
Cinta ke Dua Pak Direktur
Di hari itu adalah hari terburuk bagi Juna Janendra ketika menemukan perselingkuhan istrinya bersama sang paman.
Banyak waktu dia lalui dengan kekosongan akibat perpisahan sementara. Dia hanya pergi ke luar kota demi memenuhi tanggung jawab sebagai pimpinan perusahaan. Sampai waktu kepulangannya justru disambut oleh peristiwa memalukan yang mungkin akan terus menjadi bayang-bayang hitam di sepanjang hidupnya.
Kemarahan Juna diambang batas. Dia putuskan untuk mengusir Nayla, istrinya. Bahkan mengungkapkan perceraian guna mengakhiri pernikahan yang telah ternodai. Itu adalah satu kesalahan paling kotor serta sulit dimaafkan, bagi Juna.
Seiring putaran waktu, segalanya mulai memengaruhi rutinitas. Mulai dari fokus yang terganggu, kesusahan tidur malam, juga aktivitas lain ikut terhambat. Dia mengalami semua kesengsaraan itu dan hendak mengakhirinya. Juna kukuh menempuh jalan perceraian agar dia dapat terbebas dari belenggu kekecewaan.
Di tengah-tengah jarak yang terbentuk di dalam kehancuran rumah tangganya, Juna dipertemukan dengan seorang gadis manis dan segala daya tarik yang dia punya.
Jihan Pitaloka, si penyanyi kafe atau bar keliling dapat dengan mudahnya membalik afeksi si direktur muda. Juna enggan terburu-buru, meski awal pertemuan mereka mengandung percekcokan terburuk berisi jenaka, dia tak dapat menampik semua dampak yang diberikan gadis itu bahwa dia jatuh cinta lagi.
Read
Chapter: Ruang berisikan Juna JanendraMalam ini, sulit bagi Jihan untuk memejamkan matanya. Langit di balik jendela telah lama larut dalam pekatnya malam, namun riuh di dalam kepalanya menolak untuk diredam. Di bawah temaram lampu tidur, dia berbaring seraya mengamati langit-langit kamar, membiarkan ingatannya memutar ulang setiap detail kecil tentang pria yang belakangan ini menyita seluruh dunianya.Juna Janendra.Nama itu kini bukan lagi sekadar nama yang melintas di sela kesibukan. Nama itu telah menetap dan mengisi ruang-ruang kosong yang dahulu dia pikir mungkin akan dibiarkan sepi tanpa dia merasa keberatan. Jihan akhirnya berhenti berdebat dengan egonya sendiri. Logikanya menyerah. Dia memang telah jatuh cinta pada Juna. Dia bukan sekadar terpikat oleh karisma, maupun rasa nyaman sesaat. Perasaan tersebut berkembang alami, mengalir halus melalui pembuluh darahnya hingga kehadiran Juna menjelma menjadi bagian penting dari keseharian dia. Hari-harinya mendadak memiliki ketukan
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Makan malam bertiga bag.2Ruangan dipenuhi suara riang. Tapi bagi Daniel, suara itu laun-laun teredam, tergantikan oleh memberatnya detak jantungnya sendiri. Dia putuskan menjadi pendengar, memperhatikan detail demi detail menyakitkan. Juna tampak jauh berbeda dibanding beberapa bulan silam saat masih terikat dalam dinginnya pernikahan formal dengan putri Siska Admaji. Di sini, di depan Jihan, tawa Juna lepas. Tatapan matanya hidup, penuh dengan binar protektif yang belum pernah Daniel lihat semula. Setiap beberapa detik, mata Juna akan melirik Jihan, memastikan gadis itu makan dengan baik, memastikannya tidak tersedak--segalanya demi membuat gadis itu gembira. Sebaliknya, pertahanan yang dahulu selalu Jihan bangun di depan pria kaya seperti Juna, kini runtuh total. Dia memotong kalimat Juna tanpa sungkan. Menggoda balik tanpa takut menyinggung ego sang direktur. Menepis pelan tangan Juna saat pria itu mencoba membersihkan noda saus di sudut bibirnya—bentuk gelagat penolakan yang justru t
