MasukCahaya lampu sorot yang menyilaukan mata langsung menghantam tubuh Nika, Ardi, Gibran, dan Dania begitu mereka berhasil keluar dari lubang pemeliharaan bawah tanah. Suara deru mesin beberapa mobil taktis dan sedan hitam bergema memantul di dinding-dinding gudang pelabuhan yang kosong dan berkarat. "Sial, kita terjebak!" seru Gibran panik, matanya liar mencari celah untuk melarikan diri ke arah kontainer-kontainer pelabuhan di sekeliling mereka. "Jangan bergerak atau kalian akan tertembak!" suara berat dari pengeras suara kembali membahana, memecah angin malam pelabuhan yang dingin. Ardi yang berdiri sempoyongan dengan luka tembak di perutnya langsung menarik tubuh Nika ke belakang punggungnya. Meski wajahnya pucat pasi dan tenaganya hampir habis, ia tetap berusaha melindungi gadis itu. "Nika, dengar... kalau mereka mendekat, kamu harus lari ke arah kontainer itu. Jangan pedulikan aku." Nika langsung mencengkeram lengan Ardi dengan erat, menatap pria itu tajam. "Jangan bi
Bau lembap, lumpur, dan karat berpadu menjadi satu di dalam saluran utilitas kota yang remang-remang. Hanya ada pantulan cahaya senter dari ponsel Gibran yang membelah kegelapan terowongan beton berukuran sedang itu. Air setinggi mata kaki mengalir lambat, menciptakan suaracipratan kecil setiap kali sepatu mereka melangkah. "Ardi, bersandarlah padaku lebih banyak," bisik Dania cemas, membantu Gibran memapah Ardi yang napasnya mulai terdengar memburu. Ardi menggeleng pelan, wajahnya yang pucat pasi diterpa cahaya redup. "Tidak... Dania, simpan tenagamu. Aku masih bisa berjalan sendiri." "Jangan sok kuat, Ardi!" suara Nika memecah kesunyian dari belakang. Ia berjalan dengan waspada sambil terus memindai area belakang menggunakan senter kecilnya. "Kalau kamu pingsan di sini, kami tidak punya alat medis untuk mengangkatmu. Jadi, berhenti berdebat dan ikuti saja instruksi Dania." Ardi menoleh ke belakang, menatap Nika dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Kamu benar-benar t
Suara derit pintu klinik yang bergeser pelan terdengar sangat memekakkan telinga di tengah kesunyian malam. Di ambang pintu kamar rawat, Gibran berdiri dengan napas memburu, sementara Dania di sampingnya tampak menggigit kuku karena dihantam kepanikan yang teramat sangat. "Mobil itu... mereka sengaja mematikan lampu utamanya saat masuk ke area parkir belakang," bisik Gibran cepat, matanya melirik tajam ke arah lorong luar yang gelap. "Jumlahnya dua unit sedan hitam. Ciri-ciri fisiknya sama persis dengan mobil yang mengejar kita di gudang tadi." Ardi langsung mencoba merosot turun dari ranjang, namun nyeri hebat di bagian perutnya akibat luka tembak membuat wajahnya mendadak pias seketika. Ia meringis tertahan, tangannya mencengkeram seprai putih hingga buku-buku jarinya memutih. "Ardi, kumohon jangan bergerak!" seru Nika panik. Ia segera melepaskan genggaman tangan Ardi dan bangkit dari kursi, lalu menahan bahu pria itu dengan kuat. "Kamu baru saja selesai menjalani oper
Langkah kaki Nika terasa begitu berat saat ia menyusuri koridor klinik yang sunyi. Bau disinfektan bercampur dengan aroma obat-obatan antiseptik menusuk hidungnya, memperkuat rasa pusing yang masih berdenyut di kepalanya. Di sampingnya, Dania berjalan menopang lengannya, sementara Gibran memimpin jalan di depan menuju ruang rawat khusus tempat Ardi dipindahkan. "Kamu yakin sudah kuat jalan, Nik?" bisik Dania cemas, matanya melirik sekilas ke arah perut Nika yang masih rata. Nika mengangguk pelan, meski tenggorokannya terasa tercekat. "Aku harus bicara dengannya, kak Dan. Aku tidak bisa menyimpan ini sendirian lebih lama lagi." Begitu mereka tiba di depan pintu kamar rawat, Gibran mendorongnya pelan. Ruangan itu tampak remang-remang, hanya diterangi oleh lampu tidur kecil di sudut ruangan dan monitor detak jantung yang berbunyi tit... tit... tit secara konstan. Ardi berbaring di atas ranjang dengan selang infus menancap di punggung tangan kanannya. Wajahnya yang pucat dipenuhi
Klinik pribadi keluarga Pak Surya di kawasan Pluit tampak sunyi dari luar, menyatu dengan deretan ruko tua yang tutup lebih awal karena badai.Begitu mobil pickup Gibran berhenti di depan pintu geser klinik, seorang perawat paruh baya berjas putih langsung membukakan jalan, seolah sudah diberi instruksi darurat sebelumnya. "Bawa dia ke ruang bedah minor di belakang," ucap perawat itu tenang, sama sekali tidak panik melihat kondisi Ardi yang berlumuran darah. Gibran dan Dania segera memapah Ardi masuk. Nika ikut melangkah, namun langkahnya terhuyung. Pandangannya tiba-tiba kabur. Lantai klinik seolah berputar hebat, dan aroma disinfektan yang tajam membuat gelombang mual di perutnya semakin tak tertahankan. "Nika!" suara Dania terdengar berdenging di telinga Nika sebelum semuanya berubah menjadi gelap. Nika membuka matanya perlahan. Langit-langit ruangan itu berwarna putih bersih dengan bau khas rumah sakit yang langsung menusuk hidungnya. Ia berada di sebuah kamar rawat inap k
Hujan di pinggiran Jakarta Utara turun semakin deras, mengubah tanah di sekitar gudang menjadi lumpur licin. Nika memapah Ardi sekuat tenaga, napas mereka memburu di tengah kegelapan. "Nika, berhenti..." Ardi terbatuk, darah segar mengucur dari sudut bibirnya. "Aku sudah tidak kuat. Kamu harus lari sendiri." Nika menghentikan langkah, memutar tubuh Ardi agar pria itu menatap matanya. "Jangan bicara bodoh! Kita baru saja keluar dari neraka itu, aku tidak akan membiarkanmu mati di tengah kubangan lumpur ini!" "Mereka mengejar kita, Nik!" Ardi menunjuk ke arah gudang di mana cahaya senter mulai menyapu liar di antara pepohonan. "Biar saja!" Nika menyambar lengan Ardi, mengalungkannya ke lehernya. "Kak Gibran dan kak Dania sudah menunggu di titik jemput, lima ratus meter di depan. Kita hanya perlu terus berjalan." "Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Ardi di sela-sela napasnya yang berat. "Setelah semua kebohongan yang aku katakan... setelah aku menjadikanmu pion..." Nika menata







