Beranda / Romansa / Dekapan Hangat Sang Mantan / BAB 6. Di Rumah Sakit

Share

BAB 6. Di Rumah Sakit

Penulis: Wijaya Kusuma
last update Tanggal publikasi: 2026-07-06 11:17:43

Devan.

Pria yang melihat wajah tak asing itu mendorong kerumunan. Wajah yang biasanya dingin tanpa ekspresi, kini tampak panik. Dia berlutut di samping Ghea, tangannya meraih bahu Ghea dengan lembut tapi tergesa.

“Ghea! Ghea, lihat aku! Bangun. Bangung, Ghea!”

Ghea berusaha membuka kedua mata yang hampir terpejam. Berusaha menatap Devan dalam pandangan yang samar. Sulit. Matanya seperti tertutup kabut. Tapi dia bisa melihat kecemasan di mata pria itu. 

“Devan…” bisiknya. Hampir tak terdengar.

Matanya turun ke bawah. Melihat darah yang terus mengalir. Lalu kembali ke Devan.

“Tolong… aku….” Suaranya nyaris tak terdengar. 

Devan langsung mendongak. Di belakangnya, asisten pribadinya, Faisal. Pria muda berkacamata yang berdiri dengan tatapan bingung dan terkejut atas apa yang dilakukan oleh atasannya itu. 

“Faisal! Cari mobil! Sekarang! Kita bawa dia ke rumah sakit!” Perintahnya tegas, harus segera dilakukan. 

Faisal mengangguk cepat. Ia segera menghubungi supir pribadi untuk segera ke lobby gedung. 

Devan kembali ke Ghea. Tangannya yang tadinya di bahu Ghea kini turun, mencoba menekan bagian bawah gaun Ghea untuk menghentikan darah yang terus mengalir, meski ia tahu itu bukan luka luar. Itu dari dalam tubuh wanita yang setengah sadar. Dan itu lebih berbahaya.

“Jangan  pingsan. Dengar aku!” perintah Devan, suaranya tegas tapi tidak kasar. “Tahan. Sebentar lagi kita ke rumah sakit.”

Ghea ingin menjawab. Tapi mulutnya tidak bisa bergerak. Yang bisa dia lakukan hanyalah memejamkan mata, dan di balik kelopak matanya yang gelap, dia melihat wajah Arka. Nadia. Bu Ratna. Perut Nadia yang membuncit. Semua harta yang diambil darinya.

Dan untuk pertama kalinya, Ghea bertanya pada dirinya sendiri. “Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” Tapi, wanita itu hanya mampu berkata dalam diri, sama sekali tidak keluar dari mulutnya. 

Kegelapan semakin menelan, tepat saat Faisal kembali dengan mobil dan Devan mengangkat tubuhnya yang semakin dingin dari lantai marmer yang berlumuran darah merah segar.

“Ke rumah sakit terdekat. Pastikan dia segera mendapat penanganan,” ujar Devan, sambil merebahkan tubuh Ghea dengan sangat berhati-hati agar nyaman dalam posisinya. 

Mobil melaju kencang menerobos kemacetan ibu kota. Devan duduk di kursi belakang dengan Ghea terbaring di pangkuannya, kepalanya disangga tangannya yang gemetar. Darah masih merembes dari bawah gaun Ghea, membasahi jas mahal Devan yang berwarna abu-abu gelap. Tapi pria itu tidak peduli.

"Anto, kencangkan!" teriak Devan. 

"Tapi Pak, itu—"

"SAYA BILANG KENCANGKAN!"

Anto menginjak gas. Mobil meliuk ke kiri, masuk ke jalur kosong yang seharusnya tidak dilalui oleh kendaraan pribadi. Klakson berbunyi panjang. Di sampingnya, Faisal sudah sibuk melakukan panggilan pada rumah sakit terdekat. 

"Ghea," panggilnya pelan. "Kamu dengar aku?"

Tidak ada jawaban. Tapi kelopak mata Ghea berkedut. Bibirnya bergerak sedikit, seperti berusaha merespons suara yang masih bisa dia dengar meski samar-samar.

"Kamu harus bertahan," lanjut Devan. Tangannya mengusap rambut Ghea yang basah oleh keringat dingin. "Jangan menyerah. Aku di sini. Aku akan menolongmu.”

Mobil berhenti cepat, tepat di depan Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Sejahtera. Devan tidak menunggu sang supir membukakan pintu, dia langsung membuka sendiri, mengangkat Ghea dengan hati-hati seperti menggendong barang pecah belah paling mahal di dunia.

"Brankar! Cepat!" teriaknya ke arah perawat yang berlari mendekat dengan brankar yang sudah didorongnya. 