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Makan malam bertiga"Kau yakin Daniel sempat datang?"Juna memarkir mobilnya di depan sebuah rumah makan yang berdiri di sudut jalan. Jihan mengangguk, jemarinya masih sibuk merapikan tas kainnya. "Tadi Kak Daniel yang mengusulkan tempat ini. Katanya dia sudah di jalan.""Berarti aku tidak terlambat." Juna mematikan mesin, lalu berbalik menatap Jihan dengan senyum menggoda yang akhir-akhir ini sering dia tunjukkan. "Bagaimana? Reputasiku aman?""Mustahil," sahut Jihan spontan, bibirnya mencebik lucu. "Direktur utama paling anti telat. Ini pasti mukjizat."Juna tertawa kecil, suara tawanya berat dan terdengar begitu lepas di dalam kabin mobil yang sempit. "Rupanya citraku mulai membaik di matamu.""Sedikit aja." Jihan membuka pintu mobil terlebih dahulu."Hanya sedikit?" Juna menyusul di sampingnya, sengaja memperlambat langkah agar sejajar dengan gadis itu."Jangan cepat puas, Direktur." Jihan meliriknya sekilas, ada kilat jenaka
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Mata yang mengawasiSiska Admaji menatap ulang banyak lembar foto yang terhampar di atas meja kerjanya. Seluruhnya menampilkan perempuan yang sama, yaitu Jihan Pitaloka. Ada gambar ketika gadis itu keluar dari kampus. Saat membantu Paman Beno menutup kafe. Ketika berjalan menuju halte sambil membawa map berisi berkas. Tidak satu pun memperlihatkan sesuatu yang pantas dipermasalahkan, bahkan walau berkali-kali sudah dia melihatnya. Alhasil, kegelisahan semakin nyata menyerang ketenangannya. "Mustahil." Dia melempar foto terakhir ke atas meja. "Kalau gadis ini biasa aja, kenapa Juna berubah?" Beberapa bulan terakhir, menantunya sungguh sulit ditebak. Dia sengaja pulang larut agar menghindari pertemuan mereka. Nada bicaranya tetap sopan memang, tetapi membangun jarak yang lebar. Tatapan matanya juga kehilangan kehangatan yang dahulu diberikan kepada Nayla. Siska menyadari ada seseorang yang perlahan mengambil perhatian Juna. Dan d
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Sammy Satya Dharma: Bergerak diam-diamSebuah sedan hitam berhenti tidak jauh dari kontrakan Jihan di pagi ini. Pria yang duduk di balik kemudi tidak segera turun. Sorot matanya tertuju pada bangunan sederhana bercat krem yang sejak beberapa hari terakhir masuk ke dalam daftar pengamatannya.Sammy Satya Dharma meraih sebuah map tipis. Di dalamnya hanya terdapat beberapa lembar informasi. Jihan Pitaloka; Usia. Riwayat pendidikan. Pekerjaan sebagai penyanyi kafe. Yatim piatu. Diasuh oleh Daniel Wilman sejak bertahun-tahun silam.Nihil catatan buruk. Tak ada pula sesuatu yang mencurigakan. Namun, Sammy tidak pernah mengambil keputusan hanya berdasarkan selembar berkas. Dia memilih melihatnya langsung, memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Hidup Juna telah terlalu banyak dikelilingi orang-orang yang piawai mengenakan topeng. Dan dia enggan kesalahan serupa kembali terulang.Sammy berjalan santai menuju warung kecil di ujung gang, "Permisi..."Pemilik warung menoleh, "Mau cari siapa?"
