Share

Menebak-nebak

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-08-05 00:02:20

Bab 3

Menebak-nebak

###

Elena masih berdiri di tengah kamar. Sehelai rambut berwarna cokelat itu terjepit di antara kedua jarinya.

Matanya menatap benda kecil tersebut cukup lama, seolah berharap dari sana akan muncul sebuah jawaban.

Namun tentu saja tidak.

Rambut tetaplah rambut.

Lip balm tetaplah lip balm.

Tidak ada nama pemiliknya.

Tidak ada petunjuk dari mana benda itu berasal.

Elena akhirnya menghela napas. "Jangan berpikir macam-macam."

Ia mencoba menertawakan dirinya sendiri. "Belum tentu ada hubungannya sama Mas Arga."

Namun kalimat itu terdengar jauh lebih meyakinkan di kepalanya daripada ketika diucapkan.

Elena meletakkan kucir rambut tersebut di samping lip balm. Kedua benda itu berdampingan di atas meja.

Aneh.

Sangat aneh.

Terlebih setelah apa yang ia lihat semalam.

Kissmark.

Lip balm.

Kucir rambut perempuan.

Tiga hal itu terus berputar di kepalanya.

Elena berjalan menuju jendela dan membuka tirainya. Cahaya pagi langsung memenuhi kamar.

Ia menarik napas panjang. Mungkin ia hanya sedang terlalu sensitif.

Lagipula, Arga baru pulang dari luar kota. Bisa saja lip balm itu milik rekan kerja.

Rambut cokelat itu mungkin menempel di kursi mobil.

Dan kissmark...

Elena terdiam, lalu memejamkan mata.

Untuk bagian terakhir, ia bahkan tidak memiliki alasan yang masuk akal.

Tangannya mengepal. "Aku harus tanya."

Keputusan itu akhirnya muncul. Ia tidak bisa terus menebak-nebak.

Elena mengambil ponsel dan membuka percakapannya dengan Arga. Jarinya mengetik.

[Mas, kemarin di luar kota sama siapa aja?]

Ia menatap kalimat itu. Kemudian menghapusnya.

Terlalu to the point.

Ia lantas mencoba lagi.

[Mas, perjalanan kemarin gimana?]

Kirim.

Tidak sampai satu menit, pesan itu terbaca.

Namun tidak ada jawaban.

Elena menunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tidak ada.

Ia menghela napas dan meletakkan ponsel.

"Ya sudah."

Mungkin Arga sedang bekerja.

Elena mencoba kembali membereskan kamar.

Namun pikirannya tidak bisa berhenti bekerja.

Sampai matanya kembali jatuh pada lip balm di atas meja. Tangannya meraihnya. Ia memutar benda itu sekali lagi.

Dan perasaan familiar itu kembali muncul. Seperti pernah melihatnya.

Tapi di mana?

Elena mengerutkan kening.

Sebuah bayangan samar melintas di pikirannya.

Seorang perempuan sedang tertawa, rambutnya berwarna cokelat

Namun semuanya terlalu kabur.

Elena menggeleng cepat, menghalau kemungkinan-kemungkinan yang nantinya akan menjadi boomerang.

Tidak.

Ia tidak mau menebak.

Bisa jadi ingatannya saja yang keliru.

Akhirnya lip balm itu ia masukkan ke dalam laci. Kucir rambut tersebut ikut ia simpan dalam sebuah plastik kecil.

Entah mengapa Elena belum tega membuangnya. Mungkin karena ia ingin bertanya kepada Arga nanti.

Atau mungkin karena jauh di dalam hatinya, ia sudah mulai takut dengan jawaban yang akan didengarnya.

***

Menjelang siang, ponselnya berbunyi.

Pesan dari Arga masuk.

[Jangan tunggu aku. Aku pulang malem.]

Elena membaca pesan itu. Hanya satu kalimat.

Biasanya ia akan membalas dengan perhatian sederhana.

Jangan lupa makan.

Tetapi hari ini jarinya berhenti di atas layar.

Ia ingin bertanya.

Tentang perjalanan.

