sesuatu yang gak pasti,” lanjutnya. “Ada laki-laki baik. Keluarganya jelas. Niatnya baik. Besok… kita akad.” Kata besok jatuh seperti pintu yang ditutup pelan—tapi rapat. Alma ingin bertanya. Ingin menolak. Ingin bilang bahwa hatinya belum selesai. Tapi wajah Bapaknya bukan wajah memaksa. Itu wajah orang tua yang takut anaknya terus berjalan tanpa sandaran. “Ini bukan paksaan,” ibunya menyentuh tangannya lembut. “Ini ikhtiar.” Alma mengangguk. Karena kadang, lelah membuat kita berhenti me
Ia berhenti di beberapa kalimat, membiarkan maknanya lewat tanpa di tahan. Seperti membaca sesuatu yang dulu terlalu berat untuk di sentuh, kini hanya terasa… ada.Sekali. Dua kali. Ia menunggu reaksi dari tubuhnya sendiri. Bukan dari ingatan. Bukan dari kepala. Menunggu dada sesak. Menunggu perut mengeras. Menunggu rasa ingin menjelaskan, membela, atau membantah— refleks lama yang biasanya datang tanpa diundang.Tapi yang datang… hening. Hening yang tidak kosong. Hening yang tidak dingin. Dadanya tidak sakit. Tidak sesak. Hanya terasa penuh— bukan oleh emosi, melainkan oleh kesadaran yang akhirnya utuh.Kesadaran bahwa ia pernah mencintai dengan jujur. Bahwa ia pernah di tinggalkan tanpa penjelasan. Dan bahwa dua hal itu bisa sama-sama benar tanpa harus saling meniadakan.Ia mengetik balasan. Kata pertama muncul. Lalu terhapus. Kalimat kedua sempat terbentuk— lebih rapi, lebih dewasa, lebih tenang. Lalu menghilang juga. Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan.Ada banyak. Terlal
Di sisi paling belakang gedung, dekat pilar besar yang setengah tertutup bayangan lampu, seseorang berdiri tanpa jas resmi. Ia tidak ingin terlihat seperti tamu. Tidak ingin terlihat seperti bagian dari acara. Tidak ingin ada yang menoleh dan bertanya kenapa ia ada di sana. Hanya kemeja gelap dengan kancing terbuka satu— pilihan yang sengaja netral, cukup rapi untuk tidak mencolok, cukup santai untuk bisa pergi kapan saja. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali ia bercermin dengan niat. Bukan karena lupa memotong, tapi karena ada hal-hal yang belakangan tidak lagi ia atur dengan ketat. Wajahnya lebih tirus— bukan karena sakit, melainkan karena hidup yang terus berjalan meski seseorang memilih menjauh, dan tubuh yang ikut menyesuaikan tanpa diminta. Gio. Ia datang tanpa undangan fisik. Tanpa niat mendekat. Tanpa rencana apa pun selain memastikan satu hal sederhana, apakah Alma baik-baik saja. Tidak untuk mengganggu. Tidak untuk mengubah apa pun. Hanya memastikan b
Dua Tahun Kemudian Gedung pernikahan itu penuh lampu gantung dan bunga putih. Cahayanya lembut, tidak menyilaukan. Aromanya tipis—melati dan sesuatu yang manis, hampir seperti kenangan yang tidak memaksa untuk diingat. Tidak berlebihan. Tidak terlalu sederhana. Persis seperti Rian dan Reina—berisik di luar, rapi di dalam. Alma duduk di barisan depan, mengenakan gaun pastel sederhana yang ia pilih tanpa banyak pertimbangan. Tidak ingin terlalu menonjol. Tidak ingin menghilang juga. Ia sempat merapikan ujung gaunnya, refleks lama yang muncul setiap kali gugup—lalu tersenyum sendiri karena menyadari, ia tidak sedang menunggu siapa pun hari ini. Musik mengalun. Pintu terbuka. Reina berjalan masuk. Wajahnya bersinar. Matanya berbinar. Langkahnya mantap—meski kepalanya sedikit menoleh ke arah Rian dengan ekspresi yang hanya bisa diartikan sebagai ancaman penuh cinta. “JANGAN SALAH JALAN,” bisik Reina lewat gigi terkatup, senyumnya tetap terpasang sempurna. Rian
Hari-hari setelah telepon dari Ibu, sesuatu di dalam diri Alma bergeser. Bukan karena ia sudah tidak sedih. Bukan juga karena semuanya tiba-tiba baik-baik saja. Tapi karena ia berhenti melawan rasa capeknya sendiri. Di kantor, suasana masih sama. Terlalu rapi. Terlalu profesional. Terlalu pura-pura normal. Alma berjalan menuju mejanya—lalu berhenti. Karena di kursinya… ada sticky note warna kuning. “JANGAN PANIK. Ini bukan PHK. Ini cuma Rian minjem kursi lo semalem. Maaf.” Alma menghela napas panjang. Lalu—tertawa kecil. Pelan, tapi nyata. “Gue tau ini lo,” gumamnya. Belum sempat ia duduk, suara Reina muncul dari belakang. “Kalau dia minjem kursi, gue minjem martabat,” kata Reina santai sambil naruh kopi di meja Alma. “Rian barusan jatuh dari tangga pantry. Pelan-pelan tapi dramatis.” “Gue gak jatuh,” bantah Rian dari kejauhan. “Gue… menguji gravitasi.” Reina menoleh ke Alma. “Liat? Ilmuwan gagal.” Alma menahan tawa. Untuk pertama kalinya, dadanya terasa agak longgar.
Beberapa detik berlalu. Alma mendengar napas bapaknya di seberang sana. Stabil. Seperti orang yang sudah menyiapkan diri untuk jawaban apa pun. Lalu bapaknya berkata, lebih lembut dari yang Alma ingat. “Ma, hidup itu nggak selalu minta kita kuat. Kadang cuma minta kita jujur sama capek kita sendiri.” Air mata Alma menggenang, tapi ia menahannya. Bahunya sedikit bergetar. “Bapak nggak mau nyalahin siapa pun,” lanjutnya. “Bukan kamu, bukan dia. Tapi Bapak cuma mau kamu inget satu hal—kalau ada orang yang benar-benar niat, dia nggak akan ninggalin kamu sendirian terlalu lama.” “Pak…” suara Alma bergetar. Satu kata itu keluar seperti bocor dari dinding yang sudah terlalu lama ia tahan. “Bapak tau kamu sayang. Kelihatan dari caramu diem,” katanya pelan. “Tapi jangan sampai rasa sayang itu bikin kamu lupa—kamu juga anak yang harus bapak jaga.” Alma menutup mata. Air matanya akhirnya jatuh, satu per satu, membasahi punggung tangannya. “Kalau nanti dia balik dan jelasin, dengar,” la







