ログイン“Saya tunggu di bawah, sekarang,” ucap Kaelix singkat sebelum langsung memutus panggilan. Ia menyandarkan punggungnya ke jok belakang mobil, hendak memejamkan mata sejenak ketika kaca jendela di sampingnya diketuk pelan dari luar. Di balik kaca gelap itu, Sasqia berdiri sambil mencondongkan tubuhnya, wajahnya tampak lelah namun gelisah. Kaelix membuka pintu mobil dengan santai. “Masuk.” Sasqia menghela napas ringan sebelum naik dan duduk di sampingnya. Bau parfum pria itu langsung memenuhi indranya. “Papa saya hari ini boleh pulang, jadi saya tidak bisa ikut ke tempat yang Anda rencanakan,” katanya pelan. Kaelix menatapnya sekilas, suaranya tajam tapi tenang. “Biarkan Mama kamu yang mengurus. Apa gunanya dia ada di sana kalau bukan untuk itu?” Sasqia menggeleng, tatapannya lurus ke depan. “Mama saya bukan sosok istri yang seharusnya. Kalau bukan saya yang melakukannya, tidak ada yang akan peduli pada Papa.” “Saya akan meminta perawat pribadi membawa Papa kamu pulang ke apartem
“A-apa maksud Dokter mengatakan seperti itu?” tanya Sasqia, menatap Jevier lurus dengan mata membelalak. Jevier menghela napas pelan, tatapannya penuh keprihatinan yang dibuat-buat. “Awalnya saya memang tidak setuju kamu menikah dengan Kak Tristan, karena saya tahu dia masih terikat dengan masa lalunya. Saya takut kamu hanya akan jadi pelarian. Tapi sekarang …,” Ia menatap Sasqia lebih intens. “Dibandingkan Kak Kaelix, menikah dengan Kak Tristan jauh lebih baik.” Sasqia menelan ludah susah payah. “Dok ….” “Kak Kaelix itu,” Jevier melanjutkan dengan suara rendah, seolah sedang mengungkap rahasia gelap, “bukan orang yang terlihat. Dia licik, Sas.” “Selama ini dia membantu keluarga kamu bukan karena kebaikan hati, melainkan karena ada rencana besar di baliknya. Dia sengaja membuat kamu terjebak dalam hutang budi yang tidak akan pernah bisa dibayar.” Napas Sasqia tercekat. Jevier tersenyum pahit, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Dia sengaja menguasai kamu, membuatmu tidak
Kaelix baru saja kembali ke kantornya siang itu. Begitu membuka pintu ruang kerjanya, ia mendapati seorang wanita paruh baya duduk anggun di sofa tengah ruangan, kakinya menyilang dengan sempurna. “Akhirnya kamu datang juga, Kael,” sapa Miriam dengan senyum tipis, wajah cantiknya yang sudah mulai menua terlihat tegang. “Sejak malam itu, kamu tidak pulang ke mansion sama sekali.” “Saya punya tempat tinggal sendiri. Mansion hanya tempat persinggahan,” balas Kaelix datar sambil melangkah masuk. Ia duduk di single sofa di hadapan ibunya dengan gerakan santai namun penuh wibawa. Miriam menatap putra sulungnya lekat-lekat. “Ibu masih penasaran, dari mana kamu mendapatkan keyakinan untuk menikahi Sasqia? Dia kekasih adikmu sendiri, dan pernikahan mereka baru dibatalkan. Belum lagi latar belakang keluarganya yang sangat bermasalah.” Ia menghela napas dramatis. “Pernikahan itu sakral, Kael. Kamu hanya boleh menikah sekali seumur hidup. Ibu mohon, pikirkan kembali sebelum terlambat.” Kae
