Gadis itu bangun lima belas menit sebelum alarmnya berbunyi. Bukan karena gelisah, tapi karena terbiasa. Hidupnya diatur dalam blok waktu yang rapi, seperti spreadsheet yang tak pernah dibiarkan kosong. Namanya Alma Raisa, dua puluh tujuh tahun, copywriter andalan di agensi iklan Paper&Pixel. Perfeksionis. Tidak suka kejutan-apalagi yang datang dari orang asing.
Pukul tujuh lewat lima, dia sudah berdiri di depan cermin. Rambut dicepol rapi, alis disikat halus, blazer warna beige disetrika licin dari semalam. Di meja kecil dekat jendela, gelas teh hijau mengepul pelan-tak tersentuh. Pagi-paginya bukan tentang slow living, yoga, atau journaling. Tapi mengecek kalender G****e, me-review draft presentasi, dan menyusun ulang urutan narasi storyboard. Alma membuka laptop, menggigit roti gandum seadanya, lalu mengecek ulang catatan di ponsel. Brief klien? Beres, Storyboard? Revisi fix, Meeting jam 9? HARUS MENANG. Dia bekerja di divisi kreatif Paper&Pixel agensi iklan yang kece dari luar, tapi keras dari dalam. Satu kali gagal, bisa ganti tim. Dua kali? Ganti kantor. Alma bukan tipe yang bisa tenang menghadapi kekacauan. Dia lebih suka pegang kendali dan hari ini, dia siap untuk itu. Pukul sembilan tepat, Alma sudah berdiri di depan whiteboard digital saat sebagian besar tim baru menyelesaikan suapan roti atau kopi sisa sarapan. Tangan kanannya memegang remote pointer seperti sedang memegang komando tempur. "Kita nggak jual hasil instan. Kita tawarkan keberanian," suaranya tenang tapi lantang. "Ini bukan tentang kulit putih glowing. Tapi tentang berani tampil bare face, real. Kampanye ini ngajak orang berdamai sama kaca." Sebagian tim masih menyesap kopi. Anya mencatat seadanya, Wina sibuk membuka laptop yang belum di-restart seminggu, sementara Bu Henny-manajer kreatif-duduk di ujung ruangan, diam, mengamati, menilai. Lalu... "Sorry, ini meeting 'Bare You'?" Seorang pria muncul di ambang pintu tanpa ketuk. Kemeja putih digulung asal, sneakers abu-abu, rambut setengah acak. Tangannya langsung menggapai spidol, seolah sudah tahu tempatnya di ruangan ini. "Lo siapa?" tanya Alma, tajam. "Gio. Art director baru. ID card aja belum jadi," jawabnya santai. Tanpa izin, Gio menghapus satu adegan di storyboard Alma dan menggambar ulang. "Ini bagus. Tapi harusnya ekspresinya bukan datar. Kasih momen emosional-air mata yang belum kering, tapi dia tetap senyum. Relate-nya lebih dapet." Alma mengangkat alis. "Lo pikir segampang itu nyentuh kerjaan orang?" "Gue bukan nyentuh. Gue bantu." "Tanpa diminta." "Kadang insight terbaik datang dari yang nggak diminta." Dialog mereka seperti rally bulu tangkis: cepat, tajam, dan bikin orang di sekitar diam menonton. Bu Henny tersenyum kecil. "Aku suka energi pagi ini." Alma protes, "Bu, dia baru dateng, langsung ubah presentasi saya." "Justru karena itu. Kadang, ide segar datang dari tabrakan." Gio menyeringai. "Copy Queen?" Julukan itu menggantung di udara-nada menggoda, menantang. Alma menyipit. "Hati-hati, gelar itu bisa berubah jadi 'Copy Bakar'." "Tenang, gue cuma bawa korek. Nggak bawa bensin." Tawa kecil pecah, lalu cepat dibungkam. Bu Henny memutuskan. "Deadline minggu depan. Alma dan Gio akan handle proyek ini bareng." Alma menoleh