Dua perawat membawa brankar. Devan meletakkan Ghea dengan lembut, tapi kecemasan itu sangat tampak jelas pada matanya. 

"Pasien mengalami pendarahan dari bagian bawah," jelas Devan cepat. Menatap bagian bawah paha Ghea. 

 "Dia tiba-tiba pingsan di lobi gedung. Tidak sadar sejak lima menit lalu." Keterangan sesuai yang terjadi ia berikan untuk segera mendapatkan pemeriksaan. 

"Apakah pasien hamil, Pak?" tanya perawat sambil mendorong brankar menuju ruang IGD.

Devan terdiam. “Hamil?” Ia bingung harus menjawab apa, sebab ia pun tak tahu kebenaran. kondisi yang terjadi pada Ghea. 

"Saya tidak tahu," jawabnya jujur.

Perawat itu mengangguk. "Kami akan periksa. Dokter kandungan akan kami hubungi segera agar pasien mendapat detail pemeriksaan."

Mereka memasuki ruang IGD. Sebuah tirai putih ditarik menutupi tempat tidur Ghea. Devan berdiri di luar, menatap tirai itu dengan jantung berdebar tidak karuan. Faisal dan Anto berdiri di belakangnya, diam-diam menunggu.

"Pak Devan," Faisal berkata pelan, "kita tunggu di luar saja."

Devan menggeleng. "Aku di sini."

Faisal tidak membantah. Pria muda itu hanya mengangguk dan mundur, memberikan ruang bagi bosnya.

Devan bersandar di dinding. Matanya tetap tertuju pada tirai di depannya. Di balik tirai itu, dia mendengar suara-suara tim medis dan perintah yang tegas, mesin-mesin yang berbunyi, dan di antaranya, napas Ghea yang terdengar tersengal-sengal.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada hidupmu, Ghea? Kenapa kamu selalu muncul di saat-saat terburukmu?” Devan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
kayaknya Ghea beneran hamil, tapi dia gk tahu.. kira² bakal selamat gk y calon bayinya..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    163. Siapa yang Harus Dipercaya

    Ghea merasakan darahnya berubah dingin. Tangannya gemetar saat dia membaca isi perjanjian itu. Setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk hatinya. Di dalamnya, tertulis dengan jelas bahwa Nadia setuju untuk bekerja sama dengan Devan untuk merusak pernikahan Ghea dengan Arka. Nadia akan menggoda Arka, memancingnya ke dalam perselingkuhan, dan memastikan bahwa pernikahan itu hancur. Sebagai imbalan, Nadia akan menerima sejumlah uang yang fantastis—angka yang membuat Ghea hampir tidak percaya. Angka itu tertulis dengan jelas, dengan angka nol yang berderet seperti pasukan yang mengejek."Tidak..." bisik Ghea, suaranya bergetar. "Ini tidak mungkin."Dia membaca ulang dokumen itu, mencoba mencari tanda-tanda pemalsuan. Tapi semuanya tampak asli—tanda tangan, stempel, semuanya. Dan yang paling menyakitkan, tanda tangan Devan ada di sana, dengan tinta hitam yang tebal dan jelas. Tanda tangan itu tidak bisa dipalsukan—Ghea sudah melihat tanda tangan Devan berkali-kali di dokumen-dokumen l

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    162. Perjanjian Kelam

    Hari itu terasa lebih lambat dari biasanya. Matahari bergerak pelan di langit Jakarta, seperti enggan meninggalkan cakrawala, dan angin bertiup lembut melalui jendela-jendela rumah asri Devan. Ghea duduk di teras belakang, menatap taman yang penuh bunga dengan tatapan kosong. Bunga-bunga itu bermekaran dengan indah—mawar merah, melati putih, dan lavender ungu yang bergoyang tertiup angin—tapi Ghea tidak melihat keindahan itu. Matanya hampa, seperti jendela yang tertutup rapat. Sudah tiga hari sejak dia mengetahui tentang status tahanan kota Arka, dan sejak itu, dia merasa seperti terjebak dalam keterpurukan yang tidak bisa dia jelaskan. Devan sibuk dengan pekerjaannya, Bu Ratna masih dalam tahanan, dan Arka masih bebas dalam batas-batas tertentu. Ghea merasa tidak berdaya, dan itu membuatnya frustasi."Tiga hari," bisik Ghea, menatap cangkir tehnya yang sudah dingin. "Tiga hari dan aku masih di sini. Tidak melakukan apa-apa."Dia menyesap tehnya yang sudah dingin, merasakan kehampaan

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    161. Bayang yang belum Selesai

