تسجيل الدخولDisini Kai berada, di rumah Robert. Tidak peduli jika malam sudah larut. Dan semua penghuni rumah sudah larut dalam mimpi mimpinya. Kai tidak bisa menunggu besok, untuk menunjukkan foto dan video Calista pada Robert. Bagi Kai, semakin cepat semakin baik. Agar ia terlepas dari pernikahan yang tidak sama sekali ia inginkan, dan tentu saja agar terlepas dari Robert.Kai duduk di sofa ruang tamu, ketika pembantu rumah Robert sedang membangunkan majikannya.Awalnya pembantu tersebut tidak ingin menuruti kemauan Kai, untuk membangunkan majikannya. Karena tahu akan risikonya, jika membangunkan majikannya. Apalagi kini sudah tengah malam.Namun, Kai memaksa. Sampai akhirnya pembantu tersebut mau mengikuti perintahnya.Tidak berselang lama, Kai mendengar langkah kaki. Langkah kaki yang begitu Kai kenali.Kai mengangkat kepalanya, menoleh pada sumber langkah kaki, dimana ia melihat Robert dengan menggunakan baju tidur, melangkah mendekatinya."Kau." ujar Robert. Lalu duduk di sofa sebrang berh
Kai menghubungi ponsel Leon, ingin menanyakan sudah sejauh mana sahabatnya itu membantunya.Tapi ponsel Leon tidak bisa di hubungi. Membuat Kai langsung melempar ponselnya ke kursi penumpang. "Sialan kau Leon!" seru Kai dan langsung menambah kecepatan laju mobilnya, untuk menemui sahabatnya itu.Kai tidak menemukan keberadaan Leon, di apartemen dan rumahnya. Sahabatnya itu tidak ada, ponselnya pun masih belum bisa di hubungi.Sekarang Kai memutuskan untuk pergi ke bar milik Jimi, berharap ia bisa menemukan Leon disana.Tentu saja Kai harus memberi pelajaran pada sahabatnya itu, karena tidak ada kabar. Sudah sejauh mana Leon membantunya.Kai berjalan menuju ruang vip sesaat setelah menginjakkan kakinya di bar milik Jimi, tempat ketiga sahabat itu selalu bertemu. Tepatnya, ruangan itu sudah menjadi markas ke tiganya jika sudah berkumpul.Tautan kening menghiasi wajah Kai, sesaat setelah masuk ke dalam markas mereka, karena Kai tidak mendapati Leon. Hanya ada Jimi di balik meja, sedang m
Brian terus mencoba menghubungi ponsel Sela. Awalnya sambungan itu masih tersambung, walau tidak pernah diangkat. Namun kini, nada dering itu bahkan tidak lagi terdengar. Nomor Sela benar-benar tidak bisa dihubungi."Sial!" teriak Brian frustasi, lalu melempar ponselnya ke atas kasur hingga memantul dan jatuh ke lantai.Nafasnya memburu, dada naik turun tidak teratur. Ia menoleh ketika merasakan tatapan tajam mengarah padanya.Jane berdiri di samping tempat tidur, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya tidak menunjukkan simpati sedikit pun, setelah tahu. Jika Brian di pecat dari pekerjaannya."Kalau kamu dipecat, bagaimana kamu bisa membelikan aku tas keluaran terbaru, Brian." katanya dingin, dengan nada kesal yang jelas.Brian menatapnya tidak percaya. "Dalam situasi seperti ini kamu masih memikirkan tas?" balasnya, suara meninggi. "Aku dipecat, Jane. Dipecat dengan tidak hormat! Kamu tahu itu, kan?""Aku tahu," jawab Jane cepat. "Makanya aku bilang, temui Sela. Dia pasti bisa me
Memori Sela kembali berputar ke masa lampau, ketika Kai ternyata mengajaknya pergi ke vila pribadi milik keluarganya. Vila yang berdiri megah di kawasan perbukitan, dikelilingi pepohonan tinggi yang menjulang dan taman yang terawat rapi. Tempat itu sunyi, namun justru menyimpan begitu banyak suara dari kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Sela.Bagi Sela, vila itu bukan tempat asing. Di sanalah sebagian masa remajanya terukir, masa ketika ia masih canggung menyadari perasaannya sendiri.Sela masih mengingat dengan jelas, bagaimana hidupnya berubah. Ia hanyalah anak seorang pembantu yang bekerja untuk keluarga Kai. Namun takdir membawanya menjadi anak angkat keluarga itu. Ia tinggal di rumah besar yang sama, makan di meja yang sama, tapi tetap merasa ada jarak yang tidak kasat mata, terutama dengan Kai.Ia hanya bisa menatap pria itu dari jauh, mengagumi tanpa berani berharap. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik sikap pendiamnya, ia menyimpan cinta yang tumbuh
