Tangan, sentuhan, panggilan ... apa ini? Suara ini ...
"Amel," panggil Bibi itu dengan lembut. Sepertinya ia berusaha membangunkanku sedari tadi. Samar-samar aku bisa mendengar isak tangisnya. "Nak, Bibi keluar sebentar ...." Bibi itu lalu berjalan meninggalkanku.
TUNGGU!
Aku baru menyadari beberapa saat setelah nyawaku terkumpul sepenuhnya dari alam mimpi. Bibi itu saat ini sedang dalam perawatan. Aku segera berjalan menyusulnya.
"Bi ... Bibi mau kemana?" tanyaku sambil membantunya berjalan perlahan.
Ia menatapku sendu sebelum kemudian menjawab pertanyaanku. "Bibi mimpi buruk, Bibi harus melihat suami Bibi."
Aku juga bermimpi yang panjang. Entah itu hanya ingatan atau memang aku memimpikan semua kejadian tentang Joy yang telah berlalu.
Kami lalu berjalan mendekati ruang ICU. Di dalam sana ada seorang pria yang dicintai Bibi ini. Aku merasa kasihan dengan semua ini. Apa ini takdir yang terlalu beruntun atau nasib yang sedang mempermainkan mereka. Paman dan Bibinya Joy datang kemari untuk mengadakan upacara pemakaman tapi nasib berkata lain. Siapa yang menyangka mereka akan mengalami kecelakaan lalu lintas. Paman itu dirawat intensif sekarang.
Bibi itu melihat seorang perawat keluar dari ruang ICU. Tak ingin kehilangan kesempatan, Bibi langsung bertanya padanya. "Sus, bagaimana dengan suami saya? Apa kondisinya semakin membaik?"
Perawat itu tersenyum penuh makna lalu menjawab, "untuk saat ini kondisinya masih belum stabil. Ibu juga perlu memperhatikan kondisi diri sendiri." Perawat itu juga berkomentar lagi setelah melihat Bibi yang berjalan lengkap dengan tiang infusnya.
"Nah kan ... Ayo Bi, kita kembali ke kamar," kataku mengajak Bibi kembali ke ruang perawatannya.
"Sebentar saja, Bibi mau di sini sebentar saja," pintanya dengan sendu. Aku tidak kuat melihat wajah itu.
Perawat yang melihat kami hanya mengangguk tanda mengijinkan. Akhirnya, kami hanya duduk di ruang tunggu depan ruang ICU.
"Bibi bermimpi tentang Joy tadi ...," ucap Bibi membuka kembali topik hingga kmai tidak perlu menghabiskan waktu hanya dengan berdiam.
"A ...." Aku hanya bisa menjawab seadanya. "Bibi merindukannya, bukan?"
"Sangat. Ia mengulurkan tangannya dan memanggilku, lalu ke ruang ini. Itu yang Bibi lihat dalam mimpi."
Aku mengerti, itu seperti 'kata orang' saat bermimpi bertemu dengan orang yang sudah meninggal dan memanggil kita, ada kemungkinan ia mengajak kita untuk 'ikut' bersamanya. Setelah mimpi itu sepertinya Bibi langsung teringat akan suaminya yang masih terbaring tidak sadarkan diri sekarang.
"Itu hanya sebuah mimpi," ucapku menenangkan Bibi sambil menepuk pelan punggung tangannya.
Bibi menarik napas panjang. "Ayo, kita kembali. Maaf ya Nak, kedatangan kami malah semakin merepotkanmu."
"Tidak masalah," balasku. Kami lalu berjalan kembali menelusuri lorong-lorong rumah sakit sebelum masuk kembali dalam ruang perawatan Bibi.
Aku segera membantu Bibi untuk naik di atas tempat tidur pasien, setelah itu aku duduk kembali di kursi dan memainkan ponselku.
"Paman akan baik-baik saja, istirahatlah, Bi," ucapku saat mataku menangkap pandangan sendu dari wajah Bibi itu.
"Bibi rasa mimpi itu terlalu nyata."
"Bi ... jujur sampai sekarang aku masih belum menerima kepergian Joy. Namun aku bisa membedakan kenyataan dan mimpi."
Bibi hanya terdiam saja setelah mendengar perkataanku. Aku yakin, ia bisa menangkap maksudku. Aku bukannya tidak percaya dengan keberadaan firasat atau sejenisnya, hanya saja aku berharap Bibi bisa kembali sehat secepatnya. Aku tahu saat ini Pamannya Joy dalam keadaan kritis, ada hal buruk yang bisa saja terjadi.
"Tidurlah, Bi ... besok pagi kita bisa melihat Paman lagi dan juga melihat bayi kecil milik Joy. Seketika Bibi ingat keberadaan manusia mungil itu.
"Ah iya ... bayi cantik itu, aku harus menemuinya." Bibi melihat langit-langit ruangan, ia berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.