cepat. "Bu, saya biasanya kerja sama Dira atau Yuda." "Yuda cuti. Dira ditarik ke klien fashion. Jadi... silakan beradaptasi." Sebelum keluar, Gio berbisik ke Alma, "Tenang aja, Queen. Gue bukan tipe yang ngerebut tahta. Cuma suka bikin papan caturnya lebih seru." Alma tidak menjawab. Tapi jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena suka. Tapi karena waspada. Atau mungkin... keduanya. --- Pantry kantor jam sebelas siang adalah tempat paling bising yang terasa sepi. Alma duduk di pojok, sendirian, mengaduk-aduk tahu isi yang tak disentuh. Rian-sahabatnya-datang membawa nasi goreng. "Lo ngebunuh tahu isi itu atau cuma terapi visual?" godanya. Alma mendesah. "Pagi-pagi gue udah digas sama cowok baru yang sok koreksi presentasi gue. Sekarang lo nambahin bahan roasting?" Rian tertawa. "Gio? Si artis pensiun dari Singapura itu? Berani banget ya nimpalin ide lo." "Gue tahan karena masih jam kerja." "Lo pernah ngerasa nggak sih... kayak ada orang asing yang tiba-tiba bisa nebak pola pikir lo?" tanya Alma. Rian diam sejenak. "Biasanya lo butuh tiga tahun buat percaya ke orang." "Nah itu yang bikin gue kesel. Kok bisa dia tahu celahnya dari awal?" Rian tersenyum. "Kadang, yang bikin kita terganggu... justru yang bikin kita sadar kita hidup. Bukan cuma jalanin rutinitas." Di lorong, Cici dan Wina berbisik sambil melihat foto blur Gio di grup W******p kantor. Caption-nya: "Copy Queen vs Cowok Singapura: ROUND ONE." "Drama pertama hari ini resmi dibuka," bisik Cici. "Aku dengar Bu Henny sengaja pasangin mereka," tambah Wina. "Bukan buat cinta-cintaan, Win. Proyek. Tapi... you know Bu Henny." Wina membuka Notes di HP-nya. "Fix. Fanart perdana mereka harus dirilis hari ini. Namanya 'GiAl'-Gio dan Alma. Atau 'DeadQueen'-Deadline x Copy Queen." Rian yang kebetulan lewat menggeleng. "Astaga... kantor ini udah kayak fandom aktif." Di sudut pantry, Alma masih termenung. Rian mendekat. "Welcome to Paper&Pixel, di mana naskah bisa mati, tapi gosip hidup selamanya." Alma memijat pelipis. "Baru juga ngasih satu presentasi, udah kayak seleb skandal." Dia menarik napas. Hari baru awal. Dan Gio-dengan segala kejutan dan sikapnya yang nyebelin-telah mengacaukan rutinitas sempurnanya. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang membuatnya penasaran... sesuatu yang mungkin, justru dia butuhkan. --- Alma menghela napas panjang saat tangannya menekan tombol lift. Layar digital di atas pintu menunjukkan angka yang turun perlahan— 7... 6... 5 —seolah mencerminkan pikirannya yang berputar-putar. "Apa benar Bu Henny sengaja memasangku dengan si Gio ini?" gumamnya dalam hati. Lift terbuka. Di dalamnya sudah berdiri seorang pria dengan kemeja putih yang sedikit kusut—Gio. Mata mereka bertemu. "Kebetulan," ujar Gio sambil menyeringai, jarinya menekan tombol lobby. "Atau kesialan," balas Alma, masuk dan berdiri di sudut paling jauh. Udara di dalam lift terasa tegang. Gio memecah keheningan. "Lo masih kesel soal tadi pagi?" "Gue profesional. Nggak ada kesel yang bertahan lebih dari satu meeting." "Tapi lo masih aja ngasih jarak tiga meter kayak lagi jaga social distancing." Alma memicingkan mata. "Lo tuh jenis orang yang selalu dapat respon, ya? Mau itu senyum, kesel, atau—" "Atensi?" Gio