Kai yang berada di dalam mobil mewahnya, beberapa kali melirik kaca spion tengah. Sorot matanya berubah tajam setiap kali lampu kendaraan di belakang tampak terlalu konsisten mengikuti laju mobilnya. Jalanan yang cukup padat, deretan kendaraan mengular menuju perempatan besar yang lampu merahnya sudah berkedip tanda akan segera berganti.Kai mengembuskan napas pelan. Ia mengenali mobil itu bahkan dari jarak puluhan meter. Sedan putih dengan plat yang begitu ia hafal. Siapa lagi kalau bukan Calista.Tanpa banyak berpikir, Kai menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin mobil meraung, jarum speedometer melonjak. Ia memperhitungkan detik yang tersisa sebelum lampu hijau berubah merah.Di kursi penumpang, Sela yang sejak tadi memandangi deretan toko di pinggir jalan mendadak tersentak. Tubuhnya terdorong ke belakang saat mobil melesat cepat."Kak, jangan ngebut!" ujarnya panik, tangannya spontan mencengkeram sabuk pengaman."Mobil Calista mengikuti mobil kita, Sel," Kai akhirnya memberitahu, t
Tidak mudah bagi Calista untuk masuk ke dalam rumah megah tersebut. Gerbang besi hitam yang menjulang tinggi berdiri kokoh, seolah menjadi pembatas tegas antara dirinya dan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Perumahan elit itu memang dikenal ketat penjagaannya. Setiap kendaraan yang keluar-masuk harus melalui pemeriksaan. Apalagi orang asing yang datang tanpa pemberitahuan.Calista berdiri dengan tas tangan tergenggam erat, saat security perumahan tersebut mendekatinya. Ia mencoba menjaga wibawanya meski tatapan petugas keamanan tersebut mulai terasa menghakimi.Security yang bertubuh tegap berjalan mendekat."Maaf, Anda siapa?" tanyanya sopan namun tegas. "Selain penghuni rumah dan orang terdekat mereka, tidak boleh ada yang masuk ke sini." Ia mengamati Calista dari ujung kepala hingga kaki. "Sepertinya saya tidak pernah melihat Anda. Kalau begitu ikut saya ke pos."Calista menegakkan bahunya. "Aku calon istri dari pemilik rumah ini," jawab Sela.Security itu langsung me
Leon benar-benar masih menimbang, apakah dirinya jadi membantu Kai atau tidak.Ia mengenal Kai sejak lama. Sahabatnya itu bukan pria sembarangan,cerdas, ambisius, dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi kali ini, rencana yang diutarakan Kai benar-benar membuat Leon merasakan sesuatu yang
Dari balik punggung Leon yang masih berdiri di ambang pintu, Lian muncul dengan wajah sedikit kesal. Ia mendorong tubuh bosnya itu agar minggir dari hadapannya."Jangan dengarkan apa yang Pak Leon katakan, Mbak." ujar Lian sambil melangkah masuk mendekati Sela.Senyum yang sejak tadi tertahan di su
Meskipun Brian sudah tahu bahwa Kai adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja, tetap saja harga dirinya tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia baru saja dipukul hingga hidungnya berdarah. Rasa perih di wajahnya kalah jauh dibandingkan rasa terhina yang didapatnya. Perintah untuk meninggalkan per
Apa itu larangan, Kai tetap melangkah mendekati Sela. Senyum terus terukir dari kedua sudut bibirnya, senyum puas sekaligus penuh keyakinan. Bayangan kejadian semalam masih segar di ingatannya, bagaimana Sela tidak menolak, bagaimana tubuhnya itu gemetar dalam pelukannya. Bagi Kai, itu sudah cukup