"Harus! Bibi harus menemuinya. Bibi kan berada di sini untuk itu." Aku membalas ucapan Bibi dengan semangat.
"Amel ... kamu juga harus beristirahat. Terima kasih sudah mau direpotkan."
"Bi ... bagaimana dengan Tante Carla?" tanyaku sedikit ragu.
"Mereka baik-baik saja."
"Apa kita bisa menghubungi mereka?"
Bibi menggeleng. "Maafkan aku, Nak Amel ... bahkan sebagai saudaranya pun aku tidak tahu keberadaan pasti orang tua Joy."
"Hm ...."
"Joy ... maafkan Bibi," ucap Bibi sambil memandang langit-langit kamar ruang rawatnya. Bibi melihatku sebentar lalu mulai berucap lagi, "Bibi jadi penasaran seperti apa rupa Bima itu. Dia pasti laki-laki brengsek yang menjebak Joy."
Mendengar alimat itu, aku sangat setuju dengan pendapat Bibi. Bima di mataku juga hanyalah laki-laki parasit yang memanfaatkan sifat polos Joy.
"Katakan padaku Nak, seperti apa laki-laki itu?"
"Sejujurnya aku tidak begitu mengenalnya," jawabku jujur.
Aku melihat Bima hanya hitungan jari. Pertama, aku tidak suka mencampuri urusan Joy. Dan alasan yang kedua, bagiku lelaki itu tidak setampan yang dibicarakan oleh orang-orang. Ugh, mungkin seleraku yang terlalu tinggi. Gadis biasa yang mengagumi ketampanan member Kpop Idol mana bisa dialihkan dengan anak laki-laki yang bertampang biasa saja. Oke, oke, aku akui kali ini aku sedikit berlebihan. Bima tergolong tampan, catat itu.
"Apa Nak Amel dan Joy tidak begitu dekat?"
"Ha?"
"Perasaan Bibi saja."
"Ah ... itu ..."
Bibi tertawa pelan. "Sepertinya benar."
"Tidak seperti itu ... aku dan Joy baik-baik saja. Ah, sekarang aku harus membubuhkan kata mendiang di depannya."
"Dia akan tetap berada dalam hati kita meski jiwanya sudah berada di dunia yang berbeda."
Sekarang, aku yang menatap dalam wajah Bibi. Perlahan, aku merasa wanita di depanku ini perlahan merelakan kepergian Joy.
"Bibi ... bolehkah aku memberi saran? Bibi seharusnya tidur sekarang."
"Baiklah, nona muda ...." Bibi mengikuti perkataanku. Ia menarik selimut dan memposisikan dirinya dengan nyaman. Beberapa menit kemudian ia tertidur dengan pulas.
Aku memandang heningnya jalan lewat jendela. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang sekarang. Jelas saja, siapa yang akan memenuhi jalan saat subuh seperti ini? Jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi. Aku tidak bisa tidur. Ini sangat lucu. Aku menyarankan pada orang lain untuk beristirahat padahal aku sendiri tidak bisa tidur.
"Satu domba, dua domba, tiga domba ...." kataku sambil membayangkan ada domba berlarian dan melompati pagar satu per satu. Konon katanya cara ini membantu untuk menstimulasi rasa kantuk.
Waktu berlalu, sampai pada domba ke-947 aku tak kunjung merasakan kantuk. Bukannya senang, aku menjadi kesal sekarang. Pikiranku mulai melayang-layang, bagaimana kalau tiba-tiba Joy muncul di hadapanku sebagai makhluk lain.
"Aish! Tolong jangan ganggu aku."
Sedetik kemudian aku tertawa kecil.
Apa yang aku pikirkan, dasar penakut.
Akhirnya aku menyadari satu hal. Botol infus Bibi sudah kosong. Ah, ceroboh sekali aku ini. Aku segera mencari seorang perawat di nurse center dan segera memberitahukannya. Segera, perawat itu mengikutiku dengan sebotol infus baru dan perlengkapan lainnya. Kami kembali ke ruang rawat. Perawat itu dengan cekatan melakukan tugasnya.
"Terima kasih, Sus," ucapku dengan sopan.
"Sama-sama," balasnya dengan senyum lalu kembali ke ruangannya.
"Ah, baiklah Amel ... sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang."
Aku menarik napas panjang kemudian memilih duduk di ruang tunggu meninggalkan Bibi yang sudah menejelajah kembali di dunia mimpi.