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Dia yang kini dirindukanPukul delapan pagi, ruang rapat utama telah dipenuhi jajaran direksi. Agenda di hari ini dipastikan padat. Laporan keuangan triwulan. Evaluasi proyek. Pertemuan bersama investor. Disusul pembahasan ekspansi perusahaan yang sempat tertunda beberapa bulan terakhir.Belum satu rapat usai, agenda berikutnya telah menunggu. Kenny Nathanael menaruh setumpuk map di hadapan Juna, "Setelah ini ada pertemuan dengan tim hukum."Juna mengusap pelipisnya, "Masalah perceraian?"Kenny mengangguk lamban, cukup hati-hati dalam menanggapi ulang masalah sensitif demikian. "Pengacara Tommy kembali menyampaikan hal yang sama."Spontan puka Juna menarik napas panjang, merasakan gerah setelah mendengar kabar barusan. Dia sudah mengetahui isi pembicaraan itu sebelum rapat dimulai. Proses hukum belum dapat bergerak sesuai harapan. Kehamilan masih Nayla menjadi pertimbangan utama. Artinya, seluruh keputusan besar harus menunggu hingga persalinan selesai.Waktu ter
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: Akhir dari sebuah ketulusan...Kamar NICU dibatasi kaca bening, memisahkan dunia luar dari deretan inkubator yang berjajar rapi.Cahaya putih lampu memantul di permukaan alat-alat medis. Bunyi mesin berdetak lambat, stabil, mengisi ruang dengan ritme konstan. Ajeng duduk di kursi yang disediakan, sedikit condong ke depan. Kedua tangannya bertaut di pangkuan. Matanya tertuju pada satu titik—bayinya.Dia kelihatan kecil, terlalu kecil dibanding bayangan yang selama ini dia simpan.Tubuh mungil itu terbaring di dalam inkubator, dibalut selang dan alat bantu yang menjaga setiap napasnya agar tetap berjalan.Ajeng bergeming, sekadar mengamati. Dia menelusuri setiap detail dengan pandangan utuh, seakan-akan dia enggan melewatkan apapun. Dadanya bergetar halus, namun nyata. Bukan berupa tangisan, alih-alih seperti sesuatu yang menekan dari dalam, lalu perlahan-lahan mereda tanpa benar-benar hilang."Anakku ..." Kalimatnya nyaris tidak terdengar. Ujung jarinya menyentuh kaca. Tidak bisa lebi
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: Memaafkan adalah kedamaian yang sesungguhnyaNormal saat ruang tunggu rumah sakit dikuasai keheningan penuh. Kursi sudah terisi sebagian. Jam dinding terasa berdetak keras, mengisi ruang tanpa percakapan.Abimana tampak berdiri di dekat jendela, mengamati ke luar dalam pandangan kosong. Pikirannya tertuju pada satu hal—lantai di mana Ajeng berada juga kamar kecil tempat bayinya dirawat. Saking hanyutnya, dia bahkan tak sadar saat Arjuna tahu-tahu sudah berhenti beberapa langkah di belakang dia. "Ehm--" Niatnya hendak menegur, namun Arjuna merasakan lidahnya berat untuk berkata-kata. "Kamu datang??" Abimana spontan berbalik dan cukup terkejut melihat Arjuna di situ."Aku enggak tahu harus ngomong apa." Arjuna menggeleng-geleng sambil mengangkat kedua lengannya untuk kemudian dihempaskan ringan. "Alyssa baru aja melahirkan--aku dapat kabar dari ibu tentang Ajeng. Tiba-tiba sekali.""Selamat buat Alyssa.""Terima kasih--" diam sejenak sebelum dia mendongak dan berkata lagi,
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: KonsekuensiRuang kontrol keamanan berada di sudut lantai dasar. Itu tertutup, hening, serta terpisah dari hiruk-pikuk pengunjung. Deretan monitor menyala, berjejer rapi. Setiap layar menampilkan sudut berbeda dari gedung: koridor, pintu masuk, area parkir, hingga ke lift.Seorang petugas memutar ulang rekaman pada salah satu layar. "Ini yang tadi dilaporkan, Pak," ujarnya singkat.Abimana berdiri di belakang. Posisi tubuhnya tegak, kedua tangannya masuk ke saku celana. Tidak ada ekspresi mencolok di wajahnya—selain fokus yang tertuju penuh pada layar.Begitu video dimulai, mereka menyaksikan di mana Ajeng memasuki lift lebih dahulu. Gerakannya lamban, namun langkahnya jelas terukur. Tidak ada yang aneh pada awalnya. Beberapa detik kemudian, pintu hampir menutup—bertepatan Diana masuk. Gerakannya cepat sekali, tepat ketika celah itu terbuka.Si petugas menghentikan sebentar. Tetapi, Abimana memintanya tetap meneruskan. Rekaman kembali berjalan. Mereka menyaksikan di dalam ruang sempit itu, Ajeng
