MasukSenja baru saja meletakkan sendoknya setelah menghabiskan makan siang. Perempuan itu mengusap sudut bibir dengan tisu, lalu melirik ke arah ayahnya yang masih duduk di seberang meja makan. Sejak tadi, pikirannya terus tertuju pada Nadia. Biasanya, sahabatnya itu akan menghubungi atau setidaknya mengirim pesan, apalagi setelah berbagai kejadian yang mereka alami belakangan ini. Namun, sejak kemarin Nadia belum juga datang, bahkan kabarnya pun tidak terdengar.“Pa,” panggil Senja.Trian yang sedang memeriksa ponsel mengangkat wajah. “Hm?”“Sejak kemarin Nadia belum ke sini. Dia baik-baik saja, kan?”Trian meletakkan ponselnya, lalu menatap putrinya dengan sorot mata yang sedikit menegur. “Memangnya kalau Nadia tidak datang sehari, kamu harus langsung mengkhawatirkannya?”“Bukan begitu. Biasanya dia suka datang. Aku juga sudah menghubungi dia, tetapi belum sempat ngobrol lama.” Senja mengerucutkan bibir. “Aku cuma takut ada sesuatu yang terjadi.”“Tidak ada tapi-tapian.” Trian mengangkat
Pagi itu, Nadia terbangun karena merasa sesak.Bukan karena mimpi buruk, bukan pula karena udara kamar yang pengap. Ada sesuatu yang berat menindih kakinya, sementara selimut yang semalam masih menutupi tubuhnya kini entah bagaimana sudah berpindah ke sisi lain tempat tidur.Nadia mengerjap beberapa kali sebelum menunduk.Sebuah kaki panjang bertengger seenaknya di atas betisnya.Nadia terdiam.Lalu perlahan-lahan, ia menoleh ke sebelah.Kenzo masih tidur telentang dengan wajah damai. Satu tangannya terlipat di bawah kepala, sementara tangan yang lain memeluk bantal yang semalam sengaja diletakkan Nadia sebagai pembatas di antara mereka. Rambutnya berantakan, kausnya sedikit terangkat di bagian pinggang, dan ekspresinya begitu santai seolah-olah kamar itu memang miliknya sejak lahir.Sementara Nadia?Perempuan itu nyaris terjepit di ujung kasur.Matanya membesar."MAS KENZO!"Laki-laki itu tidak bergerak."KENZO, BANGUN!"Kenzo hanya mengernyit, kemudian menarik selimut sampai menutup
Nadia masih menatap Kenzo dengan mata membulat. Untuk beberapa detik, ia bahkan tidak yakin telah mendengar permintaan pria itu dengan benar.“Tunggu, Mas. Kamu serius mau tinggal di kosku?” Nadia menunjuk dirinya sendiri, memastikan tidak ada orang lain yang sedang diajak bicara Kenzo.Kenzo mengangguk mantap. “Memangnya aku kelihatan sedang bercanda?”“Bukan begitu. Kosku itu kecil. Kamarnya cuma satu, kamar mandinya di dalam, terus—”Bagus. Berarti aku enggak perlu bayar sewa kamar lain.”Nadia ternganga. Astaga, pria ini benar-benar tidak punya beban!“Mas Kenzo, ini bukan soal bayar sewa atau enggak. Kamu itu laki-laki, aku perempuan. Kita enggak bisa tinggal serumah begitu saja!”Kenzo menyandarkan pinggulnya pada pintu mobil, menatap Nadia dengan ekspresi yang perlahan berubah jahil.“Bukannya kita pacaran?”Nadia langsung melotot. “Pacar bohongan!”“Memangnya Mama tahu kalau hubungan kita bohongan?”“Ya, enggak!”“Nah, berarti aman.” Kenzo mengangkat bahu santai, seolah baru s
“Ayah saya seorang pegawai bank swasta, Tante.” Ada getir di senyum Nadia. Dia tidak malu karena pekerjaan ayahnya. Toh, ia tidak peduli dengan restu orang tua Kenzo. Bukankah hubungan mereka hanya konspirasi? Tetapi ia lebih sakit mengingat perlakuan ayahnya itu.Sungguh, Nadia lelah dengan semua ini.“Oh, baiklah.” Hanya itu respon dari Neya.Kenzo sejak tadi memperhatikan wajah Nadia, tangannya meraih tangan gadis itu, hingga tatapan mereka bertemu.“Aku enggak peduli sama jabatan atau pekerjaan ayahmu, Nad”Nadia hanya tersenyum getir. Akting Kenzo benar-benar luar biasa, tetapi ia mencoba untuk tidak terbawa perasaan.Neya meraih gelas jus yang ada di depannya, lalu meminum perlahan.“Saya ke toilet dulu. Toilet di mana, Kak?” pamit Senja yang sudah tidak nyaman dengan situasi seperti ini.“Aku antar.” Arsen pu berdiri, lalu meraih tangan Senja.Neya tersenyum saat tatapannya bertabrakan dengan tatapan Senja.“Kenzo, tidak lama lagi kamu akan jadi dokter. Kamu harus berpikir jern
Senja tidak menyangka akan melihat Nadia di sana. Kenapa tiba-tiba sekali sahabatnya itu berdandan begitu cantik di rumah keluarga Kenzo?“Loh, Nsd. Kamu di sini?” tanya Senja begitu mendekati Nadia.Nadia sendiri tampak kikuk, malu dan seperti tidak nyaman. Banyak seperti yang ingin dijelaskan.“Iya. Nadia pacar aku.” Kenzo memeluk pinggang Nadia posesif.Arsen diam saja, mengamati keponakannya itu. Entah apa yang ia pikirkan.“Sen, aku ….” nadia handak menjelaskan ini kepada Senja, kalau tidak suara Neya dari dalam menyambut adiknya dengan heboh.“Arsen! Akhirnya!” Neya menghampiri adik laki-laki satu-satunya itu. “Kakak sudah sangat penasran, akhirnya kamu muncul juga. Dasar anak bandel.” Dengan enteng, Neya menjewer telinga adiknya itu. “Kak Neya, ih! Sakit tahu.”Senja hanya tersenyum melihat interaksi itu, jujus ia juga takut salah jika bicara.“Jadi ini yang namanya Senja?” tanya Neya sambil mengamati Senja dengan senyuman. “Kenzo juga sempat cerita waktu itu.”Senja menganggu
“Papa serius gak papa kami tinggal?” Senja baru saja selesai make up, ia dan Arsen akan menghadiri undangan makan malam dari Neya, kakaknya Arsen.“Gak papa. Ada Susi juga, kok. Kamu gak usah khawatirkan papa, lagian papa udah baikan. Jalannya aja udah lancar. Papa sehat, Senja.”Meskipun begitu, tetap saja Senja tidak tenang meninggalkan papanya. Ia mengusap bahu papanya dengan lembut. “Kalau misal ada apa-apa, Papa harus telpon Senja.”“Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di jalan,” jawab RTrian, yang kemudian tatapannya bergeser pada Arsen yang kini sedang memakai jam tangan.“Arsen, ingat jangan ngebut.”“Tahu, Yan. Aku juga gak mau mati kali.”Senja memukul pelan lengan Arsen karena kesal, hingga calon suaminya itu menatapnya bingung. “NGomongnya, ih!”“Maaf. Ya habis papa kamu nyebelin, dikira aku ngajak jalan orang tersayang kaya mau diajak balap liar.”Trian memutar bola matanya. “Serah kamu, lah, Sen.”:“Mbak Susi, jangan lupa nanti obatnya Papa, ya, Mbak.”Susi yang berdiri di