menyela. "Iya. Karena hidup terlalu pendek buat nunggu orang lain nyamperin." Lift terbuka. Gio melangkah keluar lebih dulu, tapi berhenti saat Alma tidak mengikutinya. "Kopi?" tawarnya tiba-tiba, menunjuk ke arah kafe di seberang jalan. "Gue traktir. Buat gantiin spidol yang gue hapus tadi." Alma hampir menolak, tapi sesuatu—mungkin rasa penasaran, atau kelelahan—membuatnya mengangguk singkatAlma menahan napas. Ada sesuatu di dadanya yang bergetar aneh, antara takut, marah, dan… sesuatu yang lain yang tidak ia mau akui.“Rian…”“Apa?”“Kalau benar lo peduli, buktikan. Jangan cuma suruh gue percaya. Tunjukin ke gue kalau lo bukan bagian dari permainan ini.”Rian terdiam, tatapannya dalam. “Oke. Kalau itu yang lo mau… gue bakal tunjukin. Tapi jangan salahkan gue kalau kebenaran nanti bikin lo lebih nyesek daripada sekarang.”Tanpa menunggu jawaban, Rian berbalik menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia menoleh sebentar.“Dan satu lagi, Alma. Mulai malam ini, jangan pernah sendirian. Karena bukan cuma mereka yang ngawasin lo… gue juga.”Pintu tertutup keras. Alma berdiri membeku, napasnya masih tercekat. Di dalam hatinya, ia tahu—Rian baru saja menunjukkan sisi yang berbeda.Marah. Peduli. Dan berbahaya, sekaligus.Kamar terasa lebih pengap setelah Rian pergi. Alma duduk di ujung ranjang, kedua tangannya masih menggenggam kain celana yang basah oleh keringat dingin. Nafasnya be
Dengan jari sedikit gemetar, Alma memasukkan flashdisk pemberian Rian.Folder utama muncul, sederhana, hanya satu bernama “Server_Log_Alpha”.Ia membukanya. Ada lusinan file teks, masing-masing diberi nama dengan tanggal dan jam. Alma memilih salah satu file dari tanggal yang sesuai dengan malam modulnya hilang.Isi file itu seperti transkrip aktivitas server:[00:13:05] USER: G.Prasetya – Access Granted[00:14:21] FILE: “Module_Prototype.AX” – Downloaded[00:15:10] USER: Unknown – Mirror Upload InitiatedAlma menelan ludah. Namanya Gio ada di sana. Hitam di atas putih. Tapi baris berikutnya membuatnya membeku,[00:15:42] USER: R.Alvaro – Secondary Key AccessedMatanya membesar. Nama Rian ada di log yang sama. Bukan hanya Gio.Ia menggulir cepat ke bawah, menemukan lebih banyak catatan. Beberapa di antaranya jelas menyebut aktivitas Gio, tapi ada juga baris-baris lain dengan kode identitas yang Alma tahu milik Rian. Tangannya mencengkeram mouse erat. Pikirannya berputar. Kalau log ini
Sebelum Alma sempat membaca lebih jauh, layar tiba-tiba berkedip. Teks merah muncul,“SESSION TIME LIMIT – 00:30”Waktu hitung mundur mulai berjalan dari 30 detik. Alma cepat-cepat mengeluarkan ponselnya untuk memotret layar, tapi tiba-tiba semua lampu di perpustakaan berkedip, dan komputer itu menampilkan pesan.“SESSION TERMINATED – TRACE INITIATED”Panik, Alma mencabut kabel komputer langsung dari colokannya. Layar mati, tapi napasnya masih memburu. Ia merasa seolah-olah baru saja membuka pintu yang tidak seharusnya. Saat ia melangkah keluar dari perpustakaan, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal,“Gue bilang cuma sekali. – G”Lima detik kemudian, pesan lain masuk, kali ini dari Rian. “Kita perlu bicara. Sekarang.”Alma berdiri di trotoar gelap depan perpustakaan. Angin malam meniup rambutnya, sementara dua pesan di ponselnya masih terpampang jelas. Jemarinya kaku, punggungnya dingin meski keringat mulai mengalir di tengkuk.Gio: “Gue bilang cuma sekali.”Rian: “K
