MasukDulu, Alma Raisa adalah seseorang yang percaya pada hati. Ia memilih pekerjaan, teman, bahkan cinta dengan perasaan yang tulus. Namun setelah dikhianati dan disalahkan atas sesuatu yang bukan kesalahannya, Alma belajar satu hal penting: dunia tak butuh rasa, dunia butuh logika. Kini, sebagai analis di perusahaan teknologi iklan, ia dikenal tajam, dingin, dan selalu benar. Hingga Gio Ardian datang — rekan kerja baru dengan cara pandang yang tak terduga. Pria itu membuatnya ingat bagaimana rasanya mempercayai seseorang lagi. Namun di balik proyek besar yang mereka kerjakan bersama, ada sistem yang tak sepenuhnya bersih. Sesuatu yang bisa menghancurkan segalanya bila satu bagian saja tergelincir. Ketika rahasia itu terbongkar, Alma, Gio, dan Rian dijatuhkan tanpa kesempatan membela diri. Dunia yang mereka bangun hancur seketika. Tapi dari puing-puing itu, mereka berdiri kembali — menciptakan Skala, perusahaan kecil yang berawal dari niat sederhana: bekerja dengan jujur, tanpa harus kehilangan diri sendiri. Namun ketika cinta dan karier berjalan beriringan, ujian datang lagi. Kali ini bukan dari sistem, melainkan dari keluarga. Ayah Alma menolak restu karena merasa Gio datang sendiri, tanpa tata, tanpa arah. Dan Alma pun dihadapkan pada dua pilihan: mempertahankan cinta, atau menghormati keyakinan ayahnya.
Lihat lebih banyakAlma pulang kampung tanpa rencana besar. Hanya koper kecil. Hanya niat menenangkan kepala. Desa itu masih sama—jalan sempit, pohon mangga di tikungan, dan rumah tua dengan teras rendah yang selalu menyambutnya pulang tanpa tanya. Ibunya memeluk lebih lama dari biasanya. Bapaknya tidak banyak bicara. Sampai malam itu. Mereka duduk di ruang tengah. Lampu kuning. Jam dinding berdetak pelan. “Ma,” suara Bapaknya rendah tapi tegas, “kamu sudah cukup lama sendiri.” Alma diam. “Bapak gak mau kamu nunggu sesuatu yang gak pasti,” lanjutnya. “Ada laki-laki baik. Keluarganya jelas. Niatnya baik. Besok… kita akad.” Kata besok jatuh seperti pintu yang ditutup pelan—tapi rapat. Alma ingin bertanya. Ingin menolak. Ingin bilang bahwa hatinya belum selesai. Tapi wajah Bapaknya bukan wajah memaksa. Itu wajah orang tua yang takut anaknya terus berjalan tanpa sandaran. “Ini bukan paksaan,” ibunya menyentuh tangannya lembut. “Ini ikhtiar.” Alma mengangguk. Karena kadang, lelah membuat kita berhenti me
Ia berhenti di beberapa kalimat, membiarkan maknanya lewat tanpa di tahan. Seperti membaca sesuatu yang dulu terlalu berat untuk di sentuh, kini hanya terasa… ada.Sekali. Dua kali. Ia menunggu reaksi dari tubuhnya sendiri. Bukan dari ingatan. Bukan dari kepala. Menunggu dada sesak. Menunggu perut mengeras. Menunggu rasa ingin menjelaskan, membela, atau membantah— refleks lama yang biasanya datang tanpa diundang.Tapi yang datang… hening. Hening yang tidak kosong. Hening yang tidak dingin. Dadanya tidak sakit. Tidak sesak. Hanya terasa penuh— bukan oleh emosi, melainkan oleh kesadaran yang akhirnya utuh.Kesadaran bahwa ia pernah mencintai dengan jujur. Bahwa ia pernah di tinggalkan tanpa penjelasan. Dan bahwa dua hal itu bisa sama-sama benar tanpa harus saling meniadakan.Ia mengetik balasan. Kata pertama muncul. Lalu terhapus. Kalimat kedua sempat terbentuk— lebih rapi, lebih dewasa, lebih tenang. Lalu menghilang juga. Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan.Ada banyak. Terlal
