بيت / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 42: Rahasia di Tengah Badai

مشاركة

Bab 42: Rahasia di Tengah Badai

مؤلف: Sasmita
last update تاريخ النشر: 2026-07-22 18:31:28

Klinik pribadi keluarga Pak Surya di kawasan Pluit tampak sunyi dari luar, menyatu dengan deretan ruko tua yang tutup lebih awal karena badai.

Begitu mobil pickup Gibran berhenti di depan pintu geser klinik, seorang perawat paruh baya berjas putih langsung membukakan jalan, seolah sudah diberi instruksi darurat sebelumnya.

​"Bawa dia ke ruang bedah minor di belakang," ucap perawat itu tenang, sama sekali tidak panik melihat kondisi Ardi yang berlumuran darah.

​Gibran dan Dania segera memapah
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Degrees Of Intimacy   Bab 48: Titik Balik di Markas Rahasia

    Suara deru mesin mobil sedan hitam yang membawa Nika menderu kencang membelah jalanan tol lingkar luar Jakarta, meninggalkan pelabuhan tua yang kini perlahan kembali sepi. Di dalam kabin belakang yang pengap, tangan Nika terikat kencang di belakang punggungnya dengan kabel ties plastik yang mengerat pergelangan tangannya. ​Meski jantungnya berdegup kencang dan rasa mual akibat kehamilannya sempat mendera gelombang perutnya, Nika memaksa pikirannya tetap jernih. Ia tahu meronta atau berteriak tidak akan mengubah keadaan. Yang ia butuhkan saat ini adalah mengamati lingkungan sekitar dan mencari celah sekecil apa pun. ​Satu, dua, tiga... Nika dalam hati menghitung tikungan dan durasi perjalanan sejak mereka meninggalkan pelabuhan. Dari perhitungannya terhadap guncangan mobil dan arah angin, ia yakin mereka dibawa ke kawasan industri lama di daerah Pulogadung atau sekitar Cakung, basis gudang logistik terbengkalai yang sering digunakan sebagai tempat penyimpanan gelap. ​Benar saja, be

  • Degrees Of Intimacy   Bab 47: Bayangan di Balik Kontainer

    "ARDI!" teriakan Nika memecah malam yang dingin saat para penjaga bertubuh kekar itu mulai menerjang ke arah kelompok mereka dengan senjata terhunus. ​Ledakan kecil yang memekakkan telinga mendadak meletus dari genggaman Ardi, menciptakan kepulan asap tebal berwarna putih dan kilatan cahaya yang menyilaukan mata. Cahaya itu seketika membutakan pandangan para penjaga, membuat mereka tersentak mundur sambil mengumpat dalam bahasa asing.Memanfaatkan kekacauan singkat itu, Gibran langsung bertindak cepat, ia menarik tangan Dania dan Nika dengan kuat, membimbing mereka merangsek masuk ke dalam celah sempit di antara tumpukan kontainer pelabuhan yang berkarat. ​"Lewat sini! Jangan berhenti, cepat!" bisik Gibran panik, napas mereka memburu di tengah gelapnya lorong antar-kontainer. ​Namun, takdir berkata lain. Sebelum Nika sempat melangkah lebih jauh ke dalam keamanan bayangan kontainer, sebuah lengan kekar tiba-tiba mencengkeram bahunya dari belakang dengan tenaga yang luar biasa besar.

  • Degrees Of Intimacy   Bab 46: Kepungan di Pelabuhan Tua

    Cahaya lampu sorot yang menyilaukan mata langsung menghantam tubuh Nika, Ardi, Gibran, dan Dania begitu mereka berhasil keluar dari lubang pemeliharaan bawah tanah. Suara deru mesin beberapa mobil taktis dan sedan hitam bergema memantul di dinding-dinding gudang pelabuhan yang kosong dan berkarat. ​"Sial, kita terjebak!" seru Gibran panik, matanya liar mencari celah untuk melarikan diri ke arah kontainer-kontainer pelabuhan di sekeliling mereka. ​"Jangan bergerak atau kalian akan tertembak!" suara berat dari pengeras suara kembali membahana, memecah angin malam pelabuhan yang dingin. ​Ardi yang berdiri sempoyongan dengan luka tembak di perutnya langsung menarik tubuh Nika ke belakang punggungnya. Meski wajahnya pucat pasi dan tenaganya hampir habis, ia tetap berusaha melindungi gadis itu. "Nika, dengar... kalau mereka mendekat, kamu harus lari ke arah kontainer itu. Jangan pedulikan aku." ​Nika langsung mencengkeram lengan Ardi dengan erat, menatap pria itu tajam. "Jangan bi