Tentang kissmark.

Tentang benda-benda yang ia temukan.

Namun akhirnya hanya satu kata yang ia kirim.

[Iya.]

Elena meletakkan ponsel. Kemudian duduk di tepi ranjang.

Tiga tahun menikah seharusnya membuatnya mengenal suaminya luar dalam.

Ia tahu Arga suka kopi tanpa gula. Tahu makanan yang tidak disukainya. Tahu kebiasaannya sebelum tidur. Tahu bagaimana ekspresinya ketika sedang marah.

Tetapi belakangan... Ada bagian dari Arga yang terasa tidak lagi bisa ia kenali.

Dan yang paling menyakitkan adalah Elena mulai bertanya-tanya sejak kapan jarak itu muncul.

Ia mengambil ponsel lagi, dan membuka galeri.

Tanpa sadar, jarinya berhenti pada sebuah foto lama. Foto anniversary pertama mereka.

Arga tersenyum lebar di foto itu. Tangannya melingkar di pinggang Elena. Mereka terlihat bahagia.

Elena menyentuh layar dengan ujung jarinya, dan bergumam, "Kamu masih inget, gak, Mas?"

Suaranya lirih. "Atau cuma aku yang masih ingat?"

Air mata kembali menggenang.

Namun kali ini Elena tidak membiarkannya jatuh. Ia menghapusnya, kemudian bangkit. Ia tidak mau terus menangis.

Jika memang ada sesuatu yang disembunyikan Arga, Elena akan mencari tahu.

Bukan dengan berteriak.

Bukan dengan membuat tuduhan.

Tetapi dengan melihat sendiri.

###

Sore harinya, Elena sedang melipat pakaian ketika ponselnya kembali berdering.

Kali ini bukan Arga.

Nama yang muncul di layar membuat wajah Elena sedikit lebih cerah.

Karin.

Sahabatnya sejak kuliah.

Satu-satunya orang yang selama ini selalu menjadi tempat Elena bercerita.

Elena mengangkat telepon. "Halo?"

Suara ceria Karin langsung terdengar dari seberang. "El! Lo di rumah, kan?"

"Iya. Kenapa?"

"Gue mau ke rumah lo."

Elena tersenyum tipis. "Boleh."

"Oke. Gue ke sana."

Telepon berakhir. Elena meletakkan ponselnya.

Entah mengapa, mendengar suara Karin sedikit membuat hatinya lebih ringan.

***

Sekitar setengah jam kemudian, bel rumah berbunyi.

Elena berjalan membuka pintu.

Karin berdiri di sana dengan senyum lebar. "Surprise!"

Elena terkekeh. "Ngapain pakek surprise segala?"

Karin langsung memeluknya. "Soalnya gue kangen. Gue juga belum ngucapin 'happy anniv' sama lo."

Elena tersenyum miris saat Karin memberinya ucapan selamat.

"Makasih."

Mereka lantas masuk ke dalam rumah setelah puas saling memeluk.

Karin meletakkan tasnya di sofa, dan bertanya, "Arga mana?"

"Kerja." Raut Elena muram.

"Kerja? Bukannya dia dari luar kota, ya? Emang gak capek?"

Elena hanya mengangkat bahu sekilas. "Mungkin lagi banyak kerjaan." Lalu melangkah menuju dapur. "Aku mau ambilin minum."

Karin hanya manggut-manggut. Ia kemudian membuka tasnya.

Elena yang sedang mengambil minuman di dapur tiba-tiba menoleh. Dan matanya tak sengaja melihat sebuah benda kecil di tangan Karin.

Lip balm.

Elena membeku dengan tatapan terpaku pada benda itu.

Bentuknya.

Warnanya.

Sama.

Persis seperti yang tadi pagi ia temukan di koper Arga.

Karin mengoleskan lip balm itu ke bibirnya sambil bercermin menggunakan kamera ponsel.

Elena tidak bergerak. Tangannya yang sedang memegang gelas perlahan menegang.

Sebuah potongan ingatan samar tiba-tiba muncul.

Karin.

