author-banner
Ceeri
Ceeri
Author

Novels by Ceeri

Cinta ke Dua Pak Direktur

Cinta ke Dua Pak Direktur

Di hari itu adalah hari terburuk bagi Juna Janendra ketika menemukan perselingkuhan istrinya bersama sang paman. Banyak waktu dia lalui dengan kekosongan akibat perpisahan sementara. Dia hanya pergi ke luar kota demi memenuhi tanggung jawab sebagai pimpinan perusahaan. Sampai waktu kepulangannya justru disambut oleh peristiwa memalukan yang mungkin akan terus menjadi bayang-bayang hitam di sepanjang hidupnya. Kemarahan Juna diambang batas. Dia putuskan untuk mengusir Nayla, istrinya. Bahkan mengungkapkan perceraian guna mengakhiri pernikahan yang telah ternodai. Itu adalah satu kesalahan paling kotor serta sulit dimaafkan, bagi Juna. Seiring putaran waktu, segalanya mulai memengaruhi rutinitas. Mulai dari fokus yang terganggu, kesusahan tidur malam, juga aktivitas lain ikut terhambat. Dia mengalami semua kesengsaraan itu dan hendak mengakhirinya. Juna kukuh menempuh jalan perceraian agar dia dapat terbebas dari belenggu kekecewaan. Di tengah-tengah jarak yang terbentuk di dalam kehancuran rumah tangganya, Juna dipertemukan dengan seorang gadis manis dan segala daya tarik yang dia punya. Jihan Pitaloka, si penyanyi kafe atau bar keliling dapat dengan mudahnya membalik afeksi si direktur muda. Juna enggan terburu-buru, meski awal pertemuan mereka mengandung percekcokan terburuk berisi jenaka, dia tak dapat menampik semua dampak yang diberikan gadis itu bahwa dia jatuh cinta lagi.
Read
Chapter: Kebersamaan kita
Juna tiba di unit apartemen Jihan saat jarum jam hampir menyentuh angka sebelas malam. Tubuhnya sarat akan keletihan setelah memimpin serangkaian rapat sengit di Janendra Corp. Begitu pintu apartemen terbuka, lelah itu menguap tanpa sisa saat. Dia mendapati Jihan masih terjaga, duduk menunggunya di ruang tengah."Kau belum tidur, Jihan?" tanya Juna lembut seraya melepas jas hitamnya dan menyampirkannya di sandaran sofa.Jihan menggeleng-geleng, seraya mengulas senyum yang langsung meluluhkan kelelahan Juna. "Belum. Aku menunggumu."Juna beringsut mendekat. Keningnya mengernyit halus. "Kenapa menungguku sampai selarut ini? Jihan, aktivitasmu sudah cukup padat. Jangan sampai jam tidurmu makin berantakan gara-gara menungguku."Jihan mengangkat bahunya santai, menunjuk meja makan di dekat mereka. "Kalau aku tidak menunggu, siapa yang bakal makan masakan ini? Aku sudah menyiapkannya sejak tadi."Praktis Juna menatap tudung saji di atas meja, l
Last Updated: 2026-08-22
Chapter: Tempat kita
Juna Janendra kini memiliki sebuah kebiasaan baru yang menguasai seluruh fokusnya. Setiap kali tugas-tugas di Janendra Corp selesai, dia tak lagi berlama-lama di ruang kerjanya atau langsung meluncur ke kediaman utamanya. Langkah kakinya selalu membawanya ke satu tujuan: unit apartemen tempat Jihan tinggal.Semula, alasan pria itu terdengar begitu logis dan diplomatis--memastikan keamanan tempat tinggal Jihan, memeriksa jika ada fasilitas yang kurang, atau sekadar memastikan gadis itu tidak kekurangan sesuatu. Namun seiring berjalannya hari, topeng alasan rasional itu mengikis habis. Juna sadar, dia membelah kemacetan kota menjelang malam hanya demi satu hal: dia merindukan Jihan. Kerinduan yang menggebu dan tak lagi bisa dia jinakkan.Malam ini, pintu apartemen terbuka bahkan sebelum ketukan tangan Juna mendarat untuk kedua kalinya. Jihan berdiri di sana, tampil bersahaja dengan rambut yang terikat asal, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut membingkai leher
Last Updated: 2026-08-21
Chapter: Hasutan terakhir