Mahendra tersenyum kecil, tapi senyum itu langsung memudar ketika ia menyadari arti ucapan Kaelix. Matanya membulat, wajahnya tampak terkejut sekaligus bingung. “Melamar Sasqia?” ulangnya, suaranya naik satu oktaf. “Nak Kaelix, Sasqia baru saja membatalkan pernikahannya dengan adik Anda. Lukanya masih sangat dalam.” “Bagaimana bisa Anda langsung melamarnya secepat ini? Apalagi … tanpa bertanya dulu pada Sasqia?” Kaelix tetap duduk dengan tenang, ekspresinya tak berubah. Ia menatap Mahendra dengan pandangan yang mantap dan penuh keyakinan. “Sudah saya tanyakan, Pak,” jawabnya pelan tapi tegas. “Sasqia setuju.” Mahendra terdiam, mulutnya terbuka tapi tak langsung bisa berkata-kata. Ia menatap Kaelix lama, seolah mencari kebohongan di wajah pria di depannya. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang tak tergoyahkan. Belum sempat Mahendra menanggapi, pintu ruangan terbuka kembali. Soraya masuk dengan langkah gugup, tangannya masih membawa kotak makanan. Di belakangnya, Sasqia
“Aku mau Mama sama Papa cerai.” Soraya baru saja selesai membuang sampah ketika kalimat itu menyambanginya seperti tamparan keras. Ia membalikkan tubuh, dan mendapati Sasqia berdiri di belakangnya dengan tatapan dingin yang menusuk. “Aku gak mau Papa terus tersiksa, Ma. Apalagi sampe nyalahin dirinya sendiri seumur hidup,” lanjut Sasqia, suaranya tegas meski bergetar menahan emosi. Soraya menghela napas panjang, bahunya merosot lelah. “Papa kamu sendiri yang tidak mau menceraikan Mama. Lalu kenapa kamu memaksa seperti ini?” “Karena aku gak sanggup lihat Papa dikhianati lagi!” jawab Sasqia dengan nada meninggi. “Aku gak mau Papa sakit hati terus-menerus. Aku juga gak mau masa tuanya dihabiskan dengan sia-sia, hidup bersama orang yang udah hancurin hatinya.” Soraya terdiam, wajahnya memucat. “Kesalahan Mama terlalu fatal,” lanjut Sasqia, air matanya mulai menggenang. “Perselingkuhan Mama bukan dengan orang asing, tapi dengan Mas Raka—menantu Mama sendiri. Kalian bahkan sampai ber
Kaelix menarik Sasqia ke sisinya dengan gerakan tegas namun terkontrol, lengannya melingkar posesif di pinggang wanita itu, seolah menandakan kepemilikan yang tak bisa diganggu gugat. “Sudah cukup,” ucap Kaelix dengan suara rendah dan dingin, tatapannya tajam menusuk Tristan. “Jangan sentuh dia lagi.” Tristan mengepalkan tangan hingga buku-bukunya memutih, wajahnya memerah menahan amarah. “Kaelix! Kamu—” “Dia calon istri saya,” potong Kaelix tegas, suaranya tetap tenang tapi penuh kekuasaan. “Mulai sekarang, jangan dekati Sasqia lagi. Jangan ajak bicara. Jangan ganggu. Dia milik saya.” Sasqia tersentak dalam pelukan Kaelix, tubuhnya menegang. Ia melirik Tristan dengan tatapan bingung dan bimbang, tapi Kaelix langsung mempererat pelukannya, seolah tak memberi ruang sedikit pun untuk keraguan. Tristan tertawa sinis, amarahnya meledak. “Milik kamu? Dia bukan barang, Kael! Kamu pikir dengan melamarnya seenak jidat, dia langsung jadi milikmu? Sasqia masih berhak memilih!” Kaelix han
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola
“Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru,
“Kamu memecat Jessie, Tristan?” tanya Miriam sambil memiringkan kepala, menatap putranya tajam di tengah makan malam keluarga itu. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah, tetapi suasana terasa jauh dari hangat. Tristan duduk tenang, menopang dagunya dengan sat







