MasukDiah dan Ambar adalah saingan saat seleksi CPNS. Siapa sangka, jika mereka akan menjadi rival terus menerus setelahnya. Anak Diah, Meida, mengalami perundungan yang dilakukan oleh gurunya sendiri, Ambar. Setiap hari ia disiksa secara psikisnya di dalam kelas. Ambar juga kerap menyuruh taman-teman satu kelas untuk membully Meida. Diah tidak terima dengan itu dan bertekad akan membalas. Diah tahu jika Ambar terlibat perselingkuhan dan ia bertekad akan membuat Ambar hancur.
Lihat lebih banyakI loved my fiancé with all my heart and couldn't wait to marry him.
Poor man, he worked too much and couldn't postpone his business trip, but he promised to spend the entire following weekend with me, which satisfied and made me happy.
My friend Chloé insisted that I go out with her. Even though my fiancé didn't like me going to bars or nightclubs, I thought it wouldn't hurt to go out for a night, especially since I felt very lonely.
"You should loosen up a bit, my friend," she looked at me sternly, "your dear Bastian controls you as he pleases, and here you are, following behind him like a little dog, you're too submissive, Juliette."
"But I love him," I said with a grimace, hurt by her words. "Besides, he only wants to take care of me, what's wrong with that?"
My friend rolled her eyes impatiently.
"Not to the point of forbidding you things, Juliette. Don't you see that you're living locked up at home waiting for him, and all you do is work and go back to your apartment? That's not a life for anyone, you're too uptight."
"That's not true," I said confidently. "Bastian and I agreed not to have sex and to wait until marriage... he's been very kind and respectful towards me, Chloé."
My friend sighed, she would never understand how love can make us do crazy things and change our way of thinking.
I just didn't feel like going out without my fiancé. But I let myself be tempted because I was really a bit bored and missed him a lot.
We entered the establishment and the atmosphere was lively. I smiled at my friend, and she started moving her hips to the music, conveying her usual joy and audacity to me.
"Let's have a blast!"
And that's what we did, even though I avoided any closeness with a man trying to flirt with me, I had to remain faithful to my fiancé, who would surely arrive soon. Just thinking about it, a smile formed on my face.
"Chloé, you don't even know these guys," I scolded her as her attitude left much to be desired. "Let's go home instead, it's late and Bastian is coming back early tomorrow from his trip. I need to look beautiful for him."
She pouted, as we had promised to come and go together to avoid any danger, the streets were very deserted at this time and we had to be careful.
I felt my head spinning a bit, but I was still lucid enough to walk straight, unlike my friend who seemed dizzy and very cheerful.
"Let's go to your place first," I told her, seeing her sorry state.
After leaving her safe and sound and as I was near the exit of the building, I realized there was a man who looked a lot like Bastian, I could almost swear it was him.
"I miss him a lot, that must be it," I murmured.
I laughed a bit realizing I was already hallucinating and I had barely had a few drinks.
The man slightly turned around and my eyes widened, it was indeed Bastian and he was accompanied by a stunning young woman.
I was very surprised, shocked.
To avoid being seen, I hid behind a column. Just after they left a bar, I decided to follow them, keeping my distance.
I felt it was a game of my mind disturbed by alcohol. I couldn't believe what my eyes were seeing. My heart told me it wasn't him, that I should go home, but deep down, I knew that wasn't the case.
A few steps away was the Moonlight Hotel, they entered there, very absorbed in each other, kissing a lot, without noticing my presence.
I was sweating profusely, the man I loved the most was with another woman, and it wasn't me.
They entered the room and after a few minutes, I decided to confront the situation and see who the woman he was cheating on me with.
I knocked on the door violently, furious, hurt, and impatient.
Bastian opened the door, he was shirtless, and when he saw me, he opened his eyes wide in surprise.
"Juliette, what are you doing here?"
My eyes burned from the tears streaming down my face. I pushed him aside and entered the room.
I felt like I was going to faint when I saw my own sister on the bed, half-dressed.
"I can't believe this!" I turned to him, furious, "you're sleeping with my sister, you bastard, and you, Sophie, how could you do this to me? We're family."