Siska Admaji memilih sebuah restoran privat di sudut kota yang redup dan lenggang--tempat yang cukup terisolasi untuk merancang rencana kotor tanpa khawatir tercium oleh telinga asing.Dave sudah duduk di sudut ruangan ketika Siska mendekat dengan langkah anggun. Pria itu menatap kedatangan Siska dengan sorot mata dingin, tanpa salam, tanpa gestur menghormati. "Kali ini aku ingin bicara terus terang padamu, Dave," ujar Siska seraya mendudukkan diri di hadapannya.Dave menyandarkan punggung ke kursi, bersedekap dada dengan raut kaku. "Silakan. Saya mendengarnya."Siska meletakkan sebuah map di atas meja di tengah-tengah mereka. Dave menatap map itu sekilas, namun tak berminat untuk menyentuhnya."Aku tahu perasaanmu terhadap Jihan masih ada, Dave," bisik Siska, suaranya mengalun tenang namun merayap bagai racun. "Aku tahu kau masih menatap Jihan dengan kerinduan yang sama seperti dulu.""Kalau Nyonya datang jauh-jauh hanya untuk
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: Garis yang ditarik
Proses kepindahan itu berlangsung jauh lebih cepat dari yang dibayangkan Jihan. Beberapa kardus berisi pakaian, tumpukan buku, perlengkapan pribadi, hingga barang-barang kenangan kecil yang selama ini menjejali kamar kontrakannya yang sempit kini telah bermutasi sepenuhnya ke unit apartemen barunya.Tempat ini belum tertata rapi seluruhnya. Kardus-kardus cokelat masih menyisakan sudut-sudut berantakan di ruang tamu, rak buku tampak melompong, meja makan baru saja dipasang, dan dapur pun belum memiliki peralatan yang memadai untuk dia gunakan. Namun, Jihan tak lagi merasa asing oleh kemewahan tempat ini. Ada sensasi hangat menyeruak, membuat tempat berukuran luas ini begitu dekat dan familiar. Mungkin gara-gara presensi Juna yang selalu ada di dekatnya, atau mungkin sebab sejak awal pria itu memastikan bahwa setiap detail ruangan dirancang khusus untuk kenyamanan dia."Cape?" Suara berat Juna memecah keheningan. Pria itu berdiri menyender santai
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: Dua dunia
Pagi ini Juna menggeser skedulnya dari meja kerja. Dia, berada di lantai atas sebuah unit apartemen baru yang sarat akan bau cat segar dan pernis dari perabotan kayu. Dia berdiri tegap di tengah ruang tamu, menatap sekeliling seraya memegang selembar catatan berisi daftar kebutuhan yang telah dia diskusikan bersama Kenny."Sistem jaringan internet sudah aktif?" tanya Juna, suaranya terdengar menggema di ruangan yang masih lapang."Sudah," jawab Kenny yang berdiri siap di dekat pintu masuk. "Pemasangan Wi-Fi berkecepatan tinggi selesai tadi pagi.""Air bersih dan pemanas?""Aman. Sudah diperiksa teknisi.""Sistem keamanan kartu akses?""Sudah masuk sistem keamanan utama Janendra. Hanya kartu akses milikmu dan Jihan yang terdaftar. Pihak luar--termasuk pengelola gedung--harus mendapat persetujuan verbal darimu jika ingin masuk ke sini."Juna mengangguk puas. Langkah kakinya membawa tubuhnya yang tegap menuju area dapur. Di
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Permainan perasaan masa lalu
Dave tak lagi bisa membohongi dirinya sendiri. Sosok Jihan kembali menyita seluruh ranah pikirannya--presensi bisu yang perlahan menggerogoti logika. Dave cukup berada di tempat yang sama dengan gadis itu, menangkap potongan gelak tawanya dari jauh, menatap binar matanya saat berbicara dengan teman-teman sejawat, lalu pulang membawa tumpukan benang kusut di kepala yang tak kunjung terurai.Kata-kata Siska Admaji beberapa hari lalu ibarat linggis yang memaksa pintu masa lalu yang telah lama Dave kunci rapat-rapat, terbuka. Dan begitu pintu itu terhempas, kenyataan pahit menghantam dadanya: perasaan itu ternyata belum mati. Atau dia memang pura-pura menganggapnya sudah mati.Dia pernah mencintai Jihan dengan amat sangat, kapan waktu yang telah berlalu. Hubungan itu terpaksa dia jinakkan menjadi sebatas pertemanan biasa demi menjaga batas, hingga Dave mengira hatinya telah benar-benar pulih dan kebal. Ternyata dia keliru besar, bahkan hingga sekarang walau dia mencoba
Last Updated: 2026-08-17
Dek Ajeng & Mas Abim

Dek Ajeng & Mas Abim

Ajeng yang manja berpikir bahwa suaminya akan selalu menyetujui segala permintaan dia. Apalagi Abimana punya banyak cinta untuk diberikan kepada istri tersayangnya ini tanpa tega menolak. Ajeng yang terlena justru menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam masalah besar dan genting. Di sinilah pertama kalinya Ajeng merasakan panik. Kemarahan Abimana adalah hal paling menakutkan dari dugaan dia.