Di rumahnya.

Beberapa waktu lalu.

Meminjam cermin.

Mengeluh bibirnya kering.

Elena menatap sahabatnya.

Kemudian matanya turun pada lip balm di tangan Karin.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Karin menoleh. "El?"

Elena tersentak. "Hah?"

"Kok bengong?"

Elena buru-buru tersenyum. "Nggak."

Ia menelan ludah, lalu diam-diam matanya kembali pada lip balm itu.

Namun kali ini Elena tidak bertanya.

Belum.

Karena ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu pikirannya.

Kalau benda yang ia temukan di koper Arga memang milik Karin... Bagaimana benda itu bisa sampai di sana?

Elena menatap sahabatnya dalam diam.

Dan untuk pertama kalinya, sebuah nama muncul di kepalanya.

Karin.

BERSAMBUNG.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Berondongku   Menatap Kembali Hidupnya

    BAB 68 Menata Kembali Hidupnya ### Setelah tiba di kos, Elena mengganti pakaian dan makan siang seadanya. Dia baru saja selesai membereskan piring ketika ponselnya bergetar di atas meja kecil. Nama yang muncul di layar membuat tubuhnya seketika kaku. Karin. Elena menatap layar itu lama sekali. Sudah beberapa hari sejak semuanya terbongkar. Beberapa hari sejak dia menyadari bahwa sahabat yang selama ini dia percaya ternyata menyimpan hubungan dengan suaminya sendiri. Selama waktu itu, Karin belum benar-benar berbicara dengannya secara langsung. Elena sempat berharap Karin memahami bahwa dirinya membutuhkan jarak. Dia belum siap mendengar penjelasan apa pun, apalagi melihat wajah perempuan yang pernah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Namun, pesan itu sudah masuk. Dengan ragu, Elena membukanya. [El, aku tahu kamu mungkin nggak mau bicara sama aku. Tapi aku pengin minta maaf.] Elena tidak langsung membalas. Pesan berikutnya muncul beberapa saat kemudian. [Aku tahu aku

  • Dekapan Hangat Berondongku   Belajar Berdiri Tanpa Dirinya

    BAB 61 Belajar Berdiri Tanpa Dirinya###Pagi itu, Elena berdiri cukup lama di depan cermin kecil yang menempel di dinding kamar kosnya. Rambutnya sudah tersisir rapi, wajahnya telah dibasuh, dan pakaian sederhana yang biasa dia kenakan saat mengajar sudah melekat di tubuhnya. Namun, kedua tangannya masih sibuk merapikan bagian kerah kemeja, seolah ada sesuatu yang belum benar-benar siap dari penampilannya.Padahal, bukan pakaiannya yang membuat Elena terus berdiri di tempat yang sama.Dia hanya sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa hari ini dia benar-benar bisa kembali menjalani rutinitas.Beberapa hari terakhir, Elena lebih banyak menghabiskan waktu di kamar kos. Dia bangun, mandi, makan seadanya, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi ponsel. Sesekali dia membuka percakapan dengan Arga, membaca pesan-pesan lama mereka, kemudian menutupnya lagi sebelum luka yang belum mengering kembali terasa menyakitkan.Ada bagian dari dirinya yang masih menunggu Arga menghubunginya.

  • Dekapan Hangat Berondongku   Perempuan yang Seharusnya Kujaga

    BAB 60Perempuan yang Seharusnya Kujaga###Kalimat Nathan membuat ruang tengah mendadak sunyi.Arga menatap adiknya tanpa berkedip. Selama beberapa detik, dia seperti berusaha memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar. Namun, ekspresi Nathan yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bercanda membuat rahangnya mengeras."Apa maksud kamu?" tanya Arga.Nathan membalas tatapannya dengan tenang. "Maksudku seperti yang kamu dengar, Mas.""Kamu bilang kamu menyesal sudah melepaskan Elena buat aku?""Iya."Arga tertawa pendek, tetapi tawanya terdengar hambar. "Kamu sadar kamu sedang bicara sama siapa?""Sama kakakku sendiri. Aku tahu.""Kalau kamu tahu, seharusnya kamu nggak ngomong sembarangan.""Aku justru sedang berusaha bicara sejujurnya."Arga berdiri dari sofa. Wajahnya memerah, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Ada sesuatu dalam pengakuan Nathan yang membuatnya jauh lebih marah daripada teguran ayahnya. Mungkin karena selama ini Arga tidak pernah benar-benar