Tidak ada yang tahu tentang hari esok. Kenyataan bila Lara juga memiliki keluarga inti adalah hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Aku dan Bibi Susana akhirnya memutuskan untuk melakukannya—membawa bayi cantik itu untuk menemui sang Nenek.Hari ini akhirnya datang juga. Bagaimanapun juga, aku masih harus membawa bayi itu untuk menemui keluarganya—maksudnya keluarga dari pihak Joy. Seorang Amel dengan bayi dalam gendongannya mungkin akan mengejutkan papa dan mama Joy. Ah, semua itu tak masalah.“Amel, kamu yakin sudah mau bertemu Tante Carla sekarang?” tanya ibuku. Beliau tidak ikut. Katanya merasa tidak enak badan.“Ya kalau enggak sekarang, terus kapan? Cepat atau lambat, mereka harus tahu tentang cucunya. Kalau Mama di posisi
“Um … kalian belum memutuskannya?” Muti semakin ingin tahu. “Sumpah, kalau bisa, Lara tinggal bersama kami saja selamanya. A ….” Aku berhenti sejenak. Ini memang sedikit aneh. Mungkin para tetangga bisa langsung pingsan jika mendengar semua cerita panjang ini. Bagaimana bisa sebuah keluarga yang selama ini tinggal di dekat mereka ternyata masih memiliki anak yang lain tetapi tidak diketahui. “Papa dan Mama mesti menjelaskan satu dan lain hal pada para tetangga. Ugh, dan … sudah pasti awalnya mereka tidak akan mempercayainya. Tetap saja, bakal ada tetangga yang … hm … langsung menuduh kalau cerita itu adalah karangan Papa dan Mama saja agar menutupi aibku.” “Hah
“Amel, ayo … kita sudah sampai di bandara. Nanti kamu bisa tidur lagi sepuasnya di ruang tunggu dan di pesawat.” Suara ayah benar-benar membuatku tersadar dari alam lain.“O … a … ng … hoaaamm ….”Aku mulai melihat ke luar. Ini memanglah kawasan bandara. Padahal baru pagi tadi kami tiba dan sekarang sudah mau pulang saja. Hm … luar biasa sekali perjalanan yang singkat ini. Kalau diingat-ingat lagi. Ah, apalah itu. Intinya aku hanya ingin segera pulang ke rumah!Memang seperti itulah yang aku lakukan—tidur di ruang tunggu selama kurang lebih satu setengah jam, lalu melanjutkannya saat di dalam pesawat. Anggap saja ini adalah balas dendam tentang waktu istirahatku yang tersita.
Setelah mendapatkan informasi penting lain yang tak kalah membuat terkejut, kupikir akan datang berita baik. Aku salah besar. Ini jauh lebih buruk dari yang kubayangkan.Dan inilah yang terjadi sebelum Bibi Susana masuk ke dalam kamarku.Ponselku terus berdering. Bukan satu atau dua, bahkan panggilan dari satu orang. Tiga orang yang kusewa sebagai ‘mata-mata’ untuk mencari keberadaan Bima menghubungiku. Jelas, ini bukanlah sebuah pertanda yang bagus. Meski begitu, aku masih berusaha untuk berpikir yang jernih dan berharap apa yang aku pikirkan tidaklah benar.Bukan hanya itu, karena sedikit terlambat, panggilan itu terhenti. Kupikir mereka akhirnya menyerah. Aku salah, sebuah panggilan masuk melalui telepon rumah. Sedikit langka memang di era sekarang masih memiliki nomor telepon rumah.
Sampai pada akhirnya aku sudah harus kembali ke kota tempatku kuliah. Muti sama sekali tidak bisa berjanji bila ia bisa hadir saat wisudaku. Tidak apa-apa, toh pada akhirnya kami masih akan bertemu di kota yang sama. Tentu saja saat aku sudah kembali pulang.“Sampaikan salamku pada Cintia juga. Ah, rasanya aku menjadi kesal sekarang.”“Tidak masalah, Muti. Aku dan Cintia bisa memahaminya. Kamu kan harus bekerja. Kita bisa merayakannya bersama lain kali saja.” Aku berusaha menenangkan Muti yang merasa bersalah.”“Hati-hati, ya.”Aku dan Muti saling mengucapkan salam perpisahan. Ayah dan ibu tidak mengantar. Ayahku jelas sedang
Benar saja, aku dan ibuku melakukannya! Kami pergi bersama ke tukang jahit baju. Suasana di antara aku dan ibu menjadi jauh lebih baik. Ya, memang sudah seharusnya begitu. Memangnya aku mesti marah sampai berapa lama?Kami langsung pulang setelah pengukuran untuk pola selesai. Dengan penambahan 2 cm untuk jaga-jaga. Jangan sampai dalam tiga minggu ini badanku menjadi naik. Itu bukanlah hal yang tidak mungkin apalagi bila menjelang masa datang bulan. Aku akan makan jauh lebih banyak.“Tukang jahitnya, gimana? Ramah, bukan?”“Hm m. Mungkin karena Mama sudah langganan sangat lama. Belum tentu sama pelanggan baru.”“Astaga, anak ini ….”