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Dua kehidupan baru yang begitu berbedaKoridor rumah sakit diisi langkah buru-buru serempak bunyi roda brankar yang berderit halus.Ajeng terbaring dengan napas putus-putus. Jemarinya mencengkeram seprai tipis yang menutup tubuhnya. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis seiring rasa nyeri datang silih berganti secara beruntun."Dokter, pasien dengan pendarahan!" seru salah seorang perawat, sengaja berteriak guna membuka jalan menuju ruang bersalin.Abimana berjalan di sisi brankar. Tungkainya mengikuti dengan presisi. Tangannya tidak lepas dari genggaman Ajeng. Nihil kata-kata dapat dia ucapkan—selain kehadiran utuh yang bisa Ajeng rasakan di tengah kondisi sulit demikian."Dek, Mas di sini. Kamu kuat ya, sayang." Bujukannya terucap rendah, serta stabil. Ajeng mengangguk lemah, lengkap dengan matanya yang memberat. Nyeri membuat badannya menegang, punggungnya sedikit terangkat sebelum kembali jatuh ke permukaan kasur tipis."Mas, sakit--" suaranya pun hampir hilang.
Last Updated: 2026-05-16
Chapter: Genting dan panikAjeng mematung di sana, seorang diri di dalam kotak lift itu. Tubuhnya seperti dipaksakan untuk berdiri tegak, dengan pikiran buruk yang kini merajalela menghantui benaknya. Suara Diana masih terngiang—rendah, dingin, dan menekan.Napasnya mulai tidak teratur. Dia upayakan mengaturnya perlahan-lahan, cukup panjang sebanyak dua kali sembari berharap dadanya yang penuh sesak kembali ringan.Tungkai-tungkainya diangkat juga, lamban serta berhati-hati. Pada akhirnya Ajeng sampai di depan pintu lift, mendapati koridor di hadapannya terlihat lengang. Suara percakapan orang-orang samar terdengar dari ujung lorong, tidak begitu jelas. Ajeng berjalan tanpa arah yang seharusnya dia sadari. Telapak kakinya memijak lantai dengan ketukan kini berantakan. Tangannya ditaruh ke atas perut usai dia merasakan ada yang mengencang.Halus di awal—seperti tarikan dari dengan efek sakit yang tipis. Ajeng berhenti sejenak, mengerjap-ngerjap guna memahami apa yang tubuhnya rasakan."Nggak apa-apa, Nak. Kita b
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: Agresi DianaDi hari ini, lobi tidak segitu ramai biasanya. Sebagian orang lalu-lalang, sisanya fokus ke pekerjaan masing-masing, termasuk resepsionis. Bunyi langkah-langkah kaki, dan denting halus dari pintu kaca hanya menjadi semarak ringan. Tidak ada yang aneh, tetapi Ajeng merasakan keganjalan di batinnya.Dia melangkah pelan, satu tangan bertumpu di perutnya. Pikiran masih tertinggal di kamar—mengenai percakapan kemarin bersama Abimana. Ada banyak hal yang belum benar-benar selesai, tapi setidaknya dia memiliki pelindung. Itu lebih dari cukup saat ini. Ajeng melewati deretan kursi tunggu. Tumit sepatunya mengetuk-ngetuk lantai marmer dengan intonasi teratur. Satu ... dua ... tiga ... lalu samar-samar ada suara lain. Pendengarannya peka di sini, menangkap sesuatu nan asing sekaligus tidak dapat dibuktikan. Sejenak dia mematung. Keningnya berkerut, memperkirakan perasaan apa barusan tadi. Dia pura-pura menarik tas di bahunya. Napasnya berembus rendah. Pandangnya menyapu sekitar, sekilas saja
Last Updated: 2026-05-12