"I regret nothing, little sister. Truth be told, you're quite stupid, you never realized that for a year, we were lovers. You've been a fool."
His words were pure venom, how could she be so cruel?
Bastian approached me.
"Juliette, there's an explanation for all of this."
"What do you have to explain? That you and my sister made a fool out of me?"
Sophie looked me straight in the eyes, a mocking smile on her lips.
"Juliette, you and I are not sisters. Stop mentioning that word."
"What! Don't talk nonsense."
"If you don't believe me, ask our parents, besides, I'll never forgive you for stealing their affection from me. I hate you with all my heart."
"Stop, Sophie, your words hurt me."
"You're naive, did you really think Bastian wanted you? You're nothing compared to me, you're bland and boring."
"I told you to stop!"
"It's the truth, little sister, you don't arouse any desire in men. In the past two years, has Bastian ever wanted to touch you?"
He stepped in between us.
"Sophie, stop it, please."
"I'm a fool, I trusted the wrong person, I wish you both all the happiness, I won't be an obstacle in your relationship, goodbye."
At that moment, Bastian grabbed me by the arm, Sophie asked him to let go of me and leave me alone.
"Beautiful, let me explain how things happened."
"Don't call me beautiful anymore, there's nothing to explain, this relationship is over, you're a fool and yet you had the nerve to propose to me, never speak to me again."
I left in tears, I couldn't process what my eyes had seen, and Sophie's words kept replaying in my head.
“Mbak Ambar sejak kapan datang?” tanya Sekar.“Tidak penting aku datang sejak kapan. Makanya, Mas, jangan menolak kebaikan orang lain. Istrimu itu lemah, setiap hari belum tentu bisa melakukan banyak hal.”“Ambar, tolong jangan buat suasana tidak nyaman! Aku tidak pernah menyuruh kamu kesini.” Dengan tegas Catur memberi ultimatum.“Aku mau menengok Ibu bagaimana keadaannya. Kasihan Ibu, jangan karena sedang tidak sadar terus tidak diurus dengan baik.”“Apa maksudnya tidak diurus dengan baik, Mbak?” Sekar langsung protes.“Lhah, pake nanya lagi. Kemarin itu aku mengelap tubuh Ibu, kasihan, tidak pernah diurus. Makanya, jangan melarang orang menjenguk dan merawat.”“Kemarin Mbak Ambar kesini, Mas?” tanya Sekar pada Catur sambil menatap tajam.“Mas Catur nggak bilang sama kamu?” Ambar balik bertanya. “Kemarin aku kesini sekaligus bawain Mas Catur makanan.”“Tapi aku tidak memakan sedikitpun makanan yang kamu bawa, Ambar. Jangan membuat masalah!” Catur menoleh memastikan tidak ada yang me
Part 6“Aku pasti punya celah untuk memisahkan kalian,” ucap Ambar sambil membanting bekal makanan yang isinya masih penuh.Wanita berpostur tinggi semampai itu lalu melepas jilbab dan mulai bersiap-siap untuk berangkat jualan.***Suasana tempat Ambar berjualan tidak terlalu ramai. Hujan yang mengguyur kota Jogja sejak sore hari sepertinya membuat warga malas untuk keluar. Hal itu membuatnya semakin emosi. Beberapa kali ia berkata yang tidak enak hati terhadap karyawan.Di rumah kontrakannya, Micella duduk termenung di teras. Sudah beberapa bulan ia memilih kembali ke Jogja, kota yang telah menciptakan banyak kenangan dalam hidup, sekaligus menorehkan luka atas rasa cinta terlarang dengan Sekar.“Masih cerewet seperti dulu,” gumamnya mengenang pertemuan dengan Sekar di warung sate.Ponselnya berdering terus, tetapi ia abaikan. Dan kali ini berbunyi lagi.“Apa? Mau nyuruh aku pulang dan jadi istri yang baik?” ucapnya ketus.“Aku butuh sendiri, aku butuh me time. Bisa tidak jangan gang