  • Degrees Of Intimacy   Bab 45: Labirin Bawah Tanah

    Bau lembap, lumpur, dan karat berpadu menjadi satu di dalam saluran utilitas kota yang remang-remang. Hanya ada pantulan cahaya senter dari ponsel Gibran yang membelah kegelapan terowongan beton berukuran sedang itu. Air setinggi mata kaki mengalir lambat, menciptakan suaracipratan kecil setiap kali sepatu mereka melangkah. ​"Ardi, bersandarlah padaku lebih banyak," bisik Dania cemas, membantu Gibran memapah Ardi yang napasnya mulai terdengar memburu. ​Ardi menggeleng pelan, wajahnya yang pucat pasi diterpa cahaya redup. "Tidak... Dania, simpan tenagamu. Aku masih bisa berjalan sendiri." ​"Jangan sok kuat, Ardi!" suara Nika memecah kesunyian dari belakang. Ia berjalan dengan waspada sambil terus memindai area belakang menggunakan senter kecilnya. "Kalau kamu pingsan di sini, kami tidak punya alat medis untuk mengangkatmu. Jadi, berhenti berdebat dan ikuti saja instruksi Dania." ​Ardi menoleh ke belakang, menatap Nika dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Kamu benar-benar t

  • Degrees Of Intimacy   Bab 44: Bayangan di Parkiran Klinik

    Suara derit pintu klinik yang bergeser pelan terdengar sangat memekakkan telinga di tengah kesunyian malam. Di ambang pintu kamar rawat, Gibran berdiri dengan napas memburu, sementara Dania di sampingnya tampak menggigit kuku karena dihantam kepanikan yang teramat sangat. ​"Mobil itu... mereka sengaja mematikan lampu utamanya saat masuk ke area parkir belakang," bisik Gibran cepat, matanya melirik tajam ke arah lorong luar yang gelap. "Jumlahnya dua unit sedan hitam. Ciri-ciri fisiknya sama persis dengan mobil yang mengejar kita di gudang tadi." ​Ardi langsung mencoba merosot turun dari ranjang, namun nyeri hebat di bagian perutnya akibat luka tembak membuat wajahnya mendadak pias seketika. Ia meringis tertahan, tangannya mencengkeram seprai putih hingga buku-buku jarinya memutih. ​"Ardi, kumohon jangan bergerak!" seru Nika panik. Ia segera melepaskan genggaman tangan Ardi dan bangkit dari kursi, lalu menahan bahu pria itu dengan kuat. "Kamu baru saja selesai menjalani oper

  • Degrees Of Intimacy   Bab 43: Pengakuan di Balik Tirai Putih

    Langkah kaki Nika terasa begitu berat saat ia menyusuri koridor klinik yang sunyi. Bau disinfektan bercampur dengan aroma obat-obatan antiseptik menusuk hidungnya, memperkuat rasa pusing yang masih berdenyut di kepalanya. Di sampingnya, Dania berjalan menopang lengannya, sementara Gibran memimpin jalan di depan menuju ruang rawat khusus tempat Ardi dipindahkan. ​"Kamu yakin sudah kuat jalan, Nik?" bisik Dania cemas, matanya melirik sekilas ke arah perut Nika yang masih rata. ​Nika mengangguk pelan, meski tenggorokannya terasa tercekat. "Aku harus bicara dengannya, kak Dan. Aku tidak bisa menyimpan ini sendirian lebih lama lagi." ​Begitu mereka tiba di depan pintu kamar rawat, Gibran mendorongnya pelan. Ruangan itu tampak remang-remang, hanya diterangi oleh lampu tidur kecil di sudut ruangan dan monitor detak jantung yang berbunyi tit... tit... tit secara konstan. ​Ardi berbaring di atas ranjang dengan selang infus menancap di punggung tangan kanannya. Wajahnya yang pucat dipenuhi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status