Read
Chapter: Akhir dari sebuah ketulusan...
Kamar NICU dibatasi kaca bening, memisahkan dunia luar dari deretan inkubator yang berjajar rapi.Cahaya putih lampu memantul di permukaan alat-alat medis. Bunyi mesin berdetak lambat, stabil, mengisi ruang dengan ritme konstan. Ajeng duduk di kursi yang disediakan, sedikit condong ke depan. Kedua tangannya bertaut di pangkuan. Matanya tertuju pada satu titik—bayinya.Dia kelihatan kecil, terlalu kecil dibanding bayangan yang selama ini dia simpan.Tubuh mungil itu terbaring di dalam inkubator, dibalut selang dan alat bantu yang menjaga setiap napasnya agar tetap berjalan.Ajeng bergeming, sekadar mengamati. Dia menelusuri setiap detail dengan pandangan utuh, seakan-akan dia enggan melewatkan apapun. Dadanya bergetar halus, namun nyata. Bukan berupa tangisan, alih-alih seperti sesuatu yang menekan dari dalam, lalu perlahan-lahan mereda tanpa benar-benar hilang."Anakku ..." Kalimatnya nyaris tidak terdengar. Ujung jarinya menyentuh kaca. Tidak bisa lebi
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: Memaafkan adalah kedamaian yang sesungguhnya
Normal saat ruang tunggu rumah sakit dikuasai keheningan penuh. Kursi sudah terisi sebagian. Jam dinding terasa berdetak keras, mengisi ruang tanpa percakapan.Abimana tampak berdiri di dekat jendela, mengamati ke luar dalam pandangan kosong. Pikirannya tertuju pada satu hal—lantai di mana Ajeng berada juga kamar kecil tempat bayinya dirawat. Saking hanyutnya, dia bahkan tak sadar saat Arjuna tahu-tahu sudah berhenti beberapa langkah di belakang dia. "Ehm--" Niatnya hendak menegur, namun Arjuna merasakan lidahnya berat untuk berkata-kata. "Kamu datang??" Abimana spontan berbalik dan cukup terkejut melihat Arjuna di situ."Aku enggak tahu harus ngomong apa." Arjuna menggeleng-geleng sambil mengangkat kedua lengannya untuk kemudian dihempaskan ringan. "Alyssa baru aja melahirkan--aku dapat kabar dari ibu tentang Ajeng. Tiba-tiba sekali.""Selamat buat Alyssa.""Terima kasih--" diam sejenak sebelum dia mendongak dan berkata lagi,
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: Konsekuensi
Ruang kontrol keamanan berada di sudut lantai dasar. Itu tertutup, hening, serta terpisah dari hiruk-pikuk pengunjung. Deretan monitor menyala, berjejer rapi. Setiap layar menampilkan sudut berbeda dari gedung: koridor, pintu masuk, area parkir, hingga ke lift.Seorang petugas memutar ulang rekaman pada salah satu layar. "Ini yang tadi dilaporkan, Pak," ujarnya singkat.Abimana berdiri di belakang. Posisi tubuhnya tegak, kedua tangannya masuk ke saku celana. Tidak ada ekspresi mencolok di wajahnya—selain fokus yang tertuju penuh pada layar.Begitu video dimulai, mereka menyaksikan di mana Ajeng memasuki lift lebih dahulu. Gerakannya lamban, namun langkahnya jelas terukur. Tidak ada yang aneh pada awalnya. Beberapa detik kemudian, pintu hampir menutup—bertepatan Diana masuk. Gerakannya cepat sekali, tepat ketika celah itu terbuka.Si petugas menghentikan sebentar. Tetapi, Abimana memintanya tetap meneruskan. Rekaman kembali berjalan. Mereka menyaksikan di dalam ruang sempit itu, Ajeng
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Dua kehidupan baru yang begitu berbeda