Di sisi paling belakang gedung, dekat pilar besar yang setengah tertutup bayangan lampu, seseorang berdiri tanpa jas resmi. Ia tidak ingin terlihat seperti tamu. Tidak ingin terlihat seperti bagian dari acara. Tidak ingin ada yang menoleh dan bertanya kenapa ia ada di sana. Hanya kemeja gelap dengan kancing terbuka satu— pilihan yang sengaja netral, cukup rapi untuk tidak mencolok, cukup santai untuk bisa pergi kapan saja. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali ia bercermin dengan niat. Bukan karena lupa memotong, tapi karena ada hal-hal yang belakangan tidak lagi ia atur dengan ketat. Wajahnya lebih tirus— bukan karena sakit, melainkan karena hidup yang terus berjalan meski seseorang memilih menjauh, dan tubuh yang ikut menyesuaikan tanpa diminta. Gio. Ia datang tanpa undangan fisik. Tanpa niat mendekat. Tanpa rencana apa pun selain memastikan satu hal sederhana, apakah Alma baik-baik saja. Tidak untuk mengganggu. Tidak untuk mengubah apa pun. Hanya memastikan b
Dua Tahun Kemudian Gedung pernikahan itu penuh lampu gantung dan bunga putih. Cahayanya lembut, tidak menyilaukan. Aromanya tipis—melati dan sesuatu yang manis, hampir seperti kenangan yang tidak memaksa untuk diingat. Tidak berlebihan. Tidak terlalu sederhana. Persis seperti Rian dan Reina—berisik di luar, rapi di dalam. Alma duduk di barisan depan, mengenakan gaun pastel sederhana yang ia pilih tanpa banyak pertimbangan. Tidak ingin terlalu menonjol. Tidak ingin menghilang juga. Ia sempat merapikan ujung gaunnya, refleks lama yang muncul setiap kali gugup—lalu tersenyum sendiri karena menyadari, ia tidak sedang menunggu siapa pun hari ini. Musik mengalun. Pintu terbuka. Reina berjalan masuk. Wajahnya bersinar. Matanya berbinar. Langkahnya mantap—meski kepalanya sedikit menoleh ke arah Rian dengan ekspresi yang hanya bisa diartikan sebagai ancaman penuh cinta. “JANGAN SALAH JALAN,” bisik Reina lewat gigi terkatup, senyumnya tetap terpasang sempurna. Rian
Ruang kerjanya sunyi, Reina berdiri di depan jendela kaca, menatap gedung-gedung tinggi yang berjejer di luar sana. Matanya kosong, tapi tangan kirinya terus mengetuk meja—ritme kecil yang tak beraturan, tanda pikirannya sedang kacau. Suara pintu diketuk pelan. Ega masuk, membawa tablet. “Maaf gang
Keheningan menyelimuti meja mereka. Hanya bunyi detik jam yang terdengar. Alma menunduk, menarik napas panjang. Rian mengetuk meja dengan jarinya, seolah membuang kegugupan. Beberapa menit sebelum pukul sepuluh, telepon kantor berdering. Suara HR dari seberang,“Saudara Gio, Alma, dan Rian, harap s
Rian dan Wina merayakannya diam-diam. Membawa kue kecil dengan tulisan:“Bukan pahlawan. Hanya orang yang gak mau bohong lagi.”Sore itu, kantor mendadak senyap, bukan karena sepi. Tapi karena... tegang.Rapat darurat diadakan secara tertutup. Tak ada pengumuman, tak ada undangan terbuka. Tapi desa
Suasana hening.Satu staf dari divisi desain angkat tangan. “Gue juga pernah, Kak. Ide desain gue dipakai presentasi, tapi gak dikasih kredit.”Yang lain menyusul. “Gue waktu itu kasih konsep buat kampanye, tapi malah dimasukin tim lain dan dibilang ‘ide bersama’.”Lalu satu suara dari belakang: “G






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.