LOGINBegitu suaminya masuk kamar mandi, bunyi pancuran air mengisi keheningan sesaat di ruangan itu. Ada campuran lega dan gugup yang sulit dijelaskan—lega setelah akhirnya Abimana memberi waktu khusus buat dia. Tapi, Ajeng juga gugup untuk isi kepalanya yang beberapa hari ini terasa berantakan. Sulit menatanya, apalagi diucapkan. Tak berselang lama Abimana keluar dengan rambut yang masih basah. Udara sekitar praktis dipenuhi harum sabun dari tubuhnya. Dia mengambil kaus berkerah di lemari, meninggalkan set kemeja yang ditaruh Ajeng tadi. "Kemejanya kenapa, Mas?" "Buat nanti, dek. Ini 'kan masih mau nemenin adek dulu." Abimana sengaja tidak memakai langsung setelan formal tersebut agar Ajeng merasakan kehadiran dia yang seutuhnya di situ, seolah dia hendak menegaskan pesan bahwa pagi ini dia benar-benar milik istrinya. Ajeng memandangi suaminya yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil, "Mas s
Ajeng berbaring menyamping sambil memeluk guling. Hendak tidur, namun pikirannya melayang memikirkan masalah yang belakangan hari tidak bisa dia simpulkan. Temaram lampu menyorot siluet tubuhnya yang makin berat oleh kehamilan. Dia tengah menatap layar aplikasi yang memunculkan nama suaminya, Mas Abim--masih online, kok belum pulang, ya? Batin Ajeng. Ajeng mendesah rendah, lalu menekan tombol telepon. Nada dering hanya terdengar dua kali sebelum dijawab. "Halo, dek ..." Suara Abimana terdengar rendah, serak serta sedikit lelah. "Mas masih di kantor?" "Baru aja mau balik. Satu revisi terakhir dari tim desain masuk barusan. Deadline kita mepet banget." Lalu disusul tawa ringan. "Mas lagi beres-beres. Cape nya luar biasa, plus kangen adek." Di seberang Ajeng tertawa kecil, meski reaksinya itu cepat reda, "Adek ganggu, enggak?" "Enggak per
Suasana rumah adalah senyap yang pekat, hanya detak jarum jam dan dengung kulkas dari dapur yang mengisi lorong bawah. Alyssa belum tidur. Dia duduk bersandar di sisi ranjang, mengenakan piyama katun berwarna krem. Lampu tidur dinyalakan. Di pangkuannya, sebuah novel terbuka, tapi tidak dibaca. Tangannya lebih fokus mengusap perutnya, pelan dan teratur. Tatapannya hampa, terlalu banyak memendam harapan. Di tengah suasana sunyi, ketukan pintu terdengar. Alyssa enggan untuk menjawab, tahu siapa yang menunggu di luar. Lalu, suara yang dia kenali menginterupsi dengan bimbang, "Boleh aku masuk?" "Kamu tidak perlu meminta izin," jawab Alyssa seadanya. Arjuna melangkah masuk sebelum menutup pintu dengan derit lambat. Dia masih mengenakan kaus dan celana panjang, rambutnya juga agak berantakan. Dia mematung di ambang pintu seraya masih bungkam. Tatapannya jatuh pada Alyssa, bergulir ke koper di sudut ruangan, "Kenapa belum tidur?" Alyssa menggeleng, "Aku enggak bisa." "Boleh
Hujan sudah lama reda, tapi daun-daun di pekarangan masih menggantungkan sisa air. Arjuna duduk sendiri di bangku kayu belakang rumah, jaket masih melekat di tubuhnya. Cahaya lampu taman redup menyorot garis wajahnya yang letih.Dia tidak menangis. Tapi, bias di matanya kosong. Seperti seseorang yang terlalu lama menyimpan sesuatu tanpa pernah benar-benar punya ruang untuk bicara.Tangannya saling bertautan sambil sekali ibu jarinya saling mengusap satu sama lain. Dia kentara sedang berpikir keras, meski semua itu tetap percuma. Dari jendela lantai dua Alyssa berdiri mengintip dari balik tirai. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak juga kecemburuan. Hanya ... kekosongan yang perlahan-lahan membeku jadi jarak.Dia memandang suaminya di sana; Arjuna tampak bagaikan remaja muda yang tengah kehilangan arah. Lalu, tirai ditarik. Alyssa menutupnya sebab dia ingin sedikit ruang lapang untuk kesehatan perasaannya sendiri. -----Pagi berikutnya cahaya matahari menerobos lembut ke dapur ya
Sudah lebih dari satu jam sejak Arjuna dan Ajeng kembali dari reuni. Tapi, Arjuna belum juga masuk ke kamar. Alyssa menunggu di balik dinding koridor rumah keluarga itu, mendengar langkah suaminya mondar-mandir di ruang belakang. Tanpa suara, tanpa panggilan.Alyssa duduk di tepi ranjang tamu yang sementara mereka tempati, sambil menekuk ujung jarinya di atas pahanya sendiri. Usia kandungannya hampir menginjak sembilan bulan, sebulan lebih tua dari Ajeng. Sayang, yang terasa sekarang bukan keintiman sebagai pasangan yang sedang menanti ... melainkan sesuatu yang menggantung dan menjauh.Pintu kamar terbuka pelan.Arjuna masuk tanpa menatap istrinya."Habis hujan," katanya pendek, menurunkan jaket yang sudah agak lembab.Alyssa hanya mengangguk, "Kamu kehujanan?""Sedikit."Arjuna melewati Alyssa begitu saja, menuju lemari dan mengganti bajunya tanpa menoleh. Alyssa menunggu, menunggu sesuatu yang tidak datang; pertanyaan, sentuhan, atau sekadar perhatian kecil.Tapi, tidak ada.Dan it
Hari ini akhirnya tiba...Ajeng berdiri di depan cermin panjang di lorong rumah. Tangannya perlahan membenarkan kerudung; disematkan dengan pin sederhana. Gaun pastel selutut yang dia kenakan memeluk perut buncitnya dengan lembut. Wajahnya terlihat tenang, tapi ada rasa berdebar yang samar.Dari balik pintu terdengar suara langkah kaki, Arjuna."Kita berangkat sekarang? tanyanya, berdiri dengan satu tangan menyelipkan kunci mobil di antara jari.Ajeng menoleh. "Iya. Kakak yakin enggak keberatan ada aku? Entar Kakak enggak leluasa sama yang lain.""Kenapa harus keberatan?" jawab Arjuna pelan, "Bukannya kita udah biasa, ya? Dari dulu juga kita selalu bareng di acara-acara kayak begini."Ajeng tersenyum kecil, tidak menjawab. Dia tahu Abimana seharusnya ikut menemani dia, setidaknya mengantar. Tapi urusan kantor membuat suaminya harus pergi pagi-pagi ke Bandung. Ajeng tidak menuntut. Dia pun tahu Abimana sudah berusaha. Lagi pula, suaminya percaya.Di dalam mobil, keduanya lebih banyak d