Ambar mematut diri di depan cermin. Berdandan cantik dan sudah menyiapkan bekal makanan untuk dibawa ke rumah sakit. Informasi dari Sekar jika Catur sedang di sana, membuat wanita itu punya ide untuk dijadikan peluang mendekati mantan suaminya.Parfum yang semerbak wanginya membuat beberapa orang yang berpapasan dengan Ambar di rumah sakit--menoleh memperhatikannya.Catur yang sedang duduk termangu di depan ruang ICU menoleh saat suara Ambar memanggil. “Kamu ngapain kesini?” tanya Catur kaget.“Ya mau lihat keadaan Ibu lah, Mas. Emangnya mau apa? Gak boleh? Aku mau mendoakan Ibu lho, Mas, mendukung kamu juga dalam keadaan seperti ini.” Ambar duduk di samping Catur tanpa malu.“Terima kasih sudah perhatian, tapi tolong, Ambar, aku mohon jangan seperti ini! Kita sudah bukan suami istri lagi dan posisinya aku di sini sendiri tidak ada Sekar.”“Mas, aku tidak sedang mengajak kamu tidur bersama! Jadi tidak usah berlebihan gitu kenapa?”“Kalau Sekar tahu aku berduaan dengan kamu di sini, i
Part 5Sekar tidak dapat memejamkan mata. Masih terbayang wajah Micella yang datar seolah mereka tidak saling kenal. Namun, jas hujan yang rela diberikan sudah cukup menjadi bukti kalau ia masih peduli dengan perempuan yang dulu pernah tinggal bersama.Sekar bangun dan duduk bersandar pada tembok, menatap Inggit yang sudah tertidur pulas. Ia berjuang untuk sembuh dari penyimpangan yang pernah dilakukan hingga saat ini dirinya memiliki keluarga yang bahagia. Akan tetapi otaknya terus berpikir kenapa Micella datang di saat Ambar juga kembali ke dalam kehidupan Catur.***“Ayah masih di rumah sakit, jadi Mama yang ikut rapat wali murid ya, Ndis?” Ketika menyiapkan sarapan, Sekar bertanya.“Iya.” Gendis menjawab singkat.“Inggit juga nanti ikut.”“Iya.”Sekar merasa ada perubahan yang Gendis tunjukkan setelah bertemu dengan Ambar.“Atau mau Bunda Ambar saja yang datang?”“Mama apaan sih?” Gendis menatap tidak suka.“Maaf, Mama hanya menawarkan saja.” Sekar mengusap kepala Gendis.Dengan me
Part 5Malam hari aku sudah berkonsultasi dengan Mas Rizal. Dia mendukung sepenuhnya apa yang akan kulakukan.“Maaf ya, Dek, Mas gak bisa bantu kamu. Mas sudah pakai finger buat absen. Berangkat harus pagi, pulang harus siang,” kata Mas Rizal. “Tapi kalau memang nantinya ada masalah serius, Mas ak
Part 4Jam istirahat telah tiba. Saatnya guru-guru kembali ke kantor. Kali ini semua orang diam karena peristiwa pagi tadi membuat kesal. Pak Sela masih duduk di kursinya dengan menghadap laptop. Sesekali ia juga bermain ponsel. Sejak datang, murid di kelasnya sama sekali tidak diajar. Seperti itul
Part 3Meida Hasya Rumaisa. Nama anak sulungku. Seorang gadis kecil yang sangat lincah dan multi talenta. Ia menguasai banyak hal. Dari menyanyi, bercerita, membaca puisi dan juga berpidato. Meski baru menginjak kelas dua SD, ia mampu melakukan itu karena sudah terbiasa mengikutiku saat melatih sis
Part 2Dengan terburu-buru aku mandi dan berdandan ala kadarnya. Yang penting memakai suncare, lipstick dan minyak wangi saja. Menggendong Nazmi dan menaiki motor mengantarkan dia ke rumah Ibu. Tidak lupa, tas dan juga bekal buat Meida aku bawa serta.Saat sampai di sekolah Meida, suasana sudah ram






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak