تسجيل الدخولSuara deru mesin mobil sedan hitam yang membawa Nika menderu kencang membelah jalanan tol lingkar luar Jakarta, meninggalkan pelabuhan tua yang kini perlahan kembali sepi. Di dalam kabin belakang yang pengap, tangan Nika terikat kencang di belakang punggungnya dengan kabel ties plastik yang mengerat pergelangan tangannya. Meski jantungnya berdegup kencang dan rasa mual akibat kehamilannya sempat mendera gelombang perutnya, Nika memaksa pikirannya tetap jernih. Ia tahu meronta atau berteriak tidak akan mengubah keadaan. Yang ia butuhkan saat ini adalah mengamati lingkungan sekitar dan mencari celah sekecil apa pun. Satu, dua, tiga... Nika dalam hati menghitung tikungan dan durasi perjalanan sejak mereka meninggalkan pelabuhan. Dari perhitungannya terhadap guncangan mobil dan arah angin, ia yakin mereka dibawa ke kawasan industri lama di daerah Pulogadung atau sekitar Cakung, basis gudang logistik terbengkalai yang sering digunakan sebagai tempat penyimpanan gelap. Benar saja, be
"ARDI!" teriakan Nika memecah malam yang dingin saat para penjaga bertubuh kekar itu mulai menerjang ke arah kelompok mereka dengan senjata terhunus. Ledakan kecil yang memekakkan telinga mendadak meletus dari genggaman Ardi, menciptakan kepulan asap tebal berwarna putih dan kilatan cahaya yang menyilaukan mata. Cahaya itu seketika membutakan pandangan para penjaga, membuat mereka tersentak mundur sambil mengumpat dalam bahasa asing.Memanfaatkan kekacauan singkat itu, Gibran langsung bertindak cepat, ia menarik tangan Dania dan Nika dengan kuat, membimbing mereka merangsek masuk ke dalam celah sempit di antara tumpukan kontainer pelabuhan yang berkarat. "Lewat sini! Jangan berhenti, cepat!" bisik Gibran panik, napas mereka memburu di tengah gelapnya lorong antar-kontainer. Namun, takdir berkata lain. Sebelum Nika sempat melangkah lebih jauh ke dalam keamanan bayangan kontainer, sebuah lengan kekar tiba-tiba mencengkeram bahunya dari belakang dengan tenaga yang luar biasa besar.
Cahaya lampu sorot yang menyilaukan mata langsung menghantam tubuh Nika, Ardi, Gibran, dan Dania begitu mereka berhasil keluar dari lubang pemeliharaan bawah tanah. Suara deru mesin beberapa mobil taktis dan sedan hitam bergema memantul di dinding-dinding gudang pelabuhan yang kosong dan berkarat. "Sial, kita terjebak!" seru Gibran panik, matanya liar mencari celah untuk melarikan diri ke arah kontainer-kontainer pelabuhan di sekeliling mereka. "Jangan bergerak atau kalian akan tertembak!" suara berat dari pengeras suara kembali membahana, memecah angin malam pelabuhan yang dingin. Ardi yang berdiri sempoyongan dengan luka tembak di perutnya langsung menarik tubuh Nika ke belakang punggungnya. Meski wajahnya pucat pasi dan tenaganya hampir habis, ia tetap berusaha melindungi gadis itu. "Nika, dengar... kalau mereka mendekat, kamu harus lari ke arah kontainer itu. Jangan pedulikan aku." Nika langsung mencengkeram lengan Ardi dengan erat, menatap pria itu tajam. "Jangan bi
Bau lembap, lumpur, dan karat berpadu menjadi satu di dalam saluran utilitas kota yang remang-remang. Hanya ada pantulan cahaya senter dari ponsel Gibran yang membelah kegelapan terowongan beton berukuran sedang itu. Air setinggi mata kaki mengalir lambat, menciptakan suaracipratan kecil setiap kali sepatu mereka melangkah. "Ardi, bersandarlah padaku lebih banyak," bisik Dania cemas, membantu Gibran memapah Ardi yang napasnya mulai terdengar memburu. Ardi menggeleng pelan, wajahnya yang pucat pasi diterpa cahaya redup. "Tidak... Dania, simpan tenagamu. Aku masih bisa berjalan sendiri." "Jangan sok kuat, Ardi!" suara Nika memecah kesunyian dari belakang. Ia berjalan dengan waspada sambil terus memindai area belakang menggunakan senter kecilnya. "Kalau kamu pingsan di sini, kami tidak punya alat medis untuk mengangkatmu. Jadi, berhenti berdebat dan ikuti saja instruksi Dania." Ardi menoleh ke belakang, menatap Nika dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Kamu benar-benar t
Suara derit pintu klinik yang bergeser pelan terdengar sangat memekakkan telinga di tengah kesunyian malam. Di ambang pintu kamar rawat, Gibran berdiri dengan napas memburu, sementara Dania di sampingnya tampak menggigit kuku karena dihantam kepanikan yang teramat sangat. "Mobil itu... mereka sengaja mematikan lampu utamanya saat masuk ke area parkir belakang," bisik Gibran cepat, matanya melirik tajam ke arah lorong luar yang gelap. "Jumlahnya dua unit sedan hitam. Ciri-ciri fisiknya sama persis dengan mobil yang mengejar kita di gudang tadi." Ardi langsung mencoba merosot turun dari ranjang, namun nyeri hebat di bagian perutnya akibat luka tembak membuat wajahnya mendadak pias seketika. Ia meringis tertahan, tangannya mencengkeram seprai putih hingga buku-buku jarinya memutih. "Ardi, kumohon jangan bergerak!" seru Nika panik. Ia segera melepaskan genggaman tangan Ardi dan bangkit dari kursi, lalu menahan bahu pria itu dengan kuat. "Kamu baru saja selesai menjalani oper
Langkah kaki Nika terasa begitu berat saat ia menyusuri koridor klinik yang sunyi. Bau disinfektan bercampur dengan aroma obat-obatan antiseptik menusuk hidungnya, memperkuat rasa pusing yang masih berdenyut di kepalanya. Di sampingnya, Dania berjalan menopang lengannya, sementara Gibran memimpin jalan di depan menuju ruang rawat khusus tempat Ardi dipindahkan. "Kamu yakin sudah kuat jalan, Nik?" bisik Dania cemas, matanya melirik sekilas ke arah perut Nika yang masih rata. Nika mengangguk pelan, meski tenggorokannya terasa tercekat. "Aku harus bicara dengannya, kak Dan. Aku tidak bisa menyimpan ini sendirian lebih lama lagi." Begitu mereka tiba di depan pintu kamar rawat, Gibran mendorongnya pelan. Ruangan itu tampak remang-remang, hanya diterangi oleh lampu tidur kecil di sudut ruangan dan monitor detak jantung yang berbunyi tit... tit... tit secara konstan. Ardi berbaring di atas ranjang dengan selang infus menancap di punggung tangan kanannya. Wajahnya yang pucat dipenuhi