    Pagi itu, cahaya matahari masuk melalui celah-celah tirai di kamar Ghea, menciptakan garis-garis keemasan di atas lantai kayu. Debu-debu halus menari di dalam berkas cahaya itu, seperti serpihan emas yang melayang tanpa tujuan. Aroma kopi dan roti panggang mengalir dari dapur, membangunkan Ghea dari tidurnya yang gelisah. Dia membuka matanya perlahan, merasakan tubuhnya masih lelah meskipun sudah tidur cukup lama. Pikirannya masih dipenuhi oleh rahasia yang baru dia ketahui tentang ibunya dan Bu Ratna—rahasia yang membuat hatinya terasa berat, seperti ada batu yang mengganjal di dadanya."Ibu," bisik Ghea, menatap langit-langit kamar. "Kenapa aku tidak pernah tahu.” Rasa penyesalan yang tidak pernah ia ketahui akan masa lalu sang ibu membuat Ghea dihantui rasa bersalah.Dia bangkit dari ranjang, mengenakan gaun rumah yang nyaman, lalu melangkah keluar kamar. Langkahnya pelan, seperti orang yang enggan meninggalkan tempat tidur. Di ruang makan, dia terkejut melihat Devan sudah duduk di

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    160. Masa Lalu Sang Ibu

    Di dalam kamar, Ghea menunggu dengan gelisah. Dia mendengar suara Devan dan Nenek Ratih dari dapur, tapi dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia menunggu sampai suara langkah Devan menjauh—mungkin ke ruang kerjanya atau keluar rumah—sebelum dia bangkit dari ranjang.Dia membuka pintu kamar dengan hati-hati dan melangkah keluar. Langkahnya pelan, hampir seperti bisikan. Di dapur, Nenek Ratih masih sibuk dengan pekerjaannya, mengaduk sup di atas kompor. Aroma sup ayam dengan jahe memenuhi udara, menciptakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya hati Ghea."Nek," panggil Ghea, suaranya hati-hati. Dia berdiri di ambang pintu dapur, tangannya menggenggam ujung dress dengan gelisah.Nenek Ratih menoleh, senyumnya hangat. "Iya, Nak. Ada apa? Kamu sudah bangun? Kenapa tidak istirahat yang lama?"Ghea duduk di kursi dekat meja dapur, tangannya menggenggam cangkir teh yang masih hangat yang disiapkan Nenek Ratih. Dia menatap cangkir itu lama, mencoba mengumpulkan keberanian.

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    159. Rahasia yang Terkubur

    Mobil yang dikemudikan Devan melaju pelan memasuki halaman rumah asri di pinggiran Jakarta. Matahari sore mulai condong ke barat, menciptakan cahaya keemasan yang menyinari taman yang penuh bunga. Kupu-kupu beterbangan di antara kelopak-kelopak yang berwarna-warni, dan burung-burung berkicau riang di dahan pohon. Tapi Ghea tidak memperhatikan keindahan itu. Matanya kosong, tatapannya hampa, dan pikirannya melayang jauh—terjebak dalam kata-kata Bu Ratna yang masih bergema di kepalanya seperti gema yang tidak mau pergi."Ibumu juga pembawa sial! Dia menghancurkan keluargaku!"Kalimat itu terus berputar, menusuk-nusuk pikirannya, menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dia jawab. Ghea tidak tahu apa yang dimaksud Bu Ratna. Dia tidak tahu rahasia apa yang tersimpan di balik kebencian wanita itu. Tapi satu hal yang dia tahu—ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang selama ini dia tidak ketahui tentang ibunya."Ibu," bisik Ghea dalam hati, suaranya nyaris tak terdengar. "Apa

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    158. Bayangan Masa Lalu

    Sementara itu, di penjara wanita, Ghea melangkah masuk ke ruang kunjungan. Ruangan itu sunyi, dengan meja-meja kayu yang dipisahkan oleh kaca tebal. Ghea mengenakan dress biru muda sederhana, dan wajahnya tenang namun dingin. Langkahnya mantap, tidak ada keraguan. Di hadapannya, Bu Ratna duduk dengan tubuh yang kurus dan mata yang merah. Wanita tua itu terlihat jauh lebih tua dari yang terakhir Ghea lihat. Rambutnya yang putih acak-acakan, dan kebaya yang dia kenakan kusut. Tapi kemarahannya masih membara."Ghea," desis Bu Ratna, suaranya penuh kebencian. Dia menggenggam meja di hadapannya, kuku-kukunya mencakar permukaan kayu. "Kau! Kau yang melakukan ini padaku!"Ghea duduk di kursi di hadapan Bu Ratna, menatap mertuanya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Tatapan itu dingin, seperti es yang tidak akan pernah mencair. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Bu. Kau telah meracuniku selama lima tahun. Kau telah membunuh anakku. Kau pantas mendapatkan ini. Dan kau, memb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status