Koridor rumah sakit diisi langkah buru-buru serempak bunyi roda brankar yang berderit halus.Ajeng terbaring dengan napas putus-putus. Jemarinya mencengkeram seprai tipis yang menutup tubuhnya. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis seiring rasa nyeri datang silih berganti secara beruntun."Dokter, pasien dengan pendarahan!" seru salah seorang perawat, sengaja berteriak guna membuka jalan menuju ruang bersalin.Abimana berjalan di sisi brankar. Tungkainya mengikuti dengan presisi. Tangannya tidak lepas dari genggaman Ajeng. Nihil kata-kata dapat dia ucapkan—selain kehadiran utuh yang bisa Ajeng rasakan di tengah kondisi sulit demikian."Dek, Mas di sini. Kamu kuat ya, sayang." Bujukannya terucap rendah, serta stabil. Ajeng mengangguk lemah, lengkap dengan matanya yang memberat. Nyeri membuat badannya menegang, punggungnya sedikit terangkat sebelum kembali jatuh ke permukaan kasur tipis."Mas, sakit--" suaranya pun hampir hilang.
Last Updated: 2026-05-16
Chapter: Genting dan panik
Ajeng mematung di sana, seorang diri di dalam kotak lift itu. Tubuhnya seperti dipaksakan untuk berdiri tegak, dengan pikiran buruk yang kini merajalela menghantui benaknya. Suara Diana masih terngiang—rendah, dingin, dan menekan.Napasnya mulai tidak teratur. Dia upayakan mengaturnya perlahan-lahan, cukup panjang sebanyak dua kali sembari berharap dadanya yang penuh sesak kembali ringan.Tungkai-tungkainya diangkat juga, lamban serta berhati-hati. Pada akhirnya Ajeng sampai di depan pintu lift, mendapati koridor di hadapannya terlihat lengang. Suara percakapan orang-orang samar terdengar dari ujung lorong, tidak begitu jelas. Ajeng berjalan tanpa arah yang seharusnya dia sadari. Telapak kakinya memijak lantai dengan ketukan kini berantakan. Tangannya ditaruh ke atas perut usai dia merasakan ada yang mengencang.Halus di awal—seperti tarikan dari dengan efek sakit yang tipis. Ajeng berhenti sejenak, mengerjap-ngerjap guna memahami apa yang tubuhnya rasakan."Nggak apa-apa, Nak. Kita b
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: Agresi Diana
Di hari ini, lobi tidak segitu ramai biasanya. Sebagian orang lalu-lalang, sisanya fokus ke pekerjaan masing-masing, termasuk resepsionis. Bunyi langkah-langkah kaki, dan denting halus dari pintu kaca hanya menjadi semarak ringan. Tidak ada yang aneh, tetapi Ajeng merasakan keganjalan di batinnya.Dia melangkah pelan, satu tangan bertumpu di perutnya. Pikiran masih tertinggal di kamar—mengenai percakapan kemarin bersama Abimana. Ada banyak hal yang belum benar-benar selesai, tapi setidaknya dia memiliki pelindung. Itu lebih dari cukup saat ini. Ajeng melewati deretan kursi tunggu. Tumit sepatunya mengetuk-ngetuk lantai marmer dengan intonasi teratur. Satu ... dua ... tiga ... lalu samar-samar ada suara lain. Pendengarannya peka di sini, menangkap sesuatu nan asing sekaligus tidak dapat dibuktikan. Sejenak dia mematung. Keningnya berkerut, memperkirakan perasaan apa barusan tadi. Dia pura-pura menarik tas di bahunya. Napasnya berembus rendah. Pandangnya menyapu sekitar, sekilas saja
Last Updated: 2026-05-12
You may also like
My Villain Gentleman
My Villain Gentleman
Romansa · saltedcaramel
128.5K views
Istri Nomor Dua
Istri Nomor Dua
Romansa · Amih Lilis
128.3K views
Suami Sementara
Suami Sementara
Romansa · Yuyun Batalia
127.9K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status