Siang berikutnya, Alma duduk di sebuah kafe kecil di lantai dua gedung perkantoran lama. Tempat ini tidak ramai, hanya ada tiga meja terisi, dan musik latarnya pelan. Ia memilih kursi menghadap jendela, memberi dirinya pandangan luas ke jalan di bawah—kebiasaan lama yang memudahkannya mengawasi siapa saja yang datang.Di tangannya, secangkir kopi sudah setengah dingin.Ia tidak terlalu peduli pada rasanya, pikirannya fokus pada satu hal: apakah Rian akan datang sendirian.---Pukul tepat dua belas siang, pintu kafe terbuka. Rian masuk, jaket hitamnya masih menutup rapat, mata tajamnya langsung menyapu ruangan. Begitu melihat Alma, ia berjalan cepat ke arahnya dan duduk tanpa basa-basi.“Lo milih ketemu. Artinya lo udah mikir ulang,” katanya, nada suaranya dingin tapi tidak setajam semalam.“Gue mau tahu sejauh mana gue bisa percaya lo,” balas Alma, matanya menatap lurus.Rian menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Percaya itu mahal, Alma. Dan gue nggak kasih gratis. Apalagi setelah lo main
Suara itu muncul dari balik pilar beton di sisi kiri.Alma menoleh, dan di sanalah Gio berdiri-dengan hoodie abu-abu, tangan di saku, dan raut wajah yang nyaris tidak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu."Lo... ke mana aja selama ini?" tanya Alma tanpa basa-basi."Dipindahkan," jawabnya singkat."Dipindahkan? Ke mana?""Unit lain. Tempat yang nggak banyak orang tahu."Alma melangkah lebih dekat."Kenapa lo kirim surat itu ke gue?""Karena kalau gue nggak kirim, lo nggak akan tahu kalau modul lo dipakai buat sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar presentasi."Alma menatapnya tajam."Lo tahu semua ini dari awal?""Gue tahu cukup banyak untuk bilang... lo lagi dipakai. Dan orang yang narik benang ini bukan cuma A.R.K., tapi juga lingkaran yang dia bangun di dalam."Angin malam berhembus, membuat hoodie Gio sedikit bergeser. Alma bisa melihat ada ID card di dalamnya-tapi bukan ID card instansi yang dulu."Lo kerja di mana sekarang?""Tempat yang masih punya mata ke dalam sistem
Alma berdiri di depan jendela kos.Lampu kota berkelip seperti rahasia yang menunggu dipecahkan.Di kepalanya, hanya ada satu pikiran.“Kalau benar Gio… berarti gue punya satu pintu masuk. Tapi juga satu alasan untuk lebih hati-hati daripada sebelumnya.”***Pagi berikutnya, Alma sudah duduk di warung kopi kecil di sudut jalan, jauh dari pusat kota. Bukan tempat yang biasa ia datangi, dan itulah tujuannya.Di sini, sinyal ponsel sering hilang, dan CCTV-nya cuma pajangan.Ia membuka laptop, tapi tidak langsung menghubungkannya ke internet. Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah flashdisk lama dari saku—hadiah kecil dari seorang teman IT beberapa tahun lalu, yang berisi software offline search untuk data pegawai.“Oke… kalau lo masih ada di sistem, nama lo akan muncul,” gumamnya pelanLayar menampilkan daftar pegawai dari seluruh unit instansi. Ia mengetik: Gio. Tiga hasil muncul—dua orang di daerah, dan satu orang dengan kode unit yang familiar.Matanya menyipit. Kode itu adalah unit proye