  • Dekapan Hangat Berondongku   NATHAN

    BAB 64NATHAN###Di rumah orang tuanya, Arga duduk di ruang tengah dengan wajah kusut. Dia sudah menerima beberapa pesan dari ibunya sejak pagi, meminta dirinya datang untuk membicarakan masalah yang terjadi dalam rumah tangganya.Awalnya, Arga sempat berpikir untuk menghindar. Dia tidak ingin menghadapi pertanyaan panjang, apalagi mendengar ceramah dari orang tuanya. Namun, dia tahu mengabaikan mereka hanya akan membuat keadaan semakin buruk.Akhirnya, dia memutuskan untuk datang ke rumah ini.Tadi begitu memasuki rumah, Arga langsung menyadari bahwa suasananya tidak seperti biasanya. Mama Rani duduk di sofa dengan wajah serius, sementara Papa berada di kursi seberangnya. Tidak ada sapaan hangat atau pertanyaan basa-basi seperti yang biasa mereka lakukan. Arga baru saja duduk ketika ayahnya membuka suara. "Papa mau dengar langsung dari kamu. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Elena?"Arga mengusap wajahnya sebelum menjawab, "Masalah rumah tangga, Pa." "Papa tahu ini mas

  • Dekapan Hangat Berondongku   Keberanian untuk Bertahan

    BAB 63Keberanian untuk Bertahan ###Elena terbangun ketika cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai tipis di jendela kamarnya. Selama beberapa detik, dia hanya menatap langit-langit yang asing, berusaha mengingat mengapa dirinya tidak terbangun di kamar yang selama tiga tahun terakhir menjadi tempatnya tidur. Lalu ingatannya kembali. Arga. Karin. Ciuman yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri. Koper yang dia kemas dengan tangan gemetar. Dan keputusan yang akhirnya membawanya ke kamar kos kecil ini. Elena memejamkan mata sebentar, berharap rasa sesak di dadanya sudah berkurang setelah tidur semalaman. Sayangnya, luka itu masih ada. Bahkan, ketika dia menggerakkan tubuh untuk duduk, ingatan tentang kejadian malam itu kembali muncul tanpa diminta. Dia meraih ponsel di samping bantal. Ada beberapa pesan yang masuk, termasuk pesan dari Arga yang belum dibalasnya. Elena membaca sekilas sebelum meletakkan ponsel kembali. Dia belum siap berbicara dengan suaminya. Buk

  • Dekapan Hangat Berondongku   Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Rumah

    BAB 62Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Rumah ### Arga masih berdiri di dekat pintu ketika suara langkah Elena benar-benar menghilang dari pendengarannya. Beberapa detik berlalu, tetapi dia belum juga beranjak. Tangannya masih menggenggam ponsel, sementara pandangannya tertuju pada pintu yang baru saja ditutup Elena. Entah kenapa, ada bagian dalam dirinya yang masih menunggu perempuan itu kembali, membuka pintu, lalu mengatakan bahwa dia berubah pikiran. Namun, sampai beberapa menit kemudian, pintu itu tetap tertutup. Elena benar-benar pergi. Arga akhirnya berjalan menuju ruang tengah. Rumah yang biasanya terasa begitu biasa kini mendadak tampak asing. Sepasang sandal Elena sudah tidak ada di dekat pintu. Tas yang biasa diletakkan di atas sofa juga telah dibawa pergi. Bahkan, sudut kecil tempat Elena biasa duduk sambil membaca atau memeriksa bahan ajarnya terlihat lebih kosong daripada sebelumnya. Arga berhenti di depan sofa. Dia teringat bagaimana Elena beberapa waktu lalu masih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status